
"Bid kita duluan" Abid mengangguk.
Kelima temannya pergi kesekolah lebih dulu. Abid masih menunggu Balqis yang memakai sepatu.
"Dah kak, ayok"
Abid menggandeng tangan Balqis. Balqis menarik tangan Abid menyuruh nya berhenti.
Abid berbalik, "Kenapa?"
"Dasi kakak mana?" Abid merogoh sakunya.
"Ini kenapa?"
"Ya dipake dong, kakak tu kebiasaan banget gak rapi. Sini Balqis pakein" Abid memberikan dasinya pada Balqis.
Balqis berdiri di hadapan Abid lalu memakaikan dasinya. Abid hanya memandangi Balqis.
"Selesai. Kan jadi rap-- cup"
"Makasih sayang"
"Kak ab-- cup"
"Kakkk Abiddd isshh" Abid cengengesan.
"Apa kita dikamar aja? Gak usah sekolah??"
"Ngaco bangettt!!"
▪▪▪▪
"Belajar yang bener, jangan main-main apalagi bolos"
"Yang sering bolos loh abang, kok jadi kami?" tanya Devi.
"Abang dah jarang bolos ya huu"
"Apaan, kemaren aja bolos" sahut Avi.
"Kapann?"
"Pas mo ke Malaysia"
"Itu kan dadakan, lagian abang izin gak bolos"
"Ya sama ajaa"
"Berantem terus kalian, ntar jauh rindu" protes Balqis.
"Bang Abid tuh kak, gak mau ngalah"
"Eh apaa pula, yang kecil harusnya ngalah"
"Yang besar lahhh" jawab Devi ngegas.
"Devii, Avii"
"Udah mau bell sana masuk" suruh Balqis.
"Salam" Balqis mengulurkan tangannya lalu bersalaman.
"Pergi dulu kak, assalamu'alaikum"
"Gak salam sama bang Abid? Salam dulu hehh"
"Nggak mauuu kak! Bang Abid serem, jelek lagi"
Mereka berdua langsung berlari masuk ke sekolahnya.
"Untung adek gue"
Balqis menggelengkan kepala melihat Abid.
"Kamu kok belain mereka?"
Balqis gemas melihat ekspresi ngambek Abid. "Bukan belainn, biar cepet. Gak liat jam? Ntar telat gimana?"
"Ya tapikan jadinya gue kalah ngelawan dua bocil itu"
"Emang apaan kalah menang?"
"Dah ayokk, liat jam tuh. Ntar telat kita kena hukum"
Abid memanyunkan bibir sambil menjalankan mobilnya.
"Kak Abid ngambek beneran?"
"Ish massaa iya ngambek"
"Kak"
"Apaan gitu aja ngambek"
"Kak Abid imut banget kalau ngambek"
"Jadi gue harus ngambek terus gitu?" tanya Abid sinis.
"Ish, ga gituu"
"Yaudah maapp"
"Maap doang ga cukup" jawab Abid ketus.
"Yaudah sini deket, Balqis bisikin sesuatu"
Abid mendekat sedikit Balqis juga mendekat ke Abid.
"Jangan ngambek--- cup"
Abid tak percaya dia akan mendapatkan ciuman tanpa diminta.
Balqis baru saja mengecup pipinya setelah berbisik tadi. Abid langsung menatap Balqis, Balqis juga menatap Abid sambil tersenyum.
"Nakal ya"
"Kesambet apa kamu cium duluan?"
Balqis cengengesan, "Aahh gatau Balqis jadi maluuu"
Abid tertawa gemas sambil mengacak rambut Balqis.
"Gemesin bangett lu kalau gini!!"
▪▪▪
"Bid lu dipanggil bu kepsek sama pak kesiswaan" ujar teman seangkatan Abid.
"Kapan?"
"Barusan"
"Oh ya, makasih" Siswa itu mengangguk lalu pergi.
"Dipanggil kenapa lo?" tanya Jefri.
"Alah kalau nggak hukuman ya di suruh lagi"
"Gue pergi dulu"
"Eh makan lu belum selesai begoo!" teriak Tio.
"Abisin kalau mau" Abid tertawa lalu pergi.
Abid berjalan santai menuju kantor kepala sekolah.
"Mau kemana lu?" Sisi mencegatnya di jalan.
"Kantor kepsek, dipanggil bu Jihan"
"Mau ngapain?"
"Ya gue gak tau kamprett. Maklum aja la, gue anak kesayangannya bu Jihan paling mo dikasih hadiah"
"Dih"
Abid tersenyum miring, "Lu rindu Tio ya? Tio di kantin tuh"
Abid tertawa lalu melanjutkan jalannya.
Tujuh meter terlewati, Abid tiba di ruangan bu Jihan. "Assalamu'alaikum bu, Abid ganteng datang"
"Narsistik sekali" Abid cengengesan lalu duduk di sofa bu Jihan.
"Kan belum saya suruh duduk bid"
"Ujungnya pasti ibu suruh duduk"
"Ada apa pak, buk?" tanya Abid.
