A B I D

A B I D
– Karena dasterr



"Balqis, kamu mo kemana??"


"Lahh iya, lu mau kemana pake daster doang??" Eldi ikutan tanya.


Mereka sama-sama berada di apartemennya Heon. "Balqis mau ke kantor bang Abid, mau nganterin makan siang sekalian tes reaksinya hehe"


"Balqis, bisa aja gak sesuai ekspetasi kamuu. Nanti kamunya malah sakit hatii" ujar Fany cemas.


"Gapapa kak, Balqis mo tau reaksi aslinya bang Abid ntarr"


"Bandelnya naudzubillah, sama kek Abid. Semoga ponakan gue besok kalem" gumam Tio.


"Mau di anter?" tanya Jefri.


Balqis menggeleng, "naik ojol aja kak. Biar lebih berasa"


"Balqis pergi dulu kakak kakak, kalau mau makanan di kulkas banyakk yaa" Mereka mengangguk.


"Haati-hatii" Balqis tersenyum sekilas, ia pun pergi.


▪▪▪


Balqis tiba di kantor Abid.


"Iss deg-degaaaann" ujar Balqis sambil memegangi dadanya.


"Oke bismillah" Balqis masuk kantor Abid.


"Selamat siang, mau cari siapa mbak?"


"Cari pacar saya, mas Abid" Mbak mbak yang bertugas menahan tawanya.


Kelihatan, ia tidak percaya dengan perkataan Balqis.


"Salah alamat gak mbaknya?"


"Nggak kok mbak" jawab Balqis tetap pede.


"Mbak salah deh kayaknya. Ya kali pak Abid yang ganteng pacarnya kayak mbak"


Jleb!


Nyesek sebenarnya, tapi Balqis teringat perkataan Abid semalam. Ia tidak akan insecure!


"Apa yang salahh? Buruan deh mbak, saya mau anterin makan siangnya!"


Mbak itu menghela nafas kemudian menghubungi Abid di lantai atas.


Abid yang baru selesai rapat bergegas turun menghampiri istrinya. Abid tertawa kecil melihat sang istri dengan kostum yang di kenakan.


"Sayaaangg" Abid langsung memeluk Balqis. Sontak para karyawan terkejut melihatnya.


Abid yang tadinya datar tanpa ekspresi, ketika ketemu pacarnya bisa berubah seketika.


Abid mengecup kening Balqis sekilas, "kamu kok tumben pake daster?? Kerasukan apaa?" Balqis cengengesan.


"Mau tes kamu lah, malu gak punya pacar aneh kayak akuu"


"Aneh darimana, unik iyaa" jawab Abid bangga. Abid menatap mbak-mbak yang tadi dengan ekspresi yang berbeda, kembali datar.


"Kalian ada halang pacar saya masuk tadi?"


"Ngg-nggak kok, pak"


Abid mengangguk sekilas kemudian menoleh lagi ke istrinya, "gilaa. Cakep banget masa depan kuu"


Balqis tertawa, "modus banget entee!?" Abid gantian tertawa.


"Kamu bawa apa? Ayo ke ruangan aku" Abid menggenggam tangan Balqis menuju ruangannya.


"B-busett, gue baru sadarrr itu dasternya bukann daster murahann!"


"Itu beneran pacar pak Abid?"


"Cakep si, tapi kok.."


"Beruntung banget itu mbaknya, pak Abid tadi malah meluk dia meskipun pake pakaian gitu"


"Aaahh, patah hati gue"


Dan masih banyak lagi gunjingan-gunjingan lainnya dari para karyawan-karyawati Abid.


Abid tidak perduli, Balqis pun hanya menunduk tidak ingin merespon.


"Sayang"


Balqis baru mendongak, "masuk duluan."


"Kamu mau kemanaa?"


"Gak kemana-mana, sebentar ajaa" Balqis pun menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke ruangan Abid.


Abid berdiri di tempat tadi, "ehem.. Emang terbiasa gosipin orang ya?" Para karyawan menunduk.


"Wanita tadi, benar pacar saya. Bahkan, kami sudah bertunangan"


"Jadi, jangan sampai ada yang menyakiti pacar saya. Jika itu terjadi.. saya Abid, tidak akan tinggal diam. Terimakasih." Abid masuk ke ruangannya.


Belum sempat menutup pintu, terdengar lagi suara karyawan nya menggosip, Abid kembali.


"Kalian di bayar buat kerja, bukan gosip! Yang gosip lagi saya pecatt!" Para karyawan langsung kembali ke tempat masing-masing dan melanjutkan pekerjaan.


