
10.00
"Gais, gue bosen sekolah gak ngapa-ngapain" keluh Eldi ketika di kantin.
"Ha kan, belajar juga lu pada kagak demen. Giliran udah bolos begini bosenan. Maunya apa wahai manusiiaaa?" tanya Jefri kesal.
"Maunya kamu, jef" jawab Heon.
"Asuuu!" Mereka terkekeh.
"Ehh, aku denger tadii katanya yang kemaren foto foto aib masuk kantor polisi tau" ujar Fany.
"Kata siapa?" tanya Abid.
"Ya kata mereka merekaa, pas pada gosip"
"Baguslahh, meresahkann gitu. Foto kamu kemaren ada gak ya, sayang??" tanya Rangga.
"Nggak keknya, kan aku gak pernah ngantri" jawab Fany cengengesan.
"Aku lah manusia yang mengantri demi kalyann" kata Tio dramatis. Mereka tertawa lagi.
"Gue besok mau liburan, pada mau ikut?" tanya Abid sambil mengangkat kakinya ke meja.
"Semalam lu bilang kagak demen bolos, mau tampar kanan apa kiri?!" tanya Rangga ngegas.
"Gue kagak bilang kalau gak mau, gue cuma bilang abis ujian kok boloss"
"Ya tapikann, kata-kata itu mengandung kalimat larangan. Ah begimanesii?!" Abid tertawa.
"Mau ikut kagakk?!"
"Mo kemane luu?!"
"Jepang"
"Seriously?! Kapannn?!" tanya Fany.
"Besok"
"Chih, bacot. Balqis masih sekolah besok oonn"
"Oh iyaya" Jefri yang tadinya hendak menampol Abid tidak jadi karena Abid menghindar.
"Kak Abid, di panggil bu Jihan"
"Hah? Ngapain lagii??"
"Nggak tau kakk" Siswa tadi pun langsung pergi.
"Sepertinya, bu Jihan dan pak Dayat tidak akan membiarkan kamu tenang wahai anak muda" cibir Heon.
"Stresss gua dipanggil muluu, buat kasus gak buat kasus juga tetep di panggil. Kasian meja kursinya bosen sama gue" Mereka mengggelengkan kepala mendengar celotehan Abid.
"Sana samperin, siapa tau dapat duiddd" suruh Rangga.
"Kalau Tio gila makanan, si Rangga gila duidd" Rangga cengengesan.
"Gue pergi duluu" Mereka mengangguk, Abid pun pergi sendirian.
"Abidd" Shelia memegang tangan Abid.
Abid langsung menyingkirkannya, "mau apa lagi sih? Lu tau sendiri kan gue udah punya Balqis. Gak usah ganggu hidup gue bisa?"
"T-tapi, aku belom bisa mov--"
"Itu bukan urusan gue! Jangan ganggu gue, gue gak mau wanita yang selama ini ada buat gue meneteskan air mata gara-gara manusia kayak lu!" Abid pergi meninggalkan Shelia yang terdiam.
Jauh di depannya ada Balqis yang sedang berbincang dengan temannya di taman dekat lapangan futsal.
Abid jelas melihat bola mengarah ke Balqis. Seketika Abid berlari kemudian menghalangi bola mengenai Balqis. Alhasil, bola itu mengenai punggung Abid.
"Abangg?!"
"Kamu gapapa kann??"
"Balqis gapapa, abang gapapaaa??" Abid tersenyum sekilas, lalu ia berbalik melihat para pemain.
"Sorry gak sengajaaa!!" itu teriakan salah satu pemain. Abid melihat disana ada Candra yang sedang tersenyum puas.
Abid menghampiri mereka, "ayok battle!"
Candra langsung maju mendekati Abid, "sure! Kalau lu kalah, Balqis buat gua!"
Bugh!!
"Ngotak lu anjingg! Lu kira cewek gue barang sampe lu jadiin taruhan?!" Candra terdiam sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
Balqis yang tidak ingin Abid berantem langsung menghampirinya, "abang jangan berantem..." Balqis menarik tangan Abid.
Abid berbalik, "manusia biadab ini gak bisa diam kalau belum dikalahkan. Kamu tenang aja oke?"
"Tap--"
Cup!!
Abid mengecup kening Balqis, "gak pake tapi. Udah sana, cari tempat aman. Jangan sampe kena bola" Balqis diam.
"Eh lu, siapa nama lu.. lu pada dehh, pergi ntar pada kena bola" perintah Abid pada teman-teman Balqis.
"Kan jauh kakk gak bakal kenaa" jawab Vane.
