A B I D

A B I D
– Plot twist



Balqis selesai kelas siang hari, ia membereskan buku nya kemudian beranjak keluar kelas. Balqis berjalan santai menuju parkiran sambil mendengar lagu Kangen dari headset nya.


"Balqisss!"


'Ah.. manusia itu lagi pasti' batin Balqis kesal. Ia melanjutkan perjalanan.


"Balqis astagaa.. lu budek apa gimanaaa?" Balqis tetap diam.


"Ngomong lagi dongg pliss.. kek tadiii, gue suka denger suara luu" pinta nya manja.


"Lu mau denger satu tips?" tanya Balqis berbalik.


Rey mengangguk dengan senyuman bodohnya, "jangan ganggu gue" Balqis langsung pergi.


"Tips apaaan ituu anjirrr?" Rey mengejarnya.


"Balqisss.. gue mau nanyaaa, di jari manis lu itu cincin apaa?"


"Pikir sendirii"


"Aibahh.. subhanallah sekali andaaa"


Balqis berhenti sebelum dekat ke mobilnya, "jangan ganggu gue, jangan ikutin gue, jangan samperin gue."


"Kenapaa?" tanya Rey.


"Gue gak suka!" Balqis masuk ke mobilnya lalu pergi.


"Keliatan mudah di gapai, tapi nyatanya susahhh!"


♛┈⛧┈┈•༶❃༶•┈┈⛧┈♛


Di sisi lain..


"Sampe kapannn Abid tidurrr? Udaah satu tahun lebihhh, kenapa belum bangun jugaaaaa?!" tanya Shelia kesal, ia berada di dalam ruangannya.


Tok.. Tok..


"Permisi bos!"


"Kenapaa?!" tanya Shelia ganas.


"Itu.. dokter bilang, Abid udah bangun dari tidur panjangnya"


"WHATTT?!" Shelia langsung keluar ruangannya menuju ruangan Abid.


"Abiiiiddd," Shelia memeluk Abid.


Responnya? Abid diam, ia menatap heran Shelia.


"Anda siapa peluk-peluk?" tanya Abid heran.


"Lohh.. kok??"


Shelia menatap sang dokter, dokter mengode Shelia menjauh sedikit. "Kayaknya Abid amnesia sementaraa"


"Lamaa gak dokter?"


"Sepertinya tidakk, kan sementara" Shelia berohria. Ia kembali ke Abid.


Keliatan bodoh bukan? Keduanya sama-sama seperti orang bodoh! Emang ada dokter diagnosa pasiennya dengan embel-embel 'kayaknya'?


"Abidd," Abid menoleh ke wanita itu.


"Kamu lupaa? Aku calon istri mu!"


"Saya gak kenal anda! Jangan mengada-ada" omel Abid kesal.


"Tapi emang benerr, kitaaa tuh mau nikah" Abid menghela nafas.


"Saya butuh waktu untuk mengenal satu sama lain!"


"Okeeey, satu bulan yaa" Abid mengangguk pelan.


"Kamu laper? Mau makan?" Abid menggeleng.


"Saya mau keluar, disini pengapp" keluh Abid.


Shelia menyuruh anak buahnya mengambil kursi roda lalu memindahkan Abid ke situ. Shelia mendorong Abid menuju taman.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa saya sakit?"


"Kamu kena luka tembak akibat ulah Balqis"


"Balqis?"


"Dia musuh kamu!" Abid terdiam.


"Dia musuh terkejamm, karena ulahnya itu kamu terkulai lemah di atas tempat tidur lebih dari satu tahun" Abid diam tidak merespon.


"Terus anda? Anda yang menolong saya? Sendirian?" Shelia mengangguk.


"Aku yang tolongin kamuu" Abid berohria.


Abid menatap tukang jualan sate kambing di luar. "Kamu mau?" Shelia peka rupanya. Abid mengangguk.


"Tunggu ya" Abid tersenyum sekilas. Shelia pun pergi meninggalkan Abid sendirian.


"Pak, sate kambing nya dua!"


"Oke, neng." Shelia menunggu santai, ia kelihatan bahagia karena Abid sudah tersadar.


Dua puluh menit menunggu, sate nya selesai.


"Makasih, pak!" Bapak itu mengangguk. Shelia kembali ke markasnya.


Hal mengejutkan terjadi!!


Abid tidak ada di tempat.


"AAAAAAAHHHH!!! SYALANNN" mendengar umpatan bos nya semua anak buah keluar.


