A B I D

A B I D
– Abid mabuk



Abid dan Balqis tiba di kota pukul tujuh malam. Setelah tiba di terminal, Abid berjalan kaki menuju rumah ayahnya.


Abid mengambil beberapa bajunya dan membawa pergi menggunakan mobil yang atas namanya sendiri. Abid juga menemani Balqis mengambil barang-barangnya dirumah.


Abid dan Balqis pun tiba di apartemennya yang kedua tepat pukul setengah delapan malam lebih lima menit. Mereka hanya berdua, ketiga bocil itu dirumah ayah Abid karena pada tidur.


Apartemen Abid yang kedua itu lebih besar dari yang dipakai Heon. Apartemen yang kedua juga yang sering dipakai Abid.


"Kak Abid?" Balqis memanggil Abid yang terus menerus murung.


"Ahhya.. gue minta maaf. Karena gue, lo jadi korb--"


"Kak Abid gak salah kok. Balqis duluan yang ikut campur dalam kehidupan kakak. Jadi mungkin ini konsekuensinya. Kak Abid jangan salahin diri sendiri ya"


"Gue gak bisa gini. Lo terlalu baik buat gue"


"Kak Abid laper gak? Mau Balqis masakin apa?" Balqis mengalihkan pembicaraan.


"Gak ada. Mending lo mandi, terus istirahat. Gue mau nonton" Abid keluar dari kamar. Balqis hanya memperhatikan Abid yang kurang bersemangat dari tadi.


Di ruang keluarga apartemennya, Abid menuliskan sesuatu di kertas hvs.


"Kak Abid tulis apa?"


"Oh udah selesai mandi?" Balqis mengangguk.


"Nah" Abis menyodorkan kertas itu pada Balqis.


Balqis menerimanya. "Apa ini kak?"


"Surat perjanjian. Baca aja"


Balqis memperhatikannya.


"Paham?" Balqis menggeleng.


"Tulisan kak Abid sama kayak tulisan dokter. Jadi susah bacanya"


"Yaudah, sini gue bacain"


Abid mengambil kembali kertasnya. "Simak baik-baik" Balqis mengangguk.


"Poin pertama, gue mau cerai kalau dalam setahun gak ada anak gue di perut lo"


"Poin kedua, hubungan lo sama gue, anggep aja sepupu atau sodara jauh. Kalau ditanya kenapa kita deket, lo tinggal jawab kayak gitu"


"Poin ketiga, disini, gue bakal sewa satu pembantu. Jadi lo gak perlu repot repot masak atau pun bersih bersih"


"Poin keempat, kita pisah kamar juga pisah ranjang"


"Poin kelima, jangan pake pakaian seksi. Dirumah, ataupun di luar. Jangan pake make up berlebihan"


"Poin keenam, selalu izin ke gue kalau lo mau kemana-mana"


"Poin ketujuh, cerita ke gue kalau lo ada masalah. Masalah lo masalah gue juga"


"Poin kedelapan, jangan pernah jauh, dan jangan pernah ngebantah selama lo masih jadi istri gue"


"Poin kesembilan, bilang sama gue kalau lo butuh apapun"


"Poin kesepuluh, jangan genit sama cowok lain"


"Gue harap lo setuju tentang ini. Lo tanda tangan disini"


Balqis pasrah, dia hanya bisa menandatangani perjanjian yang dibuat Abid.


"Gue bakal gandain perjanjian ini. Yang asli di lo, dan salinan di gue"


"Sini hp lo" Balqis memberikan ponselnya.


Abid mengotak-atik ponsel Balqis. Setelah itu memberikannya kembali. Abid masuk ke kamar untuk mengganti bajunya menjadi serba hitam.


"Gue pergi dulu. Kalau ada apa apa kabarin gue" Balqis diam dan hanya mengangguk.


Abid tersenyum lalu pergi meninggalkan apartemen.


"Ini.... cukup menyakitkan"


〽〽〽


Abid pergi ke bar, tempat biasa teman-temanya nongkrong. Abid juga sering kesini, namun dia tidak meminum alkohol.


Kali ini dia akan meminumnya.


"Wine satu"


"Yakin? Tumben aja lo"


"Nyicip"


"Nyicip prett" Abid tertawa. Bartender itu mengambil pesanan Abid.


"Yang lain ada nanyain gue hari ini?" tanya Abid sambil menuangkan wine nya ke dalam gelas.


"Kagak. Emang lu kemana aja? Ngilang, cabut atau melarikan diri?"


"Ngilang"


"Kebiasaan lo emang. Gue gak heran" Abid tertawa lagi.


"Gue kesitu bentar" Abid mengangguk. Sang bartender pun pergi.


Abis terus menerus meneguk winenya. Hidupnya terlalu berat. Rasa bersalahnya juga semakin kuat.


Tiba-tiba, bunyi ponsel terdengar dari saku hoodienya.


Abid mengangkat panggilan dari Jefri. "Hm?"


📞 "Assalamu'alaikum, Bid. Lo dimanaa woi?!"


"Waalaikumsalam. Gue di bar, kenapa?"


📞 "Lah ***** serius?"


