
"Aaghh!!! Kaliann ini kenapa malah tembak Abidddd?! Kan saya suruh tembak Balqis bukan Abid!"
"Maaf nona Shelia, tembakannya meleset. Abid nya juga tadi ngeliat ke arah kami makanya langsung di tembakkan. Kami kira kena Balqis ehh gak tau nya kena perut Abid" jelas pria itu.
"Huhh!! Kalau sampai Abid kenapa-kenapa kalian yang saya bunuh!!"
"Maaf nona Shelia, sekali lagi kami minta maaff"
Shelia tidak memperdulikan anak buah nya lagi, ia terfokus pada Abid yang sedang di operasi.
Dalang dari segala kerusuhan adalah Shelia. Dia yang menyuruh orang untuk mengganti pilot helikopter orang tua Balqis.
Dia juga yang menyebabkan kericuhan di bandara. Shelia melakukan itu karena iri. Dia sangat sangat iri dengan Balqis karena Balqis selalu dekat dengan Abid.
Jujur, Shelia belum bisa move on dari Abid.
Sampai sekarang Shelia masih harap-harap cemas melihat Abid yang di operasi. Dia sangat takut Abid kenapa-kenapa.
"Shelia"
Dokter nya keluar, "oh iya dok? Gimana Abid?"
"Operasi berjalan lancar. Pelurunya berhasil di keluarkan, namun saat ini Abid dalam keadaan koma. Belum bisa dipastikan kapan Abid akan sadar"
Shelia merasa bersalah.
"Oh iyaa, Abid kekurangan darah. Namun, persediaan di sini habis"
"Golongan darah Abid apa dok?"
"O"
"Nanti Shelia cari dok" Dokter itu tersenyum sekilas lalu pergi, itu dokter pribadi Shelia dan operasi terjadi di markas nya Shelia.
"Heh!! Lu pada goldarnya apaa?!"
"B"
"A"
"B+"
"AB"
"Gak ada yang O??"
"Nggak nona, rata-rata B"
"Aihhs.. carii darah O dimanaa?!"
❃❃
Karena macett, Rangga, Fany dan Balqis baru tiba di rumah Abid.
"Assalamu'alaikum mammm" Fany masuk sambil membantu Balqis berjalan.
"Waalaikumsalam.. Balqis Fanyy" Bunda Abid langsung memeluk Balqis.
"Mama papa gimana bun??"
"Sabar yaa.. ayah masih nyuruh orang buat cari mereka. Mereka pasti ketemuu" Balqis mengangguk sembari mengusap air mata.
"Abid manaaa?" tanya Abay.
"Em.. itu papoyy, Abid.."
"Abid di culik om"
"Hahhh?!!"
"Rangga bisa bicara berdua sama om?? Bicara empat mata aja"
"Engg.. Fany ikutt" Rangga menatap Fany.
"Ayo ikut om" Abay mengajak Rangga menuju ruangan kerja nya.
"Ada apa nak Rangga? Apa maksudnya Abid di culik?!"
"Tadi Rangga lagi di toilet papoyy, jadi gak tau. Biar Fany ceritain detailnya"
Fany pun mulai mengoceh, menceritakan segala kericuhan yang terjadi saat di bandara.
Nampak jelas Abay menahan amarah dan menahan tangisannya.
"Rangga mau tanya om, tentang orang tua nya Balqis"
"Mereka berdua bilang mau balik hari ini pake helikopter pribadinya Erwin. Erwin santai masuk tanpa ngecheck siapa pilot nya. Om tau dari Rendy kalau pilot nya bukan pilot biasa di pakai Erwin."
"Rendy abang ipar nya Balqis, awalnya Rendy udah curiga. Tapi dia positif thinking dan meyakini kalau Erwin ganti pilot. Ehh taunyaa pilot yang biasa di pakai Erwin itu diikat sama orang di gudang."
"Sampe sekarang, anggota om udah nyari di mana posisi Erwin sama istrinya"
"Ulfa gak ikut pap??"
"Ikut, dia juga korbann"
Rangga memijat pelipisnya, "keliatan di rencanakan ini"
"Apa mungkin ulah nya Abiyyu?" tanya Fany.
"Rangga sama yang lain bakal selidiki, bakal cari Abid dan orang tua Balqis sampe ketemu"
"Om minta tolong ya Rangga, cari Abid sampe dapet" Rangga tersenyum.
