
"Abidddd!!" teriak Fany.
"Rempongnya kumat kan" ledek Abid sambil cengengesan.
Mata Fany berair melihat darah bercucuran dari lengan Abid.
"Jangan nangis" Abid memeluk Fany dengan satu tangan.
"Kamu tu!! Kenapa luka si?!!!" Fani memukul pelan dada Abid. Abid tertawa.
"Luka kecil aja, gak apa apa ini" jawab Abid sambil menyeka air mata Fany.
"Woi"
"Astaga Abid!!! Lu kenapa sampe berdarah anjg?!!!" tanya Heon.
"Bah, selola bos" sahut Jefri. Heon cengengesan.
"Ck. Ini yang mereka mau, luka di anggota tubuh gue. Udah santai aja" jawab Abid.
"Rangga mana?" tanya Abid.
"Ha apa?!" Rangga masuk sambil menyeka darah dibibirnya. Pelipisnya juga mengeluarkan darah.
"Kok bedarah lu?!" tanya Abid pada Rangga.
"Lo juga berdarah somplak" sahut Heon. Abid ketawa.
"Avi, Devi, Balqis, sama Ulfa tidur?" Fany mengangguk.
"Baguslah. Ambilkan P3K sana" Fany pergi mencari P3K.
"Oyy!!" Fany menoleh.
"Ke ruangan Tio" Fany mengangguk. Mereka pergi ke ruangan Tio dan Eldi.
--
"Kak Abid?? Kak Abid kenapaa? Kok berdarah?!" tanya Balqis. Abid mau pergi ke dapur dan berjumpa dengan Balqis.
"Lo darimana? Liat berantem??" tanya Abid khawatir.
"Nggak kak. Balqis baru aja dari dapur, baru bangun" jawab Balqis.
"Kakak kenapa? Balqis obatin yaa" Balqis berlari mencari P3K. Abid menahan tangannya dengan tangan kanan.
"Eh kenapa kak?" tanya Balqis.
Sudah sedari tadi, muka Abid memucat karena darah yang keluar sudah cukup banyak.
Abid menggelengkan kepalanya, menghilangkan rasa pusingnya. Namun Abid gak tahan. Abid berjalan pelan ke Balqis.
Tiba tiba, Abid menjatuhkan kepalanya di pundak Balqis. "To- tolong pa- pa pah gue ke- keruangan Tio. Di- disana u- udah a- ada P3K" Balqis menurut dan mulai memapah Abid.
Tok tok tok
Susah payah Balqis mengetok pintu sambil memapah Abid. Abid sangat pusing sekarang.
"Abiddd" panggil Heon. Dia yang membuka pintu ruangan Tio. Heon mengambil alih papahan Abid lalu membawanya masuk ke dalam ruangan. Menyandarkan Abid di dekat dinding.
"Balqis" Balqis menoleh.
"Kenapa kak?" tanya Balqis.
"Jangan pergi. Ini obatin Abid" kata Fany.
"Tapi ada kak Fany" jawab Balqis.
"Aku mau obatin Rangga" balas Fany. Balqis masuk keruangan. Dia mulai mengobati Abid yang setengah sadar.
"Katanya gak apa apa, gak apa apa. Heran! Suka banget sembunyiin apapun dari kita" protes Jefri.
"Lu kayak gak tau Abid gimana Jef. Dia manusia yang gak suka nyusahin orang lain, sekalipun itu temen deketnya" sahut Heon. Abid cengengesan, kesadarannya berangsur membaik.
"Abid abid, dasar manusia ajaib" Abid tertawa pelan dengan matanya tertutup.
"Kaget gua amjing" Abid tertawa lagi kali ini dia sambil membuka mata.
"Jangan banyak gerak kak Abid!!" Abid tersenyum tulus ke Balqis.
"Thank you" Balqis tersenyum.
"Belum siap kak" Balqis lanjut mengobati Abid.
"Lo kenapa gak minggir pas tau kalau mau ditusuk ha?! Gue udah ngomong juga di earpiece!" protes Tio.
"Mereka gak pergi kalau belom ada yang luka. Udah santai la ah" jawab Abid.
"Santai santai pala kau petak!!" Abid tertawa.
"Ini luka kecil doang, sayatan tipis" kata Abid.
"Ngaco kakak! Dalem gini dikata tipiss!! Pinggirnya doang yang tipis ini itu!" Omel Balqis.
"Perlu kerumah sakit qis?" tanya Eldi.
"Harusnya iya kak!" Jawab Balqis.
"Gak usah lebay ah. Gue baik baik aja ngapain ke rs" tolak Abid.
"Lagian kenapa bisa sampe kek gitu cobak?!" tanya Fany.
"Nih nih, gue tunjukin videonya" kata Tio. Fany dan Balqis ingin melihat. Fany pergi, Balqis kembali.
Dia di tarik Abid. "Kenapa kak?" tanya Balqis.
"Itu berantem, gak usah liat. Nanti lo pingsan" jawab Abid.
"Balqis penasaran"
"No! Ini luka gue juga belum selesai lu obatin"
"Oh iya" Balqis kembali mengobati Abid.
"Emang berantem sama siapa sih kak? Yang dikafe waktu itu?" tanya Balqis.
