A B I D

A B I D
– Balas dendam



...Finally, 100 Chapterrr!✨...


...Thank you buat readers yang masih mau baca cerita inii, di usahakan lebih sering up. Lop sekebon buat kaliaannn, hehee<3...


...Happy reading yaw!🌻...


...γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘...


03.04


Abid terbangun dari tidur. Tepat di depan matanya ada Balqis yang sedang tidur pulas. Abid bingung harus apa sekarang.


Di satu sisi ia tidak ingin pisahh, di sisi lain ia takut Balqis kenapa-kenapa.


Setelah Balqis bilang ingin membunuh Shelia bersama-sama tadi malem, Abid memilih untuk mengajak Balqis tidur.


Ia tidak ingin melanjutkan perdebatan yang nantinya bisa membuat Balqis nangis lagi.


Lagi pula, 'gak ada pria yang mau wanitanya jadi pembunuh' batin Abid sambil memandangi Balqis.


Abid menghela nafas panjang, ia bangun dari tidurnya perlahan kemudian menuju kamar mandi. Ia hendak melaksanakan sholat tahajud untuk menenangkan pikirannya.


Abid sholat, berdzikir dan berdoa dengan khusyuk. Sesudah nya ia membaca Al-Quran dengan suara pelan.


Tak terasa jam di kamarnya menunjukkan pukul setengah lima, Abid yang tidak ingin tidur lagi memilih keluar kamar.


Ia membuat kopi terlebih dahulu kemudian bermain game sembari menunggu waktu sholat subuh.


Abid terus bermain di kamar sebelah masih sambil memikirkan cara untuk menyingkirkan Shelia.


Jarum jam terus berputar, alarm ponsel Balqis berbunyi tepat pukul lima kurang sepuluh menit. Balqis pun membuka matanya.


"Loh?? Bang Abid manaa??"


"Bang Abiiiiddd!!" Balqis panik.


Yang ada di pikirannya saat ini adalah, Abid kabur tengah malam ketika ia sudah tidur.


"Abaaaanggg!" Balqis keluar dari kamar, ia masuk ke kamar sebelah.


"Abanggg.. hiks hiks.." Abid melepas headset gaming nya kemudian menghampiri Balqis. Balqis langsung memeluknya erat.


"Kenapa sayang?? Kamu mimpi buruk??" Balqis menggeleng.


"Balqis kira abang pergiii," Abid mempererat pelukannya.


"Aku disini, aku gak pergi. Tenang yaaa," ujar Abid sambil mengelus punggung Balqis.


'Lagi kan, lagi-lagi aku buat kamu nangis. Betapa brengseknya aku, kenapa kamu masih mau bertahan sihh?!' tanya Abid dalam hatinya.


Mereka berdua terus berpelukan sampai adzan subuh terdengar.


"Kita sholat duluu," Balqis mengangguk. Ia melepas pelukannya kemudian menarik tangan Abid menuju kamar.


Mereka pun sholat subuh berjamaah. Setelah sholat, seperti biasa Abid berdzikir dan berdoa begitupun dengan Balqis.


Sesudahnya, Abid berbalik melihat Balqis yang menunduk.


"Sayang?"


"Hm?" Balqis mendongak dengan senyum yang di paksakan. Ia menyalami tangan Abid kemudian berdiri melipat mukenah dan sajadahnya.


Abid juga melipat sajadahnya tapi tetap membiarkan peci dan sarung yang ia pakai.


"Abang.."


Abid menoleh, Balqis menghela nafas panjang.


"Kalau.. emang mau pis--" Abid langsung menyambar bibir Balqis. Balqis terdiam, ia tidak membalasnya.


Abid pun tidak melanjutkannya, ia masih menempelkan bibirnya tanpa bergerak sedikit pun.


Balqis membuka matanya menatap Abid, Abid malah menutup mata tapi di pipi nya ada buliran air.


Balqis mengelap buliran air itu, Abid pun membuka matanya dan melepas ciuman.


"Aku gak bakal lepasin kamu. Apapun yang terjadi aku gak bakal mau lepasin kamu, sampe kapan pun." Balqis tersenyum, ia memeluk Abid erat.


"Berjanjilah untuk tidak mengucapkan kata-kata itu lagi." Abid mengangguk di pelukan Balqis, "aku janji."


