
06.45
"Busett, papa udah mau pergi ajaaaa. Abid telat bangun apaa?" tanya Abid keheranan setelah keluar dari kamar Balqis.
"Nggakk jugaa. Papa belum mau pergi kok, bid."
"Emm.. Balqis mana paa?"
"Di dapur tuh" jawab Erwin.
"Udah gak bisa jauh lagi ya, bid? Asal gak nampak mataa nyariin" Abid cengengesan mendengar ucapan ayahnya.
"Buruan bikin cucu deh, bidd!"
"Haa, cucu lagi. Ngebet kalii bahh dari semalaam" protes Abid.
"Ayah tu gak sabarr pengen gendong cucuu"
"Emang cucu itu apa, yah??" tanya Devina.
"Inii cucuuu" jawab Davina sambil menunjuk susu di tangan Devi.
"Itu susuu maymunahh" sahut Abid.
"Yaa jadi cucu apaan??" tanya Davina.
"Cucu ituu.. adek bayii" jawab Abid.
"Ooo.. hahh?! Ayah mau cari adek bayii??" tanya Devi.
"Ihh iyaaa, ayah mau adek baruu?" tanya Davina gantian.
"Nggakk ayahh, tapi abang kamuu."
"Ooo.."
"Sabar, bid. Adek mu emang lemot pagi-pagi" gumam Abid sambil mengelus dada.
Balqis tertawa melihat Abid. Ia baru saja mengantarkan teh ke meja untuk Abid dan ayah mertuanya.
"Emang cara punya adek baru gimana, bang??" tanya Devi dengan tampang polosnya.
"Cara pertama adalah pembuatan"
"Buatnya cemanaaa?" tanya Davina gantian.
"Bid, diem. Adek mu belum cukup umur denger jawaban gila mu!" Abid cengengesan.
"Emang apa sih, yahh??"
"Avi sok polos gitu yaa?" tanya Abid sambil menatap Davina.
"Avi gak tauuu."
"Abang gak mo kasi tauu, Devi mo tanya kakak cantikk" Devina, Davina dan Ulfa pergi menghampiri Balqis.
"Kakak cantikk, cara buat dedek bayi gimanaa?"
"Waahhh.. siapaa yang suruh nanya kek gituu?" tanya Bunda nya.
"Bang Abid"
"Hehhh!! Abang gak ada nyuruh tanyaaa" Ayah dan papa mertua Abid tertawa mendengar protesannya Abid.
"Berdosa kali kamu ya, bid! Sini cepattt"
"Ampun dahh, Abid gak salah bundaa"
"Yang bilang kamu salah siapaa?! Sinii cepattt sarapan" ajak mama Balqis. Abid berohria lalu menuju dapur, diikuti ayah dan papa mertuanya.
"Abang sama kakak belum jawab Devi tauu!"
"Yaudah, abang kasih tau. Cara buatnya ituuu---"
"Abid astaghfirullah!!"
"Udahh lupain aja ya, nak. Gak usah dengarin jawaban abangmu. Abang mu juga gak tau cemana buatnyaaa"
"Apa pula gatau" protes Abid.
"Kalau tau kan udah jadi, bid" jawab Erwin.
"Iya yaa.. jangan jangan kamu gak tauu bid"
"Kalau gak tauu bilangg toh, biddd" ujar Abay.
Abid menghela nafas, "emang kalau Abid bilang gatauu cemana?? Ayah mau peraga kan?"
Pletakk!!
"Masih pagii ini ya, jangan nggak-nggakk!"
❀❀
"Abid.. papa titip perusahaan ya sama kamu. Jaga perusahaan nya jaga Balqis jugaa" Abid mengangguk sambil tersenyum.
"Abid bakal jaga baik-baik, pa" Erwin membalas senyuman pada Abid.
"Balqis jangan malu-maluin mama! Turuti apa kata suami mu, jangan betingkah juga. Kalau apa bantu mertua mu buat kueee, jangan asik drakoran ajaaa!" Balqis mengangguk paham mendengar omelan mamanya.
"Iyaaa ma iyaa, nanti Balqis laksanakan"
"Bagusss!"
"Kau jaga diri baik-baik disana, jangan lupa pulang" ujar Abay pada Erwin.
"Amannn, santai aja laa"
"Ulfa jangan lupa balik lagi yaa. Kalau balik, bawa oleh-oleh yang baaaaanyaakk" ujar Devi.
"Iyaaa, nanti aku bawa banyaaaak buat kamuu. Kita makan bareng" Devi, Avi dan Ulfa bertos ria.
"Yaudahhh, pesawatnya bentar lagi berangkat" Abid dan Balqis menyalami mereka.
"Hati-hati pa, ma, ulfaaa" Mereka bertiga mengangguk. Sambil melambaikan tangan mereka pergi.
"Bidd, kamu mau kemana abis inii? Sekolahh?" Abid menggeleng.
"Abid.. mau bikin cucuu" Abid menggendong Balqis ala bridal style lalu pergi. Abay tertawa sambil menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya.
