A B I D

A B I D
– Gengsiiii



20.05


"Balqis, heyy sayaangg bangun"


"Hmmm.. kenapa abangg??"


"Kenapa apanya? Ayo bangun, makan malem dulu"


"Iyaa nantii"


"Bangun sekarang, buruann" Balqis bangun dari tidurnya, ia ketiduran karena belajar.


"Di buka matanya sayang, nanti nabrak"


"Iyaa udah di bukaa" jawab Balqis, ia masuk ke kamar mandi. Mencuci mukanya lalu kembali ke meja.


Abid sudah ready di meja dengan baju tidur dan ponsel di tangan.


"Liatin apaan? Main hp muluuu darii tadii" omel Balqis.


"Liatin pekerjaan sayangg" Abid menunjukkan buktinya.


"Ooo, abang makan apaa? Pake ikan juga" Abid mengangguk.


Balqis mengambilkannya lalu memberikan pada Abid, "Balqis ketiduran tadiii?" Abid mengangguk.


"Pules bangett pulaa. Giliran belajar aja tidurr, kalau nonton drakor sampe begadang pun sanggup" Balqis cengengesan.


"Ngantukkk bangettt tadii" Mereka mulai makan.


"Ujian seminggu kan sayang? Siap ujian kita liburan"


"Nggak nunggu raport??"


"Hm? Terserah, kalau mau"


"Coba abang tebak, Balqis bakal peringkat berapa?"


"Biasanya berapa?"


"Empat"


"Em.. satu!"


"Uwahh kok sabi satu?? Empat aja susahh, musuh nya waw waw."


"Sayang.. coba sekarang mikirnya gini, kalau mereka bisa kenapa kamu gak bisa? Emang gak mau ada perubahan?"


"Yaa mauu, tapi keliatan susah tauuu"


"Nggak susah kalau berusaha dan kamunya serius, nanti aku bantu. Yang penting kamu mau usahaa, oke?" Balqis mengangguk sambil tersenyum, mereka melanjutkan makan sampai habis.


"Tapi sayangg.." Abid menoleh ke belakang.


"Aku sekarang ngantukkk, usahanya gimana dong??"


Abid tertawa melihat ekspresi lucu nya Balqis. Ia menuju dapur lagi, mendekati Balqis yang berada di pertengahan dapur.


Ehh Abid melewatinya, ternyata mengambil minum. Balqis melanjutkan perjalanannya menuju ruangan belajar.


Abid menepuk pundak Balqis, Balqis menoleh kebelakang. Abid langsung mengangkat Balqis dan membawanya ke kamar.


"Ayo tidur, babyy"


"Ngapain di gendong??"


"Kamu nya jalan kayak orang mabuk" jawab Abid, ia meletakkan Balqis pelan-pelan di kasur.


"Besok subuh, bangun, sholat, belajar lagi. Belajar itu gak sekali semua langsung di pelajari dan gak harus berjam-jam. Kalau kamu ngikutin cara belajar aku, bisa gila kamu" Balqis cengengesan.


"Kalau besok aku beneran juara satuu, kamu ngasih apaa?" tanya Balqis.


Abid menatap Balqis, "ngasih sesuatu yang paling berharga"


"Apa ituu?"


"Abid junior" bisik Abid.


"Aishhhh, yang benerrrr" Abid tertawa.


"Kamu maunya apa?? Aku turutinn!"


"Em.. Balqis mau ke London, ke rumah kak Nita"


"Berarti besok liburan nya ke London?"


"Hm.. kalau boleh"


"Oke deall, juara satu yaa?!" Balqis mengangguk sambil tersenyum.


"Yaudah yok tidurr"


Balqis mendekatkan dirinya pada Abid, Abid mendekap erat Balqis.


"Good night, babyy" bisik Abid, ia mengelus rambut istrinya penuh kasih sayang.


"Good night too, sayangg."


❃❃❃


09.05, pagi.


"Abiddd" Abid menoleh kebelakang.


"Ohh haii..."


"Janee, gue Jane. Lupa lu ya" Abid cengengesan.


"Makin ganteng lu ya, bid. Dulu kecil burik bangetttt"


"Duluu coyyy bukan sekarangg"


"Hahaha, terakhir ketemu kita kelas tiga SMP ya?" Abid mengangguk.


"Btw, lu apa kabar?"


"Yaaa gini, baikk" Abid menganggukkan kepalanya.


"Lu sendirii?"


"Alhamdulillah masih nafas"


"Lu di sini ngapain?? Kok bisa disini?"