"Cari Abid, cari Abid sekarang!!!" Mereka langsung berpencar mencari Abid.


"Ahh, kenapaa jadi gini sihh?!"


❃❃


Abid sedikit terpincang-pincang. Markas Shelia di tempat terpencil. Bagian kiri nya hutan, dan bagian kanan jalan raya yang sepi.


Tukang sate tadii bisa disana karena perintahnya.


Abid terus berjalan mencari jalan keluar. Ia rela melepas baju agar tidak ketahuan.


Ciittt...


Abid hampir di tabrak, ia tidak sadar sudah berada di jalan raya. Pemilik mobil keluar.


"Abidd??"


"Abiyyu??"


"Alhamdulillah akhirnyaaa lu ketemuu! Ayo ikut guaa!"


"Gak gak, lu mauu kemanaa?"


"Gue mau balikk ke.."


"Ke tempat Shelia? Gak. Jangan harap gue mau ikut!"


"Hah?? Berarti lu selama ini di umpetin Shelia?" Abid tidak menjawab.


"Ayo ikut gueee, itu ada orangg" Abid terpaksa masuk ke mobil Abiyyu. Ia duduk di belakang sambil rebahan.


"Lu kenapaaa gak pake baju, bidd?"


"Ahh.. panjang ceritanyaa."


"Satu tahun lebih lu hilang, semua orang nyariin lu setan!"


"Kenapa jadi sok care?"


"Gue udah balik ke rumah Althaf. Gue tobat, gue udah gak jahattt"


"Bullshit!"


"Lu bisa tanya ayah. Gue tadi abis perjalanan bisniss mewakili ayah."


Abid tersadar, ternyata ini arah jalan keluar.


"Lu utang penjelasan, bid."


"Iyaaaa mas Abiyyu iyaaa," Abiyyu tersenyum.


"Gue adem denger lu manggil gue mas"


"Gue geli" Abiyyu terkekeh.


"Yang lain gimana? Oh iyaa, bini gueee?"


"Berubah seratus delapan puluh derajat!" Abid pindah kedepan.


"Maksud lo?"


"Dia kehilangan kedua orang tuanya, kehilangan Ulfa dan juga kehilangan lu. Semenjak itu, dia jadi pendiam, cuek, dingin, dan gak peduli sama orang lain"


Abid menghela nafas, "harusnya gue keluar lebih cepat"


"Di belakang gue bawa koper, coba lu buka deh. Ambil bajuu! Geli gue liat lu gak pake baju!" Abid menatap kesal Abiyyu lalu kembali kebelakang memakai baju.


"Anggota gue gimana?"


"Sampe sekarang mereka masih berusaha cari lu, termasuk gue."


"Ayah bunda? Devi Avi?"


"Devi Avi udah masuk SMP dan ayah bunda selalu merindukan putra nakalnya" Abid tersenyum miring.


"Lu gak ada niatan cerita sekarang??" Tanya Abiyyu.


"Tarr. Balqis dimana?"


"Di rumah yang lu belii."


"Sendiriaaann?" Abiyyu mengangguk.


"Akuntansi?"


"Setau gue, dia pilih itu biar banyak pikiran. Akuntansi itung-itung kan? Nah karena itung-itung ituuu dia sedikit banyaknya bisa lupa kesedihan"


"Banyak yang ganggu dia?"


"Gue gak tau kalau itu. Dia bini lu, gue gak mau terlalu ikut campur."


"Lu mau kemana sekarangg??" Tanya Abid.


"Pulanglahh."


"Ajakin gue makan. Gue laper banget sumpahh"


Abiyyu terkekeh, "lu mau makan dimana? Restoran gue?"


"Widihhh, udah punya resto sendirii. Terserah dimanaa. Cari tempat yang ada VIP nya aja."


"Oke deh, okeee"


Keheningan pun terjadi. Abid ketiduran, padahal ia sudah kebanyakan tidur.


Kalian bingung bukan? Di markas Shelia, Abid amnesia tapi ketika di jalan ia bertemu Abiyyu dan Abid mengenalnya.


Pasti bingung, karena memang membingungkan.


"Bid.. Bangun!" Abid langsung melek.


"Udah sampe?" Abiyyu mengangguk.


"Gue udah booking tempat, tinggal masuk"


"Mas biy, lu kagak punya topi atau apa gitu?"


"Tuhh, topi sama kacamata itam." Abid meraihnya, ia memakai keduanya lalu berjalan masuk mengikuti Abiyyu sambil tertunduk.


