
"Kak Silvia, Balqis gak pernah pelet kak Abid!!!"
"Buka mata lu"
Suara ini, suara yang Balqis rindukan. Ia membuka matanya. "Kak Abid!!"
Balqis menubruk badan Abid, ia memeluk erat Abid, sangat erat. Cairan bening mulai menetes dari matanya.
"Balqis rindu" bisik Balqis. Abid hanya diam, tidak membalas pelukannya. Abid yang saat ini di toilet adalah Abid yang dingin.
"Kakkk, Balqis mimpi kah? Salah orang kah? Kak Abid bener kan??" Balqis mendongak lalu memeluk Abid lagi.
"Balqis rindu kakakk"
'gue juga rindu, lebih rindu dari lu'
"Kakak baik-baik aja kan? Kakak darimana? Balqis takut kakak kenapa-kenapa. Kakak tidur di mana semalam?"
Abid hanya menatap Balqis tanpa menjawab semua pertanyaan Balqis. Perlahan-lahan Abid maju, ia menyandarkan Balqis di dinding, dan mencegahnya keluar dengan satu tangan.
"Lu anggep gue apa?" suara Abid benar-benar datar.
"Suami! Suami Balqis yang paling Balqis cinta!"
"Gue butuh jawaban jujur"
"B-Balqis udah jujur kak"
"Terus kenapa lu bohong sama gue tentang Silviaa, hah??!"
"Jawab gue"
Balqis menunduk, ia melihat lutut Abid yang mengeluarkan darah.
"K-kakak kenapaa? L-lutut kakakk..."
"Jangan ubah topik pembicaraan"
"B-Balqis.. Balqis gak mau kakak marah-marah"
"Kasih gue alasan yang jelas!"
"B-Balqis gak mau kakak apa-apain kak Silvia"
"Kenapaa?"
"Karena Balqis gak mau kakak jadi jahat"
'Bukan ini jawaban yang gue mau' batin Abid.
Abid menghela nafas, "Berapa kali?"
"A-apanya kak?"
"Berapa kali lu di bully?"
"Sat--"
"Lu bohong gue gak bakal mau pulang ke apartemen. Gue gak bakal mau ketemu sama lu, dan gue bisa aja ngilang dari bumi. Jadi, lebih baik lu jujur sekarang"
"D-dua" Balqis menahan air matanya keluar.
"Kenapa lu gak pernah bilang Balqis, kenapaaa?!"
"Coba dari awal lu bilang sama gue, gak bakal gini rasanya! Lu pikir gue gak sakit hati di bohongin? Tio, Eldi, mereka tau masalah lu, sedangkan gue? Gue suami lu tapi gak tau apa apa, gue merasa gak berguna sekarang!! Gue merasa gak pantes jadi suami lu! Gue merasa gak bisa jagain lu, gak bisa jaga amanah papa!!"
"Balqis minta maaf kak"
"Balqis minta maaf"
Abid memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang. Abid menatap lama Balqis yang menunduk lalu menarik Balqis, Abid memeluk Balqis sangat erat.
"Lu gak tau betapa tersiksanya gue karena jauh dari lu"
Balqis membalas pelukannya sambil menangis, "Balqis minta maaf kak.. hiks hiks.. maaff" Abid mengeratkan pelukannya sambil sesekali mengecup kening Balqis.
Cukup lama mereka berpelukan, Abid melepas kan pelukannya ketika sudah tenang. Abid menatap Balqis, mengelap air mata Balqis.
Mereka saling bertatapan. Mata liar Abid tiba-tiba mengarah ke bibir Balqis.
Perlahan-lahan, Abid mendekatkan bibirnya menuju bibir Balqis. Abid mencium Balqis.
Melihat Balqis hanya diam, Abid menjauhkan bibirnya, melepas ciuman. Sedangkan Balqis, ia membuka mata lalu menatap Abid.
Balqis mendekat ke Abid, sedikit jinjit, ia mengalungkan tangannya di leher Abid lalu mencium Abid. Abid membalas ciumannya.
Ciuman mereka makin liarr, tangan Balqis juga mendadak liar. Tangannya menuju baju kemeja Abid dan membuka kancingnya satu persatu.
