
"I want you apaaan?!"
"Jangan mengadi-ngadii dehh."
Abid menatap datar istrinya.
"Dosa tauu, ga nurutin suamii."
"Yang bilang ga nurutin siapaa? Abang kan cuma bilang i want–"
Balqis auto terdiam melihat Abid berada di atas tubuhnya.
"Pahamm?"
"Balqis lagii–"
"Ini bukan tanggal tamu merah mu datang, sayaangg." Balqis kehabisan kata-kata.
Kriuk.. Kriukk..
Suara perut ini menyelamatkan Balqis dari singa yang sedang kelaparan.
"Hehe, Balqis laperr. Makan dulu, yukk!" Ajak Balqis.
Abid menghela nafas panjang, ia menjatuhkan tubuh dan memeluk Balqis.
"Tadikan udah makann, mau gendutt?"
"Abang ngatain Balqis gendut?? Okeee, gak ada gituan sampe dua bulan kedepan!!"
Abid menopang badannya lagi dengan tangann, "taukann, nolak suami tu dosa."
"Ishh!!" Abid tertawa melihat ekspresinya.
"Yaudah, yok makann."
"Bang abaangg, Balqiss pengen abang yang masakk."
"Hm. Mau dimasakin apaa?" Tanya Abid.
"Eumm.. mie goreng pake telor pake bakso pake kol pake sosiss juga. Pokoknya mie goreng spesial."
"Okee, ayok!" Abid bangun dari atas tubuh Balqis begitupun dengan Balqis, ia turun dari tempat tidur lalu mengikuti Abid.
"Bagi dua ya, aku juga laperr." Balqis mengangguk.
Mereka tiba di dapur dan melihat Gea sedang masak indomie di bawah.
"Sa-saya kelaperan, jadi tadi masak indomie." Ujarnya sambil menunduk.
"Iyaa, gapapa kok, mbakk. Kalau mau makan mie ya buat ajaa." Jawab Balqis sambil tersenyum.
"Mas– tuan Abid sama mbak Balqis mau masak apa?"
"Masak mie juga, Mbakk." Gea berohria.
"Saya duluan ya, Mbakk." Balqis mengangguk, Gea lewat dari depannya menuju kamar.
Ntah apa yang terjadi dengan indra penciuman Balqis, ia mual setelah mencium wangi mie nya Gea.
Balqis langsung lari ke wastafel dan memuntahkan apa yang ia makan sebelumnya.
"Kamu kenapa, sayaang?" Tanya Abid khawatir.
"Nggaa tauu, tiba tiba muall." Jawab Balqis setelah mencuci mulutnya.
"Gara-gara mie nya mbak Gea tadii jadi muall."
"Kadaluarsa?" Balqis menggeleng dan mengedikkan bahu ia tidak tauu.
Abid menyusul Gea, "kenapa m– tuan."
Tanpa babibu, Abid mengambil dan mencium mie nya. Wangi yang wajar, lantas kenapa Balqis mual? Abid bertanya-tanya.
Ia memberikan kembali mangkuk mie nya ke Gea lalu pergi ke dapur.
"Masih muall?"
"Dikitt."
"Makan nasi aja, yaa? Abang buatin nasi goreng spesial." Balqis mengangguk lemas. Abid memapahnya untuk duduk kembali di kursi.
"Abangg, jangan pake telor yaa. Amisss." Abid mengangguk.
Abid sibuk memotong dan memasak makanan sekarang. Ia tidak pernah menolak Balqis yang sedang bergelayut manja di badannya.
"Bentarr ya, sayangg. Kamu minggir dulu, ini panass."
Balqis kembali ke kursinya dan menunggu. Tak lama kemudian, Abid memberikan nasi goreng itu.
Balqis pun mulai mencobanya.
"Eumm.. enakk! Bang Abid the bestt!"
◓◓◓
06.57
Abid mengerjapkan mata ketika Balqis terus meniup kelopak matanya.
"Kenapaa? Masih pagii, sayangg."
"Bangun."
"Kalau abang gak mau bangun, awasin gih tangannya. Balqis mau masakk."
"Nggak usaah. Nanti sarapan diluarr ajaa." Abid kembali memeluk Balqis.
"Abang kok gak pake baju siii? Nanti kedinginann."
