
Di dapur, Balqis memberikan jajanan yang dibelinya bersama Abid di supermarket.
"Yang lain masih tidur?" tanya Balqis. Devi mengangguk.
"Kak Fany tidur?"
"Iya kak, kak Fany tadi Devi bangunin katanya sakit kepala" jawab Devi.
"Terus, Devi kenapa bangun duluan" Devi diam.
"Kenapa? Ada apa? Cerita dong sama kakak"
"Devi takut kak.. Devi mimpi liat abang jatoh dari atas gedung kerja ayahh.. lebih tinggi pun dari situ"
"Kok bisa mimpi itu? Devi baca doa gak tadi malam?"
"Bacaa, kan kakak ajakin baca"
"Yaudah, kalau gitu kita doain semoga bang Abid baik baik aja ya, semoga bang Abid bisa terus main sama Devi, bang Abid makin baik, makin ganteng, makin pinter.. kita doain aja yang baik untuk bang Abid ya?" Devi mengangguk.
"Tapi Devi tetep takut kak, takut bang Abid kenapa-kenapa" Devi merengek.
"Gak akan terjadi apapun kalau bang Abid hati-hati"
"Tapi Devi liat bang Abid di dorong kak, bukan jatoh sendiri" ujar Devi.
"Mimpi itu bunga tidur sayang. Insyaallah gak akan terjadi apapun. Doain aja yaa" Devi mengangguk.
"Kak Devi capek, masih ngantuk"
"Yaudah yuk ke kamar, kamu tidur lagi" Devi mengikuti perkataan Balqis. Mereka berdua pun kembali ke kamar.
Setelah Devi tidur dengan dibacakan dongeng oleh Balqis, Balqis keluar dari kamar untuk membuat sarapan.
"Udah tidur?"
Puk puk puk..
Balqis memukul lengan Abid.
Abid cengengesan, "Apaan pukul-pukul?"
"Sssttt... Ya kakak tu ngagetin Balqis tau nggak?!"
"Iya iya maap"
"Yauda geser, Balqis mau buat sarapan" Abid diam tak berkutik.
Balqis pun memilih geser ke kanan, Abid mengikuti Balqis. Balqis geser ke kiri, Abid juga mengikuti Balqis.
"Ah kak abidd" keluh Balqis. Abid tertawa.
"Dahlah gak jadi masak, gak usah sarapann" Balqis ingin masuk ke kamar, Abid menahan tangannya yang menuju gagang pintu.
"Ampun deh ampun, ayokla" ajak Abid.
"Gak jadi gak mauu"
"Yakin gak mau masak sama orang ganteng?"
"Pede bangett si sumpahhh" Abid cengengesan.
"Dah yok" Balqis tak bergerak, seperti Abid tadi.
"Yaudah kalau gituu" Abid maju lalu menggendong Balqis seperti membawa karung beras.
Puk puk puk..
"Kakkk abiddd.. iss dikata Balqis beras apa dibawa kek gini?!"
- · -
"Liat noh Abid" ujar Tio ketika melihat Abid membawa Balqis menuju dapur.
"Yakin gue yakin! Abid jatuh cinta tuh sama Balqis" sahut Eldi.
"Jarang-jarang dia gituu kan?" tanya Heon.
"Yang kemaren itu juga, pas ketusuk pisau, kek rada ajaib gitu dia mau manja-manja tidur di paha cewek" kata Jefri.
"Mungkin emang udah jatuh cinta kali" jawab Rangga.
"Yehh mungkin aja kalau itu, tapi sekarang Shelia muncul lagi tuh. CLBK lah si Abid" kata Tio.
"Gue gak setuju seratus persen kalau Abid sama itu anak" ujar Jefri.
"Gue juga kagak setuju.. eneg liat mukanya yang sok polos"
Disisi lain, Abid berdiri di samping Balqis yang sibuk menyiapkan segala bahan untuk dimasak.
"Mau masak apa?" tanya Abid.
"Nasi goreng spesial campur udang, sosis, bakso sama telur" jawab Balqis.
"Udah dimasak nasinya?"
"Udah tadi sebelum ke kamar"
"Lo ada tanya tadi sama Devi?" Balqis mengangguk.
"Devi mimpi buruk kak, katanya dia lihat kakak di dorong dari gedung kerja om Abay, lebih tinggi dari itu pun katanya" jelas Balqis.
"Terus tadi lu gimanain?"
"Ya Balqis ajakin berdoa biar gak terjadi hal-hal buruk" jawab Balqis.
"Ooooo gituu, bagus dehh" Abid mengacak rambutnya Balqis, Balqis menatapnya datar.