Seluruh kancing pun terlepas, Abid melepas ciuman lalu membuka bajunya. Abid melihat Balqis yang mengalihkan pandangannya, pipi Balqis memerah.
Abid tersenyum smirk, ia menarik Balqis. Mereka kembali berciuman.
Drrrttt.. Drtttt..
Abid tidak perduli.
Drrrttt... Drrttt..
Abid mulai terganggu.
Drrrttt... Drrttt..
Abid kesall, ia melepas ciumannya. "Angkat!"
Balqis langsung merogoh sakunya mengambil ponsel, "Siapa?"
"Kak Rangga"
"Ashhs.. ganggu aja"
Balqis cengengesan, ia mengangkat panggilan Rangga.
π "Woii lu dimanaa!! Udah mau berangkat ini!"
"Waalaikumsalam, Balqis di kamar mandi kak, kamar mandi nggak jauh dari tempat tadi"
π "Ngapainn? Silvia lagii? Gue denger lu belum ada gabung sama tim lu!"
"Balqis ditarik kak Abid"
π "Gue otewe"
Rangga mematikan teleponnya.
Abid menatap Balqis, "Udah?" Balqis mengangguk.
"Matikan hp lu" Abid mendekat lagi.
Balqis mendorongnya. "Kak, ini area sekolah. Kalau ketauan gimana? Kak Rangga juga mau datang katanya"
Abid menghela nafas panjang, "Perusuh emang si Rangga" Balqis tersenyum pepsodent.
"Kakak kemana semalam? Lutut kakak kenapa??"
"Jatoh"
"Jatuh dimanaa??" tanya Balqis panik.
"Di tikungan"
"Kenapa gak ati-ati si kak"
"Gue gapapa"
"Lu apa yang sakit? Diapain aja sama Silvia?"
"Gapapa kok kak, udah gak sakit"
"Bohong dosa!"
"Balqis gak boong"
"Besok-besok apapun masalahnya, lu harus cerita sama gue! Dan jangan pernah bohong lagi ke gue!!"
Balqis mengangguk, "Janji!!"
Balqis menautkan kelingkingnya. "Janjii"
Brukk...
"Astaga, astaghfirullah"
Mereka langsung berbalik melihat Abid yang bertelanjang dada. Pikiran mereka sudah mengarah ke hal-hal negatif.
"Bid, jangan meresahkan ya. Ini area sekolah!"
Abid tertawa.
"Gausah ketawa lu, lu dari mana hah?!" tanya Rangga sinis.
"Keliling dunia, cari Ronaldo, ngajakin mabar"
"Gak usah ngelawak anjirrrr" Abid cengengesan.
"Itu.. siku lo luka begooo" Abid melihat sikunya.
"Ah iya gak kerasa"
"Ayok ke uks kakk" ajak Balqis.
"Ntar"
"Masalah... kalian udah selesai?" tanya Tio. Abid mengangguk.
Tio bernafas lega.
"Lu tau bid, virus 'ini salah gue' menyebar. Tio udah ketularan, dari semalam dia kalem kek ngerasa bersalah karena ngebocorin itu" celoteh Eldi.
Abid tertawa, "Thank you udah di bocorin"
"Sama sama" kata Tio cengengesan.
"Eh bid, lo ikut camp?" tanya Heon.
Abid mengangguk. "Baju??"
"Aman itu nanti, lu pada duluan aja sana. Oh iya, kalau ketemu bu Jihan suruh tunggu gue"
"Tunggu gimana??"
"Ya suruh tunggu aja"
"Okelah"
"Mana kunci mobil gua?" Rangga memberikan kuncinya.
"Lu naik apa kesini?"
"Taksi"
"Motor luu??"
"Bengkell"
"Begoo si bukannya ati-atii"
"Lu nyusul ya!!" Abid mengangguk.
"Ah iya, nih kalau Balqis dicariin temen-temennya bilang lagi jadi dokter" Mereka mengangguk.
"Awas aja lu gak nyusul"
"Iya bawel, sono dah"
Mereka pun pergi meninggalkan Abid dan Balqis.
Abid mengambil bajunya lalu mengambil alih tas Balqis. "Ayok ke apart"
Balqis keluar kamar mandi duluan disusul Abid. Mereka menuju ruang kepsek terlebih dahulu.