"Nggak lahh, kan pelukan sama kamuu." Balqis diam tidak menjawab lagi. Abid pun juga diam, matanya perlahan terpejam.
Balqis yang jahil kembali meniup kelopak matanya.
"Apa lagi, sayaang? Pengen lagii?"
"Dihh, itu mah maunya abang!"
"Ya kamunya mau gakk?" Balqis menggeleng pelan.
"Malu malu tapi mauu." Ledek Abid sambil memejamkan matanya lagii.
"Mengada-ngada. Abang lepasinn ishh, Balqis tu mau ke kamar mandiii."
Cup!
Abid mengecup bibirnya lalu melepaskan pelukan. Balqis menatapnya kesal, ia pun turun dari kasur dan pergi ke kamar mandii.
"Astaghfirullahalazimm! Abaaaangg!"
Dari kasur Abid tertawa mendengar teriakan istrinya. Ia menunggu Balqis keluar kamar mandi.
"Abangg!!"
"Apa, sayaang? Kenapaa?"
"Semalem dah Balqis bilang jangan buat di leheerrr."
"Yaa.. emang kenapaa?" Tanya Abid lagi dengan muka sok polosnya.
"Kenapa kenapaa! Kan Balqis kuliahhh, masa iyaa pake turtleneck terusss." Keluh Balqis.
"Kalau gituu gak usah kuliahh."
"Widiih enak banget bilangnya!" Abid cengengesan.
"Lagian liat lah di kaca, karya ku tu bagus, sayangg."
"Baguss apanyaaa cobaa?!" Abid tertawa.
"Kenapa baru sadar sekarang? Kamu tadi sebelum sholat subuh dah mandii."
"Gak liat liatt karena Balqis ngantukk, pulaknya abang ngajak jam tigaa pagii siap sholat tahajudd!"
"Salah siapa abis makan langsung tidurr." Balqis langsung menatapnya kesal.
"Ishh, ini gimanaa?!"
"Aku yang harusnya nanya gimanaa?" Balqis menatap serius Abid.
Abid menunjukkan tanda di lehernya.
"Kamu juga agresif tadii." Pipi Balqis memerah.
"I-itu bukan dari aku."
"Bukan dari kamu jadi dari siapaa? Nyamuk? Semut?"
"Aishshh!" Balqis masuk ke kamar mandi karena malu.
Abid sendiri tertawa melihat ekspresinya. Ia bangun dari tempat tidur lalu menuju kaca di meja rias Balqis.
"Not bad."
Tok tok..
Abid mengambil baju kaos yang tergeletak di lantai kemudian membukakan pintu. Pembantunya yang datang.
"Kenapa?"
"E-em.. ituu, anda dan mbak Balqis mau sarapan pake lauk apa?"
"Masak untuk anda sendiri aja, saya dan istri saya sarapan di luar."
"O-ohh, k-kalau gitu saya pergi dulu." Abid mengangguk kaku, Gea pun pergi dari sana.
"Siapaa?" Tanya Balqis yang selesai mandi, ia hanya memakai bathrobe.
"Pake baju muu, mau di sergap lagii?"
"Mesum bangett, astaghfirullah!!" Abid cengengesan.
"Mbak Gea tadi?"
"Hmm."
"Ngapainn?"
"Nanya sarapan apaa."
"Kamu jawab apa?"
"Kita makan diluar." Balqis berohria.
"Pake bajunya, nanti kedinginannn."
"Kan ada kamuu."
"Ooo, ngajak lagi?"
"Mimpii aje sonooo!" Balqis masuk walk in closet.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan pakaian lengkap.
"Kamu keluar gitu aja? Gak malu tanda nya nampak sama Mbak Gea??"
"Ngapain malu, yang buat kann istri ku sendirii."
"Terus nanti kuliah mau dipamerin gituu?"
"Oh ya jelasss."
"Abaaaangg! Ishhh!" Abid tertawa lagi.
"Jam berapa ada kelass? Aku mau ke kantor."
"Sekitarrr jam sepuluhan. Mau ke kantor? Ikuuuutttt."
"Nanti bosennn."
"Nggakkk! Balqis ikut pokoknya."
"Sarapan dulu ayok."
"Lahh, berangkat sekarang? Abang gak mandii lagi?"
"Tadi subuh kan dah mandi, ngapain mandi lagii."
"Yaudah serah, cuci muka sanaa."
"Nanti muka ku ilang gimana?"
