A B I D

A B I D
– Back



"Pulang, Bid?"


"Iya bunda, kelamaan disini nanti makin nyusahin"


"Nyusahin apaan, nggak lah. Bunda seneng malah ada Balqis di rumah"


"Kapan kapan nginep lagi deh, bun"


"Iyadeh"


"Ngomong-ngomong, Heon jadi barengan se-apartemen sama kalian?"


"Abid beli yang di sebelah, bun"


"Apartemen kamu dua loh, bid. Kenapa harus beli lagi?"


"Apartemen dua jauh dari jangkauan siapapun, nanti kalau Heon kenapa-kenapa gimana?"


"Ahh.. kamu baik banget emang. Musuh kamu kasih kerjaan, temen yang pernah khianati kamu juga kamu bantu. Jangan baik-baik deh saran bunda"


Abid cengengesan. "Abid bibit unggul kan, bunda. Abid pinter, baik, pekerja keras, ganteng lagi. Bangga bunda punya Abid, yakan?"


"Iyain aja deh" Abid menatap bunda nya kesal.


"Yaudah sana, Balqis udah turun tuh"


Abid melihat ke tangga ada Balqis yang sedang menuruni tangga. "Udah?" Balqis mengangguk.


"Kalau gitu, Abid sama Balqis pulang dulu bunda" Abid menyalami tangan bunda nya, disusus Balqis.


"Hati-hati jangan ngebut" Abid mengangguk dengan senyuman.


Abid menggandeng tangan Balqis lalu keluar menuju mobilnya.


Abid dan rombongan sudah kembali ke negara asal pagi tadi. Mereka pulang lebih awal dari yang di rencanakan.


Malam ini mereka berdua kembali ke apartemen menyusul Heon yang masih belum stabil keadaanya. "Mau makan dulu??" tanya Abid di mobil.


"Kan udah makan dua puluh menit yang lalu kakk"


"Ya... kali aja mau makan lagi?"


"Nggak, ntar Balqis gendut" jawab Balqis.


"Ya nggak apa-apa, jadi imut"


"Imut apanyaa, kakak ngeledek secara halus ya?"


"Su'udzon aja, orang muji dikata ngeledek" Balqis cengengesan.


"Kak Abid kek ngeledek sih"


"Kak"


"Hm?"


"Balqis mo tanya"


"Hm"


"Gak usah niru Nissa Sabyan deh kak, cari inovasi kek jangan hemm" cerocos Balqis.


Abid tertawa. "Jadi mo tanya apa?"


"Itu.. kan kemaren kakak ada chat Balqis tu, yang bilang bingung karna gada jejak darah kak Heon. Nah, itu gimana?"


"Salah tempat kemaren. Nama tempatnya gue salah denger"


"Hisss, Balqis kira hal-hal mistis. Kan jadi serem"


"Penakut" Balqis langsung menatap kesal Abid.


Abid senyum pepsodent melihat Balqis. Satu tangannya mengambil tangan Balqis lalu mengecupnya sekilas.


"Gak usah ngambek, malu sama umur"


"Makin kesel Balqis jadinya" Abid nyengir.


"Nanti bantu jagain Heon, ya?"


Balqis mengangguk, "Tapi jangan oleng ke Heon!"


"Iya kak iyaaa" Abid senyum manis.


"Kalau Balqis oleng gimana?" Abid langsung menatap datar Balqis.


"Keknya kak Abid cemburu deh. Iya gak tuuu, ciee ciee"


Abid diam. "Eh kak, nanya lagi nih. Yang nembakin kak Heon digimanain?"


"Gue tembak balik, pake bunga pake coklat sambil nyanyi"


Balqis menatap datar Abid. "Dasar crocodile"


"Mau ke supermarket gak?"


"Mau! Beli jajan!"


Abid mengacak rambut Balqis gemas. "Bukan sogokan kan ini?"


"Bukan sih, tapi..."


"Rasuah"


"Kan sama aja, kakk!!"


▪▪▪


"Assalamu'alaikum"


"Eh kalian udah pulang" Heon langsung menyambut mereka meski pun sedikit terpincang-pincang.


"Sini gue bawa" Heon ingin mengambil barang bawaan Balqis.


"Udah diem aja kak Heon. Duduk aja, biar Balqis yang bawa ke dapur" jawab Balqis lalu pergi.


"Kalian emang cocok lah, sama-sama baik" Abid tersenyum sekilas.


"Yoda sana lu ke sofa, gue mo samperin Balqis"


Heon pergi ke sofa sedangkan Abid menuju dapur.


"Kak, tanyain kak Heon dong udah makan apa belum"


"Kalau belum?"


"Balqis samperin tanya mau makan apa terus Balqis buatin"


"Kok jadi cemburu gini guee" gumam Abid sangat pelan.


"Iya ntar ditanyain" Abid membantu Balqis menyusun belanjaan.


"Ini biar Balqis aja yang susun. Kakak tanyain sana, ntar kelamaan makannya kalau belum"


Abid memanyunkan bibirnya lalu pergi menghampiri Heon. "Lo udah makan?"


"Udah"


"Makanan darimana? Ngaco"


"Gue makan indomie, bikin sendiri"


"Serius? Kenapa gak nunggu kami pulang?"


"Ntar nyusahin"


"Nyusahin dari hongkong"


Ting tong..


Abid menuju pintu apartemennya, "Mau ngapain?"


"Astaga Abid naks gantenkk, sinis amatt" Rangga langsung nyelonong masuk disusul yang lainnya. Abid menghela nafas sambil menutup pintu.


