
"Serasi banget mereka bedua"
Balqis mengerjapkan matanya ketika mendengar suara itu.
"Kak Nita?"
"Yahh telinga lu dek, sensitif bangett" Balqis langsung bangun dari tidurnya.
Kring kring kring...
Alarm ponselnya baru bunyi, Abid terbangun karena itu.
"Loh, kak Nita? Bang Rendy? Masuk darimanaa?"
"Ah.. itu tadi ada yang bukain. Sepantaran sama kalian sih"
"Siapa, bang?" tanya Abid.
"Nggak tau, dari apartemen sebelah" Abid berohria.
"Kalian udah cocok tau jadi orang tua" ceplos Nita.
"Jan ngadi-ngadi kak, Balqis masih kelas sebelas"
"Kecepetan juga gak bagus kak" sahut Abid.
"Iya sii emang... Eh btw, Auzy rewel nggak?"
"Rewel, kak Abid aja tidur jam tiga gara-gara Auzy"
"Gak biasanya dia rewel, berarti ada hantu dikamar inii"
"Nah kan Balqis bilang apa, pasti adaa" Balqis menatap Abid.
"Taat ibadah kok percaya gituan cobak?!" tanya Rendy.
"Nahh tuh bener kata bang Rendy. Gak adalahhh, kamu di sini juga rajin sholat. Setannya udah kabur duluan"
"Yaudah yaudah. Bersiap sana, kalian mau sekolah. Gue masakin makanan dulu buat sarapan"
"Nah gitu dong kak!! Kan berguna"
"Jangan laknat ya jadi adek!!"
✴✴✴
"Woiii jantan makanannya dah siap nii" teriak Nita.
Rendy dan Abid yang menggendong Auzy berjalan menuju dapur.
"Sini Auzy nya, kalian makan dulu" suruh Nita.
"Kak Nita gak makan?" tanya Abid. Nita menggeleng.
"Dia diet, bid. Demi pake gaun jadi gak mau makan. Padahal udah gue kasih tau dia gak gemuk, tapi tetep ngeyel. Maklumlah ya, problem wanita" Abid cengengesan.
"Gosip aja" protes Nita.
"Kenyataan si bukan gosip" sahut Balqis.
"Sotoy dihh"
"Kakak belum nikah aja sering diet, biar bang Rendy gak berpaling alasannya"
"Jangan buka kartu"
"Kakak duluan yang buka semalam"
"Mulai lagi, masih pagilaa!"
"Ssssttt"
"Jangan pedulikan, Bid, ayo makan"
Mereka berdua mulai makan. "Dory, lu gak mau ikut gue ke London?"
"Gak"
"Enak tau disana"
"Bodoamat"
"Payah emang, dibaik-baikin menginjak hati"
"Kak, Balqis lagi makan. Bukan lagi nginjak hati kakak"
"Suka atimu cis" Balqis tersenyum miring.
"Balqis menang"
"Gue... permisi dulu" Abid pergi.
"Eh? Kenapa?" tanya Nita.
"Balqis susul kak Abid dulu"
Balqis mengikuti Abid yang masuk kembali ke kamarnya. Abid masuk ke kamar mandi, memuntahkan makanannya tadi.
"Kak? Kakak kenapa?" tanya Balqis cemas.
"Gak apa-apa"
"Masakan gue gak enak??" Ntah sejak kapan Rendy, Auzy, dan Nita berada disana.
"B-bukan gitu kak. Perut gue gak enakk"
"Masuk angin?" tanya Rendy.
"Mungkin"
"Yaudah gak usah sekolah deh luu"
"Gue gak apa-apa kok"
⚛⚛⚛
07.00
Abid sudah tiba di sekolah sendirian, Balqis sudah diantar lebih dulu oleh Nita dan Rendy tadi.
Hari ini, Abid pergi ke sekolah menggunakan kaos putih polos. Abid punya setengah lusin kaos polos berwarna putih, ia juga punya beberapa kaos polos warna lainnya.
Dia memang pecinta kaos polos:)
Abid masuk ke kelas mencampakkan tas-nya lalu keluar lagi. "Lo mau kemana woi?!" tanya Eldi.
"Hukuman" jawab Abid.
"Bukannya udah selesai semalam?" tanya Tio.
"Sehari seratus putaran, jam pagi sama jam pulang sekolah, sampe jum'at" jawab Abid.
"Gue gak bawa double-an pula" keluh Rangga.
"Gue yang kena hukuman, udah santai aja kalian di kelas" jawab Abid.
Dia bersiap untuk berlari menuju lapangan. "Eh bid, tunggu" Abid menoleh.
"Lu kok pucet??"
"Hah enggak"
"Nggak usah, gue aja. Gue juga gak apa apa, cuma kedinginan"
"Kita gak sehari dua hari deket sama lu ya bajingan, nggak usah bohong!!" jawab Rangga kesal.
Abid cengengesan mendengar jawaban Rangga, "Gue beneran gak apa-apa. Lo pada tunggu aja disini"
Abid mulai berlari kelapangan. "Bid, Abid woi Supardin. Ahh bebal kalii"
Jefri masuk ke kelas sembari membuka bajunya. "Lu nyusul?" tanya Rangga.
"Jaga-jaga, kalau Abid pingsan gue dibelakangnya" jawab Jefri, dia pun ikut lari.
Satu persatu pun mengikuti Abid dan Jefri. Beberapa dari mereka tidak memakai baju, hanya Jefri dan Abid yang menggunakan baju. Jelas saja mereka berenam jadi pusat perhatian.