Balqis menatapnya sinis, Abid yang cengengesan pun pergi ke kamar mandi mencuci muka. Setelah itu ia mengganti baju dengan setelan kantoran.
Melihat Abid keluar sambil memakai jam, Balqis menghampirinya dan menarik dasi yang Abid sampirkan di bahu.
Balqis memasangkannya dengan telaten.
"Tunggu dulu!"
"Bukannya ini untuk wajah?"
"Yaa emangg, tapi daripada abang diliatin sama karyawan gara-gara ini gimanaa?"
"Biarin aja lahh, lagian kan itu tanda kalau aku punya kamu."
"Tapikan karyawan taunya aku masih calon istri kamuu."
Abid berfikir, "iyakah?"
"Iyaaaa. Dahh, mencegah lebih baik daripad--"
"Dicegah."
"Ngacooo bangett!!"
◓◓◓
09.36, di restoran.
"Gapapa kan, makannya disini?"
"Gapapaaa lahh, makan dimana aja Devi bisaa asal sama Bang Jep." Jefri tertawa.
"Yaudahh, yok masuk." Jefri menggenggam tangan Devi lalu mengajaknya masuk.
Ia menyuruh Devina duduk disalah satu kursi kemudian pergi memesan makanan sesuai yang diinginkan Devi.
"Devi kok gak sekolahh?"
"Tadi tu sekolahh, Bangg. Tapi balik lagi karena gurunya bilang ada rapat penting gituuu."
"Ooo, Avi mana?"
"Avi main ps. Btw, kok abang gak salah bedain Avi sama Devi??"
"Eumm.. bedainnya mah gampang. Trik dari Abid, cara bedainnya lihat tangan kanan sama bibir kalian."
"Aaa iya-iya, tangan Avi ada taii lalatnya. Bibir Avi gak ada."
"Tangan Devi gak ada taii lalatnya, bibir Devi ada. Emmm, pantesan Devi cerewet."
"Iya juga, yaa!" Mereka berdua tertawa kecil.
"Abang gak kuliah??"
"Harusnya kuliah, tapi dosennya tiba-tiba batalin jadwal."
"Enak banget jadi dosennn, batalin sesuka hatinya gitu."
"Yaaa emang gituu, abang mah sering digituinn. Devi ada niat jadi dosen atau gitu?"
"Nggakk, Devi sama sekali gak berminat jadi pengajar."
"Kenapaa?"
"Ntarr pusinggg mikirin nilai muridnya."
"Terus, Devi maunya jadi apa?"
"Waktutu pengen jadi polwann."
"Polwan?"
"Huum, kan bisa pegang pistol. Tapi sekarang ga pengen lagii."
"Kenapaa?"
"Bang Abid gak izinin."
"Lohhh? Kenapa pula gak diizinin??"
"Nahh itu dia. Devi juga gak tau. Kalau kata Bang Abid mah karena Devi gak bisa push up gak bisa sit upp."
"Kan bisa latihan."
"Udahh latian sama Bang Abid. Tetep gabisaa, tangan Devi jadi pegal pegell." Jefri tertawa mendengarnya.
"Gak pengen lagi jadi polwan, terus mau jadi apa?"
"Eeeumm..."
Devi menopang dagu sambil menatap Jefri yang menunggu jawaban.
"Mau jadi apaa?"
"Jadiii ibu dari anak-anak kita gimanaa?"
Jefri salah tingkah mendengarnyaa!
Bagaimana pulaa inii, Devina yang masih SMP berkata seperti itu di hadapan anak kuliahan.
Luar biasa sekaliii!
"Bang Jep salting yeee?"
"Nggakk." Devina tertawa.
"Oiya, Devi mau–"
"Permisiii." Pelayan mengantarkan makanan.
"Makasihh." Jawab keduanya, pelayan itupun pergi.
"Mau apa tadi?" Tanya Jefri.
"Gapapa, gajadii." Devi mencoba untuk memotong steaknya.
Jefri terus memperhatikan Devi yang sedikit canggung. Ia memberikan Devi steak yang sudah ia potong-potong. Lalu mengambil steak punya Devi tadi.
"Mau apaa? Bilang aja."
"Emm.. Devi mau tanya."
"Tanya apa?"
"Apa benerr, abang gak bakal nikah sebelum Devi gede?" Jefri berhenti memotong steak.