"Makasihhh yaa abang, makasih banyakkk karena masih mau bertahann."


"Aku yang harusnya bilang makasihh karena kamu masih mau samakuuu. Aku minta maafff untuk kemarenn. Aku minta maaafff, udah buat kamu nangiss. Aku minta maaaff."


"Balqis bisa ngerti kokk, itu untuk kebaikan Balqis. Tapi gimana pun jugaa, kondisi apapun jugaa, Balqis gak mauu kalau harus pisah."


Mereka berdua melepas pelukan. Balqis memandang Abid, "kita cari cara lain yaa buat balas dendam ke Shelia."


❃❃❃


08.32


Drrtt... Drttt..


πŸ“ž "Halo, bid, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, tuan Rangga Reviano."


πŸ“ž "Anying, lu kapan kuliah??"


"Mingdep, why?"


πŸ“ž "Gue kira hari ini, mau traktir makan ntar pas gue masuk."


"Yang lain emang pada di kampus lu?"


πŸ“ž "Iya, beberapa."


"Mingdep aja traktir gue, gue lagi sibuk!"


πŸ“ž "Sibuk apaaann?"


"Kelonan. Yaudah bye, assalamu'alaikum!"


Abid langsung mematikan telepon, Balqis yang bersandar di bahu Abid tertawa mendengarnya.


Abid mengelus rambutnya lembut, perlahan Balqis pun meletakkan kepalanya di paha Abid. Mereka berdua berada di ruang keluarga sekarang.


"Apa yang terjadi selama aku pergi? Ada yang jahatin kamu, gak?"


"Abang nanya gitu muluuu, kan Balqis bilang kagak adaa."


"Kali aja. Jangan pernah bohong apapun sama ku ya, tau kan aku gak suka di bohongin?" Balqis mengangguk.


"Gitu juga sama abang! Gak boleh boong atau nutup-nutupin apapun dari Balqis."


"Iya sayanggg." Abid mengecup punggung tangan Balqis.


"Btw, kamu udah pernah ke London selama aku gak ada?"


"Pernah waktu ituuu, sesudah ujian di ajakin sama kak Nita. Cuma beberapa hari, Balqis bosennn jadi minta pulang." Abid berohria.


"Nanti kita kesana bareng kalau kondisi nya membaik."


"Tapi jangan naik pesawat. Balqis trauma bandaraaa."


"Iyaa nanti gak pake pesawat, kitaa pake sepeda." Balqis tertawa.


"Abangg, film nya boseninnn, liat drakor yokkk. Ntar di sambung ke tv."


"Yaudah, terserah kamu. Drakor apa? Romance?"


"Nggakkk, Balqis mau tema mafia. Deal??!"


"Deal!" Balqis pun mencarinya di ponsel kemudian di sambungkan ke televisi.


Mereka berdua terus menonton sampai siang. Ketika ada adegan berdarah, dengan sigapnya Abid menutup mata Balqis.


Sampe tiba waktunya jam makan siang, Abid menyuruh Balqis berhenti.


"Mau makan siang apa?" Tanya Balqis sambil mengelus pipi Abid.


"Apa yang ada aja, terserah kamu." Balqis menuju dapur.


"Tahu tempe doanggg. Ini sisa kemarenn, Balqis lupa belanjaa. Karena keseringan di ajak makan sama ayah bunda jadi jarang masak."


"Yaudah itu aja sayangg, di semurrr." Balqis tersenyum mendengarnya, ia teramat sangat bersyukur karena memiliki Abid. Abid tidak pilih-pilih soal makanan.


Balqis sibuk di dapur, sedangkan Abid sendiri berfikir sesuatu setelah menonton drama Korea bertemakan mafia tadi. Ada salah satu cara yang memungkinkan bisa di pakai untuk balas dendam.


Abid terinspirasi.


Setelah lama berfikir, ia memilih menuju ke dapur untuk melihat istri nya yang memasak.


"Jangan kemanisannn, nanti aku diabetess. Udah makanannya manis, di tambah liatin kamuuu kan jadi makin maniss." Balqis tertawa.


"Gombal muluu kerjaaannyaa."


Selesai memasak semur tahu tempe, Balqis meletakkannya di mangkok kemudian ia letakkan di meja.


