A B I D

A B I D
– Jahill



"Yah pingsan, kenapa gak sekalian mati?"


Abid tertawa mendengar kalimat protes nya Balqis. Ia menoleh ke anak buahnya.


"Bawa ke gudang Alfa group."


"Siap, bos!" Bodyguard nya langsung membawa pergi Shelia.


"Sayangg, mau aku jatuhin gak?"


"Pengen suaminya mati apa gimana?" Tanya Abid sinis.


Balqis tertawa, "becanda doangg byy. Jangan ngambekkk," Ia memeluk Abid erat.


"Hebat loh kamu, udah macem mafia." Balqis tertawa lagi.


"Abis masukin dia ke penjara, kita ngapain lagi??" Tanya Balqis.


"Ngapain maksudnya? Kan balas dendam nya udah siap kalau dia udah masuk penjara."


"Nggakkk, maksud Balqis siap Shelia masuk penjara, keadaan membaik kan?"


"Iyaa, sayang. Kenapa? Soal London?" Balqis cengengesan.


"Besok-besok aja dehhh, masih trauma sama pesawat. Nggak pesawat nya sih, tapi bandaranya." Ujar Balqis.


"Hahaa, lagian ke London nya ngapain? Kalau mau bikin baby kan bisa di rumah." Balqis langsung memukul lengan Abid.


"Mesum banget ih, parahhhh." Ia pergi meninggalkan Abid yang sedang tertawa.


Abid mengejar Balqis, "bilang nya sih gituuu yaa. Tapi kalau di ajak pasti mauuu." Goda Abid.


"Jangan macem-macemmm, Balqis tembak nantiii!"


"Emang berani?"


"Berani lahh, tembaknya gini.. abang mau gak jadi pacar Balqis? Gituuu!"


"Semerdeka kamu aja lah, sayang."


❃❃


Sembari menunggu Shelia sadar, Abid dan Balqis meminum chocolate panas di gudang. Mereka terlihat sangat sangat santai.


Oh iya, rencananya sedikit berubah. Abid menambahkan bokap Shelia untuk di jadikan korban. Bertujuan untuk membiarkan anaknya agar tidak


"Maaf bos, mengganggu waktunya. Shelia dan bokapnya udah bangun."


Abid menoleh, "oke. Lima menit lagi saya masuk." Bodyguard Abid membungkuk lalu kembali masuk.


"Kamu diem aja, ya."


"Ya kali Balqis ribut kayak suporter bola." Abid menatapnya jengah.


"Emang hobi baru nya melawan." Abid masuk duluan ke gudang.


"Ululuuu, jangan ngambek sayang acuuuu."


"Duduk situu." Balqis menurut ia langsung duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Kini Abid berdiri tidak jauh dari tempat Shelia dan bokapnya. "Kamu siapaa?! Berani-beraninya culik saya dan anak saya!"


Abid membungkuk sembilan puluh derajat tepat di hadapan bokap Shelia, "berani-beraninya anda berteriak pada saya." Abid senyum smirk.


Bokap Shelia langsung panik seketika, "a-apa yang kamu mauu?!"


"Emm.. balas dendam?" Abid mengeluarkan pistol dari sakunya, ia pakai pistol asli.


"Anda jelas-jelas tau kalau anak anda membunuh orang lain, kenapa di biarkan begitu saja?" Tanya Abid sambil memasukkan pelurunya.


"Aa.. maksud kamu tentang Erwin? Kejadian satu tahun yang lalu?? Erwin pantas mati, dia selalu mempersulit karir saya."


Abid tersenyum smirk, "gimana kalau sekarang saya mempersulit kematian anda?" Abid menodongkan pistol itu tepat di kening bokap Shelia.


"Abid.. A-Abid... bunuh gue aja, jangan bokap gue!" Shelia langsung tertodong pistol. Balqis lah yang melakukannya.


"Gimana kalau dua-dua??" Tanya Balqis ikutan tersenyum smirk.


"Ucapkan kalimat terakhir lu, Shelia."


"J-jangan.. j-jangannn!"


Dor!


Pistol Abid yang berbunyi. Ia menembakkannya ke arah samsak.


Shelia dan bokapnya bernafas kembali.


"Aaaghh!!" Balqis mencampakkan pistolnya.


Plak!!


Balqis menampar Shelia.


Bugh!!


Ia juga menendang muka Shelia.


