A B I D

A B I D
– Penjelajahan



13.24, Sabtu.


Semua siswa-siswi termasuk guru berkumpul di lapangan, katanya akan di adakan penjelajahan ke sekeliling hutan.


Setiap pos, mereka di uji. Setelah berhasil mereka menuju pos berikutnya sampai pos empat yang terakhir.


Seperti biasa, setelah penjelasan diadakan sesi bertanya. Abid mengangkat tangannya.


"Kenapa, bid? Mau tanya apa?"


"Gue gak mau tanya, gue cuma mau bilang lu arahin anggota lu bener bener. Jangan sampe ada yang kena bully"


"Lu tau sendiri, bully diem diem masih sering berlaku di SMA kita" Abid menatap sekilas Silvia.


"Oke oke, aman terkendali nanti. Yang lain gak ada pertanyaan?" Semua kompak menjawab tidak.


"Tim yang berangkat di tentuin lewat undian yaa" ujar salah satu panitia.


"Oh iyaa disaranin jangan pake baju bagus"


"GUE SARANIN JUGA JANGAN NYUSAHIN" teriak Rangga. Black blood geng tersenyum smirk.


"Satu perwakilan maju, tim cewek dan cowok"


"Put, maju lu" suruh Tio.


"Yah jangan gue bang, yang lain aja noh" jawab Putra.


"Denis denis, maju lu. Kalo gak mau gue laporin om Jarwo" suruh Eldi. Denis tertawa lalu maju.


Setelah pengundian, urutan di temukan. Tim Abid di tengah dan di kepit dua tim cewek. Depan tim nya Balqis belakang tim nya Fany. Fany dan Balqis memang terpisah.


Mereka pun bersantai terlebih dahulu sambil menunggu giliran. "Abid mau minum?" Itu bukan Balqis, itu Silvia.


"Lu gak ada malu? Urat malu lo putus?" tanya Eldi sinis.


"Gue gak ada urusan sama lu pada, jadi lebih baik diam" jawab Silvia tegas.


"Lu mau deket sama gue?" tanya Abid dengan nada datar. Semua menatap Abid heran, sedangkan Silvia menatap Abid dengan mata berbinar.


"Lo jujur, lo apain Balqis kemaren?"


"Hah? Ng-nggak ada kok"


"Sana pergi" usir Abid dengan tatapan sinisnya.


"Tap--"


"Satu"


"Oke oke fine! Aku pergi dulu"


"Lu jangan macem-macem! Gue gak bisa tinggal diem kalau lo berulah, paham?!" Silvia tidak menjawab, dia langsung pergi.


Abid menghela nafas sembari membaringkan tubuhnya di rerumputan, "Enak bang punya fans fanatik?" tanya Putra.


"Mau nyobain? Mending jangan, ntar gak mantep" jawab Abid, mereka tertawa.


"Gue kalau cewek juga ikut jadi fans lu si bang, di banding bang Chandra gue lebih suka lu" ujar Andi.


Abid terkekeh, "Keknya gue terlalu sempurna untuk jadi manusia"


"Harusnya gak usah lu puji tadi, ndiii" Andi tersenyum menampakkan giginya.


"Kupingnya jengatttt, tahan tahannn" Mereka terkekeh.


Abid bangun dari rebahannya, "Giliran kita masih lama?"


"Nggak pala jauh si, bid. Tiga atau empat tim lagi kita maju"


"Tidur sempet keknya"


"Jangan kayak gembel, bidd" ceramah Rangga.


"Gue kalau di foto hasilnya baguss ni, bukan kek gembelll"


Cekrekkk..


"Iya bener gak kek gembel" Abid bangkit lagi dari rebahannya.


"Hapus"


"Eh kenapaa? Kenang-kenangan, bid"


"Gue benci di foto tanpa izin!! Hapuss!!"


"Shelia,"


"Satuu"


"O-oke a-aku hapus"


"Lu bisa gak pergi dari sini??" tanya Rangga sinis. Mami Rangga dalam mode sinis.


"Kenapa?"


"Gue eneg liat muka lu yang sok polos, mending lu pigi deh sana"


Keempat junior mereka menganga mendengar perkataan Rangga, mereka tidak percaya Rangga sekejam itu.


Mereka berempat mengalihkan pandangan ke Shelia, perlahan tapi pasti Shelia pergi.


"Wahh, bang. Lu serem banget gila, gue takutt" keluh Andi.


"Jangan maen maenn makanyaa" sahut Heon.


"Kek nya bang, lu berenam kalau lahir di Korea udah debut jadi idol deh" ujar Denis.


