A B I D

A B I D
– Dalam bahaya



Ehm.. baca ini juga yee.


Gini guys, author tu bukannya gak mau up. Sebelum di publish kan author tulis di apk catatan dulu, nahhh kemarenn yang udah di tulis ilang semuaa.


Jadii yang dari mt/nt chapter sebelumnya kudu di salin duluu. Seratus chapter kan banyak, di tambah lagi susah sinyal disini, makanya gak up up.


Maaf yaa buat kalian nungguu and makasih yang masih mau nungguu. Lop sekebonnn! <3


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


12.03, sekolahnya Avi dan Devi.


Ini jam pulang sekolah, mereka pulang lebih awal karena para guru akan rapat. Devina sedang berjalan sendirian menuju gerbang keluar.


"Woii, Devi!"


Devi yang di panggil menoleh, "apa?"


"Sini lu!"


"Apa sih? Gak penting bangettt." Devi memilih pergi, tapi salah satu diantara mereka yang memanggil Devi mengejar dan menariknya.


Devi menghela nafas panjang setelah di banting ke pintu kamar mandi.


"Gak usah sok deh lu! Sementang lu cantik, lu semena-mena ke semua orang!"


"Mirror go*lokk, lu yang sering semena-mena sama gue!"


Yaa, itu jawaban Devi.


"Gak usah ngelawan, to*oll!"


"Gak usah ngebacot, to*oll!"


Plak!!


Devina terkena tamparan.


"Dasarrr murahan!"


Devina diam mencoba untuk sabar.


"Percuma cantik tapi murahan, genit sama cowok orang. Najis banget gue liat nya!"


Devina tersenyum, "bisa-bisanya lu bully gue. Bosen hidup?"


Mereka terkekeh mendengarnya, "gue yang seharusnya nanya... LU BOSEN HIDUP?!"


"Ahh, kelihatan sekarang yang murahan mana. Perkara gue sekelompok sama pacar lu, lu giniin gue dua bulan terakhir. Lu punya otak kan? Coba dipake buat mikir, tapi keknya lu gak punya otak makanya gak bisa mikir."


Plak!!


Devina terkena tamparan yang kedua kalinya.


"H-heyy! I-ini area sekolahh!!" Pria culun sekelas Devina muncul.


"Heh culun, gak usah ikut campur! Mending lu pulang sanaa minum susu emak lu!"


Devina berdecih, "keliatan banget gak ada otaknya."


Devina ingin di tampar lagi, akan tetapi ia bisa menahan tangan pembully itu. Devina memutar pergelangan tangannya sampai ia kesakitan.


Setelah itu Devina menendang perutnya.


"Gue diem bukan berarti gue lemah!"


"Bacottt!" Devina di tarik, rambutnya di jambak dan di potong secara acak.


"K-kalian berhentiii!! A-aku bakal laporin guru bk kalau kalian gak behrenti!!"


"Lu ngomong aja masih salah salah, culun. Mending lu pergi!"


Siswa mengambil ponsel di sakunya.


"Ayo cabut!" Tiga wanita rusuh itu pergi.


"K-kamu gak kenapa-kenapa??"


"Gue gapapa. Thank you, Naufan."


"Iyaa, aku duluan ya. Kamu hati-hatii." Devina mengangguk, siswa bernama Naufan itu pergi.


"Ahh.. merusak style aja!" Devina masuk ke kamar mandi untuk merapikan rambutnya. Ia memakai tudung hoodie untuk menutupi rambut yang terkena potongan.


Drtt.. Drtt..


Panggilan masuk dari Avi. Devina berhenti jalan kemudian mengambil ponselnya.


📞 "Assalamu'alaikum, Dep, kamu pulang sendiri ya?"


"Waalaikumsalam, kenapa? Kamu mampir kemanaa?"


📞 "Aku ada acara sama temen, udah izin ke bunda kok."


"Jangan lupa izin ke bang Abid!"


📞 "Kagak berani. Kamu bisa kan pulang sendiri?"


Devina berdehem.


📞 "Mau ku pesenin taksi online?"


"Gak usah, aku mau mampir ke kafe depan."


📞 "Owghey, hati-hati kalau ada apa-apa telepon."


"Iya, kamu juga." Devina langsung mematikan panggilan tanpa salam.


Ia pun melanjutkan jalan keluar pagar menuju supermarket. Setelah dari supermarket, Devina masuk ke salah satu kafe aesthetic.


Devina memesan minuman dingin lalu duduk di dekat kaca.


"Permisi, boleh saya duduk disini?"


Mendengar suara ini tidak asing, Devina mendongak.


"Aaaa, bang Jeppp!!" Devina beranjak memeluk Jefri, Jefri membalas pelukannya dengan erat.


"Sendirian, cantik?" Devina mengangguk, mereka sudah duduk kembali.


"Avi mana?"


"Katanya sih ada acara sama temennyaa."


"Kamu gak ikut?"


"Avi Devi kan beda kelas abaangg." Jefri mengangguk paham, minuman mereka tiba.


Devina dan Jefri sama-sama meminumnya dengan tenang.