Melihat semua tenang, barulah Abid masuk kembali ke ruangannya.


"Wahh, pak Abid. Anda benar-benar luar biasa" Puji Balqis.


"Apaan sih sayang? Sini duduk, kamu bawa makanan aapa?"


"Kesukaan kamuuu" Balqis membuka rantangnya. Terpampang disana makanan favorit Abid.


"Terbaik kamu sayang, pas pula aku baru siap rapat. Laper jugaa" Balqis tersenyum melihat Abid makan dengan lahap.


"Kamu gak makan??" Balqis menggeleng.


Tangan Abid menyuapi Balqis, "ayo makan barengg" Balqis pun mengunyah makanannya dari suapan Abid.


Abid dan Balqis makan sambil suap-suapan. Kadang mereka bercanda tawa bersama.


"Aku kira tadi kamu bakalan ngusirr tauuu" ujar Balqis sambil membenahi rantangnya.


"Ngusir? Kamu mikir bakal kayak di Indosi*r gitu? Di usir di tendang. Terus nanti kamu nyanyi, ku menangiiiiiiss.. gitu?" Balqis mengangguk sambil tertawa.


Abid berpindah tempat, ia merebahkan tubuhnya dengan paha Balqis jadi bantal.


"Aku gak jahatt kek gituu sayang, lagian, mau kamu datang pake baju gembel sekalipun reaksi aku bakal tetep kayak tadi"


"Aaaaa!! Sayang bangettt sama kamuu" Balqis mengelus rambut Abid.


"Aku juga kok"


Tok tok tok..


"Masuk!" Abid masih di pangkuan Balqis.


"Berdirii! Hey" Abid diam, dia menatap televisi di ruangannya.


"Ada perlu apaa?" tanya Abid tanpa menoleh ke arah sekretaris nya.


"Maaf menganggu waktunya pak, saya mau minta tanda tangan" Abid bangkit dari pangkuan Balqis.


Ia meneliti berkas yang ingin di tanda tangani, dan juga melihat betul-betul asli atau palsunya berkas. Setelah di rasa aman, barulah Abid tanda tangan.


"Permisi, pak, bu.." Abid mengangguk, ia kembali tidur di pangkuan Balqis. Sedangkan Balqis hanya tersenyum membalas mbak yang tadi.


"Seksi betull" gumam Balqis.


"Seksian kamu lagi"


"Badan triplek gini"


"Insecure terosss" Balqis cengengesan, Abid bangkit dari rebahannya. Ia memepetkan diri ke arah Balqis.


Cup!


Cup!


"Kamu tau nggak? Kamu itu seksi, bangetttt" bisik Abid.


"Nggaa laa"


"Nggak? Gak percaya?" tanya Abid. Balqis menggeleng.


"Liat ke bawah perut aku" Balqis menoleh.


"Iss! Tiap hariii makin mesum!!"


"Yaa gimanaa lagii, berdiri sendirii dia"


"Iss, tau ah. Gak mau denger!!"


"Sesak sayang, kamu gak mau nolong?"


"Gagaga!"


"Aku punya ruangan private kokk"


"Nggak ishhh!" Abid tertawa melihat ekspresi Balqis.


"Yaudah deh" Abid merebahkan kembali tubuhnya.


"Itu pasti gara-gara liat mbak tadiii"


"Kenapa jadi sekretaris tadi? Aku noleh juga nggak. Ini tu gara-gara kamu pake daster, keliatan seksinyaa" Balqis diam, pipinya memerah.


"Lahh?? Jadi gimana??"


"Apanya??"


"Is ituuu"


"Apaa?"


"Pura-pura gak tauuuu"


"Ya apaaa kok??"


"Gatau ahhh, bodo amatt" Abid tertawa.


"Terus ini kenapa jadi rebahannn??" tanya Balqis.


"Ya karena mau rebahann"


"Kerjaan abang??"


"Aman itu nantii"


"Aku ganggu deh kayaknya, aku balik yaa?"


"Nggak! Gak gak! Pulang bareng aku ajaa, nanti keseksian kamu pake daster diliat orang banyak!"


▪▪▪


"Kebo nyaa" Abid memakai jas-nya kemudian menggendong Balqis yang tertidur di sofa.


"Julie, kalian gak perlu lembur hari ini. Jangan lupa datang tepat waktu besok. Saya duluan" Julie mengangguk sambil tersenyum manis.