"Emang jauh, tapi kalau udah Rangga yang nendang, bisa sampe jalan raya sana" Vane terdiam.
"Okee, kalau emang gak mau pergi. Kena bola jangan salahin gue"
Abid mengambil ponselnya kemudian sedikit menjauh.
-Jefriival-
"Assalamu'alaikum, jef!"
π "Waalaikumsalam, ngape?"
"Ke lapangan futsal sekarang, battle futsal sama Candra"
π "OTEWEE BOSS!!"
Abid mematikan panggilannya kemudian berbalik.
"Mau taruhan apa?" tanya Abid pada Candra.
"Gue mau--"
"Kalau lu maunya Balqis, gue bisa pastikan lu bertahun-tahun di rumah sakit" Candra terdiam.
Muka datar, suara, dan aura yang di keluarkan Abid menandakan ia tidak bercanda dengan omongannya.
"Okee gue ganti. Sedenger gue, lu punya tiga klx dan satu motor sport. Gue mau dua klx lu sama motor sport lu!"
"LO GILAA?!" Abid menoleh kebelakang setelah mendengar suara Rangga. Rangga dan yang lain tiba bersamaan di lapangan futsal.
"Gue waras seratus persen"
"Bid..."
"Okee, fine. Dua motor klx dan satu sport gue buat lu. Itu kalau gue kalah, tapi kalau lu kalah.. jauhin kehidupan gue ataupun kehidupan Balqis!"
"ABID!! Itu gak sebandingg!!" protes Tio.
"Lu pada tambahin, terserah apaa"
Eldi tersenyum smirk, "kalau lu kalah.. lari keliling lapangan seratus kali dalam sebulan pake kostum ondel-ondel, deall?"
Abid menoleh ke Eldi sambil ikut tersenyum smirk.
"Ondel-ondel ribett, ganti.. satu tim kalian pake baju maid lari keliling lapangan seratus kali dalam sebulan, deal?" tawar Tio.
Serentak mereka tersenyum licik, "oke fine." Ujar salah satu tim Candra yang juga membenci Abid.
"Gak pake main licik!" sahut Candra.
Di karenakan tim Abid lebih satuu, Heon mengalah. Ia keluar dan menjadi wasit.
Pertandingan dimulai!
Abid dan tim-nya selalu berusaha untuk sportif, namun tim Candra malah sering bermain licik.
Abid dan temannya jelas mengetahui itu, tapi mereka berpura-pura tidak tau dan tetap bermain dengan senyuman misterius.
"Woiii Rangggg" Eldi mengoper bolanya.
"Geeh tolilll, jeboll gawang di buat Rangga" protes Tio cengengesan.
Rangga menerima bola sambil tersenyum smirk, dia menendang bola itu dan yaa bolanya masuk ke gawang.
Skor sudah tiga kosong, Abid mencetak gol dua kali dan Rangga tadi satu.
Mereka terus bermain, pertandingan semakin panas karena tim Candra emosi. Mereka sama sekali belom mencetak gol.
Semua siswa-siswi memperhatikan pertandingan mereka, termasuk para guru. Para guru memilih menonton sambil makan siang daripada menyuruh mereka berhenti bermain.
Beberapa menit kemudian....
"YESH!!! HAHAHAH MAMPUSSSS, KALAH LU ANJINGGGG! PAKE NOH BAJU MAIDD!!" ledek Tio.
Yeahh! Mereka berhasil menang, skor mereka lebih unggul dari tim Candra. Masing-masing Black Blood berhasil membobol gawang tanpa memberi mereka kesempatan.
Dan yaa, selalu saja bola melayang ntah kemana karena tendangan maut dari Rangga.
"Lu pada kalahh! Siap siap aja deh pake baju maid, keliling lapangan.. eemmmmm cocokkk bangetttt jadi banciii ahahhahaah!!!"
Tim Candra menatap kesal all member Black blood.
"LU PADA CURANG ANJINGGG!" umpat anggota Candra.
Abid dan yang lain tertawa, "coba ngaca siapa yang curang dari tadi? Siapa yang jegal sana-sini? Next time, ketika kalah terima aja yaa. Kalau protes kayak gini, keliatan bangettt pecundang nyaa" cibir Jefri.
"Sialann lu"
Bugh!!
Candra memukul Jefri.
"Ahh.. pengecut banget"
Bugh!!!
Bugh!!!!
Dua pukulan balasan yang menyakitkan dari Abid. Candra terjatuh.
"HEHH HEH!! UDAHH UDAHH JANGAN BERTENGKAR" pak Dayat datang dengan penggaris di tangannya.
