
Negosiasi panjang menghasilkan keputusan yang lumayan memuaskan. Berlaku di Abid.
Setelah membujuk istrinya, Abid tidak jadi mengenakan daster. Melainkan mengenakan baju SMA lamanya. Baju itu masih muat di Abid, bahkan masih cocok jika Abid kenakan.
Di perjalanan, Abid hanya bersandar dengan santai. Teriknya matahari membuat Abid mengenakan kacamata hitam.
Terlihat cool.
Tapi sayang, mobilnya membuat Abid gagal cool.
Setibanya di supermarket, Abid tidak turun dari mobil. Ia langsung gas masuk setelah dibukakan pintu.
"Makasih, mass." Kata Abid lalu masuk ke supermarket.
Lokasi pertama yang Abid tuju adalah buah mangga. Abid keluar dari mobil dan memilih mangganya. Ia membeli dua macam, yang mentah dan yang matang.
Setelah itu, Abid kembali ke mobil lalu keliling mencari bumbu pelengkap. Dan diakhir, Abid mengambil beberapa jajanan favorit sang istri.
Cara bawanya? Ya pake troli.
Abid menariknya menggunakan tali.
Sekarang Abid menuju kasir.
"Mas nya kelas dua SMA?" Tanya mbak kasir. Abid tidak menjawab karena sedang mengunyah permen karet.
"Ini belanjaannya, mas."
"Makasih, mbak. Oiya, saya anak kuliahan yang otewe punya anak satu." Abid tersenyum tipis lalu pergi dari supermarket.
"Emang kagak rugi gue beli lu, bill. Bisa nyelip, bisa nerobos. Keknya harus beli lagi deh." Abid bermonolog sambil bersantai, belanjaannya ia pegang.
"Woiii!" Abid dipalak.
"Ape nyett?!"
"Lu MKKB bangett begoooo! Ngapainn naik beginian sambil keluar keluar?! Pake baju SMA pula."
"Rangg, mengertilah. Bini gue hamil."
"Lah terus? Oiya lupa anying." Rangga terkekeh.
"Gimanaa? Enak?"
"Enak lah, apapula gak enak."
Jawab Abid santai.
"Enak buatnya, ya?!"
"Itu juga enak, enak bangetttt. Cobain deh, rasanya aahh mantapp."
"Asuu. Sana pigi lu!" Abid terkekeh lalu pergi.
"Byeee, kang ghostingg."
Abid terkekeh mendengar Rangga mengumpat.
Dari kejauhan, Abid melihat Devi berduaan dengan seorang pria. Abid kesal, ia menghampiri Devi.
"Heh! Heh!"
"A-abang?"
"Ngapain disini berduaan?"
"Dagang cilok."
"Ngapain lu gangguin anjingg?!"
"Astaghfirullahalazim, Jepriii. Cewek tu dijaga bukan dirusak!"
"Otak lu mikir ke mana bege?"
Abid tersenyum tipis, "Dev, pulang. Dua-duaan inget yang ketiganya?"
"Setan."
"Pinter. Dah sana pulang!"
"Nebeng." Pinta Devi.
"Gak muat mobilnya. Jep anterin!"
"Ya inikan mau dianterinn." Jefri menggenggam tangan Devi lalu pergi meninggalkan Abid sendirian.
Abid tersenyum pasrah.
"Sialan."
Abid melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Sangat menyenangkan dan menyebalkan karena mobilnya lemot.
"Akhirnya sampe juga." Abid keluar dari mobil dan memasukkan mobil kecilnya ke garasi. Nanti mau dicuci.
"Assalamu'alaikum, sayangg."
"Wa'alaikumussalam." Abid tersenyum melihat senyum sumringah Balqis.
"Nihh."
Abid meletakkan pesanan Balqis di meja lalu pergi ke dapur untuk mengambil alat-alatnya seperti pisau. Abid yang mengupasnya.
"Abang kok lama?"
"Tadi kenaa palak Rangga dijalan." Balqis berohria.
"Kelamaan rupanya?"
"Heeumm. Balqis kira mogok." Abid tertawa.
Racikannya selesai.
"Nih makan." Balqis mengambilnya satu dan memakannya.
"Eumm.. enakkk!"
Abid ikut mencoba. Yaa, lumayan enak baginya.
"Trend masak-masak terdebes emang."
Abid tersenyum mendengarnya. "Jangan ikut trend joget-jogett."
"Kenapa?" Tanya Balqis sambil menatap Abid.
"Ya ngapain coba joget-jogett depan kamera? Joget sama aku aja mending."
