A B I D

A B I D
– Family timee



Gagal total.


Baru ingin menikmati, terpaksa berhenti di seperempat jalan karena pintu kamar Abid di ketok kuat. Terdengar juga suara tangisan Chiara yang menggelegar di depan pintu.


"Abid!! Anak kamu rewel tiba-tibaaa. Gimana ini? Bundanya udah siap mandi belummm?" teriak bunda Abid dari luar.


Abid menghela nafas panjang. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Balqis, meletakkan kepalanya di dekat leher sangat istri. "Bukan sekali kamu buat begini, Chiaraa~~~" keluh Abid.


Balqis tertawa dan mengelus rambut Abid. "Chia menyelamatkan bunda dari ganasnya harimau. Udah sana ambil anaknya, aku gak mungkin keluar kondisi kek gini."


Abid bangun, mengambil bajunya lagi lalu membuka pintu. "Bunda tau kamu gak suka tidurnya diganggu, tapi ini Chiara tiba-tiba rewell, dikasih susu nggak mau diaa." Abid merentangkan tangannya, ingin menggendong Chiara.


Begitu digendong Abid, tangisan Chiara sedikit mereda. "Mau sama papa aja gitu ya, adek? Gak mau sama omaa?" tanya bunda Abid.


"Mungkin lagi ngantuk juga dia, bun. Biasanya kalau sama-sama ngantuk itu nanti jadi anteng." Bunda Abid kebingungan, "Gak ada hubungannya lah! Ini bundanya Chia mana?"


"Di dalem. Yaudah bunda istirahat aja dulu, tidur siang. Gak usah masak btw, nanti makan di luar." Bunda Abid mengangguk lalu pergi.


Abid membawa Chiara masuk ke kamar. "Kenapa adek tu kenapaa? Hm? Kenapa selalu rewel di saat yang tidak tepatt?" tanya Abid berjalan ke arah Balqis.


"Dibilang mau nyelamatin bunda dari keganasan harimau kok ngeyel. Sini sama bunda, nakk." Abid memberikan anaknya pada Balqis. Kini Chiara semakin anteng sambil meminum asi.


Abid sendiri tidur di sebelahnya. Mencoba diam, melupakan yang tadi, dan berusaha tetap tenang agar gak tegang lagi. Abid mau tidur aja sekarang.


"Abang tidur?" Abid berdehem.


"Gak mau lagi?"


"Percuma, diganggu si kecil. Kapan-kapan ajaa." Balqis tertawa pelan melihat Abid yang pasrah. Abid tiba-tiba bangun dan menatap Chiara yang sedang mimik susu. "Kamu sengaja kan, nak? Kamu gak mau berbagi sama papa ya?"


Chiara diam masih mimik susu. Entah hanya menurut Abid atau memang begitu, Chiara terlihat sedang meledeknya. "Untung papa sayang kamu ini yaa, Chii. Kalau nggak udah papa abshzjxbbxz kamu."


"Hahahaha, lucu banget papanya Chiaraa. Ada-ada aja lagi kamu mah. Anak kamu kan gak tau."


"Pasti tau dia tuu. Gak sekali dua kali tiga enam, sayang." Balqis tertawa. "Kenapasi abang? Random amat jadi enam."


"Sejyujyurnya aku kesal, sayang. Tapi yaudahla, demi anakku tercinta. Lagian ini siang. Makasih ya nak, udah mau menyadarkan papa. Ini papa mau tidur, jangan nangis kenceng ya sayang," kata Abid lembut lalu mengecup pipi anaknya.


"Kata-katanya lembut tapi kek agak gimanaa gitu ya, Pa?" Abid tersenyum, "Semoga kamu mengerti, nakku."


...◕◕◕...


Malam hari tiba. Sehabis sholat maghrib dan baca Qur'an berjama'ah, Abid beserta keluarga makan di restoran dengan Abid sebagai bandar. Saat ini mereka tinggal menunggu makanan tiba karena sudah pesan daritadi.


"Anak kamu buat mas aja gimana, Bid?"


"Ngaco banget mau ngambil cintaku yang sudah diperjuangkan mati-matian oleh bundanya. Eaaa. Lagian mas Abiy udah mo punya ngapain minta punya Abid?"