"Ck, pak pak. Kenapa sih datang setiap tangan saya gatel, apa bapak yang mau saya tinju?" tanya Abid sinis.
Pak Dayat berusaha rileks, "kalian udah mau tamatt! Kasih contoh yang baik, bukan bertengkar seperti ini!!"
"Ahh bacot, gua tunggu lu pada pake baju maid. Kalau sampe kalian gak nepatin janji, ganti aja celana jadi rok. Lebih cocok jadi bancii dari pada jadi laki-laki"
Abid dan rombongan pergi meninggalkan tempat. "Abangg" Abid menoleh.
Ia langsung menggendong Balqis kemudian membawanya menuju kantin.
"Hissss!!" Balqis menatap garang Abid ketika sudah di turunkan.
Abid tak merespon, ia menarik Balqis untuk duduk. "Abang tu jangan ngomong kasar sama guruuu" omell Balqis.
"Au tuh, kasar bangett. Ntah siapa yang ajarinn" sahut Fany yang juga ada di sana.
"Bodo amattt" Abid merebahkan tubuhnya di paha Balqis.
"Manja mode on" cibir Jefri.
"Oh iyaa, Jef, kamu gak mau diobatin? Sudut bibir lu--"
"Gue gapapa, kalau kenapa kenapa ntar gue obati sendirii. Barabe kalah lu obatin gue" Fany tertawa pelan.
"Guys, gue baru inget" Mereka menatap Eldi, "Tadikan kita taruhan, nah taruhan kan dosaa."
β€β€β€
"Abaangg, bangunn. Maghrib-an duluu ayok"
Dari sejam yang lalu Balqis terus membangunkan Abid. Tapi yang dibangunkan belom bangun sampai sekarang.
Abid kelelahan akibat main futsal tadi, beberapa minggu terakhir ia jarang berolahraga. Ia kebanyakan belajar dan kerja di rumah.
"Abaaangg, ayoo bangunn!! Mandiii, sholattt" omel Balqis terus menerus.
"Iya sayang iyaaa"
"Iya iya, ya bangunnn" Abid bangkit dengan mata terpejam.
"Melek!!" Abid tidak peduli, ia langsung masuk ke kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian ia keluar dengan wajah lumayan fresh.
"Ayo sholat, wudhu sanaa" suruh Abid, Balqis pun wudhu. Mereka sholat Maghrib berjama'ah, dilanjut membaca ayat suci Al-Quran.
Tepat pukul setengah delapan, mereka selesai baca Al-quran.
"Sayang, udah masak? Aku laper" tanya Abid.
"Udahh. Salah siapa dari tadi di bangunin gak mau bangun?"
"Kecapean sayangg" Abid langsung menuju dapur disusul Balqis.
Balqis meletakkan nasi dan lauk untuk Abid kemudian Abid menerima dan memakan semuanya.
"Laper apa doyan pak?"
"Dua-duanya" Balqis tersenyum sambil ikut makan di depan Abid.
"Kamu punya desain rumah idaman?"
"Rumah idaman? Abang mau bangun rumah??"
"Belum sekarang, cuma udah kepikiran aja. Gak selamanya kita di apart" Balqis berohria.
"Balqis mah rumah gimana pun tetep mauu, terserah abang aja"
"Yaudah kalau gituu maunya, nanti aku desain dulu. Kalau kamu suka kita pakee"
"Abang bisaa desain rumah?"
"Apa yang suami mu ini gak bisa sayangg?"
"Sombongg"
"Ehh ada jugaa yang aku gak bisa"
"Apa tuu??"
"Jauh dari kamuuu" Balqis malah tertawa, Abid ikut tertawa dibuatnya. Mereka lanjut makan.
Setelah makan, Abid kembali ke kamar.
"Jangan tidur duluu, baru siap makann" ujar Balqis yang sedang membuka laptopnya.
"Aku ngantukk, capekk jugaa" jawab Abid sambil merapatkan tubuhnya dengan Balqis.
"Salah siapaa jarang ngegym" Abid tidak menjawab lagi, ia sudah masuk alam mimpi.
Balqis yang disebelah Abid menutup tubuh Abid dengan selimut, ia menutup laptopnya. "Mau Balqis pijetin gakk??" bisik Balqis.
"Nggak usahh, kamu tidur aja di samping aku" jawab Abid. Balqis mengikuti permintaan Abid.
Abid semakin mendekatkan tubuhnya dengan Balqis, muka Abid sekarang berada di dekat leher Balqis.
"Di luar aja kayak singa, dalam rumah macem kucingg."