Balqis juga duduk di meja tepat di depan Abid, ia meletakkan nasi dan lauknya di piring untuk Abid. Abid menerimanya dan melahap makanan itu.


"Emm.. bestt banget sih ini, beruntung bangettt aku dapet kamu. Setia, jago masak, cantik, sexy lagi. Makin cintaaaa liatnya!"


"Modusss!!" Abid tertawa. Mereka berdua pun menikmati makan siang bersama.


"Pengen belajar bahasa Italia."


"Bahasa Indonesia aja remedial, gaya gayaaan pengen belajar bahasa Italia." Balqis tertawa, "bener pulaa."


"Emang yang ada di pikiran abang apa?"


"Salah satu metode pengancaman corn salad, bisa kita pake buat balas dendam." Balqis berfikir.


"Ah iyaaa, abang pinterr bangetttt! Terus kita mau pake cara yang mana?"


"Emm.. yang pertama kita ajak dia ke atas gedung tinggi terus tuu suruh dia duduk di kursi yang ada rodanya. Kita tendang teruss sampe akhirnya dia.."


"Jatoh?"


"Nggak sayang, sampe akhirnya dia ngemis minta ampunan atau mungkin kita suruh akui kejahatan dia. Itu scene yang di lakukan corn salad sama inspektur polisi ituuu."


"Oiyaa," Balqis cengengesan.


"Terus yang kedua, aku mau ancem pake pistol."


"Pistol? Abang punya??"


"Punya, tapi kita pake yang kw aja. Itu si scene corn salad minta jawaban sama orang yang bongkar kejahatan mafia nya."


"Emm.. kalau gituu bagi dua, abang balas dendam cara kedua. Balqis cara pertama. Eiyaa, kita jadi bunuh dia?"


Abid mendekatkan mukanya ke muka Balqis, "seriusan mau bunuh?" Bisik Abid, Balqis mengangguk santai.


"Gak lah, gak usah. Lagipula pria mana yang mau wanitanya ikutan jadi pembunuh."


"Ih tapi kalau abang bunuh Balqis jugaaa!"


"Aku gak bakal bunuh orang sayang, nggak. Nggak jadii."


"Seriously?" Abid mengangguk.


"Yaudah gak jadiii jugaaa." Balqis cengengesan.


Abid pergi menuju ruang keluarga untuk menghubungi anak buahnya.


"Halo, ini saya, Abid. Bekap Shelia, bawa ke gedung tinggi Eidi yang sekarang ganti nama jadi Alfa. Ikat dikursi dan bawa ke atap!"


πŸ“ž "Siap bos!"


β™›β”ˆβ›§β”ˆβ”ˆβ€’ΰΌΆβƒΰΌΆβ€’β”ˆβ”ˆβ›§β”ˆβ™›


19.35


Cukup lama bukan jarak waktunya? Abid dan Balqis ketiduran tadi dan terbangun ketika dapat telepon dari anak buahnya.


Anak buahnya itu juga baru saja menemukan Shelia.


Drrttt.. Drrtt..


"Siapa?" Tanya Balqis, ia baru masuk lagi ke kamar setelah minum vitamin.


"Jefri. Bentar ya, sayang." Abid mengangkat panggilan.


πŸ“ž "Assalamu'alaikum, bid. Lu seriusan mau bertindak cuma berdua??"


"Bodyguard ada kok."


πŸ“ž "Iya tapi... yaudah lah hati-hati, jangan sampe lu ataupun Balqis kenapa-kenapa! Inget kalau ada apa-apa kabarin kita!" Abid berdehem.


πŸ“ž "Karena gue ada urusan, gue matiin yaa."


"Hmmm, assalamu'alaikum."


πŸ“ž "Waalaikumsalam."


Abid mematikan teleponnya, ia menoleh ke arah Balqis.


"Wahh, emejing. Sejak kapan punya baju kek gitu?"


Balqis mengenakan baju serba hitam, ia juga memakai jaket kulit warna hitam untuk menutupi kaos hitamnya.


Abid juga memakai pakaian yang sama, tapi ia tidak tau kalau Balqis akan pakai baju seperti dia.


"Emmmm, lupa dari kapann." Balqis cengengesan. Abid mendekat kemudian memeluk Balqis sejenak.