"Kemana aja, saya gak liat kamu dari tadi"
"Gak kemana-mana buk, ibu rindu yaa?"
"Karep mu dah bid. Ini Balqis gak ikut? Kalian bedua gak ikut camping?"
"Nyusul gapapa ya buk?"
"Nyusul kenapa?"
Abid menunjukkan siku dan lututnya, "Saya abis jatuh buk, butuh pengobatan. Barang saya juga ketinggalan buk"
"Kamu berantem lagi?" tanya Bu Jihan.
"Jatuh buk, bukan berantem"
"Obati ke uks sana, Balqis yang obatin kan?" Abid mengangguk.
"Nanti kan saya pulang buk, ibu sharelock ya biar saya nyusul"
"Kamu aja nanti sharelock rumah, biar supir saya yang jemput setelah antar saya ke lokasi"
"Serius ibu?" Bu Jihan mengangguk.
"Makasih yaa buuu"
"Iyaaa iya, udah sana buruan"
"Oke buk, saya permisi dulu"
βͺβͺ
"Balqis juga mimpi kakak jatuh tadi pagii, untung aja ini gak parah" Balqis di kamar Abid. Ia mengobati Abid di apartemen.
"Lu beneran cinta sama gue?"
"Bangettt tauuu!"
"Bukan cuma kasian?"
"Kasian apaan kak, ngaco deh. Balqis cintaa banget sama kakak, banget bangettt"
"For you information sih, cinta gue lebih besar ke lu"
"Gomball"
"Dah siapp" Balqis membereskan kotak P3K.
"Mau tetep di kamar liat gue ganti baju atau mau keluar?"
"Keluar"
"Nggak usah lahh"
"Jangan mesum ya kak Abid!!"
Abid tertawa, "Gue mesum cuma di depan lo"
"Halahh" Balqis keluar kamar Abid.
Tujuh menit kemudian Abid keluar dari kamarnya.
"Kakak makan dulu, biar Balqis yang beresin bajunya. Mobilnya juga belum jemput"
"Masak apa emang tadi pagi?"
"Masak nasi goreng, tapi udah abis"
"Lah, aku makan apa jadinya?"
"Balqis udah pesen makanan McD. Udah dianter tuh di meja, udah Balqis siapin juga"
Abid mendekat, mengecup bibir Balqis. "You're perfect wife"
"Modusss, dah sana buruan makan"
"Balqissss" Abid selesai makan, ia berjalan menuju kamarnya.
"Iya k--" Balqis menabrak Abid, Balqis tak sadar Abid di depan pintu kamarnya, ia berjalan sambil bermain ponsel tadi.
"Jalan ya jalan, main hp ya main hp. Jangan digabungin" ceramah Abid sambil menahan punggung Balqis. "Hehe maap" Abid tersenyum smirk sambil melirik bibir Balqis.
"Kita lanjutkan yang tadi??"
"Y-yang tadi mana?" Bukannya menjawab Abid malah mendaratkan bibirnya di bibir Balqis.
Balqis diam.
Kemudian ia memukul pelan dada Abid, Abid melepas ciumannya. "Waktunya gak pas kak, ntar supir buk Jihan datang"
"Kalau gitu.. gimana kalau kita gak pergi?"
"Haaahhhh?? Kakak jangan ngac---" Abid mencium Balqis lagi. Kali ini, Balqis terbawa suasana. Dia membalas Abid.
Drrrrttt...
Balqis mendorong Abid.
"Astaghfirullah, kebanyakan dosa apa gimana sih gua?! Di ganggu muluuu!! Lama lama gue musnahin ni hape!!" Balqis cengengesan melihat Abid yang marah namun terkesan lucu.
"Kakak kyutt banget ih" Balqis mengelus pipi Abid. "Jangan goda ya kalau gak mau tanggung jawab!!" Balqis nyengir.
Drrrttt... Drrrttt...
Cup~
"Tunggu sebentar" Abid merogoh sakunya.
π "Halo assalamu'alaikum, Abid"
"Waalaikumsalam buk Jihan, ada apa buk?"
π "Saya di depan apartemen kamu"