Balqis yang di gendong menatap kesal suaminya, "nggak usah ngambek. Nanti aku beneran ngajak buat cucu niii"
"Is is is.. parahh betulll!" Abid cengengesan.
"Ah yaa, abang.. tadi malam sebelum abang tidurr bang Eldi teleponn, dia nyariin abangg" Abid mengangguk paham.
Ia membuka pintu mobil lalu memasukkan Balqis ke dalamnya, kemudian pergi menuju tempat kemudinya.
"Abang mau kemanaaa sama kak El?" tanya Balqis setelah mobil berjalan.
"Nggak kemana-mana sayang.. rencana kan mau ke pantai terus nginep"
"Ooo.. jadii kahh?"
"Ya nggak tauu juga, nantii mereka ke pantai kita di kamar aja ya. Buat cucu" Abid terkekeh setelah melihat ekspresi kesal Balqis.
"Abangg, mau buryaamm"
"Tapi tadi kamu udah sarapann"
"Cuma dikitt, tadi pagi gak selera makaann" Abid membelokkan mobil nya ke tukang bubur ayam.
"Kamu yang beli gih, abang tunggu disini" Balqis mengangguk kemudian keluar.
"Eh.. abang mau kahh?" Abid menggeleng.
"Okee"
Sembari menunggu Balqis, Abid membuka ponselnya.
Drttt... Drttt..
Abid menolak panggilan dari Rangga, ia yakin Rangga sudah mengumpat dari sana.
"Assalamu'alaikum abangg" Balqis masuk dengan bubur ayam di tangannya.
"Wa'alaikumsalam sayang, udah? Mau beli apa lagii?"
"Mmm.. untuk sekarang gaada"
"Yaudahh, kalau gitu kita balik??" Balqis menganggukkan kepalanya. Abid kembali mengemudikan mobil menuju apartemen.
Beberapa menit perjalanan mereka tiba di apartemen.
"Heeeeeyy manusiaa" protes Rangga. Abid menoleh sekilas lalu tertawa, "apa sii fans?"
"Gilaa kali gue ngefans sama luu" Abid cengengesan.
"Abangg, Balqis masukk dulu yaaa" Abid mengangguk, ia mendekat ke Balqis kemudian mengecup pipinya sekilas. "Masuk gih, makan yaa?" Balqis tersenyum.
"Balqis masuk dulu ya, kak Rangga" Rangga mengangguk santai, Balqis masuk ke apartemennya.
"Emang kurang ajar lu yaa, mentang-mentang sah nyosor di depan kita juga" protes Eldi kesal.
"Iri sekali kamuu, cepat cari sana!"
"Jadi ke pantai??"
"Nggakk deh kayaknyaa, gue kurang enak badan. Besok aajaaa yaaaa!"
❃❃❃
02.57, di keesokan harinya.
"Abang.."
Seketika Abid membuka matanya mendengar bisikan tadi, ia langsung menoleh ke samping.
"Kenapa sayangg?"
"Laperrr" bisik Balqis sambil cengengesan.
"Tumbennn,"
"Ayoo temenin masakk"
"Masak apa? Mie?" Balqis mengangguk.
"Nggak, jangan mie!"
"Iss.. jadi apaa dong?"
"Telor aja di goreng, makan pake nasi. Kamu kan masak nasii tadi" jawab Abid.
"Yaudiin kalau gituu, ayoo temenin"
"Cium duluu"
"Nggaaa mauuuk"
"Yaudah aku tidur lagii"
"Isss, gitu bangett sama istrii. Balqis laper tauuu"
"Cium duluu, aku ga ada tenaga mau bangkit. Kalau kamu cium baru lahh terisii tenaga nyaa" Balqis menatapnya kesal kemudian mendekat dan mengecup bibir Abid sekilas.
Abid menatap Balqis, "udah kann??"
Abid mengubah posisinya, sekarang ia berada di atas tubuh Balqis. "Itu tadi namanya kecupan, bukan ciuman" bisik Abid.
"Masii jam tigaa pagiiii, jangan mesum gituu paak."
Abis tersenyum, "jam segini enak nya buat cucuu."
"Hehh ngacooo! Balqis tu laperr bangett, ayoo ke dapurr"
"Okedehh bentarrr" Abid langsung menyosor pada Balqis. Balqis pun diam menikmati semuanya.
Sampai akhirnya Balqis tersadar ketika kepala Abid berada di lehernya. Seketika Balqis mendorong kuat Abid.
"Jangan macem-macem ya bapakk!! Ntar temen-temen nanya gimanaaa?"
Abid malah tertawa kecil, "kena gigit nyamuk bilang."
"Yeee.. di kata temen-temen Balqis kayak Ulfa?! Dahh isss ayoo, jangann mesumm gituuu kamu"
"Ini mah salah kamuu, kamu bangunin aku sambil bisik-bisik jam segini. Pake dasterr pulaa, dah ku bilang kamu seksi kalau pake daster"
"Kamu nya ajaa tuhh punyaa pikiran kotor" Abid mendekap Balqis.