"Siapa yang bilang? Abid? Tio? Eldi? Rangga? Fany? Atau Heon?"
"Devi pernah denger waktu ituuu. Lupa kapan, tapi Devi emang denger sendirii. Bener gak sih, Bang??"
Jefri terdiam.
"Em.. kita lanjut makan aja dulu, yaa. Bahas nanti lagii."
Di sisi lain.
Abid baru saja selesai meeting, ia langsung menuju ruangan setelah keluar dari ruangan meeting.
"Sayaangg."
"Eum? Udah siapp meeting nyaa?" Abid mengangguk.
"Ayok berangkat kuliahh." Ajak Abid.
"Kelas di batalin, dosennya lagi kurang enak badan."
"Hmm. Kamu mau kemanaa?"
"Abang mau kemana?"
"Nggak kemana-mana, kamu mau kemana?"
"Nggak kemana-mana jugaa."
Abid menyipitkan mata melihat Balqis, agak mencurigakan yeoja satu ini.
"Kalau bosan bilang, kita pergi ntar." Balqis berdehem.
Abid pun duduk di kursi nya, kembali berhadapan dengan komputer dan sejumlah kerjaan yang menumpuk.
Tiba-tiba Balqis datang ke kursi nya. Teramat sangat rusuh, Balqis menggeser tangan Abid lalu duduk dipangkuan Abid.
"Byy, ngapain sihh?"
"Meluk laki sendiriii kagak bolehh?"
"Bolehh, tapi ya nggak gini atuhh."
"Maunya ginii!" Abid diam, lebih tepatnya mencoba untuk diam.
Balqis nakal!!
Tok tok..
"Permis– maaf, Pak, mengganggu."
"Gapapa, ada apa?" Tanya Abid sambil mengelus punggung Balqis.
"Em ituu, bapak kemarin cari asisten pribadi kan?" Abid mengangguk.
"Ada satu nih, Pak."
"Suruh masuk."
"Baik, Pak." Pria itu keluar.
"Ayang, turun dulu bentarr."
"Gamaukk!" Balqis malah memeluk erat leher Abid. Abid tidak bisa berkata kata lagi, ia pun membiarkan Balqis.
"Ini, Pak, aspri nyaa."
"Hello, Pakk. Eikee Mulajoo, biasa dipanggil Ajoo."
Abid mengedipkan mata, terkejut Abid melihatnya. Merasa ada yang aneh dengan Abid, Balqis pun menoleh.
"Wtf–"
"Mulutnyaa!"
"Keceplosan, Bangg." Abid kembali melihat asprinya.
"Gimana, Pak? Sesuai yang bapak mau, kan?"
"Are you crazy? Saya minta aspri cowookk tulenn, bukan yang banci macam nii!!"
"Uuh, bapak salahh. Eike cowok tulenn, tapi dikit doang tulennya. Eike jago kok, Pak."
"Nggak nggak. Sayaa masih normal, cari yang lain."
"Tap–"
"Kalau saya di anu anu gimanaa? Cari yang lain, jangan yang ini!!"
"B-baik, Pak." Mereka berdua keluar dari ruangan Abid.
Otak Abid travelling, seketika ia merinding karena pikirannya itu.
"Abaang, kok di tolak sii??"
"Aku geli, sayangg."
"Ih tapi gapapa loh, itu ajaaa."
Abid menatap sinis Balqis.
"Udah yang itu ajaa! Biar Balqis panggil lagi."
Balqis turun dari pangkuan Abid lalu mengejar si Ajoo.
"Jeng Ajoo!"
"Ehh? Yu siape? Eike tak kenal!"
"Sayaa yang tadi di ruangan Pak Abid. Saya calon istrinya."
"Ohhh, eike gak tau. Maaf buk bosss."
"Iya gapapaaa."
"Ada apa, Bu Boss?" Tanya pria satunya.
"Pak Abid bilang ini aja yang jadi asprinya. Dia di terima."
"Aaaiii, makasih ya nyonya boss." Balqis mengangguk sambil tersenyum. Balqis mengajak mereka kembali ke ruangan Abid.
Balqis dan Ajo juga berbincang hal hal yang tidak penting, pria yang di belakang mereka pusing mendengarnya.
"Assalamu'alaikum, abaangg."
Abid memegang kepala botaknya.
"Makin prustasii gue."