"Rangga sama yang lain pasti berusaha semaksimal mungkin untuk cari Abid." Abay membalas nya dengan senyuman.
"Kalau gitu, Rangga permisi dulu om"
Fany menahan tangannya, "mau kemanaa?"
"Ada urusan, kamu disini aja ya. Disini tergolong aman"
"Oh iya, om kalau bisa jangan ke mana-mana, perketat keamanan disini. Takutnyaa pelaku ngincer yang lain"
"Iyaa, nanti om tambah bodyguard buat jaga-jaga" Rangga membalasnya dengan senyuman.
"Rangga permisi dulu, om" Rangga menunduk sekilas lalu pergi dari ruangan.
"Balqisss, jangan patah semangatt!!" Balqis mengangguk lemah.
Rangga keluar dari rumah, tangannya mengarah ke saku celana mengambil ponsel untuk menelepon temannya.
"Ehem.. Black Blood! Ke apartemen Abid, sekarang!"
❃❃❃
"Kalian nemu gak, Abid dimanaa?" tanya Rangga.
"Nggak, gue sama Jefri tadi udah liat rekaman cctv di bandara tapi sayangnyaa plat nomor pelaku sama sekali gak keliatan" jawab Eldi.
"Gue sama Heon mencarr buat nyari dari dua arah, dan tetap tanpa jejak"
"Ahhh!! Kalau Abid sadar dia bisaa ngelawan, tapi inii Abid ketembakkkk!! Gimanaaa dia bisa ngelawan?!" tanya Jefri kesal.
"Guee.. gue malah takut Abid udah gak ada"
"Gue teramat sangat merasa kehilangan kalau itu terjadi" sahut Rangga.
"Huft.. semoga itu gak terjadi" kata Heon menenangkan.
"Feeling gue ini terencana" mereka menatap Rangga.
"Lu tau kan berita bokap nyokap Balqis?" mereka mengangguk, Rangga pun menceritakan kembali pada mereka apa yang terjadi pada kedua orang tua Balqis.
"Berarti pelaku ngincer Balqis, bukan Abid"
"No, menurut pandangan gue, bisa aja pelaku mancing Abid tapi jadiin Balqis sebagai umpan" sahut Tio.
"Yang jadi pertanyaan gue sekarang, pelakunya siapaa?!" tanya Jefri.
"Gue rasa bukan Abiyyu, terakhir kali gue lihat dia bantu korban kecelakaan" ujar Heon.
"Tobat dia?" tanya Eldi dengan muka sok polosnya.
"Ahh siall, aku tertawa" mereka pun tertawa.
"Skip, bukan Abiyyu. Johan??"
"Tandaii, Johan."
"Tamaa?" tanya Heon.
"Tapi Tama di penjara"
"Bisa ajakan..."
"Nahh benerr, tandai, Tama."
"Kita berlima mencar, cari strategi buat masuk ke markas mereka" kata Jefri memimpin pasukan.
"Gue sama Eldi.."
"Gak gakk jef, gue takut lu bedua malah mampir ke hotel. Kalian bedua kan seme uke" ujar Rangga.
"Anak laknaddd, gue waraass su" protes Jefri kesal.
"Cari amannn, Jefri Tio."
"Okeee okee! Gue sama Tio, Heon sama Eldi."
"Lah gua ngapain?" tanya Rangga.
"Lu bagian ngawasin dari kamera pengawas. Lu check CCTV dan lain-lain" Rangga mengangguk paham.
"Malam ini, kita tidur disini!"
Rangga langsung bangkit, ia menuju kamar tempat Abid bermain game.
"Btw, kita ngapain ya disini? Barangnya Abid kan udah pindah ke rumahnya."
"Lah iyaa, gue lupa!"
❃❃❃
10.45, minggu.
"Woi woi woi!!! Bangunnn!" Fany datang ke apartemen Abid untuk membangunkan mereka.
"Eungh.. ini jam berapa?" tanya Rangga.
"Sebelas kurang"
"HAHH?!" mereka semua langsung terbangun.
"Gilaa, kenapa baru bangunin fanoyy?!" tanya Eldi.
"Kan saya baru datang, pak. Itupun karena disuruh bunda nya Abid"
"Bunda Abid??" beo Jefri.