"Hukuman menanti kamu"
"Hukuman apa buk? Saya gak bersalah"
"Gak bersalah apanya. Saya yakin kamu yang mengajak teman-teman kamu izin kemaren"
"Oh itu, sok ibu mau kasih saya hukuman apa"
"Ada dua pilihan, kamu lari lapangan lima puluh kali saat pagi dan saat pulang selama seminggu atau bersihin sekolahan selama tiga hari" kata pak Dayat.
"Lari pak" jawab Abid tegas.
"Jadi satu hari kamu lari seratus kali putaran?" Abid mengangguk.
"Hukuman kedua aja kenapa sih bid?"
"Hukumannya biasa aja itu buk, saya mau yang luar biasa"
"Oke kalau gitu dimulai nanti saat jam pulang. Kamera cctv memantau kamu"
"Sampe hari apa ni pak buk?"
"Sampe jumat aja"
"Wah bu Jihan emang debes"
"Yaudah sana keluar!"
"Iya buk iya, assalamu'alaikum pak buk"
"Waalaikumsalam"
Abid keluar dari ruangan bu Jihan.
"Saya yakin di balik baju Abid ada roti sobek yang estetik"
"Suami ibu ga punya?" tanya Pak Dayat.
"Punya pak, tapi gak estetik"
▪▪▪
"Lu kenapa tadi?" tanya Heon berbisik, mereka sudah kembali masuk kelas. Jam pelajaran akhir.
"Ada hukuman, udah gausah dipikirin"
"Hukuman karna izin kemaren" Abid mengangguk santai.
Tok tok tok
"Permisi bu, tiga puluh menit nya bisa dipinjam untuk sosialisasi?" tanya pak Dayat.
"Bisa pak, masuk aja"
Pak Dayat dan beberapa anak osis masuk ke kelas Abid.
Melihat akan ada sesuatu yang membosankan, Abid memilih mengangkat kakinya ke meja sambil memakai headset di telinganya.
"Abid!"
"Abiddd!"
Abid menoleh, "Kenapa pak?"
"Kamu ini temannya di depan dihargai dong!"
"Dihargai berapa pak?"
"Bukan dijual maksudnya peak" sahut Jefri. Abid berohria sambil cengengesan.
"Turunkan kaki kamu!!"
"Abid!!"
"Astaghfirullah, bawel banget kek emak-emak kompleks" keluh Abid sambil menurunkan kakinya.
"Kamu ini sudah kelas dua belas harusnya bersikap lebih baik biar dicontoh adik kelas kamu, bukan seperti ini!" protes Pak Dayat.
"Kalau saya kalem kalem aja pak, apa yang mau saya ceritakan ke anak-anak saya besok?" tanya Abid santai.
"Emang kamu mau cerita kalau kamu dulu bandel?" tanya bu wali kelas.
"Nggak gitu juga lah buk. Ya setidaknya saya punya cerita untuk anak-anak saya, masa iya saya cerita sama anak saya 'Nak, papa dulu kalem loh disekolah' atau 'Nak, papa dulu pendiem loh' masa gitu buk? Yang ada anak saya bosan. Gak ada gairahnya juga hidup saya kalau gitu"
"Masa muda tu cuma sekali pak, buk. Jadi sayang kalau disia-siain cuma berhadapan sama buku doang sesekali harus berhadapan sama pistol atau pisau yang berlumuran darah"
"Abid psycho?"
"Ngarang lu, ganteng-ganteng gini psycho"
"Banyak kok psychopath yang ganteng, bid."
Abid menatap datar guru wali kelas nya.
"Jauh sekali ya pemikiran kamu sampe ke anak-anak kamu" jawab Pak Dayat.
"Kita tu harus memikirkan masa depan pak, bukan masa lalu"
"Asekkk, Abid dua ribu tujuh satu" sahut Eldi.
"Kejauhan begoo" Black blood cs tertawa.
"Lagian ya pak, jam terus berputar gak diam di tempat. Ya kali saya selalu di kelas dua belas? Kan mustahil. Cepat atau lambat saya bakal dipanggil papa sama anak saya"
"Saya gak yakin ada yang suka sama kamu"
Abid tertawa ngakak. "Lucu ibu ini. Kucing aja nempel sama saya apalagi cewek buk"
Skakmat!
"Saya tandai kamu"
"Tandai lah bu, saya begaya dulu nih" Abid senyum pepsodent sambil mengangkat dua jarinya.
"Astaga Abid ganteng kali"
"Imut banget lagi"
"Abid emang ga ada tandingannya"
"Senyuman nya manis bangett"
Abid tersadar.
"Astaghfirullah saya lupa, senyum saya cuma buat istri saya"
"Istri?" beo Sisi.
"Hah?"
"Tadi lu bilang istri?"
"Calon istri maksudnya"
Black blood tertawa mendengar Abid ngeles.
"Bajingan, kenapa keceplosan sih?!"
✡✡✡✡✡✡✡✡✡✡✡✡✡
Sepi komen 😴 mau bonus gaa?? 🤣