A B I D

A B I D
– What?!



01.17


Ceklek


"Eh kak Abid"


"Loh belum tidur?" Balqis menggeleng.


"Balqis nunggu kakak" Abid tersenyum pada Balqis.


"Gak ditunggu juga gak apa-apa"


"Balqis udah taro baju tidur tuh di situ. Kakak ganti dulu gih" suruh Balqis. Abid mengecup kening Balqis sekilas lalu mengganti bajunya ke kamar mandi.


Setelah selesai Abid menuju ke tempat tidur.


"Kakak mau tidur disini???" Abid mengangguk santai.


"Kenapa? Nggak mau seranjang ya?? Yaudah gue tidur di sofa"


Saat ingin menuju sofa, Balqis menahan tangannya. "Kakak tidur di sini aja gak apa-apa kok. Nanti badan kakak sakit kalau tidur di sofa"


"Bener nii?"


"Benerrrr" Abid tersenyum lalu naik ke tempat tidur.


Sebenarnya Balqis gugup saat di dekat Abid, sangat-sangat gugup. Tapi Balqis tak tega melihat Abid tidur di sofa, lagian gak ada salahnya tidur seranjang. Toh juga mereka udah sah.


"Udah mau pagi, kenapa belum tidur?" tanya Abid pada punggung Balqis.


Wkwk, Balqis membelakanginya. Abid hanya bisa melihat punggung Balqis. "Balqis gak bisa tidurr"


"Kenapa gak bisa?"


"Tadi minum kopi yang di kulkas"


"Balik dong, masa suami ngomong di punggungin. Gasopan tau"


'kak Abid mengertilahhh, Balqis deg-degan!'


Perlahan-lahan Balqis berbalik menghadap Abid. Guling berada di tengah mereka.


Balqis melihat Abid yang menatapnya. "Kakak jangan tatap Balqis kek gituuuu, Balqis tu.. Balqis... Balqis deg-degan!"


Abis tertawa.


"Mau di dongengin?"


"Balqis udah gede kak, masa iya di dongengin"


"Mau nya di apain? Sini deket"


"Kakak mau apaa??"


"Mau cium"


"Nggamau"


"Terus maunya apa?"


"Gamau apa apa. Balqis ngantuk tapi gak bisa tidurr"


"Mau ditidurin?" tanya Abid.


"Kok ambigu ya, kak??"


▪▪▪


Tepat pukul setengah enam pagi, Abid terbangun. Mereka berdua tidur dalam posisi berpelukan. Balqis bisa tidur ketika Abid menyanyikannya lagu.


Suara Abid cukup merdu, setidaknya tidak terlalu merusak gendang telinga. Abid tidur hanya empat jam, ya empat jam. Dari pukul setengah dua sampai setengah enam.


"Balqis bangun"


"Hey"


"Bangun"


"Jam berapa kak?"


"Setengah enam"


"Terus kenapa bangun cepet banget?"


"Kan mau pulang lagi ke apartemen. Lo juga belum subuhan" jawab Abid.


"Oiya astagfirullah hampir lupaa" Balqis langsung bangkit menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Abid hanya menunggu di tempatnya karena sudah wudhu dari tadi. Abid dan Balqis tidak ada bersentuhan, jadi wudhu nya Abid belum batal.


Gak lama kemudian, Balqis keluar dari kamar mandi. Mereka pun sholat subuh berjamaah.


"Gue mau mandi disini, ntar dirumah tinggal ganti baju sekolah" ujar Abid setelah sholat.


Balqis berohria, dia menuju lemari Abid mencari baju untuk Abid. "Ngapain??" bisik Abid ketika melihat Balqis kebingungan.


"Untung tangan Balqis bisa ditahan, kalau nggak udah ke tabok jidat kakak"


"Dosa sekali nabok suami" Balqis cengengesan, Abid kembali ke kasurnya.


"Kakak mau pake baju yang mana?"


"Kaos putih sama celana pendek warna hitam"


"Oh ini" Balqis mengambilnya lalu memberikan pada Abid.


"Buruan mandi, Balqis tunggu di bawah. Bantu bunda bikin sarapan" Abid hanya mengangguk.


Balqis pun pergi ke lantai dasar.


▪▪


Abid berjalan menuruni tangga, dia langsung keluar memanggil supir pribadi Devina dan Avi.


"Pak, nanti bapak bawakan mobil saya ke apartemen ya. Saya mau pake motor sport"


"Apartemen yang mana, den?"


"Yang kedua"


"Oh iya, den"


"Jangan lupa pak" Supir pribadi si kembar hanya mengangguk.


Setelah mengecek motor sport nya, Abid kembali masuk kerumah menuju ruang makan mengajak Balqis pulang.


"Kalian sarapan dulu! Jangan langsung balik" suruh Abay.


"Ntar telat, yah" jawab Abid.


"Alah biasanya aja bolos bang bang" ledek Avi.


"Adek laknat" Avi cengengesan.


"Sarapan aja dulu bentar. Masih jam enam lewat sepuluh menit"


"Sampe apartemen setengah tujuh, yah"


"Dari apartemen kamu ke sekolah cuma sepuluh menit, Abid!" sahut bundanya.


Abid menatap Balqis sekilas lalu duduk di kursinya. Mereka pun sarapan bersama.


"Kalian serasi banget ternyata" Abid tersedak mendengar ucapan ayahnya. Balqis langsung menyodorkan minuman pada Abid.