Mereka terus mengelilingi lapangan SMA Axen. Namun, belum setengah putaran Abid dan yang lain berlari dia berhenti di tengah jalan. Cepat-cepat ke lima temannya mendekat ke Abid. "Kalau nggak kuat gak usah dipaksa lah, lu tu sakit bid"
"Gue gak apa-apa. Rasah lebay wes" Abid lari lagi.
"Sumpah, dia keras kepala bangett!!"
"Kepalanya kebanyakan berlian tu makanya keras"
Mereka mengikuti Abid sambil berbaris.
Abid makin lemah di putaran ke empat puluh dua. Sangat-sangat terlihat wajah Abid yang lebih pucat dari sebelumnya.
Jefri, Rangga, Eldi, Tio dan Heon yang berlari mempercepat langkah menjegat Abid.
"Apa?" tanya Abid.
"Bener-bener kepala lu isinya batu semua" mereka maju lalu membawa Abid menuju UKS.
"Gue baik-baik aja. Gak usah lebay, hukuman gue belum selesai" Abid memberontak.
"Gak usah betingkah deh, bid. Gue telen idup idup lu kalau bawel"
Abid pun terpaksa diam dari pada di telen Rangga, meski Abid tau itu gak mungkin.
Tak terasa mereka tiba di uks, ntah kebetulan atau keberuntungan. Petugas uks hari ini Balqis dan ketiga temannya.
"Kak Abid?" tanya Indira.
"Gue mau sarapan" Ayu pergi ke kantin.
"Yu ikut yuuu" Indira mengejarnya.
"Gue ada tugas matematika belum selesai, gue duluan" Vane mengacuhkan Balqis.
"Kenapa pergi sih?" tanya Balqis.
Mereka mengedikkan bahu. "Kak Abid kenapa??" tanya Balqis lagi.
"Gue gak apa-apa. Mereka aja lebay"
"Ck, ini bukan lebay ya! Kita tu peduli sama lu"
"Abid tu sakit, lu masa gak tau?"
"Tauu sebenarnya!! Cuma kak Abid tu bebal banget. Dia bilang dia gapapa" jawab Balqis menatap Abid kesal.
"Gu--"
"Diem gak lu kang ojek!" Abid merapatkan mulutnya. Mereka meletakkan Abid di brangkar UKS.
"Abid kecapean keknya gegara kemaren di Malaysia" ujar Heon.
"Pulang dari Malaysia dia ada istirahat gak?" tanya Jefri. Balqis menggeleng, "Gak ada sama sekali. Kak Abid pergi nemenin Avi Devi pulangnya sore, abistu siap maghrib balik ke apartemen"
"Malemnya dia gak tidur sampe jam tiga, kek gitu pasti bangun jam lima" sahut Rangga.
"Bangun jam lima abistu sekolah. Kena hukuman lari keliling lapangan" Eldi ikut bicara.
"Pulang sekolah kehujanan" sambung Tio.
"Terus tadi malam telat tidur juga karena jagain Auzy"
"Auzy siapa?" tanya Rangga pada Balqis.
"Bayi umur satu tahun lebih, ponakan Balqis"
"Fiks, Abid sakit"
"Udah keliatan juga dia sakit, dari tadi kalem banget"
"Mukanya aja udah pucet, kucing aja tau dia sakit"
"Lebay kali bah, dibilang gue gak sakit"
"Gak sakit pala otak kau"
▪▪▪▪
"Kalian kenapa keluar semua tadii??" protes Balqis kesal pada ketiga temannya di kantin, jam istirahat pertama.
"Emang gitu harusnya, nanti kak Rangga marah" jawab Vane.
"Marah??"
"Dia gak suka keramaian di uks, pernah waktu itu dia ngamuk gara-gara keramean di uks" jelas Ayu.
"Hm.. gue inget banget sih itu" jawab Indira.
"Cerita dong" pinta Balqis.
"Singkat sih, jadi waktu itu kak Abid lagi latian untuk tanding atletik. Nah, dia tu keseleo gitu karena gak fokus terus terlalu memaksakan diri"
"Karena keseleo kak Abid di bawa ke uks, semua cewek ngikut pengen bantu kak Abid. Kak Rangga yang pusing ngedengerin mereka langsung protes"
"Lu pada boleh ngerumunin Abid, tapi tau posisi! Kalau sekarang kalian kayak gini, Abid engap anjg!"
"Nah itu yang dibilang kak Rangga" ujar Vane.
"Teruuss mereka pergi satu persatu karena kak Rangga yang marah itu. Dan.. ya sampe sekarang masih terasa di semua kelas"
"Cewek aja pada ciut gitu karena kak Rangga. Kak Rangga tu kea pawangnya kak Jefri sama Kak Abid. Eh semua deng, dia pawangnya"
"Kak Rangga tu ganteng bangett, tapi pemarah cuek bebek lagi" keluh Vane.
"Gue suka yang gitu, lebih menantang"
"Bacoddd" Semua menampol Ayu.
"Btw, kak Abid sakit apa?" tanya Indira.
"Meriang terus tu masuk angin"
"Kok lu disini? Kenapa gak diurusin??"
"Kak Abid gak mau di uks, dia minta pindah ke kelas" jawab Balqis.
"Pucet banget tau mukanya kak Abid. Rasanya mau suapin dia makan biar cepet sehat. Terus, tidur di sebelahnya nemenin istirahat" ujar Indira.
"Haluuu, di embat kak Silvia mampuss lu"
"Gue udah bayangin sih, bahagianya sehidup semati sama kak Abid. Aaaaa, bucinnya kak Abid gueee!!"
Balqis sedari tadi diam mendengar ocehan Ayu dan Indira.
"Aku cuma saranin sih ya.. jangan terlalu suka sama seseorang, takutnya kamu kecewa. Karena orang yang suka lebih kuat akan kehilangan lebih banyak"