
▫⏳▫
"Yaudah yaudah, lo pada masuk kelas sono. Udah bellkan?"
📞 "Yoda ya, jangan kelamaan bolos lu. Cepet balik"
"Iya galama lagi. Gue paham lu pada rindu kan?"
📞 "Pedean banget gilaaa"
Heon terkekeh.
"Dahlah. Be carefull kalian. Assalamu'alaikum"
📞 "Iye, lu juga ya. Waalaikumsalam"
Abid mematikan teleponnya. Heon langsung mengantongi ponselnya.
"Mama mau kemana lagi?" tanya Heon pada mamanya. Heon dan sang mama sedang berjalan-jalan menikmati waktu berduaan.
"Yon, mama mau apam balik. Kamu beliin dong" pinta mamanya.
"Yang mana tuh?" tanya Heon.
"Ayo mama tunjukkin" Mereka berdua menuju tukang jualan Apam balik, jajanan khas Malaysia.
Begitu tiba di tempat jualannya, Heon membelikan beberapa untuk mamanya.
"Loh.. disini juga ya, Imah?"
"Eh, Sitijah. Ahaha, iya ni. Pengen beduaan sama anak lajang"
"Kalian berdua mah lebih mirip kayak orang pacaran dari pada anak sama ibu"
Heon dan mamanya terkekeh. "Tante Siti sama siapa?" tanya Heon ramah.
"Sama anak tante dong"
"Anak... tante?" tanya Heon bingung. Tante Sitijah hanya mengangguk lalu celingak-celinguk.
"Oh itu... Sesill" tante Siti melambaikan tangannya memanggil gadis cantik berkulit putih.
Wanita ini menghampiri Heon, mamanya dan tante Siti. "Sesill, ini temen mama"
"Sesill udah tau ma" jawabnya.
"Iya. Tapikan kamu belum tau siapa yang disebelahnya" Sesill melihat ke Heon.
"Dia Heon, anaknya tante Imah" Sesill tersenyum melihat Heon.
Heon mengulurkan tangan ingin bersalaman. "Heon"
"Sesill" jawab Sesill sambil membalas uluran tangan Heon.
"Duh.. baru jumpa udah keliatan akrab. Jadi besan cocok nih kita, Imah" ujar Siti.
Heon cengengesan, "Pendekatan aja dulu yon, mama dukung" bisik mamanya.
"Apaan? Mama ngaco" ketiga wanita itu cengengesan.
"Pipinya merah lho, Heon"
Heon langsung memegang pipinya. "Cie yang tersipuu, Sesill juga tuh"
"Ah mama udah dong" Mama Heon dan tante Siti tertawa.
"Oh ya, mama sini dulu sama tante Siti ya. Heon kebelet"
"Kebelet apa yon? Kebelet nikah?" tanya Siti.
"Iya tante, kebelet nikah sama Sesill" Sesill langsung malu-malu.
"Uuu~~ anak mama udah gede" Heon tertawa.
"Yaudah sana, jangan lama-lama"
Heon mengangguk sambil senyum. "Mama tenang aja, tunggu disini"
"Heon permisi dulu tante" Tante Siti hanya mengangguk.
Heon pun pergi mencari toilet disekitar. "Ganteng juga si Sesill. Eh begoo, cantik maksudnyaa" ujar Heon di kamar mandi sambil membayangkan Sesill.
Lima belas menit kemudian, Heon kembali menghampiri mamanya, tante Siti dan juga Sesill.
Saat tiba di tempat, Heon terkejut. Mama, tante Siti dan Sesill tidak ada di tempat sebelumnya. "Maa"
"Mamaa"
"Tante Siti!!"
"Sesill!!"
"Maaa, mama kemana sih??"
Heon mengedarkan pandangannya, matanya menangkap high heels sang mama beserta kaki mamanya yang diseret seseorang.
Heon berlari mengejar orang itu.
Heon sedikit heran karena orang itu udah hilang dan tak keliatan sama sekali.
Bagaimana bisa seseorang pergi secepat itu sambil menggeret orang lain? Pikir Heon kebingungan.
Dia masih mencari sambil melihat kiri kanan. "Ma"
"Mamaa!!"
"Heonn"
Itu teriakan mamanya, Heon menuju asal suara.
"Mamaa" Heon menemukan mamanya di tempat sepi depan, Heon langsung memeluk mamanya.
"Mama kenapa? Mama baik-baik aja kan? Siapa yang bawa mama kesini?" mamanya terdiam, masih syok.
Heon melihat ke sebelahnya, Sitijah dan Sesill anaknya terikat sambil tertidur. "Tante Siti!! Sesill!!"
Teriakan Heon yang cukup keras langsung membangunkan Siti juga Sesill. Heon melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangan mereka. "Tante sama Sesill, cari bantuan ya" pinta Heon. Mereka mengangguk lalu pergi.
"Ma, jawab Heon. Mama kenapa disini dan siapa yang bawa mama kesini??"
Belum sempat mamanya menjawab, seorang pria berbadan besar memotongnya. "Akhirnya lo muncul juga"
Heon merasa pernah mendengar suara ini, tapi ia lupa dimana. Heon berusaha mengingat dimana ia mendengar suara ini.