"Gara-gara lu orang tua gua mati! LU BUKAN MANUSIAAAA! LU BUKAN MANUSIAAAA!!!!"


Abid mengelus dada, "hilang kendali kan dia." Ia mendekat ke arah Balqis, "tenang tenangg."


"Gimana biss--" Abid memeluknya.


"Tenang yaa tenang, abis ini aku turutin kemauan kamu yang penting kamu tenang." Bisik Abid sambil memeluk Balqis.


"Ayo pulang."


"Pulang?" Balqis mengangguk.


"Balqis muak liat diaaa! Hiks.. hiks.. gara-gara dia Balqis kehilangan mama papa.. Balqis kehilangan Ulfa.. Balqis juga kehilangan abangg."


Abid menenangkannya, "aku udah disini sayang. Aku gak bakal kemana-mana."


"Aku belum nembusin peluru ke kepala merekaa, tenang duluuu yaa nanti pulangnya."


Balqis jinjit ingin berbisik, "ayo pulang sekaraaangg. Kita buat debay." Balqis loncat, ia di gendong seperti koala sekarang.


Abid tersenyum melihatnya, ia melempar pistol ke arah bodyguard. "Urus sisa nya, saya eneg liat mereka berdua."


Abid membawa pergi Balqis. Bodyguard mengejar mereka, "bos.. ini mau di bunuh??"


Abid berbalik kemudian melemparkan ponsel lama. "Lu kasih pelajaran dikitt, ntarr masukkan ke penjara. Buat dulu menderita, dua-duanya."


"Oke, bos."


"Gue percaya sama lu!"


Bodyguard itu membungkuk, "em bos.. dari tadi saya tegang, kalau..."


"Terserah lu, nganu rame-rame juga serah lu. Dah ya, gue pergi duluannn."


Abid langsung pergi sambil membawa Balqis di gendongan nya, ia terus berjalan menuju mobil nya. Balqis sendiri kalem di gendongan Abid.


Sudah di dekat mobil, Balqis turun. Dengan mandiri ia masuk ke mobil. Abid pun masuk dan duduk di kursi pengemudi.


Sambil menggenggam tangan Balqis, Abid mengemudi kan mobilnya.


"Mau di rumah atau di hotel?"


"Hm? Ngapain?" Tanya Balqis.


"Ngapain?" Beo Abid heran.


"Oh, yang tadi? Balqis pura-pura doang hehe."


Abid menatapnya sinis, "udah tegak malah di permainkan."


❃❃


22.01


"Masuk kamar ayoo, ngapain makan mii malem-malemm?!"


"Balqis laper, hehe."


"Ngemil aja, jangan makan mii!" Balqis pun menuruti kemauan Abid, ia mengambil cemilan kemudian mengikuti Abid ke kamar.


"Abang masih marahh?"


"Mana bisa aku marah sama bidadarii," Balqis tertawa mendengar nya.


"Terus, sekarang Shelia nya gimana yaa?"


"Di balik jeruji," jawab Abid sambil mengelus rambut Balqis.


Balqis yang makan cemilan berada di pundaknya. Mereka berdua sama-sama rebahan, bedanya Abid sedang bermain game di ponsel sedangkan Balqis nonton Abid sambil makan cemilan.


"Sumpah siii, tadii tu yaa kalau misalnya pistol abang gak meledak duluan kepalanya Shelia bakal bolong!"


"Pistol kamu gak ada pelurunya sayang, bolong darimana?"


"Masa gak adaaa?"


"Nggak."


"Iiii, gak bilang! Untung gak malu-maluin." Abid tertawa mendengarnya.


"Kalau ada nanti bahayaa, misalnya kamu beneran nembak diaa terus pelurunya ada dan dia mati kamu jadi pembunuh, kalaupun gak mati kita yang ribet biayai rumah sakitnya."


"Iyaaa sii. Abang benerrr."


"Btw, Eidi kenapa berubah nama??" Tanya Balqis sambil memainkan jari-jari tangan Abid.


"Eidi tu kan sebenarnya A sama D, Eidi penyebutan dalam bahasa Inggris. Taukan A samaa D maksudnya apa?"


"A nya itu nama ayah, nama abang, sama nama kak Abiyyu. Kalau D nama bunda sama nama kembar."


"Pinter! Nahh, karena sekarang aku yang megang jadinya ganti nama ke Alfa group."


"Kenapa Alfa?"


