
Setelah pergi dari kantin, Abid dengan mood nya yang tidak bagus berjalan sendirian menuju kelasnya.
"Abid" Silvia datang langsung menggelayut manja di tangan Abid.
"Lepas" suruh Abid masih santai. Bukannya melepas, Silvia malah senang karena Abid tidak menyenggaknya.
"Ke kantin yuk sayang" ajak Silvia. Abid memijat pelipisnya dengan tangan kanan.
"Lepas Silvia. LEPAS!" mereka jadi pusat perhatian sekarang.
"Bisa gak sih gak usah murah kayak gini? Lo gak laku? Hah?!" Abid membentak Silvia. Silvia sedikit terkejut, namun dia tetap tidak melepasnya.
"Apa kalian liat-liat?!" bentak Silvia balik pada siswa siswi yang melihat dan menggosipkannya. Siswa-siswi yang melihatnya pun mengalihkan pandangan.
"Jangan buat gue kasar sama cewek"
"Satu"
"Tampar aja aku kalau kamu berani"
"Fine"
Ketika ingin menampar Silvia, tangan Balqis menahan tangan Abid. Abid melihat ke belakang, Balqis sedang menggelengkan kepalanya mengisyaratkan untuk jangan melakukan hal bodoh itu.
Abid melepaskan pegangan Balqis lalu pergi.
"Kak Abidd" Balqis mengejar Abid.
"Silvia Silvia, emang ya lo itu JAL*NG" maki Rangga.
"Gue peringatkan sama lo, jangan ganggu Abid kalau gak mau terima akibatnya"
☣☣
"Kak Abidddd ih, kaki kak Abid panjang bangett. Pelan dong jalannyaaa"
"Kak Abidd tungguuuinn"
"Kakkk"
"Kakk Abidddd"
Balqis ngos-ngosan mengejar Abid yang punya kaki panjang. Balqis melihat sekelilingnya, ternyata sangat sangat sepi. Balqis memberanikan diri berlari lalu memeluk Abid dari belakang. Abid terhenti.
"Jangan marah-marah mulu dongg"
"Kak Abid kayak es batu berjalan tau nggak?"
"Kak Abid diem aja, sariawan?"
"Kak Abid, ih Balqis takut kakak masih hidupkan?"
"Kak Abidd?" Abid melepas pelukan Balqis lalu berbalik.
"Lo bawel ya?"
"Em.." Balqis menunduk sambil sedikit tersenyum.
"Kak Abid masih marah?"
"Balqis minta maaapp"
"Nggak gitu lagi deh janji" Balqis mengangkat jari kelingkingnya.
Bukan membalas, Abid malah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sma.
"Ditolak mentah-mentah kamu" Balqis berbicara dengan kelingkingnya.
Abid tersenyum melihat tingkah konyol Balqis.
"Kak Abid kenapa senyum senyum? Ihh kerasukan hantu sekolah yaa?"
"Serem banget ampunnn"
"Banyak hantu emang katanya kak. Ini lagi tempat sepi pula"
"Kok horor ya?" Balqis melihat sekelilingnya sambil mengusap tangan kanannya dengan tangan kiri.
Abid masih saja tersenyum.
"Kak Abid ngomong kek. Beneran kerasukan???"
"Seremmm bangettttt" Balqis melihat ke kiri.
Abid pun mencari kesempatan dalam kesempitan. Dia mengecup pipi kanan Balqis. Balqis terkejut sambil memegangi pipinya.
"Astaghfirullah! Hantunya kok giniii?!"
Abid tertawa. "Bawel banget ya? Kebangetan bawelnya"
Balqis cengengesan. "Kakak masih marah sama Balqis?"
"Jangan marah-marah. Serem"
"Ngga serem-serem amat si tap--"
Cup~
Abid mengecup bibir Balqis. "Bawelnya cuma sama gue, jangan ke orang lain"
Abid pun pergi masih dengan senyuman karena muka merahnya Balqis. "Astaghfirullah kak Abid berdosa banget! Bikin jantungan ajaa! Fiks, pulang sekolah aku periksa ke dokter!"
〽〽
Abid terus berjalan mengelilingi sekolah dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Lo kenapa senyum-senyum? Sehatkan?"
Sisi Aprilia, sang wakil ketua OSIS tiba tiba muncul di hadapan Abid.
"Ck, perusuh"
"Dih anjirrr, gitu amatt" Abid menyedikkan bahunya.
"Tumben sendiri? Mana geng geng lo itu?" tanya Sisi.
"Bilang aja kalau nyari Tio. Kalau demen ntar gue comblangin"
"Najiss woii astagaaa" Abid tertawa.
'ampun, ganteng nya warbiasaaa. nikmat mana lagi yang lo dustain sisi! eh'
"Lo ganteng ya ternyata"
"Mata lo aja yang selama ini bujelan. Ketutupan taii yang tebalnya segede gaban"
"Nyesel gue muji" Abid cengengesan.