Abiyyu nyengir, "Masih lama. Mas udah gemes sendiri sama Chii." Abid menyipitkan mata, ia mendekat ke arah Balqis, "Anak kita dalam bahaya kayaknya, sayang. Banyak banget yang mau nyolong, kek Abiyyu gini ni contohnya."


"Gak gitu juga setan!!" Semua tertawa. "Mas Abiyyu udah mo punya dede sendiri, jangan ambil Chi. Itu punya Devina."


"Ck, bocil satu ini lagi, enak aja bilangnya. Buat sendiri buatt, mau terima bersih aja kamu," dumel Abid seperti emak-emak. "Gimana ceritanya Devi mau buat, masih kecill giniii!"


"Nyicil dulu."


"Hehh! Sesat banget abang. Gak boleh gitu ya, Devi. Abangmu itu emang kadang rada-rada, jadi gak usah didengerin." Abid menatap keduanya kesal lalu berubah dramatis. "Mengapa dunia tidak berpihak padakuu..."


"Alayy!" Abid pun diam dan memainkan ponselnya. Beberapa yang lain kembali ngobrol random, sedangkan Abid masih tetap dalam posisi.


Tak lama setelahnya, makanan datang dan bertepatan pula dengan bawelnya Chiara. Tiba-tiba rewel lagi. Sepertinya karena suruhan Abid tadi pagi.


"Sini sama aku aja, aku bawa keluar."


Balqis menolak, "Abang siapin makan aja dulu. Chiara biar sama Balqis, mau Balqis kasih susu."


"Susu formula? Biar aku bik—"


"Nggak, abang lanjut makan aja. Kunci mobil mana? Biar Balqis ke mobil," kata Balqis memotong ucapan Abid. Abid berdiri, memberikan kunci mobil lalu duduk kembali. "Nanti aku susul."


Balqis pun pergi bersama Chiara keluar restoran. Sedangkan Abid melanjutkan makan dengan sedikit tergesa-gesa. Mana bisa dirinya menikmati makanan di saat istrinya sedang sibuk nenangin si kecil.


Hanya beberapa menit Abid makan, sekarang sudah selesai. "Abid susul ke mobil dulu ya, ayah, bunda." Mereka berdua mengangguk, tanda mengizinkan. "Nanti Balqis suruh balik ya, Bid."


"Aman," Abid langsung pergi menyusul.


Abid mengetuk pintu agar tidak mengagetkan Balqis. Pintu mobil pun terbuka sedikit. Abid melihat anaknya sangat cepat menyedot asi. Abid masuk ke dalam mobil, "Masih rewel kalau di lepas?"


"Nggak tau. Abang kenapa cepet banget makannya??" tanya Balqis heran. "Ya ngapain lama-lama, kasian kamunya juga mau makan. Sini, Chi sama aku aja terus kamu pergi makan bareng yang lain."


"Abang gimana? Beneran udah makan, kan?"


"Iya udah, sayang. Aku gampang kok."


"Bentar, biar kenyang dulu." Abid membiarkan Balqis. Ia sibuk membuat susu formula, jaga-jaga kalau nantinya Chiara rewel lagi sewaktu Balqis makan.


Sembari menunggu, Abid memainkan ponselnya. Grup black blood terlihat sedang ramai, mereka ribut membahas surprise. Abid yang kadang tertawa membaca percakapan mereka membuat Balqis menatapnya heran, "Liat apaan?"


Abid mengalihkan pandangannya. "Grup, pada recok ngobrolin party."


"Party? Kapan tuu?"


"Belum tau juga, sayang. Masih gak jelas."


"Pasti nanti aku ditinggal."


"Belum tentu, sayangku. Udah skip, anaknya sama aku sini, kamu makan dulu sana." Abid meletakkan ponselnya lalu mengulurkan tangan menggendong Chiara.


Chiara diam di gendongan papanya. "Sama papa dulu ya, nak. Bunda mau mamm," kata Abid mendudukkan Chiara di pahanya. "Oh iya, sayang, ini bawa kartu aku buat bayar nanti. Jangan sampe ayah atau mas Abiyyu yang bayar yaaa."


"Siap boss." Balqis mencium pipi Chiara. "Bunda pergi dulu. Jangan rewel lagi ya, nakk."