"Jadi gasabar gendong cucu" Balqis gantian tersedak. Abid gantian menyodorkan minuman pada Balqis.


"Kak Balqis sama Bang Abid kenapa tersedak sih??"


▪▪▪▪▪


"Firasat gue gak enak banget, kenapa ya?" tanya Abid pada temannya.


"Mana saya tau saya kan Eldi"


"Nembak pala si Eldi enak ni" sahut Rangga. Tio dan Jefri tertawa.


"Gak enak kenapa dahh? Semua baik-baik ajakan?" tanya Jefri.


"Ya baik-baik aja. Tapi kek ada sesuatu yang ngusik otak gue gitu"


"Firasat lu aja kali?"


"Ya semoga aja"


"Btw, lu pada kalau disuruh milih antara acara anak osis sama anak organisasi pilih mana?" tanya Eldi.


"Gue milih..."


"Diam dirumah" jawab mereka serentak lalu tertawa.


Drrrt... Drrt...


Abid mengambil ponselnya.


"Saha?"


"Heon"


Abid mengangkat panggilan dari Heon, di loudspeaker nya lalu di letakkan di meja.


📞 "Assalamu'alaikum ketua! Pakabar?"


"Waalaikumsalam, baik ha. Lu apa kabar? Nyokap lu?"


📞 "Alhamdulillah semua baik baik aja. Gue denger Johan sama Tama udah di balik jeruji?"


"Iya. Keren kan gua" sahut Eldi.


📞 "Pedean"


Black blood tertawa.


"Lo kapan balik?" tanya Jefri.


📞 "Seminggu atau sebulan lagi, mungkin"


"Kelamaan bolos gak naik kelas lu mampusss" ledek Tio.


📞 "Ah gampang, tinggal suap aja gurunya"


"Hahaha"


Mereka terus berbincang, panggilan terhenti karena bel masuk kelas berbunyi. Black blood kembali ke kelas.


"Gue gak pernah liat Johan sama Shelia lagi, kemana ya?" tanya Eldi.


"Di semak-semak, buat projek" jawab Tio asal.


"Lo ngintip?"


"Kurang kerjaan banget sekali sayaa"


"Puft.. Hahaha"


Mereka pun masuk bertepatan dengan sang wali kelas.


Ditengah pelajaran berlangsung, ponsel Abid bergetar. Abid merogoh nya lalu mengangkat telepon itu.


Dari Heon lagi.


📞 "Halo, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, siapa dan ada apa ya mbak?" Bicaranya tidak terlalu keras karena takut mengganggu yang lain.


📞 "Ah begini, di sini panggilan terakhirnya Heon anda. Jadi saya yakin anda penting untuk dikabari"


"Muqaddimah nya kepanjangan, bisa langsung intinya?"


📞 "Heon dan ibunya di tembak pake pistol"


"APAA?!"


Semua memandang Abid. "Siapa yang mengijinkan kamu mainin ponsel di jam pelajaran saya?!" tanya wali kelas nya.


Abid tidak menjawab, dia sedang mendengar bagaimana kondisi Heon dan nyokapnya. "Abid!"


"DIAM!!" bentak Abid.


Wali kelasnya terdiam. Suasana hening, cukup menegangkan.


"Lakukan yang terbaik untuk mereka berdua! Saya yang akan bayar tagihannya"


Abid langsung mematikan ponselnya.


"Saya izin. Satu minggu"


Abid keluar kelas sambil berlari, meninggalkan barangnya. Jefri, Rangga, Eldi, dan Tio menatap heran Abid lalu mengejarnya.


"Bid, bid.. Apa? Ada apaa?"


"Heon.. Heon di tembak"


"Hah??"


"Anak buah Johan masih disana. Kita lupa itu!"


"Jadi lo mau kesana? Sendirian?" Abid mengangguk.


"Kita ikut!"


Abid menghela nafas.


"Oke, bagi tugas. Rangga, Eldi izin sama guru, izinkan gue juga. Minta seminggu"


"Gue gak yakin dikasih, Bid!"


"Bilang, kalau ada hukumannya. Kasih ke gue aja"


"Jefri, Tio kalian samperin Balqis suruh dia nginep di rumah bokap gue. Gue mau pulang minta izin bokap pinjem helikopter"


Abid langsung pergi ke rumah ayahnya.


Sesuai permintaan Abid, Jefri dan Tio menghampiri kelas Balqis setelah mengambil tas dan barang barang Abid di kelas.


"Si killer pula. Jep, lo aja yang izin"


"Ck, kampret"


Tok tok tok..


"Permisi bu, boleh saya pinjem Balqis sebentar" pamit Jefri. Guru yang dikelas Balqis hanya mengangguk.


"Permisi sebentar, bu" Balqis keluar kelas.


"Kenapa kak?"


Balqis ditarik menuju tempat sepi.


Setelah di tempat yang cukup sepi, Jefri memberikan tas dan barang Abid. "Amanah dari Abid, lo nginep dirumah bokapnya Abid. Jangan kemana-mana karna musuh masih berkeliaran. Kalau ada apa-apa hubungin kita!"


"Kenapa kak? Ada apa? Kak Abid mana? Kakak kakak mau kemana?"


"Ampun, bawel banget" gumam Tio.


"Gue, Abid, Tio, sama yang lain mau ke Malaysia. Heon di tembak"


"Se- serius kak??"


Jefri mengangguk. "Inget pesan Abid tadi!"