"Kenapa nyariin tim gue?"
"Nggak, cuma nanya doang"
"Jujur aja kalau nyariin Tio. Nanti gue sampein salamnya kok. Gue duluan" Abid menepuk pundak Sisi lalu pergi.
"Lah itu orang. Anak manusia bukan sih?"
චᆽච
"Fany mana?"
"Ke toilet" jawab Jefri.
"Eh, lo darimana bambanggg?!" tanya Rangga.
"Patroli"
"Patroli taiiiii semangka!" jawab Eldi.
"Malah bahas taii, demen banget sama taii" Rangga ikut nyambung.
"Taii tu tadi makan sarapannya Jefri"
"Gue diem, gue kena" Abid tertawa.
"Lo darimana?" tanya Rangga lagi.
"Gak dari mana-mana"
"Aneh. Bukannya dia tadi marah-marah? Kenapa sekarang hawanya beda?" tanya Eldi.
"Kan abis dibujukin sama ehem ehemnyaaaa" ledek Tio, Jefri, dan Rangga.
"Ck, pada bacot ya?!" Keempat-empatnya tertawa.
"Oh iya yo, gue tadi ketemu sama Sisi. Katanya dia titip salam sama lo"
"Cie cieeee Tioooo"
"Ngaco woi!"
"Tio salting dong salting"
"Apaaan woi nggak!"
"Cie ciee ehem"
"Kek anak-anak kalian"
"Cieee"
"Astaghfirullah, temen hamba gini amat Ya Allah"
"Hahahaha"
Ting...
Abid meraih ponselnya.
Ayah
Pulang sekolah, temui ayah di kafe jl xxys.
Abid
Nanti Abid kesana setelah nganterin Balqis pulang.
"Kenapa, Bid?" tanya Jefri.
"Bokap mau ketemu"
"Teruss? Gimanaa?" tanya Tio.
"Gimana apanya? Ya gue iyain lah"
"Ketua perlu dikawal?" tanya Eldi.
"Lebayy lo jablay" Eldi tertawa.
"Eh katanya tuh anak osis mau ngadain acara"
"Terus?" tanya Jefri menatap Eldi.
"Anak organisasi bimbingan pak Amri juga ngadain acara" jawab Tio.
"Lah?"
"Dan acaranya hampir barengan"
"Terus itu ntar milih salah satu?" tanya Rangga.
"Kalau misalnya dua-dua maju ya kudu di vote lah" jawab Jefri.
"Anak organisasi pak Amri acara apa?" tanya Rangga.
"Kemping gituu"
"Kalau anak osis, acara apa?" tanya Abid.
"Acara religius, hadiahnya apa ya lupa gue. Anak osis ngadain itu biar hilang hantu di sma" Abid tertawa ngakak karena teringat ucapan Balqis tadi.
"Di kerasukan satu hantu sma"
⛱⛱
"Lain kali inget kalau pulang tu ditungguin suami. Gak tau apa nunggu itu gak enak?!" tanya Abid sinis.
"Iya maap kak, tadi tu gurunya ngelebihin jam. Emang tidak berbudiman" Abid tertawa.
"Yaudah masuk" Balqis melihat sekelilingnya, terlihat sepi barulah ia masuk.
"Mau makan siang dimana?" tanya Abid.
"Di rumah aja deh kak, nanti mampir ke supermarket ya pak"
"Agak romantis dikit gitu, pak apaan. Kek udah tua aja" gumam Abid sambil fokus menyetir.
"Balqis denger kak"
"Emang kak Abid mau di panggil apa? Mau dipanggil oppa?"
"Kenapa makin tuaa?!"
"Kakak gak gaul, oppa Korea maksudnya"
"Selingkuh ya kamu?" tanya Abid sambil melihat Balqis sekilas.
"Selingkuh apaan?"
"Oppa Korea apaan?"
"Cie cemburuuu"
"Dih, siapa juga yang cemburu" jawab Abid ketus. Balqis tertawa.
"Yaudah kalau gitu Balqis nanti muk ketemu sama oppa Korea"
"Halu ya bun?" tanya Abid. Balqis mengangguk santai. Mereka tertawa bersama.
"Ada yang gangguin gak tadi?"
Balqis menggeleng. "Nggak ada kok kak"
"Kalau ada bilang, jangan ditutup-tutupin" Balqis mengangguk.
'maaf kak, Balqis bohong'
"Nanti di rumah aja. Jangan ke mana-mana"
"Kak Abid mau kemanaa?"
"Ketemu Ayah. Ayah ngajak ketemu tadi"
"Kakak jangan marah marah yaa.. tahan emosi" Abid mengangguk.
Satu tangan Abid mencari tangan Balqis. Setelah menemukan tangan Balqis, Abid menggenggamnya lalu menciumnya beberapa detik.
'gue beneran jatuh cinta sama lo, Balqis'
________________________
Nah nah, bonus janji author kemaren, sweet sweet momen. Ramein dongg wkwk:*