"Gak perlu ke Korea lah, di Indonesia aja udah debut" jawab Tio.


"Jadi idol??"


"Jadi aktorr. Jadi second lead dari drama fans fanatik Abid"


"Anjirrr lo, gue diem gue kenaaa" mereka terkekeh.


"Abid dan timnya, silahkan bersiap-siap. Giliran kalian berikutnya"


Mereka pun berdiri tegap. "Gue yang masak tadi pagi, ya. Jangan sampe lemes lu pada" omel Abid.


"Oke, bang!!"


"Tim Abid, kalian bisa maju ke pos satu" Abid dan timnya maju memulai perjalanan dengan basmallah.


Jaraknya tidak terlalu jauh, jadi mereka lebih cepat sampai.


"Selamat siangg. Di pos satu ini, kalian cuma jawab dua pertanyaan. Satu orang gak bisa jawab atau salah jawaban, satu tim kudu di bedakin pake lumpur"


"Jawabnya kompak?" tanya Jefri.


"Terserah"


"Yoda buru mulai" suruh Abid.


"Oke, pertanyaan pertama. Perkembangan bakteri dengan cara rekomendasi genetik melalui tiga proses yaitu"


"Transformasi, transduksi dan konjugasii" jawab Andi.


"Oke, bener"


"Pinter lu ndii"


"Baru gue pelajari bang" Andi cengengesan.


"Lanjut pertanyaan kedua, di jawab barengan ya. Dua tambah satu kali nol sama dengan"


"Nol!!" jawab mereka serentak kecuali Abid. Abid menepuk jidatnya.


"Salahhh peakkk, dimana mana itu perkalian dulu baru pertambahan. Jawabannya duaaaa"


"Oh iyaa" Panitia tertawa melihatnya.


"Terima hukumannn"


Satu persatu muka mereka di cemongin dengan lumpur.


Abid yang mukanya setampan Manu Rios hanya diam ketika di bedakin lumpur, berbeda dengan teman-temannya.


Mereka sangatt rewel. "Yaahh, sia sia gue perawatan" keluh Eldi.


"Perawatan kumis kan?" Eldi mengangguk sambil cengengesan.


"Kalian bisa lanjut ke pos berikutnya"


Mereka pun menuju pos dua, cukup jauh jaraknya. Mereka juga berjalan perlahan karena di sebelah kiri kawasan rawa berlumpur.


Eldi kehilangan keseimbangan. "Yayayayayaa bajinggg"


Byuurrrr..


Mereka semua masuk ke rawa karena tarikan Eldi yang terkejut tadi.


Panitia tertawa puas melihat nya, "Eldi asuuuw" keluh Jefri. Eldi tertawa.


"Kalian kompak bangetttt yaa, jatuh aja barengan"


"Emang kompak, kesolidaritasan kami ni gede" jawab Rangga.


"Iya dehhh. Pos dua di sini, kalian ngelewatin rawa sambil cari satu koin dan satu kain"


"Bangsatttt" umpat mereka barengan.


"Just for fun guys"


"Waktunya sepuluh menit, dimulai dari sekaranggg"


Mereka berkeliling di rawa itu, dalam waktu lima menit Heon menemukan koin dan Dodi menemukan kain nya.


"Record sihh ini, kalian tercepat" Mereka memasang tampang menyombongkan diri.


"Kalian mau naik?" tanya panitia.


Abid menatap Rangga, begitupun dengan Rangga. Mereka bicara dengan kode rahasia. Setelah mengerti Rangga mengode yang lain.


"Buruan dah" pinta Rangga.


Lima panitia mengulurkan tangannya ingin menarik Rangga dan yang lain. Dengan liciknya, mereka menarik tangan para panitia hingga ikut terjatuh ke lumpur.


Dengan cepat mereka naik dengan sendirinya, tim Abid tertawa ngakak.


"Anjirrr lu padaa!!!"


"Kudu impas boss, kami duluan bye" tim Abid melanjutkan perjalanan. Panitia mengumpat sejadinya karena tingkah tim Abid.


Tim Abid berjalan santai sambil konser di jalan, mereka santai dengan penampilan yang sudah menyerupai gembel.


Tanpa terasa mereka tiba di pos tiga, pos air terjun. "Wahh udah kayak babii ya kaliann" sindir pak Dayat.


"Yang penting masih ganteng pak" jawab Tio. Pak Dayat tertawa sembari menggelengkan kepalanya.


"Di pos tiga, kalian gue kasih dua batu. Dua batu itu harus masuk ke situu" Si panitia menunjuk baskom yang ada di antara bebatuan.