"Beda orang" jawab Abid.
Dia ingin merebahkan tubuhnya, namun tidak ada bantal. Seorang Abid akan nolep kalau tidak ada bantal saat rebahan.
Balqis berpindah tempat, lalu menepuk pahanya. "Kakak lemes kan? Sini kepalanya" Balqis meletakkan kepala di paha Abid.
"Gak susah?" Balqis menggeleng. Dia melanjutkan mengobati lengan Abid.
"Nggak usah ngaco. Gue kurung lo dikamar kalau ngaco teros" balas Abid sambil memejamkan mata.
"Ini aneh" sahut Tio.
"Anehnya?" tanya Fany.
"Cukup aneh bagi kapten black blood yang manja manja di paha cewek. Benar-benar aneh" jawab Tio.
"Dikata jangan bacot" mereka tertawa bersamaan.
"Abis ini keluar ya. Fany laper baaanget" ajak Fany sambil lanjut mengobati Rangga.
"Iyaa, gue jugaa. Nahan nahan daritadi. Makanya oleng" sahut Rangga.
Rangga memperhatikan Fany. Sedangkan Fany fokus di pelipis Rangga yang berdarah. Tanpa sadar Rangga senyum senyum sendiri melihat Fany.
"Keanehan part dua" kata Tio.
"Apa lagi?" tanya Heon.
"Liat noh temen lu, ngapain senyum senyum sendiri. Jangan jangan..."
"Gue sehat anjim, kagak kerasukan!" balas Rangga. Tio tertawa.
"Lu kerasukan tapi bukan kerasukan setan" sahut Jefri.
"Jadi?" tanya Rangga.
"Kerasukan cintanya Fany" jawab Eldi, Tio, dan Jefri bersamaan.
"Hah?" Fany melihat ke arah mereka bertiga.
"Gak sadar ya lu fan? Rangga tu selalu curpan gitu ke lu" sahut Eldi.
"Curpan?" tanya Fany.
"Curi curi pandang" jawab Jefri.
Fany blush!
"Apaan sih" Fany mengalihkan pandangannya.
"Wah.. cocok tau kak Fany sama kak Rangga" Balqis ikut ikutan.
"Nah bener tuh!" sahut Heon.
"Apaan sih kalian? Ngaco banget" kata Fany.
"Cie yang malu malu cie cieeee" ledek Abid. Pipi Fany makin memerah. Sedangkan Rangga diam, menunduk, sambil tetap senyum-senyum.
"Ah dalah" Fany pergi.
"Eh kok baperan gini sih," Rangga menarik tangan Fany.
"Gak usah dengerin mereka. Kelamaan jomblo jadi gitu" kata Rangga.
"Setan lu ya!!"
"Bwaaahahahah"
________
Tok tok tok
"Iya bentaar" jawab Fany sambil berjalan ke pintu kamarnya.
"Eh Avi, ada apa?"
"Kak Fany lama bangett sii, ayoo buruann" ajak Avi.
"Kelamaan ya? Hehe, tunggu sebentar kakak ambil hp" Fany kembali masuk, mengambil hpnya sebentar lalu keluar lagi.
"Ayok" Fany menggandeng tangan Avi.
"Dia yang bilang lapar, tapi dia yang lamaa" cibir Eldi.
"Berisik" balas Fany. Abid tertawa melihat percekcokan keduanya.
"Udah ayoklah" ajak Abid.
"Lu beneran gak apa apa ni ikut?" tanya Jefri khawatir.
"Santai aja, gue baik baik aja kok" jawab Abid.
"Kalau sakit bilang lho ya, awas aja lu gak bilang" ancam Heon. Abid tertawa.
"Iya iya, ayok" merek keluar bersama. Keliling Bali tanpa mengendarai apapun.
Adik adik Abid dan adik Ulfa juga ikut. Mereka punya gandengan masing-masing.
Devina bersama dengan Jefri, Davina bersama Fany dan Rangga, Ulfa bersama Abid dan Balqis.
"Gue liat dari belakang nih ya, Fany sama Rangga kayak sepasang suami istri, Balqis sama Abid juga gitu. Nah, kalau si Jefri.. lebih mirip ke duda duda anak satu gitu" kata Eldi.
"****** ******, gak ada akhlak lu ya" balas Jefri kesal. Eldi tertawa. Tio juga mundur perlahan, melihat mereka yang didepan.
"Bener lu El, bener-bener" ujar Tio.
"Kayak duda duda gitu kan" kata Eldi.
"Iya" jawab Tio sambil tertawa.
"Ya Allah, jual temen laku gak si?" tanya Jefri. Mereka tertawa bersama.
"Dah cocok jadi papa muda kalian" kata Heon.
"Jangan ngaco lu Paijo" balas Jefri kesal.
"Sensi amat dia malam ini" cibir Eldi.
"Is.. kek gak paham aja lu, dia jauh dari rumahnya. Lo tau kan rumahnya itu ibarat kekasihnya yang begitu berat ditinggalkan" sahut Rangga dramatis.
"Oiya lupaa, bwhahahahahaa"
"Buli teros buli" mereka makin tertawa ngakak.
--
Dari kejauhan..
"Cewek yang gandengan bareng anak kecil sebelah Abid siapa sih? Pacarnya??"