Balqis menghentikan ucapannya lalu menatap Abid, "abang jangan mulai dehh." Abid cengengesan.
"Ini enaakkk. Ratee-nyaa sembilan per sepuluh."
Abid tersenyum mendengarnya, "abisin. Nanti kurang aku beli lagi."
"Permisi, mbak, mass."
Keduanya menoleh, Gea menghampiri.
"Kenapa, Mbak Gea?" Tanya Balqis.
"Emm.. saya bisa minta gaji? Ada yang harus saya beli keluarr."
Balqis menatap Abid. Abid pun berdiri dan mengambil dompetnya lalu memberikan beberapa lembar uang merah dan biru untuk Gea.
"Ini kebanyakan, mass."
Abid tidak merespon.
"Terima aja, mbakk. Abid gak suka ditolak."
"Kalau gitu, makasih mbak, mass." Gea membungkuk.
"Iya sama-sama, mbak."
Gea pergi dari hadapan keduanya.
"Mo beli apaan, Mbak Gea?"
"Ntah, terserah dia aja." Balqis pun membiarkannya kemudian bersandar di dada bidang Abid.
Keduanya berada di ruang keluarga sekarang.
Ditengah menikmati masa berduaan, bel rumah berbunyi. Abid membukakan pintu.
"Annyeong adek tampan."
"Najiss. Mau apa luu?!"
"Biarin dulu abangmu yang tampan bak prince kayangan ni masuk dulu."
"Abiyyu kerasukan apa sii? Mbak Putri juga, kenapa mau sama ni anak?!"
Putri tertawa mendengar omelan adek iparnya.
"Masuk, mbak, mass."
Mereka bertiga masuk.
"Ehh, Mbak Puttt." Putri tersenyum menatap Balqis.
"Cie yang kepala duaaa..."
"Hehee."
"Enak gak? Pasti enakkan, apa aja diturutin. Bahkan, hal yang gak masuk akal bisa terkabul." Balqis tertawa.
"Mbak Putri sama Kak Abiy mau minum apa?" Tawar Balqis.
"Biarin aja ngambil sendiri, yangg. Ngapain disiapin." Jawab Abid sarkas.
"Sensi banget si, Bid?!?"
Abid cengengesan, "ganggu si lu."
"Oalasuuu!"
"Kenapa kemari ni?? Mau ganggu momen Abid, yaa?!" Abid mengsinis.
"Jangan cari ribut deh, Bid. Jangan sampe mas smekdon kamu!" Seketika Abid cengengesan.
"Mas sama putri cuma mau ngajakin yang pernah kita diskusikann."
"Tentang?"
"Resepsii."
Abid berfikir sejenak.
"Terus, mas sama Mbak Putri kapan?"
"Kalau emang niatnya mau barengan ya ayokk."
Abid berfikir lagi lalu menatap Balqis.
"Yaudahh kuyy gass. Mau kapann?"
"Terserah luu."
"Tanggal akad aja gimana? Tanggal akad kita sama, kann? Cuma beda bulann." Usul Putri.
"Tapi agak mepet gak sii? Seminggu kurang ituu."
"Selagi ada duit bisa cepatt." Jawab Abid, mereka mengangguk setuju.
"Abis resepsi lusanya gue honeymoon. Lu bedua juga mau ikut?" Tanya Abiyyu.
"Ikut ayokk, Balqis. Babymoon."
Balqis menatap Abid.
"Kenapaa? Mauu?"
"Hehee, kali ajaa."
"Mas Abiy sama Mbak Putri kemana?"
"Nggak jauh sii, cuma dii Malaysia."
Abid berohria, "kamu mau dimana?" Tanya Abid sambil menatap Balqis gantian.
"Pengen kee.. Korea."
"Sudah kuduga... yeahh, sudah kuduga." Balqis cengengesan, sedangkan Abiyyu dan Putri tertawa melihatnya.
"Kenapa Korea?"
"Karena ada mantan saya, om."
"Karepmu, yang!"
Mereka terkekeh.
"Nggak usah cemburu, Bid. Lu tu udah clop banget dihatinya Balqis, lu nyata, lu hidupp, lu hebat juga karena udah bisa nanam."
Abid tertawa mendengar kata nanam.
Sedikit ambigu tapi.. ehm.
"Turutinn, Bid. Kali aja ntar anak kamu dan Balqis mirip sama Kim Taehyung."
Balqis tertawa kecil, "impossible, mbakk."
"Iyaa juga, impossible. Penanam bibitnya aja jelek gini," sahut Abiyyu.
Seketika Abid menatap sinis Abiyyu.
"Maksud Anda apa, yaa?"
Abiyyu dan yang lain tertawa.