"Yaudah yaa terserahh, tidur aja lagi"
"Isss, Balqis laperrr"
"Call me sayang dulu baru kita keluar"
"Banyak bener maunya bapak inii!"
"Bapak teruss, macem udah tua ajaa yaa" Balqis tertawa kecil.
"Ayoo atuhh sayaang, aku laperr bangettt"
"Bangett?" Balqis mengangguk, ia menatap Abid dengan puppy eyesnya.
Abid mengambil ponsel mengecek jam, "tahajud-an dulu yuk. Baru masak buat makan, aku juga laper sebenernya"
"Okeee deall" Balqis keluar dari delapan Abid kemudian menuju kamar mandi.
Abid hanya menunggu di kasur.
"Pakee bajuu napasii abangg tuu"
Abid tersenyum menggoda, "kenapa?? Takut khilaf kamuu?"
"Kagak gituu bambangg, siamah iyeu. Udahh buruann ambil air wudhu!!" Abid bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Setelah keluar, Balqis memberikannya sarung. Mereka berdua sholat tahajud dengan khusyuk.
Selesai sholat Abid menuju lemari baju, "nii pake inii ajaa" Balqis memberikan baju kaos polos. Abid langsung memakainya.
"Dahh yokk" ajak Balqis.
Abid membiarkan Balqis keluar duluan, beberapa langkah setelah keluar kamar Abid langsung menggendong Balqis ala ala bridal style.
Hampir Balqis teriak karena ulahnya, ia memukuli tubuh Abid karena kesal. Sedangkan yang dipukul malah cengengesan.
Abid menurunkan Balqis setelah tiba di dapur, sebenarnya jarak kamar dan dapur itu sangatt sangatt dekat guys. Tapi karena tak ingin Balqis lelah Abid menggendongnya.
"Sayang aku berubah pikiran. Karena aku juga lapar, kamu buat mie aja, pake telor jugaa. Jadiin satu mangkoknya, kita kongsi"
Balqis mengangguk setuju kemudian mulai berkutat di dapur, Abid menunggunya di meja makan dekat dengan dapur, ia bermain game sebentar.
"Abang udahhan mainnya, mie nya udah masakk" ujar Balqis sedikit berbisik.
"Bentar sayang, dikit lagii"
"Isss!!" Abid menoleh sekilas.
Melihat istrinya merajuk, ia langsung keluar dari permainan.
Cup!!
"Jangan ngambek, nantii cantiknya ilang"
Balqis menatapnya sinis lalu memakan mie-nya. "Apa untungnya main game?"
"Jawabannya sama seperti aku nanya apa untungnya kamu nonton drakor. Apa jawaban nya menurut kamu?"
"Untuk hiburan" Abid mengangguk.
"Hmm.. oh iyaa, abang mau kuliah jurusan apaa?"
"Belum tau jugaa, ntah mau kuliah atau nggak"
"Kalau nggak kuliah mau ngapainn??"
"Daftar jadi tentara"
Seketika ekspresi wajah Balqis berubah, "serius abang?"
"Kamu ngizinin gakk?"
"Em.. kalau boleh jujur si nggak, Balqis gak mau ditinggaaall"
Abid tersenyum, "takut di tinggal dan nanti nya tidur sendirii?" Balqis mengangguk pelan.
Abid tertawa pelan melihat ekspresi nya, "yaudah nggak jadii. Aku kuliah ajaa biar bisa kelonin kamu kalau gak bisa tidurr"
"Hihii, makasii abaangg"
"Teruss, besok kamu mau kuliah? Jurusan apa? Mau kuliah dimanaa?"
"Balqis boleh gakk, cari beasiswa kuliah ke luar negeri?"
"Nggak, di dalem negeri aja. Aku gak mau kita ldr, di tambah lagi orang luar kan cakep-cakeppp, tar kamu malah selingkuh" Balqis tertawa kecil.
"Balqis setia kok, gak bakal selingkuh"
"Nggak sayang, gak bolehh. Kamu mau jadi apa emang? Kenapa harus luar negeri?"
"Em.. gak tau kenapaa juga. Aku cuma nanya ajaaa, pengen tau reaksi kamu"
"Hiss dasarr" Balqis cengengesan. Mereka melanjutkan makan.
Abid menoleh ke tangan Balqis, ia memegangnya dan mengelusnya. "Nggak nyangka yaa kita bisa sama-sama"
"Hmm.. Balqis juga gak nyangka bisa dapetin suami MasyaAllah beginiii"
"MasyaAllah gimanaa, berandal gini" jawab Abid sambil tersenyum sekilas.
"Balqis tau laa, abang berandal luarnya doangg."
"Besok, kalau kamu kuliah ketemu yang lebih dari aku gimana?"
"Ya gak gimana-gimanaa, Balqis bakal menjauhh meskipun di deketin."
Abid tersenyum senang, ia menatap tangan putih Balqis, mengelusnya lagi lalu mengecupnya.
Abid menatap mata Balqis sambil tersenyum, "jangan bosen apalagi pergi ya, cantik. Aku si berandal ini butuh kamuuu."