"Singkatan Alfabet. Itu karenaa aku dulu mimpi indaaaahhh banget. Salah satu mimpi yang masih aku inget sampe sekarang cuma itu."


"Mimpi apa?" Tanya Balqis sambil menatap mata Abid.


"Em.. mimpi masa depan pokoknya."


"Biar Balqis tebak, mimpi tentang... anak kita. Bener kann??"


"Lahhhh kok tauu??"


"Balqis jugaa mimpiin itu duluu, teruss pas malemnya abang muncul mimpinya ada lagiii."


"Wahh samaaa."


"Di mimpi abang gimana??" Tanya Balqis.


Abid berhenti main game kemudian mengelus rambut Balqis sambil berfikir, "mimpi nyaa bagian kita buat adek untuk anak kita."


"Ishh, mesum banget parahhh!" Abid tertawa.


"Kamu nya??"


"Balqis tu mimpi kannn, kita lagi ke London. Main barenggg sama Auzy. Kalau yang baru-baru inii, mimpi abang pulang dari kantor teruss diajak sama anak kita main masak-masakaan. Pokoknya gituu dehh."


Abid menganggukkan kepala, "kalau kamu mimpi tentang anak kita jugaa.. di mimpi kamu anak kita cewek atau cowok?"


"Di mimpi abang??"


"Jawab bareng-bareng yaa." Balqis mengangguk.


"Tuwaggaa!"


"Cewek." Mereka berdua kompak.


"Wahh.. terus namanya? Di mimpi kamu adakan?" Balqis mengangguk lagi.


"Sebutin bareng-bareng??" Abid gantian mengangguk.


"Tuwaggaa!"


"Chii!"


"Ehh sama lagii." Mereka berdua tertawa.


"Duh jadi gak sabar di panggil ayahh sama baby Chi."


"Iyaa, Balqis juga gak sabaar di panggil bunda. Ehhh, bagusnya apa ya? Bunda atau mama?"


"Eyang atau nggak mbah uti."


"Ishh!" Balqis memukul pelan lengan Abid, Abid tertawa.


"Waktu aku tinggal, kamu di SMA kea gimana?" Tanya Abid sambil mengelus pipi Balqis.


"Em.. gimana yaaa? Capekk tau, capekk banget Balqis sendirian. Balqis pernah mau nyusul abang tapi gak jadi karena kak Abiyyu."


"Nyusul maksud kamu?"


"Kan dulu abang di kira udah gak adaa, jadi Balqis mau nyusulll."


"Astaghfirullah saayangg. Maaf yaa, maafin akuu."


"Iss, apaan? Udah lewat juga kannn, sebelum abang minta maaf udah Balqis maafin."


"Aku berasaa.. berasa gak pantes dapetin kamu. Kamu baik banget sedangkan akuu? Kamu gak nyesel apa nikah sama cowok kek aku?"


"Nyesel kenapa? Abang cuma cowok berandal bukan cowok bajingann."


"Beda emang??"


"Menurut Balqis sih beda, berandal itu kea abang. Kalau bajingan itu kea hobby nya main cewek, gitu lah pokoknya. Kalau di tanya Balqis nyesel apa nggak ya jelas nggak lahhh, yakalii." Abid tersenyum mendengarnya.


"Love youu." Bisik Abid sambil memeluk Balqis.


"I love you very much!"


"I know and i love you too."


Abid melapas pelukan, "kamu masih laper gak??"


Balqis menggeleng, "emang kenapa?"


"Kalau masih laper biar aku suruh makan aku ajaa." Balqis tertawa.


"Dah, tidur ayok." Abid meletakkan kepala Balqis di bantal kemudian menarik selimutnya.


"Besok abang ke kantor??"


"Iya, kamu kuliah kann?"


"Mau bolosss."


"Bolos mau ngapain? Mau kemanaa?"


"Em... mau ngintilin abang!" Balqis memeluk Abid.


Abid tertawa mendengar jawabannya, "yakin mau ikut? Aku di kantor nanti kamu bosenn."


Balqis menggeleng, ia memasukkan tangannya ke dalam baju kaos Abid. "Nggak bakalll."


"Tangan muu!" Balqis cengengesan.


"Balqis tangannyaaa. Jahil bangettt, astaghfirullah!"


"Kamu tu berani mancing doang, gak berani tanggung jawab."


"Salah sendiri mesumann, wleee!"