"Bunda Abid suruh kalian ke rumah, suruh makan siangg disana"
"Yaudahh ayok" ajak Tio.
"Kalau makanan cepet betull yaa" Tio cengengesan mendengar cibiran Rangga.
"Yaudah ayoo buruann, di tungguinn" mereka bangun dari tidur kemudian keluar apartemen Abid.
"Sayang, kamu naik apa?" tanya Rangga pada Fany.
"Ojoll"
"Kenapa gak minta anterin Rian? Rian masih kerja disana kan?" tanya Jefri.
"Rian kan kalau minggu liburrr"
"Oh iyaa"
"Yaudah sini sama aku" Fany pun naik ke motor nya Rangga. Mereka menuju rumah ayah Abid bersama-sama.
Setelah beberapa menit di perjalanan, mereka pun tiba di rumah ayah Abid.
"Assalamu'alaikum.."
"Ehh.. wa'alaikumsalam. Masukk anak-anakk" suruh Bunda nya Abid ramah.
Jangan terkecoh, bunda Abid hanya menahan tangisannya. Bagaimanapun juga ia harus terlihat kuat di depan Balqis, kembar, dan teman-teman Abid.
"Mata tante.. kenapa?" tanya Eldi.
"Emang kenapaa?"
"Bengepp"
Ahh iyaa, bunda Abid menangis semalaman di kamar karena merindukan putranya. Ayah Abid setia berada di samping bunda nya sampai ia tertidur karena kelelahan menangis.
"Em.. ini karena digigit semut tadi malem" Rangga dan yang lain pun pura-pura percaya dengan jawaban bunda Abid.
"Kalian belom makan kann? Makan siang disini aja yaa."
"Ahh iya makasih tantee," jawab Jefri.
"Om Abay, Balqis sama kembar mana tante?" tanya Tio.
"Om Abay lagi bantu anak buahnya, si kembar tante titipin ke mama Fany. Kalau Balqis di kamarr"
"Belum keluar dari tadi mam?" tanya Fany, Desty mengangguk pelan.
"Fany coba panggil yaa," Fany langsung menuju kamar Abid dan Balqis.
Tok tok..
"Balqiss, keluar dulu yuk makann" Tidak ada respon dari dalam.
"Di respon?" tanya Rangga yang menyusul, Fany menggeleng.
"Balqis, keluarr. Lu butuh makan biar bisa bertahan. Balqis, ayolahh"
"Coba dobrak, gue takut dia kenapa-kenapa." Ujar Eldi.
Jefri pun mendobrak pintu kamar. Dua kali dobrakan pintu terbuka. Balqis sedang berada di balik selimut.
Fany masuk sendirian, "Balqis??" Masih tidak ada respon.
Fany duduk di ranjang Abid, ia menggoyangkan tubuh Balqis. Balqis berbalik badan dalam keadaan muka pucat, matanya masih tertutup.
"Balqisss?!!"
"Kenapaa sayangg?" Rangga dan yang lain masuk.
"Ayo bawa Balqis ke RS," ajak Heon.
"Nggak usahh, aku telepon mama aja suruh kesini." Fany mengambil ponselnya di meja lalu menghubungi mamanya.
Seusai menelepon Fany kembali ke kamar Balqis.
"Gimana??"
"Sekitar lima menit lagi sampe, mama tadi emang mau kesinii" Rangga mengangguk paham.
Fany mendekat lagi ke Balqis, tangannya menepuk pelan pipi chubby Balqis.
"Balqisss, bangunnnn!"
"Sayang sayang, tenang dulu yaa nanti tante Desty panik denger suara kamu teriakk"
"Gimana keadaan Balqis??" mama Fany masuk ke kamar.
Mereka memberi jalan agar mama Fany bisa mendekat. "Pucet bangettt" Mama Fany mulai memeriksa Balqis.
Jujur, Fany sangat cemas. Ia takut Balqis kenapa-kenapa.
"Balqis kenapa, ma??" tanya Fany.
"Balqis ngedrop, juga kurang asupan. Dia belum makan??" Fany menggeleng.
"Balqis gak ada keluar kamar dari tadi"
"Abang... abang dimanaa.. abangg..." Balqis mengigau.
"Jef, Rang, Yon, El.. kita harus cari Abid sekarang!"