"Yonnn, gue bawain nasi kucing"


"Cuma satu?" tanya Abid.


"Dua sama punya gue" jawab Tio.


"Baperrr wooo, nasi kucingnya abis jadi gue gantiin sama salad buah ni. Kan lu sukaa" Abid langsung menghampiri Tio.


"Gitu kek"


"Balqis mana?" tanya Eldi.


"Di dapur, kenapa?"


"Ini salad buahnya satu untuk lu satu untuk dia"


"Biar gue yang ngasih ke dapur" Abid berdiri dari tempatnya.


"Jangan meresahkan ya lu bid!" Abid cengengesan lalu pergi ke dapur.


"Heon udah makan pake mie"


"Belum makan nasi?" tanya Balqis.


"Itu dibawain nasi sama Tio. Ni salad buah buat lu"


Balqis menerima salad nya. "Balqis makan besok aja deh, taro kulkas dulu biar dingin"


"Ini punya Balqis yaa, jangan kakak embatt"


Abid cengengesan, "Ntar malem paling jadi sasaran kalau laper"


"Iss" Balqis hendak pergi dari dapur, tapi Abid malah menghalanginya.


"Suap dulu"


"Suap apa?"


Abid menunjuk bibirnya, "Jangan aneh-aneh kakak, diluar banyak orang tauu. Kalau kita diliatin gimanaa?"


"Perlu diusir?"


"Ehh ya jangann kok anehh si?"


"Yauda kiss duluu"


"Nggaa ngga nggaa, awass Balqis mo ngerjain tugas" Abid pasrah melepaskan Balqis sambil tertawa kecil.


Abid keluar dari dapur mengikuti Balqis.


"Balqis gak mo gabung?" tanya Rangga.


"Ngga kak, Balqis mo ngerjain tugas dulu"


"Oke semangat ya"


Abid menatap datar Rangga, rasa ingin menabok kepala Rangga sangat besar.


"Lo kepentok dimana? Ngapa jadi welcome gitu sama bini gua?"


"Cie cemburuuu"


"Ketua cemburu gess"


"Ehem.. sehhh"


"Bangsttt" Mereka tertawa.


"Kan Balqis kakak ipar kita, jadi harus dibaikin gitu"


"Bacottt"


"Abid bisa cemburu juga yaternyata"


"Hahahaha"


"Serah"


"Oh iya, yon, nih kunci apartemen"


"Hah?" Heon bertanya-tanya.


"Apartemen sebelah gue"


"Kenapa harus beli lagi? Kenapa gak barengan aja sama lo?" tanya Heon.


"Bukan gue pelit, kamar cuma dua di sini. Gue sama Balqis pisah kamar ya kali gue tidur beduaan sama lu. Ogah ngegay"


"Ya.. kalau gitu lo tidur seranjang lah sama Balqis" balas Jefri.


"Nggak! Bisa bahaya"


"Kalau apartemen sebelah berapa kamar?" tanya Eldi.


"Dua juga kalau gak salah"


"Kita disanaa deh, barengan sama Heon" pinta Rangga.


"Ya terserah, kalau mau tanya pemiliknya"


"Pemiliknya siapa?"


"Ya Heon lah masa Eldi"


"G-gue pemiliknya?" Abid mengangguk santai.


Heon langsung memeluk Abid, "Aaaa makasiih Abid makasih banyakkk sayang deh sama Abidddd. Lop lop sekebonn"


"Najis woi ah ilahhh"


▫▫


21.12


Heon, Eldi, Tio, Rangga, dan Jefri sudah pindah ke apartemen sebelah. Abid ikut kesana namun hanya sebentar.


Abid kembali ke apartemennya lalu masuk ke kamar Balqis.


"Balqis"


"Eh kak Abid, yang lain kemana?"


"Pindah ke apartemennya Heon" Abid duduk ke sebelah Balqis.


"Masih banyak tugasnya?"


"Tugasnya udah, tapi besok ulangan"


Abid membolak-balik buku Balqis. "Matematika?"


Balqis mengangguk. "Balqis bingung ini"


"Baris dan Deret Aritmatika"


"Sini gue ajarin"


"Perhatikan baik-baik"


Abid membantu Balqis memahami materi tadi, Abid menjelaskan secara rinci.


"Mudeng nggak?" Abid melihat ke Balqis.


Ternyata Balqis sudah tidur dengan posisi tangannya yang dijadikan bantal sambil menghadap Abid.


Abid hanya tersenyum sambil memandangi Balqis. Abid menggeser kan rambut rambut tipis yang menutupi muka Balqis lalu kembali memandangi nya.


"Tidur aja cantik. Kalau makin hari gue makin cinta sama lo, bakal susah ngelepas lo. Sebenarnya, lo mau gak sih pisah sama gue? Lo bahagia nggak, sama pernikahan kita?"


Hening....


"Kalau disuruh jujur, Balqis gak pernah mau pisah sama kakak. Satu jam gak disamping kakak aja Balqis udah gak bisa. Kalau kakak tanya Balqis bahagia apa nggak, Balqis sangat bahagia"


Abid membelalakkan matanya. "Tidur pura-pura???"


Balqis mengangkat kepalanya lalu menggeleng, "Telinga Balqis sensitif. Denger suara aja bisa langsung bangun"


Mereka bertatapan. "Jadi, lo bahagia sama gue?"


"Bahagia.... banget" Abid tersenyum masih sambil bertatapan.


"Gue juga bahagia" Abid nyosor mencium bibir Balqis.