Abiyyu memesan makanan, tidak perlu tanya Abid karena Abiyyu tau keinginan Abid.


"Mas.. lu banyak duit kan? Beliin gue hapeee baru"


"Lah anjirr, hp lu manaa?"


"Kagak bisa idup anjjj. Gara-gara kemaren pas mau lanjut akting malah nyemplung air. Jadinya kagak bisa idup sampe sekarangg. Gue takut bukti-bukti gue ilang"


"Anjirrr kok gue ngakakk" ledek Abiyyu.


"Sialan, Abiyyu sialan!" Abiyyu terkekeh.


"Nanti gue beliin yaa, siap makan"


"Ip ya"


"Terserah lu!"


"Nah cakepp"


"Btw, lu tumben gak curigaaann. Kenapa langsung percaya tadi?"


"Lu bawa gue keluar dari tempat pelosok itu. Di mobil, gue liat poto keluarga Althaf terus poto kita berdua. Mobil yang lu pake mobil favoritnya ayah. Itu udah cukup ngeyakinkan gue kalau lu tobat" celoteh Abid.


"Lu paham ternyata"


"Gue butuh penjelasan juga soal tobat" ujar Abid.


"Iyaa ntar gue jelasin. Terus sekarang? Lu cerita sama gue dehh!" Tuntut Abiyyu.


"Sebelum nya gue minta maaf sebesar-besarnya karenaa terlalu lama buat kalian nunggu. Sumpah, gue rada nyesel sih setelah denger sikap nya Balqis yang berubah"


"Pasti dimaafin"


"Lu tau kan gue kena tembak?" Abiyyu mengangguk.


"Setelah di tembak, gue di bawa orang gak di kenal. Di situu hp gue, gue genggam. Gue idupin perekam suara dan pura-pura pingsan. Sampe di suatu tempat, gue mulai ulang perekam suaranya. Gue merem melek nahan sakittt"


"Sampee di tempat ituu, gue langsung umpetin hp di bawah kursi ruang tunggu. Ntah bodoh atau tololll gak ada satupun orang yang ngeh kalau disitu ada hp."


"Gue gak tau gimana pas operasi karena gue udah gak sadarkan diri. Lima jam setelah itu gue sadar, dokter kaget dongg karena dia ngira gue koma. Dia bilang hidupnya gue mukjizat."


"Terusss?"


"Gue ancem dia buat diem ajaa, gue ancem penjaga CCTV juga buat diem aja. Sebenarnya bukan ngancem tapi lebih ke nyogok mereka. Oya gue juga suruh mereka ambil HP gue itu."


"Uang darimanaa lu nyogok? Kalau dari EiAi pasti ayah tauu dong pengeluaran" ujar Abiyyu.


"Gue pake tabungan sendiri, gue sogok mereka lewat m-banking."


"Terus kenapaaa lu diem disitu selama ituuu anjjj?!"


"Pemulihan goblokkk! Lu kira enak kena tembak? Bekasnya nih, ampun dah gua. Harusnya kulit gue muluzzz jadi gin--"


Ucapan Abid terhenti karena makanan tiba, ia langsung memakan makanannya. Abiyyu tertawa melihatnya.


"Lu disana dikasih makan?"


"Kalau nggak gue matii, pinterrr" Abiyyu cengengesan.


"Gimana caranya lu bisa makan?"


"Dokter tu jaga-jaga terus di ruangan gue, jadi dia yang beliin atau bawain makanan. Tau gak lu kerjaan gue makan tidur makan tidur teruss njingg. Liat laaa, roti sobek gue ilang karena gak pernah ngegym" Keluh Abid.


Abiyyu terkekeh, "buat lagi kok susah. Lagian ada ataupun nggaknya roti sobek Balqis tetep demen ame lu!"


"Ohyaajelass. Ahh, gue rindu bangett anjirrrr. Satu tahun lebihh gue ninggalin diaa. Sumpah sii, rindu itu berat"


"Ngalay lu jamettt!" Abid menatap sinis Abiyyu.


"Gue lanjut cerita nanti aja ya, besok kalau nggak!" Abiyyu berdehem.


"Lu tau gak? Kita masih jauh dari rumah. Mungkin habis maghrib baru nyampe"


"Anjirrr serius? Tapi kok kemaren dari bandara ke tempat gue operasi dekett.. oh iyaaa, ada pindahan jugaa. Pindah markas"


Abiyyu menatap lekat Abid, "gue bersyukur lu masih idup." Abid membalasnya dengan senyuman.