Abid pun pergi keluar kantor, mobil kesayangannya menunggu di depan. Abid meletakkan Balqis hati-hati, ia mengecup kening Balqis kemudian masuk ke kursi kemudi.


"Mo kemana??"


"Loh kok bangun, sayang?"


"Balqis gak tidur"


"Lah prett, kamu tidur gitu kok."


"Ketiduran berarti" ujar Balqis cengengesan.


"Kita mau kemana??"


"Pulang"


"Kok pulang??"


"Jadi kamu mau kemana? Kamu pake daster doang loh ini"


"Terus kalau aku pake daster doang kenapa? Kamu malu gitu??"


"Nggak sayang kuu... daster mengekspos tubuhmu, menambah dosa ku"


"Halah! Bilang aja malu!!"


"Astaghfirullah sayaang, kamu pms hari ini? Hm?"


"Gak!"


Abid menoleh sekilas Balqis, "oh atau mungkin kamu hamil makanya sensitif?" tanya Abid lagi, Balqis langsung menatap nya sinis.


"Oya kan belum di buatt"


"Yaaudah yok ke mall, tapi atasnya kamu pake jas aku!"


"Gausah! Gak mood!" Abid meminggirkan mobilnya.


Ia langsung menatap intens Balqis, "ayang maunya apa hm??" Balqis diam sambil menatap luar jendela.


"Yang"


"Sayaang" Abid langsung menggenggam tangan Balqis.


Mengecupnya berkali-kali, di akhir ia mengecup pipi Balqis. Balqis sama sekali belum merespon.


"Yang, di jawab atuh."


"Aa di kacangin ini? Kumaha iyeu" Abid sengaja memakai bahasa Sunda agar Balqis tertawa.


Susah payah Balqis menahan tawanya.


"Kalau kamunya ngambek, aku jugaa" Balqis menoleh sekilas kemudian menoleh luar lagi.


"Ehemm.."


"Sayang" Deep voice Abid keluar.


'Suara ini melemahkan ku!' batin Balqis kesal.


"Kamu masih ngambek aku minta jatah nantii"


"Okeey, unboxing sepuluh ronde" Abid kembali mengemudi.


"Mau bunuh istrinya apa gimana, pakkk?!" tanya Balqis sinis.


"Ehh, suaranya belum abis ternyata. Mau kemana jadinya sayang? Jadi ke mall?"


▪▪▪


"Tunggu disinii" Abid keluar dari mobil lalu mengunci mobilnya.


Ia masuk ke supermarket, Balqis masih tetap merajuk sampai sekarang hanya karena perkara daster dan mall.


Abid sudah mengajaknya ke mall tetapi Balqis diam tidak ingin keluar.


Alhasil Abid mengajaknya pergi dari mall dan disini lah Abid sekarang. Berkeliling mencari jajanan di supermarket untuk menyogok Balqis.


"Mas nya sering kesini, suka sama saya yaa?" tanya penjaga kasir.


Abid tersenyum smirk, "istri saya lebih cantik mbak. Gak suka tebar pesona dan pandai menjaga pandangan."


Abid mengambil belanjaannya lalu keluar dari supermarket, "assalamu'alaikum sayaaang." Abid masuk kembali ke mobilnya sambil menyodorkan plastik tadi.


Balqis melihat sekilas mata Abid kemudian membuka plastiknya. Seketika Balqis tersenyum senang.


"Aaaa.. makasih abaaaang" Reflek, Balqis mengecup pipi Abid.


Abid tertawa kecil melihat reaksi Balqis, "bilang dari tadi kalau maunya jajann" jawab Abid sambil mengelus rambut Balqis.


"Lahh.. Balqis aja gak tau tadi maunyaa aapaa"


"Terus ngapain puasa ngomong?!"


"Gapapa, kesell aja! Tadi keliatan abang malu baw--"


Cup!


"Gak usah ngaco, gak usah negative thinking. Aku suka kamu apa adanya, mau kamu pake gaun atau daster ke kantor ya tetep aja aku suka. Kenapaa? Karena itu kamu, bukan orang lain!"


Balqis mendekat, ia memeluk Abid yang berada di kursi pengemudi.


"Makasiii banyaaakk, Balqis bersyukur banget dapat manusia yang hampir punah" kata Balqis dengan senyumannya.


Abid membalas pelukan Balqis, "sekarang.. alangkah baiknyaaa, kamu turun. Nantii bahayaa, kamu bisa aku serangg"


Balqis mengeratkan pelukannya, "iiihhh takuttttt."