"Bang Jep sendirian??"


"Nggak, kan kamu disini."


"Ishh, maksud Devi tadii abang sendiri kesinii??"


Jefri cengengesan lalu mengangguk, "mau sama siapa lagi? Anak-anak sibuk sama bucinannya." Devina tertawa kecil mendengar itu.


"Kenapa di pake tudung hoodie nya? Gak panas?"


"Ohh ini? Enggak panass, emang sengaja untuk melindungi otak Devina biar gak meledak." Jefri tertawa.


"Coba jujur sekarang, Devi di bully gak di sekolah?" Devina terpaku.


"Nggakk."


"Nggak?" Beo Jefri, Devi menggeleng.


"Yakin?" Devi mengangguk.


"Jujur kalau emang iyaa, kalau kamu gak mau bang Abid tau gak bakal abang bilang ke Abid."


Devina terdiam, haruskah ia cerita?


"Tapi kalau nggak mau cerita juga gak masalah. Inget ya, kalau kamu dalam masalah apapun abang bisa bantu. Butuh temen cerita? Abang bisa jadi pendengar yang baik."


Devina tersenyum mendengarnya, "makasih abaangg."


Jefri mendekat ke Devina, ia mengelus rambut Devina sambil tersenyum lalu kembali duduk.


"Abang gimana kuliahnya?? Gak nemu cewek kahh?"


"Cewek abang di depan abang nih."


"Apaansiii?" Devina malu-malu. Jefri tertawa melihatnya.


"Devi kelas berapa??"


"Satu SMP."


"Kita beda berapa tahun??"


"Eum.. sekitarrr tujuh tahunann." Jefri berohria.


"Kenapa emang, bang??"


"Nggapapaa, kayaknya abang harus mundur karena perbedaan usia."


❃❃❃


Alfa Group.


Abid meregangkan tubuhnya setelah kelamaan berhadapan dengan komputer di depannya.


Ia melihat ke arah Balqis yang duduk di sofa sambil menonton televisi. Abid yakin, Balqis bosan menunggu.


Tadinya Abid tidak ingin mengajak Balqis ke kantor, tapi, apalah daya Balqis yang bebal kalau di bilangi.


Abid berjalan menuju Balqis, ehh ternyata Balqis tidurr. Abid jongkok sambil menatapi Balqis, benar-benar cantik istrinya.


Perlahan, Abid meletakkan tangannya untuk menggendong Balqis. Tapi tiba-tiba Balqis membuka mata mengagetkan Abid.


"Mau kemanaa?"


"Kamu tu ya! Suka banget buat aku kagett!" Balqis cengengesan. Abid kembali jongkok di samping sofa.


"Bosen??" Balqis duduk lalu mengangguk.


"Di suruh diem di rumah gak mau kamu!"


"Lebih bosennn tauuu." Abid berohria.


"Mau makan siang?"


"Makan di kantin atau di luar?"


"Di luarrr." Jawab Balqis bersemangat.


"Mau makan apa?"


"Jangan bilang terserah." Balqis cengengesan lalu meletakkan tangannya di bahu Abid. Tangan kekar Abid langsung mengangkat tubuh Balqis.


Abid berdiri kemudian duduk di sofa dan membiarkan Balqis di pangkuannya. Abid mengecup pipi chubby Balqis.


"Ini di kantor abangg!!" Abid terkekeh melihat ekspresi Balqis.


"Jadi mau mak—"


"Astaghfirullah pak CEO." Balqis langsung berpindah tempat.


"Ayah masuk tu ngetok pintu dulu kek apa nggak salaam!" Omel Abid kesal. Abay tertawa kecil.


"Saya tau bapak sedang melepas rindu dan sebagainya, tetapi jangan di kantor dong pak. Kasian yang jombloo." Sahut Abiyyu.


"Ayah sama mas Abiy ngintip ya?!" Mereka berdua malah tertawa.


"Biy, liat adek ipar mu malu-malu."


"Ayahh.." Balqis protes, mukanya memerah.


"B-Balqis keluar duluu."


Abid menarik tangannya, "mau kemana?"


"Ke-- ke kantinn."


"Katanya makan di luar. Ayah sama mas Abiyyu cuma bentar doang, kamu masuk ke ruangan pribadi aku aja. Pinnya...." Abid menyuruh Balqis mendekat.


"Tanggal pernikahan kita." Balqis tersipu.


"Balqis pergi dulu yah, kak." Abiyyu dan Abay mengangguk, Balqis masuk ke ruangan pribadi Abid.


"Nakal lu, ya!"


"Udah sahh!"


"Jadiii? Mentang-mentang udah sah enak romantisan di depan umum?"


"Oh ya jelas!"


"Emang ilang akhlak anak ayah ini."


"Iri? Bilang babuu!"


"Sabar Biyuu, sabar!" Abid tertawa geli.


"AAHH!!"


Abid langsung berdiri dan menuju ruangan pribadinya.


"Sayangg?"


"Abang.. ada kecoaa!" Abid memeluk Balqis kemudian membawanya keluar.