"Cepetan lahh, ayo balik. Gue gak sabarr mau ketemu bini!!"


♛┈⛧┈┈•༶❃༶•┈┈⛧┈♛


19.17, di rumah Abid.


"Nona mudaa, kenapa baru pulangg?" tanya satpam rumahnya khawatir. Abid sudah di dalam rumah sekarang.


"Hah?? Aduhh maaaf pak. Saya kebanyakan mabok halal" jawab Balqis sambil sempoyongan, ia pun pingsan.


Abid yang menyadari istrinya pingsan langsung keluar, "saya aja pak." Ia menggendong istrinya menuju kamar.


"Minta hukuman ya? Siapa suruh mabok-mabokann?!" tanya Abid kesal lalu meletakkan Balqis di kasur mereka.


Abid keluar kamar, ia menghampiri bodyguard nya.


"Istri saya kenapa, pak?"


"I-ini pak Abid??" Abid mengangguk pelan.


"Anda masih hiduppp?" Abid mengangguk lagi.


"Rahasia in pak, mau tau ceritanya tunggu gosip aja. Jadi, istri saya kenapaa?"


"Pulang dari kampus nona makan di restoran pak, abis tu nona ke supermarket, nongkrong di supermarket sambil mabok halal"


"Mabok halal?"


"Itu pakk, yang air putih campur minuman penguat sama minuman untuk usus" Abid mengangguk paham.


"Terus jadinya gituu?" Bodyguard itu mengangguk.


"Kurang kerjaan emang," gumam Abid geleng-geleng kepala.


"Yaudah kalau gitu saya ke atas dulu deh pak, makasih infonya" Bodyguard hanya membungkuk dan tersenyum, Abid pergi ke kamarnya.


Ia duduk di sofa sambil memandangi Balqis, "makin cantikk" gumamnya pelan.


Beberapa jam kemudian..


Jam di dinding menujukkan pukul setengah sepuluh malam. Balqis yang lapar pun tersadar, Abid yang bermain game menoleh ke arahnya.


"Udah bangun?" Balqis langsung melihat sumber suara.


"Ah.. mabok halal bikin halusinasi yaaa" keluh Balqis kesal.


"Siapa suruh mabok-mabokann?" tanya Abid sinis.


"Kan mabok halal doangg, aih.. ngapain lu jawab Balqis! Gue makin gila kayaknyaa."


'Lu gue.. Balqis bener-benerr berubah' batin Abid.


"Ah.. akibat terlalu rinduu nyampe halusinasi. Ehh jangan-jangan itu setannn?!" Balqis menggeleng lalu bangun dari tidurnya, ia menuju kaca besar yang ada di kamar.


Abid terlihat di situ, Balqis terkejut. Ia mengusap kasar wajahnya. Abid tersenyum, ia mendekat ke arah Balqis.


"Gak ada setan yang bisa keliatan di cermin" bisik Abid. Balqis berbalik.


"Ini... ini beneran abangg?? Bang Abiiid?" Abid mengangguk.


Balqis langsung memeluknya erat, Abid juga memeluknya erat bahkan sangat erat. Abid sangat sangat rindu dengan wanita nya.


Tiba-tiba Balqis melepas pelukan, "ahh.. ini mimpiii bukaannn?!" tanya Balqis sambil jongkok, Abid diam saja menatapnya.


Balqis berdiri lagi, ia mendekat ke Abid memukul dada Abid pelan. Abid menghentikannya, "aku nyata sayang. Ini bukan mimpii"


Mata Balqis berkaca-kaca. "Balqis rinduuu, rindu bangettt" Abid menatap nya sambil tersenyum.


"Aku juga rindu sama kamuu" Abid mengelus lembut pipi Balqis lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Balqis. Abid mencium Balqis, Balqis membalas ciumannya.


Karena kehabisan nafas, Abid melepasnya sekilas. Ia menatap Balqis yang juga menatapnya kemudian mencium Balqis lagi. Kini berubah menjadi adegan panas!


Abid membawa Balqis ke atas tempat tidur lalu menindih nya.


"I love you and i misss you."


Balqis menatap lekat pria yang di atasnya, "love you too and i miss you too" Abid tersenyum manis. Ia kembali mencium Balqis.


Apa yang terjadi selanjutnya?? Silahkan berekspektasi ˃̵ᴗ˂̵