"Iseng aja boloss kesinii"


"Lohh, kok bisa masukk?!"


"Lo lupa gue siapaa? Jane ni boss"


"Gilaa sombongnya masih netep" Jane tertawa.


"Lu mau kemana?"


"Kantin, nongkrong sama temen-temen gue."


"Gue ikut boleh kagaa?"


"Kuyy" Mereka jalan berdampingan menuju kantin. Para siswa-siswi menatap mereka intens, banyak juga yang berbisik-bisik.


"Bid, gue kok di tatapin gini si?"


"Lo deket sama prince idaman, jadinya di liatin" bisik Abid.


"Pedeannn parahhh" Abid tertawa kecil.


"Abb-- kui sopo cokk?!"


"Konco cilikku" jawab Abid santai.


"Lahh ndue?"


"Yakalii ra ndue suuu"


"Gue Jane" mereka hanya melambaikan tangan tanpa senyuman.


"Ingett cewek lu peakkkk, genitt nya naudzubillah" cibir Rangga.


"Lahh gue kan gak ngapa-ngapainn"


"Iyain iyain. Iyain aja biar seneng" Abid menggelengkan kepala melihat teman-temannya.


"Bid.." Abid menoleh, menatap Jefri.


"Lu macem macem, Balqis gue embatt"


"Lu macem-macemm, nyawa lu gak selamatt"


"Wahaaa.. seremmm"


"Lu pada kenapa dahh? Salah makann? Salah minum obat??" Mereka tidak merespon, melainkan lanjut bermain game.


Bel berbunyi.


"Abaaanggg" Abid yang memang belum duduk memeluk Balqis yang berlari kearahnya.


"Kayak gak jumpa lima tahunn" cibir Eldi.


Abid mengabaikan mereka lalu menatap Balqis, "gimana ujiannya tuan putri?"


"Yang abang kasih tau pas subuh tadii, keluarr semua di ujiaann" jawab Balqis antusias.


"Bisa jawab berarti kan?"


"Bisaa dongg" Abid tersenyum lalu memeluknya lagi.


"Makasii ya... sayaangg" Balqis merubah panggilannya karena melihat Jane yang terus menatap mereka berdua.


Abid mengerti, ia paham kalau Balqis cemburu. Abid pun cengengesan melihatnya.


"Bidd, udah pelukannya. Gak tau ini di sekolah?" tanya Jefri sinis.


"Dasar jomblo" Abid melepas pelukannya lalu mengecup sekilas pipi Balqis.


Refleks, Balqis memukul tangannya. Lagi-lagi Abid cengengesan.


"Kamu mau makan apa sayang??"


"Emm.. mau mie ayamm"


"Jangan mie, gak boleh" jawab Abid sambil mengelus rambut Balqis.


"Yaudah bakso yaa" Abid mengangguk, ia memesankan bakso untuk Balqis lalu duduk di sebelah Balqis.


"Ini siapaa? Pacarnya kak Jefri?" tanya Balqis menunjuk Jane.


"Oh ya bukaan, ini selingkuhannya Abid"


Pletak!!


"Gile ni anakk" Jefri mengelus kepalanya sambil tertawa.


"Gue Jane, temen kecil nya Abid" Balqis berohria.


"Lu siapanya Abid? Adeknya??"


Balqis menggeleng, "aku Balqis kak. Pacarnya bang Abid"


"Kamu pacar aku??" Balqis langsung menatap heran Abid.


"Bukan lahh, kamu kan masa depann sekaligus calon ibu anak-anak aku" Pipi Balqis merona.


"Sa aee lu kang ojek" ledek Rangga. Abid terkekeh, tangannya menggenggam tangan Balqis lalu mengecupnya sekali.


"Dia pacar gue, wanita hebat yang bisa bertahan sama sikap-sikap gue" Abid mengelus tangan Balqis dengan lembut.


"Oo, lu udah punya pacar" Abid mengangguk.


"Emang lu belom?"


"Belom"


"Sama Eldi noh, jomblo tuh" sahut Rangga.


"Nggak-nggak makasihhh" jawab Eldi.


"Dihhh, milih-milihh" ledek Tio.


"Bukan gituu, gue cuma gak mau nyakitin wanita gue" Mereka serentak menatap Eldi.


"Lu udah gak jomblo?? Seriuss?"


"Iiiii anjjj, rahasiaaannn" Eldi cengengesan.