"Terus kakak mau ngerusuh atau mau bantu?"
"Bantu iris sosis sama bakso aja deh" jawab Balqis.
"Yaudah mana sini?" Balqis menyerahkan sosis, bakso, juga pisau.
Abid pun mulai mengirisnya satu persatu. Balqis yang di samping Abid juga sedang memotong bahan bahan yang lain.
"Kak jangan kegedean ishh"
"Ya jadi gimana?" tanya Abid.
"Ginii" Balqis mengambil alih sosis di tangan Abid.
"Iris tipis ajaa tapi jangan tipis bangett" ujar Balqis. Abid memperhatikannya.
"Bisakan?" Abid berdehem lalu mengambil kembali sosisnya.
"Bay the way, suara kakak tadi subuh bagus tau" ujar Balqis.
"Masa iya?"
"Hmm.. Balqis seneng dengernya"
"Yaudah kalau gitu tiap pagi bangunin gue, kita subuhan bareng"
"Bener ya.. awas aja kalau dibangunin gak bangunn"
"Pasti bangun" kata Abid.
"Kakak selama liburan, sholat subuh cuma tadi pagikah?"
"Ya nggak lahh, tiap pagi gue bangun subuh tapi ya tidur lagi. Sholat itu prioritas utama gue" ujar Abid.
"Aissh, idaman banget..." gumam Balqis.
"Iya gak usah di puji juga, gue tau kok gue emang luar biasa" balas Abid ketika mendengar gumaman Balqis.
"Kebiasaan" Abid cengengesan.
Balqis selesai memotong bahan lainnya, dia mengambil cobek lalu menggiling bumbu.
"Capek? Tukeran ajaa" pinta Abid.
"Nggak usah, nanti tangan kakak pedes" ujar Balqis.
"Udah geser lo lanjutin iris itu" Balqis pun mengalah. Abid menggiling bumbu nya penuh kehati-hatian agar tidak mengenai tangannya.
Di villa Bu Jihan semua memang sudah tersedia termasuk alat masak. Namun, disini tidak ada blender, makanya mereka harus menggiling pakai cobek.
"Udah nih?" tanya Abid.
"Widihh, pake tenaga dalem ya? Cepet banget" ujar Balqis.
"Tenaga samping"
"Emang ada?"
"Kagakk tau" mereka berdua tertawa. Selesai dengan candaan receh Abid, Balqis mengambil kuali.
Balqis memanaskan minyak, lalu menumis bumbu tumbuk kasar tadi sampai harum sesudahnya diletakkan di pinggir wajan. Kemudian Balqis memasukkan telur, mengaduknya sampai berbutir.
Setelah itu, Balqis menambahkan ayam, udang, bakso. Diaduknya rata lalu menambahkan nasi putih. Di aduk- aduk lagi. Balqis memasukkan sedikit kecap manis, garam, dan gula pasir. Dan aduk sampai matang.
Sudah dirasa matang, Balqis memasukkan daun bawang, lalu mengaduknya rata.
Balqis meletakkannya di piring sesuai dengan jumlah penghuni yang ada di villa. Balqis menyamakan porsi disetiap piring.
Balqis menambahkan telur ceplok dan taburan bawang merah goreng sebagai topping.
"Dah selesai"
"Wanginya bikin laperrr"
"Panggil yang lain sana, Balqis mau beresin dapur" Abid langsung pergi memanggil penghuni villa.
××
"Pada mau makan kagak lu? Udah mateng tu"
"Muka lu ceria banget abis masak sama calon istri" goda Eldi.
"Kagak usah ngacoo"
"Halah.. jujur deh lu, lu ada hubungan kan sama dia?" tanya Rangga sambil menarik tangan Abid agar duduk di sebelahnya.
"Nggak anjirr sumpahh" jawab Abid.
"Lu gak boleh jadi pakboy bid, cukup Heon aja" ujar Tio.
"Lah kok gua anjirrrm" mereka tertawa.
"Lo kalau emang demen sama Balqis, jangan di php in terus malah deket ke Shelia. Bedosa tau!" ceramah Jefri.
"Tau ni Abid, gak boleh plin plan jadi orang" Abid diam.
"Apa perasaan lu ke Balqis?"
"B aja, gak ada perasaan apapun. Cuma gue nyaman deket sama dia, gue seneng gitu kalau ngegodain dia" ujar Abid.
"Fiks lu demen tapi otak lu masih mode loading" ujar Rangga.
"Hati hati. Kalau telat bisa nyesal"
__________________
Resep from google 😂
__________________