"Inget yaa kata-kata corn salad tadi. Hilangkan perasaan mu, balas dendam bisa berhasil jika kamu tidak berperasaan." Balqis mengangguk sambil tersenyum.


"Ayoo balas dendam."


"Kuyy!" Mereka berdua keluar kamar kemudian menuju ke arah garasi. Abid mengenakan motornya kali ini.


Mereka berdua langsung menuju ke Alfa Group.


Setibanya di sana Abid menyembunyikan diri, sedangkan Balqis berada di kursi yang di sediakan anak buah Abid.


Ia masih menunggu Shelia bangun. Abid datang menghampiri, "ini kenapa kagak idup idup? Mati di bekap doang?" Tanya Abid.


"Nggak bos, tadi udah sadar tapi karena ribut mulutnya jadi kami bekap lagi." Abid dan Balqis berohria.


Beberapa menit setelahnya, Shelia tersadar. Abid langsung pergi dari sana.


"Hai!" Sapa Balqis, dari kejauhan Abid menepuk jidatnya. Kenapa malah nyapaaa? Pikir Abid.


"Lu mau apaa?!! Lu mau apa hahhh?! Gua laporin polisi ya lu!!"


Balqis tersenyum smirk, ia bangkit dari tempat duduknya kemudian menyuruh anak buah menyingkirkan kursi itu. Ia berjalan ke arah Shelia.


"Lu mau apa si anj*ngg?! Lepasss! Lepasin guaa sialannn!"


Bruk!!


Balqis menendang kursi nya, kursi itu beroda ia bergeser sedikit jauh dari tempat awal.


Balqis membungkuk di dekat Shelia, "cukup sabar gue sama sikap lu. Lu ganggu hidup gue, lu bunuh orang tua gue, dan lu ambil Abid dari gue satu tahun lebih lamanya."


Balqis berpindah mendekati pinggiran rooftop, "em.. menurut luu balasan apa yang cocok untuk itu semua?"


Balqis menatap Shelia, ia mengambil batu kemudian menjatuhkannya dari atas. Batu itu jatuh ke arah belakang Alfa group.


"Cukup jauh, gimana kalau lu yang jatuh??"


Shelia panik!


"G-gak usah macem-macem! Lepasin gue sekarang!!!"


"Ssstt, mungkin dua atau tiga tendangan lagi lu bisa jatuh ke bawah. Dan di bawah ada api yang siap bakar tubuh lu." Bisik Balqis sinis, Shelia terdiam.


"Jujur sama gue, kenapa lu bunuh orang tua gue?!"


"Fitnah!"


Bruk!!


Kursi itu Balqis tendang lagi.


"Tendangan terakhir bisa lebih keras nih, langsung jatuh. Bumm! Mati di tempat."


"Lepasin guaa! Lu fitnahh! Lu tu fitnah! Lepasin gua sekarang atau nanti gue yang bakal bunuh lu!!"


Bruk!!


Balqis menendang cukup pelan.


"Beberapa senti lagi lu bisa jatoh. Masih mau bohong?" Tanya Balqis sambil tersenyum smirk.


"I-iyaa! Gue yang bunuh orang tua lu! Gue gak suka sama lu!! Sekarang lepasin guee sebelum lu nyesel!! Lepasin guee!! Lepasin gue atau gue bunuh lu!!"


"Masih sempat-sempatnya ngancem? Beneran mau mati?" Abid keluar dari tempat persembunyiannya.


"A-Abid."


Abid tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Balqis. Balqis juga membalas dengan senyuman.


"Good girl," Puji Abid kemudian mengecup bibir Balqis.


"Rame inii!" Abid tertawa melihat pipi Balqis memerah.


"B-bukannya lu??"


Abid menoleh sekilas, "mau tukeran?" Tanya Balqis. Abid mengangguk, mereka bertosria.


Abid pun menyiapkan kakinya untuk menendang.


Bruk!!


Kini Shelia berada tepat di pinggiran rooftop. Shelia berteriak ketakutan.


"Berani-beraninya lu ngancem padahal bisa aja lu mati sekarang."


"Lihat ke bawah!" Shelia menurut.


Jelas ia melihat ada api yang berkobar di bawah. Sengaja, Abid yang menyuruh orang untuk itu.


Shelia yang shock pingsan di tempat.


"Yah pingsan, kenapa gak sekalian mati?"