"Okeii, bundaa," Balqis tersenyum lalu pergi. Belum sempat keluar mobil, Abid menahan tangannya. "Yang di cium cuma Chii?"


Balqis tertawa lalu mengecup bibir Abid sambil menutup mata Chiara. "Jangan bawel ya, papanya Chiii." Balqis pun pergi setelah anggukan Abid.


Tinggal anak dan papa di dalam. Sejujurnya mah ya, Abid tu bingung mau ngapain. Saat ini dirinya sedang bertatapan dengan sang anak. Abid sedikit salting. Ketika dirinya tersenyum, anaknya pun ikut tersenyum. "Uuuuuu, lucunya anak papaaaa," katanya gemas sembari menggendong Chiara.


Abid membawanya keluar mobil. "Kemana kita, nakk?


Papa bingung niii." Abid melihat sekeliling, tampak ada supermarket di seberang. Abid mengajak anaknya ke sana.


Abid masuk supermarket, ia meletakkan Chiara di dalam trolli lalu membawanya keliling. "Chi belum gedee, gak bisa pilih jajan. Nanti kalau dah gede aja ambil yang Chi mau yaaa." Chiara diam, duduk anteng di dalam trolli.


Abid menoleh, "Anak bukan adek."


"Hah? Oh, duda mas?"


"Nggak, punya istri. Istri saya lagi makan tadi, ini gantian jagain anak," jelas Abid agar tidak salah paham. Wanita itu mengangguk-angguk, ia tersenyum lalu pergi.


"Sus." Abid menggendong Chiara lagi kemudian melanjutkan kegiatannya. Sudah memilih sabun cuci muka, Abid berpindah.


Satu tangan menggendong anak, tangan satunya mendorong trolli. Memang macam duda anak satu.


Abid berhenti di rak roti. Abid mau beli untuk sarapan besok. Ia mengambil roti tawar, dan beberapa jenis roti yang di anggapnya menarik. Setelah itu kembali berhenti di rak jajanan.


Chiara yang mulai aktif mengulurkan tangan memegangi salah satu makanan ringan. "Kamu belum enam bulan, nak. Belum bisa maemm. Tapi yaudah, papa ambil aja, nanti bundamu yang makan."


Abid pun mengambil beberapa cemilan yang dipegang Chiara. Setiap ke supermarket, selalu makanan ringan yang memenuhi trolli, seperti sekarang ini. Tapi kali ini tidak hanya ada jajan, Abid juga membeli buah-buahan, sayur mentah dan beberapa frozen food.


Merasa sudah cukup banyak belanjaannya, Abid ke kasir. Di depan kasir abid juga mengambil beberapa cokelat kesukaan Balqis. "Gemesin banget adeknya mass," kata mbak kasir. Abid tersenyum tipis, "Anak saya memang gemesin, mbaa."


"Oh, anaknya toh? Maaf gak tau masss. Memang rada mirip sih mas sama anaknya, sama-sama cakep juga. Kalau butuh istri, saya bisa nihh..."


"Hahaha, gak perlu mbak, makasih. Nanti kalau mbaknya digebok bini saya, saya gak tanggung jawab ya, mbak. Bundanya anak saya ini gampang cemburu."


Mbak-mbak kasir malah tertawa. "Saya bercanda, mass. Totalnya...." Abid membayarnya dengan uang tunai yang ada di dompetnya.


Satu plastik besar Abid tenteng masih sambil menggendong Chiara. Anaknya itu terlihat diam, sambil memegang mainan yang Abid beli.


"Wadawww. Paan tuchhh," tanya Devina kepo. Mereka sudah selesai makan rupanya. "Gak usah kepoo," jawab Abid meletakkan jajannya di kursi belakang.


"Pelitt!"


"Ini udah siap makannya?"


"Iya udahh, Chiara rewel gak?" Abid menggelengkan kepala, "Sama papanya mana rewel."


"Songong!!"


Abid mengabaikannya lalu mendekati Balqis hendak berbisik. "Siapa bayar?"


"Kartu kamu."


"Oke, good." Abid kembali ke posisi semula. "Jadi mau lanjut kemana ini?"


"Pulanglah atau mau jalan-jalan lagi?"


"Abid ya terserah, ngikut."