"Oh iya! A... nak buah Johan" gumamnya pelan.
"Lo mau apa?! Lo berurusan sama gue, bukan sama nyokap gue!"
"Iya memang bukan sama nyokap lo. Tapi, kalau lo mati nyokap lo pasti bakal putus asa dan yaaa... mungkin bakal bunuh diri. Lebih bagus nya kalau lu berdua sama-sama mati"
Anak buah Johan menodongkan pistol.
Melihat itu, Heon mengangkat kedua tangannya. "Ma, go. Go away" bisik Heon.
"Ma-mama lebih bagus mati dulu daripada lihat kamu mati, Heon" jawab Mamanya.
Heon menoleh kebelakang. "Heon gak bakal mati ma, mama pergi ya. Heon mohon, Heon gak mau mama kenapa-kenapa"
Rengek Heon sambil menatap mamanya. "Janji sama mama untuk gak mati?"
Heon mengangguk. Mamanya tersenyum, "Ayo"
Mama Heon bangkit disusul Heon. Heon berdiri di depan mamanya, ia melindungi sang mama agar tidak terkena tembakan.
Namun siapa sangka, di belakang mamanya ada anak buah Johan yang juga menodongkan pistol.
Dor!
Satu tembakan mengenai lengan Imah. Heon berbalik melihat mamanya tertembak langsung menahan tubuhnya yang hampir terjatuh.
Dor!!
Dor!!!
Dua peluru mengenai kaki dan di perut sebelah kirinya Heon. Heon terjatuh masih bersama mamanya.
"Ba- bajingannn!!!!"
Anak buah Johan tertawa. "Mengenaskan"
"Kita liat, keajaiban sedang berpihak sama lo atau tidak"
Masih tertawa puas mereka pergi meninggalkan tempat.
"He-heon.. siapa mereka tadi? A-apa mereka.. orang yang buat kamu j-jadi pembunuh?"
Heon tidak menjawab, sambil menahan rasa sakitnya dia memegangi tangan mamanya agar tidak keluar banyak darah. Tanpa di sadari cairan bening keluar dari matanya.
"I-imahhhh" Sitijah datang membawa mobilnya. Dia mendekat ke Imah.
"Tante.. bawa mama... bawa mama kerumah sakit"
"Kamuu??"
"Heon.. Heon mau ngejar mereka"
Heon berdiri setelah kepala mamanya berada dipangkuan Sitijah.
Ketika Heon hendak pergi, tangannya ditahan Sesill. "Jangan.. jangan kesana"
"Urusin mama saya, jangan pedulikan saya"
Masih menahan sakit, Heon kembali berjalan terpincang-pincang mengejar anak buah Johan.
Namun..
Baru dua langkah ia berjalan, Heon terjatuh tak sadar kan diri.
▫⌛▫
"Pas tante balik, mereka berdua udah terkapar bersimbah darah"
"Tante Imah gimana kabarnya tan?" tanya Tio.
"Masih belum sadar, sama kayak Heon. Lebih lanjut nya kamu bisa ke kamarnya Imah" jawab Siti.
"Bay the way tan... Sisillnya mana ya?" tanya Eldi.
"Mau lo apain?" tanya Jefri.
"Ngga ada sih, mau kenalan aja. Siapa tau dia demen ama gue" jawab Eldi.
"Heh, ngarep banget si lu. Emang nya Sisill itu mau sama lu?? Tante Siti aja gue yakin gak mau punya mantu kea lu" Rangga lagi.
"Savage Rangga! Rangga pms! Fikks!!" sahut Jefri.
Tio dan Jefri tertawa. "Setidaknya diri ku pernah berjuang, Rang"
"Berjuang apanyaa, ngalu ni anak" Mereka tertawa kecuali Abid.
Jefri yang melihat Abid terdiam memanggilnya, "Bid" Abid hanya berdehem.
"Bid, lo mikirin apa?" tanya Jefri lagi.
"Penembak"
"Tante, orang yang geret tante pake baju apa? Terus tampilannya gimana?"
"Pake baju hitam semua, semuanya hitam. Gada warna lain selain hitam"
"Kenapa, bid?" tanya Eldi.
"Hitam.. diantara musuh kita yang selalu pake hitam cuma tim Johan. Berarti, bukan anak buah Jordan yang nembak"
"Jadi maksud lo, Johan dalangnya?"
"Logikain, kenapa Johan gak masuk beberapa hari ini?" tanya Abid.
"Logikain, ada masalah apa sampe Johan mau bunuh Heon sama nyokapnya?" Rangga meniru intonasi Abid.
"Ini tu dalangnya Johan eh Jordan"
"Johan atau Jordan?"
"Tim-nya TAMA valid, no debat!"
Tanpa sepatah kata Abid pergi. "Bid, Abid lo mau kemana jayyyy, woi ujayy!!!"
Abid tak menggubris teriakan Eldi.
"Kenapa dia selalu bertindak sendiri si?"
〰〰〰〰〰〰〰
Kalo lebih rame, *next up a*uthor janji double up !! 😆
(⏳ \= Mulai flashback ; ⌛ \= Flashback berakhir)