"Kalau bisa kalian nyebur, dan kalau gak bisa kalian lanjut dengan penampilan kek gini"


Tim Abid melirik ke tim lain, "Belum ada yang bisa yaa?" tanya Heon.


"Belum"


"Ahh gampang ini, yang masuk cuma satu gapapakan?" tanya Eldi.


"Gapapa"


"Bid, lu ambil satu. Gue ambil satu" ujar Eldi, Abid mengambil batunya.


"Itungan ketiga lempar barengan"


"Satuu"


"Duaa"


"Tigaa!"


"YESHH YUHUU!!!" tim Abid langsung nyebur. Kedua batu tadi berhasil masuk ke dalam baskom.


"Anjirr sii anjirr, bisa bisanya masuk" Panitia terkejut melihat mereka berhasil.


"Kami ini bukan kaleng-kalengg" Teriak mereka kompak lalu tertawa.


"Waktunya sepuluh menit, yaa. Selamat bersih-bersih"


Sepuluh menit yang berharga itu digunakan untuk membersihkan baju, muka dan seluruh tubuh mereka. Bahkan ada dari mereka yang bertelanjang dada menikmati nikmat nya air terjun.


"Waktu abisss" Mereka pun naik dan kembali memakai baju.


"Silahkan ke pos terakhir"


Rangga memimpin menuju pos akhir.


"Pos nya Sisi, anjirr bangettt coy. Dia dendam tuu" ujar Eldi.


"Anjayaniii su'udzon" cibir Tio.


"Wooppp di belain donggg"


"Eh ngga gitu anjyangg" Mereka terkekeh.


"Gibahin guee?" tanya Sisi, tim Abid tiba di pos akhir.


"Geer amat luu" cibir Tio.


"Yo yo, gak usah sok cool gitu dong" ledek Jefri.


"Bangjep bangsattt" Jefri tertawa melihat muka kesal Tio.


"Dah dahh.. di pos akhir gak susah kok. Kalian suit atau nggak cap cip cup. Satu dari kalian mewakili untuk pemilihan"


Abid mengajak mereka hompimpa, hingga akhirnya Rangga yang jadi tumbal.


"Rangga, pilih truth or dare?" tanya Sisi.


"Dare" jawab Rangga mantap.


"Deal ya tanpa ubah" Rangga menjabat tangan Sisi. "Deal!"


"Tantangannya, tembak satu cewek yang ada di sini. Di sini maksudnya di tempat ini, yang ikut camp. Terserah siapa"


"Asianjiirrr" Black blood tertawa puas.


"Laksanakan bosss," suruh Eldi.


"Ke siapaaa cobaaa?" Rangga melihat sekeliling.


"Bang Abid pinjem ono yaa" Rangga melirik Balqis.


"Gue lempar lu ke kandang ayam" Rangga cengengesan.


"Mayoritas tim milih truth tadi, lu sendiri yang dare" ujar Sisi.


"Keknya nyesel gue milih tantangan"


"Udahh buru, itu Fany loh ada rangg"


Jantung Rangga berdetak cepat, "Bunga bungaa. Cariin bungaa" suruh Abid.


"Bunga ****** bang?" tanya Putra. Abid mengangguk sambil tertawa.


"Si anjirrrr"


"Bentar deh gue cariinn" Tio pergi mencari bunga.


"Adanya bunga ini nii rang"


"Cakeppp awwhhh"


Rangga menghela nafas lalu mengambil bunganya. Mereka memperhatikan Rangga, bahkan ada panitia yang merekamnya.


"Fany"


"Eh, Rangga" Fany menatap Rangga.


"Kenapaa?"


"Em... em... gue gugup"


"Lama woii cemen amatt luuu" cibir Jefri. Semua pandangan menuju Rangga dan Fany. Rangga mengumpat dalam hatinya karena Jefri.


"Emmm.. ini tantangan. Tapi sebenernya, yang gue bilang ini bener kenyataannya"


"Fanyy" Rangga berlutut, "Lu mau kaga jadi pacar gue?"


Ledekan terdengar begitu jelas karena penuturan Rangga. Tim Abid memperhatikannya sambil tersenyum-senyum.


"Gue tau ini gak romantis, tapi ini kesempatan gue. Jadi, lu terima gue atau---"


"Aku terimaa" mata Rangga berbinar. Dia bangkit lalu bersorak kegirangan. Siulan pun terdengar dari timnya.


"YAHHHH, BLACK BLOOD JOMBLO BERKURANG"


"Hahahaha"