"Manaa liatt ceweknya" pinta Jefri. Eldi mencari foto 'wanitanya' di ponsel.


"Iniii"


"Lahhh, ini kan Jessica Mila"


"HEHH ASUUUU, yakaliii Jessica Mila mauuu sama luu" cibir Rangga.


"Ck, tulah gak tau. Cinta pandangan pertama diaa sama guee" jawab Eldi santai.


"Ngaluu ni anakk"


"Kalian campurii apaa ini makanan dia?!" tanya Abid heran.


"Racun tikus, sedikit."


❃❃❃


20.12


Balqis baru selesai belajar setelah dua jam berlalu, kali ini dia tidak tidur. Setelah selesai mengemasi bukunya Balqis keluar ruangan.


Ia langsung menyambar Abid yang sedang bekerja di depan televisi. Abid tidak ingin mengganggu Balqis makanya ia pindah tempat.


Abid yang melihat istrinya manja di pangkuan langsung menjauhkan diri dari laptop.


"Udah selesai belajarnya?" Balqis mengangguk. Abid menatap Balqis dengan senyuman, tangannya mengelus lembut rambut panjang Balqis.


Cup!


Abid kembali fokus pada laptopnya.


"Ishhh, malah di ketekinn!"


"Bentar ya sayang, nanggung. Lima menit ajaaa" Balqis berdehem.


"Abangg"


"Apa sayaangg?"


"Kak Jane cantik, yaaa?"


"Iyaa, cantik" Balqis menatap sinis Abid.


"Tapi jelass cantikan kamu daripada dia. Kamu cantik luar dalam, cantik akhlak juga."


"Halahhh modus"


"Hih gak percaya pulaa, serius aku sayaangg"


"Dia temen kecil abang?" Abid berdehem.


"Berarti dia tauu dong masa kecilnya abangg" Abid mengangguk.


"Balqis juga mau tau kecilnya abangg" Abid menatap mata Balqis.


"Kenapa gitu?"


"Ya.. mau tauu ajaaa, biar gak kalahh" Abid tertawa kecil.


"Sayangg, dari segimanapun jelas kamu yang menang. Lagian apaan menang kalahh?"


"Isss, abang gak ngertii siiiii"


"Yaudah kalau gitu bersiapp"


"Mauu kemanaa?"


"Kamu kan mau tau kecilnya aku gimana, kita tanya ke mama. Nanti mama dongeng tuhh, yang pasti mama bakal bilang Abid itu jelekk banget apa lagi akhlaknya"


"Widiii merendah untuk merokettt"


"Aku beneran sayangg, mana pernah mama bilang aku ganteng"


"Padahal suami akuu ganteng"


"Istri nya juga kan cantik. Besok anaknya bibit unggul" ujar Abid, Balqis tertawa.


"Aku cerita sekilas aja yaa, yang aku inget dulu ituu aku kecil lumayan ganteng sih cuma gak di akui aja. Banyak yang bilang aku jelekkk, tapi setiap aku ngaca beuhhhh.. gantengnya naudzubillah"


"Kenapa jadi muji diri sendiri, pakk?" Abid cengengesan.


"Apa yang mau kamu tau dari masa kecil ku?? Tentang aku sama Jane?" Balqis mengangguk.


"Aku sama Jane jarang main, seminggu cuma main dua kali karena aku emang gak suka keluar rumah buat main. Keseringan di dalem rumah main sama Abiyyu"


"Keluar main sama Jane juga bukan cuman berdua sama Jane, tapi main se-komplek. Duluu tuu Jane lebih deket sama Abiyyu ketimbang sama ku, aku juga gak terlalu deket sama Jane karena Jane lebay orangnya."


"Jane juga suka ngeledekin aku jelek dulu, bahkan sampe sekarang"


"Matanya ketutupan pancii tuh, ganteng gini!" Abid tersipu.


"Tapi keliatannya kak Jane suka sama abang deh. Balqis perhatiin kak Jane mandangin abang terusss"


"Sayaang, kan banyak yang sering mandangin suami ganteng mu ini. Lagipula kalau dia mandang aku kenapaa??"


"Y-yaa gaboleh lahhh, mana keliatan banget lagi mandangnya kagumm!"


"Ini kamu lagi cemburu yaa? Hmm?"


"Ya jelass.. nggakk lahh!"


"Kalau nggak ciumm aku sekarang" Balqis diam, Abid tertawa melihat ekspresi nya.


"Bilang cemburu aja gengsi amatt"


"Issh ingeselinnn!"