"Kenapa, Bid?"


"Ada kembarannya Abiyyu, yah."


"Ha?"


"Kecoa."


"Adek laknat!!" Abid cengengesan.


"Yaudah, Balqis duduk aja disinii. Ayah sama Abiyyu nanti pura-pura lupa ajaa." Balqis malu-malu.


Abid sendiri tidak melihat Balqis, ia menyuruh orang untuk membersihkan ruangannya.


"Hoam.. Abid ngantuk! Ayah sama Abiyyu ada tujuan apa?"


"Alesan mu lah lahh."


"Maklumin aja, yah. Orang sibuk," ledek Abiyyu.


"Abiyyu minta di tokok pake batu kepalanya!" Abiyyu nyengir.


"Yaudah gak jadi sekarang. Ntar malem ayah ke rumah kamu, sama bunda, sama Biyuu."


"Avi Devi, yah?" Tanya Balqis.


"Yaa.. sekalian."


"Emang mo bicarain apaan? Kayaknya serius bangett."


"Nggak serius juga sih, b aja. Ntar sekalian main ke rumah kamu. Rumah baruu," ujar Abay.


"Rumah baru dari mane? Eh, ayah emang belum pernah ke rumah Abid?"


"Udah sering, Bidd."


"Ngapainn?"


"Pantau mantu! Awas aja kamu macem-macem sama mantu ayah, ya!"


Abid menganggukkan kepalanya, "gak macem-macem cuma satu macem."


"Bid!" Abid cengengesan.


"Abid pasti mau uwu uwu, yah. Pulang yok," ajak Abiyyu.


"Iya ayok, ayah juga kasian sama kamu. Betah amat ngejomblo." Abiyyu menatap kesal ayahnya, Abid sendiri sudah menahan agar tidak tertawa.


"Nahan ketawa lebih susah daripada nahan kentut, ketawa aja lu!" Malah Abay dan Balqis yang tertawa.


"Yaudahh, ayah sama Biyuu pulang dulu!" Abid mengangguk.


"Pintu di sebelah sana, yahh."


"Pak CEO nya minta di pecat!"


"Ehh jangan atuuhh," Abid cengengesan.


"Dahla, yok yahh. Assalamu'alaikum," Abiyyu dan Abay pergi.


"Wa'alaikumsalam."


Melihat mereka sudah menjauh, Abid menatap Balqis. Sepertinya dia marah.


"Ngambek?"


"Ga tau, bodoamat."


"Aduh-aduhh, gemesin bangett partner hidupkuu."


"Gak usah sok bujuk!"


❃❃


"Abangg."


"Kenapa sayang?"


"Kecoa terbuat dari apa?" Abid berhenti makan lalu menatap Balqis.


"Kita lagi makan, kenapa bahas kecoa?!" Balqis menggeleng sambil cengengesan.


"Oiya abanggg."


"Hmm?" Abid sudah selesai makan.


"Balqis pernah denger, katanya kak Jefri nunggu Devina besarr buat di jadiin istrii. Bener kah?"


"Emm.. mungkin. Kenapa?"


"Abang setuju??"


"Kalau Devi mau kenapa di tolak? Lagipula Jefri ganteng, Jefri baek dan dia paling penyabar sih diantara kamii."


"Aku gak pernah ngelarang mereka sama siapa, yang penting aku tau akhlaknya."


"Teruss, kalau misalnya yang sama kak Jefri abang setuju tapi yang lain gak setuju gimanaa?"


"Urusan Jefri itu mah. Kalau niat pasti dia cari cara biar dapat restu." Balqis mengangguk paham.


"Udah siap makannya? Aku bayar bentar yaa." Balqis mengangguk, Abid pergi menuju kasir.


Drttt.. Drtt..


Ponsel Abid yang di meja bergetar. Panggilan dari Avi, Balqis mengangkatnya.


"Hal—"


📞 "Jangannn jangan.. mundurrr! Mundur luuu!"


Balqis terheran-heran. Ia menyusul Abid ke kasir kemudian memberikan ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Avi?"


📞 "Lu gak bakal bisa pergi dari guee, hahaha."


📞 "Jangan apa-apain gueee! Mundurrr luu!!"


Abid menarik tangan Balqis untuk meninggalkan restoran. Di mobil Abid melacak ke beradaan Avi dan ternyataa, Avi berada di kafe yang sama dengannya.


"Avi dalam bahaya. Kamu diem di sini! Jangan keluar, kunci mobil. Paham?!" Balqis mengangguk, Abid langsung keluar mobil kemudian kembali masuk ke restoran itu.


Mereka di ruangan VVIP.


Abid langsung mendobrak pintu untuk masuk. Pintu terbuka, seketika terlihat lah Avi yang sedang di kasari.


"Avi!"


"Abang.." Abid melihat ke arah musuh. Mereka terdiri dari dua wanita dan tiga pria.


"Menjauhlah atau Avi bakal terbunuh." Temannya meletakkan pisau di dekat leher Avi. Abid tersenyum smirk.


"Sepertinya, anda salah lawan!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Aaaahh!"