"Hmm"


📞 "Gue sama yang lain nyusul" Lagi lagi Abid berdehem. Panggilan pun dimatikan Jefri.


"Woi cokk, tambah satu botol lagi" pinta Abid.


"Wah.. gila lu, nyicip kebangetan ini mah. Mana ada orang nyicip sampe mau tiga botol" Abid cengengesan.


Cokky –si bartender– memberikan Abid satu botol wine lagi. Abid menuangkannya di gelas lalu meminumnya satu teguk. Abid menuang nya lagi. Saat ingin diminum, tangannya di tahan.


Ternyata ada Abiyyu.


"Eh Abiyyu"


"Lo ngapain disini? Tumben" tanya Abiyyu. Abiyyu datang juga dengan bau alkohol. Sepertinya kesadaran Abiyyu hanya tinggal 35%.


"I know, but why?"


"Ayah usir gue dari rumahh"


"Serius lo?? Kok bisa?"


"Lo basa basi banget. Itukan yang lo mau?"


"Nggak juga sih"


Abid tertawa renyah. "Lo sendiri ngapain disini?"


"Gue capek kalah saing terus sama lo" Abid tertawa lagi.


"Bukannya lo menang sekarang? Gue udah diusir"


"Gue gak bahagia. Gue gak tau kebahagiaan gue dimana"


"Gue heran. Kenapa lo harus munafik kayak gini"


"Gue juga gak tau kenapa"


"Lo mabuk ya?" tanya Abid.


"Gue mabuk? Kagak"


Abiyyu meneguk winenya yang kesekian. Abiyyu tepar di gelas terakhirnya.


"Yaha.. katanya gak mabuk" ledek Abid.


"Woi bid" Abid menoleh.


"Eh kalian"


"Lo... lo kenapa anjyng?"


"Sebelah lo siapaa?"


"Abiyyu" Abid meneguk winenya lagi.


"Cokk, ada kamar kosong kan? Tarok ini anak" suruh Jefri sambil menunjuk Abiyyu.


"Anter balik aja ke rumahnya. Gak usah disini" ujar Abid. Abid mulai kehilangan kesadarannya.


"Mulai gila ni anak"


"Bawa ke kamar aja cokk"


"Okee" Cokky membawa Abiyyu ke kamar kosong yang ada di bar.


"Lo kenapa mabuk sendiriii? Lo kemana tadii?" tanya Rangga.


"Gue baik baik aja" jawab Abid.


"Nggak nyambung tololl" Abid malah tertawa.


"Dia mabuk deh kayaknya" ujar Tio.


"Udah tiga botol woi, pasti udah mabuk ni anak. Lagian tumben banget dia minum" kata Eldi.


"Ada masalah berat pasti tadi. Gue yakin" ujar Jefri.


"Anter balik?" tanya Tio.


"Bentar lagi lah"


"Bid.. lo kenapa??"


"Diusir"


"Apaa?" keempat-empatnya terkejut.


"Diusir gimana? Diusir dari rumah?" Abid mengangguk santai.


"Lo tinggal dimanaa?"


"Apartemen dua"


"Lo diusir kenapaa?!"


"Di geb warga"


"Serius??"


"Ahhh berisik!!" Abid menutup telinganya.


"Anter balik, anter balik" mereka menggotong Abid lalu membawanya ke apartemen.


⚛〰⚛


"Loh Balqis lo disinii?" Balqis mengangguk.


"Kak Abid bau alkohol" keluh Balqis.


"Ini kali ke tiga Abid mabuk. Abid jarang mabuk. Pasti ada masalah besar kan? Kalian kemana tadi?" tanya Jefri.


"Em.. itu, kak Abid aja yang jelasin ya kak" ujar Balqis.


"Lo gak bisa?" tanya Rangga.


Balqis menggeleng. "Balqis takut salah bicara"


"Yaudah, kita nginep disini sampe besok"


"Ini Abid berat.. tarok dimanaa?!" tanya Eldi mukanya memerah karena menahan beban Abid.


Mereka tertawa melihat wajah Eldi. "Bawa ke kamarnya aja" suruh Rangga.


Eldi dan Tio membawa Abid ke kamarnya. Balqis mengikuti dari belakang.


"Kak.. sekalian gantiin bajunya" suruh Balqis.


"Biar aja pake yang itu, Abid agak susah digantiin. Kalau lo mau gantiin silahkan" kata Tio lalu keluar kamar bersama dengan Eldi.


Balqis memilih tidak menggantinya. Balqis pun menyelimuti Abid. Ketika ingin pergi, tangannya di tahan. Di tahan oleh Abid.


"Bukan.. bukan gitu maksud gue. Gue juga gak mau cerai sama lo Balqis. Gue cinta sama lo. Gue sayang sama lo. Cuma.. gue gak mau lo dalam bahaya makanya gue bikin perjanjian itu"


Balqis tercengang.


'kak Abid bilang apa? kak Abid cinta sama Balqis? seriusan?? orang mabuk biasanya jujur kan?' batin Balqis.


"Gue minta maaf, gue terlalu menyusahkan lo. Lo perlu tau satu hal, kalau..."


"Rasa sayang gue, rasa cinta gue ke lo... itu besar"