"Bid, gue haus."
"Lu pikir gue peduli? Haha nggak. Ambil sendiri, jangan kek orang lemah."
"Adek laknat emang!"
◒◒◒
22.32, rumah Abid.
"Abangg..."
Balqis merengek ke ruang kerja Abid.
"Eh, sayangg. Kenapaa?" Tanya Abid sambil tersenyum.
Balqis tidak menjawab, ia malah mendekati Abid dan mencium bibirnya.
Abid terkejut, tapi ia juga membalasnya.
Hanya beberapa menit, Balqis melepas kembali.
"Kenapa kamu?" Tanya Abid keheranan.
"Gapapaa. Main yukk," ajak Balqis dengan senyuman merekah. Ia juga duduk di paha Abid.
"Main apa ini?"
"Emm.. main apaa kira-kira?"
Abid tertawa melihat keimutan istrinya.
"Mau main apa sii?"
"Main kuda lumping!" Balqis antusias.
"Ngawur ihh. Kuda-kudaan aja gimana?"
"No no no!!"
"Yok jujur, kamu mau apa sebenarnya?"
"Jadi gini kann, Balqis tu tadi di kamar—"
"Iya di kamar, kamu udah tidur tadi."
"Heeemm. Terus Balqis ke bangun pengen makann."
"Makan apaa?"
"Makan abang."
Seketika Balqis mengigit kecil leher Abid sekaligus membuat kssmark di sana. Abid mati-matian menahan nafsunya dari tadi.
"Hihii."
Balqis puas melihat karyanya. "Kerennn."
Abid pasrah.
"Anakku makan apaa ni besok kalau begini ceritanya? Gak mungkin kan dia makan bapaknya."
Balqis tertawa.
"Bercanda itutuuuu. Ayok temenin Balqis!"
"Kemana?"
"Ke dapurrr."
"Ngapain?"
"Konser. Ya masakk atuh ahh, gimana sihh?" Balqis mengsinis.
"Tumben minta temenin?"
"Ada suami ngapain sendiri?"
Abid berohria lalu tertawa.
"Oke, ayok ke dapurrr!!"
Dengan mudahnya Abid menggendong Balqis. Balqis yang berada di gendongan tersenyum kesenangan.
"Mau masak apa?"
"Nggak jadi masak siii. Balqis pengen nasi kecap ajaa."
"Kok aneh-anehh ajaaa mau kamu tu yaa?"
"Iyayaa? Tapi kan ini juga bukan mau Balqis, maunya anak kamuu."
"Anak kita, sayangg."
"Hihi, itu maksudnya. Toh juga gara-gara abang loh ini!!"
"Iya-iyaa tauu, gara-gara aku kok."
Balwis tertawa lagi melihat ekspresi suaminya.
Sampai di dapur, Abid menurunkan Balqis.
Balqis mengambil nasi lalu memakannya bersama dengan kecap.
"Gak mau pake telur?" Tanya Abid.
"Nggakkk."
"Yaudah makanlahh."
Abid menemani Balqis, sesekali juga menyuapinya.
"Abang abang, yang tadi beneran gakk??"
"Tadi kapan? Tentang apa?"
"Babymoon."
"Yaa terseraahh kamu."
"Besok aja gimana?"
Abid terkejut.
"Jangan besok, sayangg. Aku ada meeting besok."
"Lusa??"
"Ada meeting juga."
"Ish. Sayang anak istri atau sayang perusahaan?!"
"Sayang istri dan anak beserta perusahaan." Jawab Abid dengan senyuman.
"Plin-plan!!!!"
"Btw, abang tau gak sih? Tiba-tiba Balqis kepikiran, kenapaa kucing kaki nya empat?"
"Karena kalau kakinya dua itu manusia, sayang."
"Gak betull. Tapi betul juga sihh. Teruss, kenapa manusia kakinya dua?"
"Karena kalau kakinya empat itu kucing, sayang."
"Ishh. Di balik doangg!!"
"Ya abisnya kamu nanya yang nggak-nggak sihh. Mana pula aku tau kenapa bisa begitu. Kan Allah yang nyiptainn."
"Eum.. iyasii."
"Hmm. Kamu kenapa random bangett malem inii?"
"Nggak tau sii, tiba-tiba kepikiran aja. Sekarang kepikiran juga, kenapa cacing gak punya kaki?"
"Allahu Akbar. Lanjut makan aja, sayang."
"Jangan mikirin sesuatu yang gak mikirin kamu. Itu buang-buang waktu."
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Aing come back xixii.
Maapin telat up, kemaren-kemaren kehabisan ide ╥﹏╥