A B I D

A B I D
– Dapur berantakan



Drrttt.. Drttt...


Abid meraba letak ponselnya.


Dia dan Balqis ketiduran di satu sofa besar yang ada di ruang keluarga apartemen.


Tanpa melihat namanya Abid mengangkat telepon.


"As---"


πŸ“ž "ABANG DEVI RINDUU"


πŸ“ž "AVI JUGAAA"


"Astaghfirullah kalian! Abang bisa budek kalau gini" Abid mendengar mereka berdua tertawa. Abid tersadar kalau Balqis yang di depan terganggu tidurnya. Abid mengecilkan suara.


"Nanti malem abang kesana"


πŸ“ž "Betul yaaa!"


Abid berdehem.


πŸ“ž "Abang lagi apa?"


"Tidurr"


Aslinya, Abid sedang menatap Balqis yang sedang tidur. Bulu mata aesthetic Balqis sangat cantik, Abid menyukainya.


πŸ“ž "ABANG IH DIKACANGIN!"


"Iya maaap, kamu bilang apa?"


πŸ“ž "Abang jahat ga pulang-pulang. Jadi, tebus kejahatan abang, Devi mau coklat sepuluh! Terus nanti kalo abang datang Devi mau ke pasar malam!"


πŸ“ž "Avi mau lighstick Avengers sama baju renang"


"Mengerti lah adik ku tercinta. Abangmu ini bisa miskin seketika"


πŸ“ž "Prett! Abang gak boleh pelit sama kami. Pokoknya nanti malam jangan lupaaa"


Devi langsung mematikan teleponnya.


"Bangkrut gue bangkrut" gumam Abid. Abid kembali memandang Balqis berputar arah, ingin membelakangi Abid.


Sedikit lagi Balqis terjatuh kalau gak di pegang Abid. "Ngapain juga tidur di tempat sempit gini" keluh Abid. Dia membenahi tidurnya Balqis.


Abid salto melewati tubuh Balqis. Pendaratannya hampir sempurna kalau dia tidak menabrak meja. Abid meringis kesakitan dengan suara pelan.


Rupanya, Balqis sedikit terusik dengan kekacauan yang di buat Abid. Abid pun berusaha diam. Matanya menatap Balqis yang tidur. "Bini cantik gini disia-siain, begoo banget ya gue"


Puas menatap istrinya, Abid pun bergerak mendekati Balqis. Tangan kirinya di letakkan dibawah tengkuk Balqis, sedangkan tangan kanannya berada di bawah lutut Balqis. "Bismillah"


Abid mengangkat Balqis lalu membawa Balqis menuju kamarnya.


Perlahan tapi pasti Abid meletakkan Balqis di kasurnya. Baru saja terletak di kasur Balqis terbangun. "Kakak mo apa?"


"Loh kok bangun?" tanya Abid balik.


"Balqis tadi dah bangun pas kakak nelpon, cuma ketiduran lagi" Balqis cengengesan.


Dia duduk di kasurnya lalu mengikat rambut panjang yang berserakan.


Susah payah Abid menahan nafsunya ketika melihat leher putih Balqis.


Meskipun Balqis tidak terlalu seksi tapi ketika Abid berada di dekat Balqis itu membuat naluri pria Abid bangkit. Ditambah lagi status mereka yang sah suami istri, bisa saja Abid menerkam Balqis kapanpun dia mau.


"Oh ayolah otakk, jangan begini!! Ah, virus Rangga bajingann" gumam Abid.


"Kenapa kak?" tanya Balqis keheranan.


Abid mendekat ke Balqis melepas ikatan rambutnya lalu mengantongi ikat rambutnya. "Jangan ikat rambut dirumah ataupun di sekolah"


Abid langsung keluar kamar Balqis, Balqis menatap Abid heran. "Apa salahnya?"


〃〃〃〃〃


Tok tok tok


"Kak Abiddd"


Tok tok tok


"Kakkkkk!!"


"Hm?"


"Buka kek pintunya, udah halal juga sok sok ja--" Belum siap Balqis ngedumel, Abid membuka pintu.


"Emang udah halal ni, maunya diapain?"


"Kak, jangan racuni otak Balqis ya!" Abid tertawa.


"Otaknya traveling kemana?"


"Otak Balqis spesial, gak bisa traveling kalau orangnya dirumah"


"Kode mau liburan?" goda Abid.


"Hah? Nggak!! Su'udzon astaghfirullah" Abid senyum pepsodent.


"Jadi, mau apa?" tanya Abid.


"Balqis muk tanyaa"


"Ke rumah ayah bawa apa?"


"Kok tau mau ke rumah ayah?"


"Kan Balqis da bilang tadi kebangun pas kakak nelpon"


Abid berohria. "Oh doang? Ngeselin banget sih!"


"Eh kok ngamuk"


"Siapa juga yang ngamuk?!"