"Yaudah ayok jalan-jalan aja. Chi sama bunda sini," Bunda Abid sudah bersedia ingin menggendong Chiara, tapi cucunya itu malah menolak dan menangis lagi.


Abid mencoba kembali nenangkannya agar tidak menangis, tapi malah tetap menangis. "Ahh, kumat nii kumatt," kata Davina spontan.


"Mode senggol mewek."


"Gak bisa jalan-jalan kayaknya ni, bunda. Chi rewel. Abid juga gak nginep malam ini gakpapa kan?" tanya Abid meminta izin. "Pulang sekarang?"


"Ya ambil barang dulu di rumah nanti, baru pulang."


"Yaudah, mau gimana lagi. Pulanglah kita ayok." Mereka pun kembali ke mobil masing-masing. Begitupun dengan Abid. Abid memberi Chiara pada Balqis lalu masuk ke kursi kemudi.


"Tadi agaknya baek-baek aja deh dia pas sama abang, gak rewel sama sekali," kata Balqis memangku Chiara. "Kan udah di bilang, sama papanya mana mau rewel. Tapi emang nampak ngantuk berat dia, kasih mimik aja coba biar bobo."


Balqis mengikuti perkataan Abid. Abid mulai mengendarai pelan-pelan. "Kamu beli apa aja?"


"Banyak itu di belakang. Ada buah, jajan sama yang lainnya itu. Kamu mau apa biar aku ambilkan?"


"Nggak usah, biarin aja ntar. Ini Chi beneran bobo, jadi pulang kita? Apa di tempat ayah ajaa?"


"Pulang aja, kalau Chi rewel tengah malem nantikan gak buat yang lain kebangun. Ini kita langsung aja apaya? Gak usah pulang ke rumah ayah lagi."


"Balik ke rumah ayah aja dulu."


"Kenapa gitu?"


"Baju dinasku di sana."


...◕◕◕...


Pukul setengah dua pagi, pasutri itu masih belum tertidur. Keduanya sedang asik berpelukan di balik selimut, tanpa mengenakan apapun. Abis dinas~


"Sayang," panggil Balqis tiba-tiba.


"Apa, sayang. Mau lagi?"


Balqis menggeleng, "Bukan itu. Aku laperrr, tenaga ku abiss." Abid tertawa, "Agresif banget sih tadi di atas."


"Demi kamu itutuuu."


"Iyaa sayang iyaaa. Terus mau makan apa kamu? Mau aku masakin?" tanya Abid sembari mengelus rambut Balqis. Balqis menggeleng lagi, "Aku males ngunyah, tidur aja kali ya?"


"Nanti sakit perut. Roti aja mau gak? Tadi aku beli roti di supermarket." Balqis diam berpikir. Karena dirasa lama, Abid mengutip boxernya kemudian pergi ke dapur mengambil roti dan minum untuk sang istri.


"Makasii, sayangg." Abid mengecup sekilas bibir Balqis lalu duduk sambil bersandar. "Kamu ada yang diincer gak? Maksudnya, ada yang dipengenin gitu?"


Balqis berpikir lagi. "Gak ada deh kayaknya."


"Serius? Gak mau apa-apa?"


"Kayaknya nggak. Emang kamu mau apa?" tanya Balqis menatap Abid. "Nggak ada juga, aku cuma nanya kamu tadi, barangkali lagi pengen sesuatu tapi gak mau bilang sama aku?"


"Untuk sekarang keknya belum adaa. Nanti kalau pengen sesuatu, aku bilang sama kamu." Abid mengangguk, "Harus bilang ya, gak boleh diem-diem aja."


"Shap boss. I love you," kata Balqis dengan senyuman. Abid membalas dengan senyuman, tanpa menjawab. "I love you, sayang!!"


"Iyaa, iyaaa."


"Dih? I love you too gitu kek, ini malah iya iya doangg," dumel Balqis kesal sambil kembali tidur membelakangi Abid. Abid tertawa, ia masuk ke selimut dan memeluk Balqis dari belakang.


"Tanpa aku jawab kamu juga tau kan jawabannya apa. I love you more, babyy," bisik Abid. Balqis tertawa kegelian. "I'm not a baby, broo!"


"You are my baby. Bayi gedeeeee."