"Yaudah jangan galak-galak. Gue cium nih"


"Tes"


Abid tersenyum miring lalu mendekat. "Ampun kak ampun, gajadi" Balqis ngacir ke kamarnya. Abid pun tertawa melihat kelakuan Balqis dan tertawa melihat pipi Balqis yang memerah.


"Kak Abidddd, muk bawa apa jadinyaaa?"


"Ngapain teriak heh, gak sopan sama suamii" Balqis berfikir. "Iya juga" gumamnya, dia pun keluar kamar.


"Kakak jangan aneh aneh dong"


"Ah gatau ahh" Abid terkekeh.


"Gak usah bawa apa apa, toh juga ayah bunda gak minta"


"Ya nggak enak lah kak. Udah jarang kesana, masa iya datang tangan kosong"


"Nggak kosong, ntar bawain lighstick Avengers Avi, baju renang Avi, sama coklat nya Devi"


"Bedaa loh kak Abid, kan itu buat kembar, ini buat sekeluarga gituu"


"Yaudah, lo mau bawa apa?"


"Emm... Balqis mau bikin donat kentang, boleh gak kak?"


Abid berfikir. "Yakin?"


Balqis mengangguk, Abid maju. "Emang bisa?"


"Bisa lah" Balqis jalan mundur-mundur sampai mentok ke tembok. Abid meletakkan satu tangannya di tembok untuk mengunci Balqis.


"K-kak Abid mau apaa?"


Bukan menjawab, Abid malah bertanya. "Butuh izin bikin donat?" Balqis hanya mengangguk.


"Kiss me" Abid menepuk pipi kanannya.


"Is.. kak Abid"


"Kan udah halal"


"Kakkkk"


"Suami mu disini, kenapa manggil terus sihh?" Balqis menunduk lalu mendongak kembali.


"Yang lain deh maunya apa?"


"I just want one thing, kiss me, I want you to kiss me"


"Kiss me" Abid menunjuk bibir seksinya.


"Kak Abid kesambet apa sihh?" tanya Balqis heran. Abid tidak menjawab, dia malah menatap mata Balqis.


"Yang kedua lebih parah dari yang pertama" gumam Balqis. Abid cengengesan mendengarnya.


Balqis mengedarkan pandangannya. "Ehhh biawakk di dinding"


Balqis menunjuk ke sebelah kiri, Abid langsung menoleh kesana. Balqis pun mengambil kesempatan mencium pipi kanan Abid. Namun, Abid yang tau di tipu langsung menghadap ke Balqis.


Niat awal Balqis mencium pipi Abid berakhir mencium bibir Abid.


––


16.53


Abid dan Balqis tiba dirumah.


Mereka baru saja membeli bahan dan alat untuk membuat kue. Abid membeli semua alat membuat kue karena Abid yakin, Balqis suka membuat kue.


Balqis mendapatkan semuanya tidak gratis. Setiap satu permintaan, Abid meminta Balqis untuk mengecup pipinya. Abid kepentok dinding, makanya begini :')


"Kak ngapain di dapur juga?"


"Tidur"


"Hah?"


"Mau bantu lah. Masa iya lo ribet masak di dapur, gue nya enak-enak ngegame kan gak manusiawi"


"Ganti baju dulu sanaa" Abid pun membuka kancing baju kemejanya dari atas.


"Kak ke kamarrr dong!! Ih" Abid tertawa melihat Balqis menutup kedua matanya dengan tangan.


Sebenarnya Abid menipu Balqis. Di dalam kemejanya, Abid memakai kaos hitam polos. "Gue lagi sulap, ga mo liat?"


"Gak!"


"Liat dulu dong"


"Kak Abid berdosa banget"


"Hahaha, gue double-an. Buka mata, ayo mulai"


Mereka pun mulai bekerja sama di dapur.


"Kak Abid bukain tepungnya dong" Abid langsung mengambil tepung ingin membukanya.


"Pake gunting kalau susah" Abid menghiraukan Balqis dan tetap membuka pake tangannya.


Ketika terbukaaa...


Tepungnya buyar, menempel di muka ganteng Abid. Balqis tertawa ngakak melihat muka Abid saat ini.


Abid menatapnya sinis. "Puas banget ketawanya ya, bukkk" Abid menempelkan tepung di pipi Balqis dengan tangannya.


"Ih kak Abid curang"


"Curang apanyaa impas yaaa"


"Nggakkk impas, kak Abid licik!!" Balqis merebut tepung lalu menempelkannya di pipi Abid.


Terjadilah perang tepung antara dua sejoli itu. Sampai akhirnya mereka tersadar kalau...


DAPUR BERANTAKAN


"Kalau gini, siapa yang beresin?"


"Barengan lah" jawab Balqis.


"Nggak ah, lo aja. Gue ngantuk"


"Ehhhh licikkk bangetttt"


Abid tertawa. "Kiss me"


"Kiss terosss kiss teross"


"Gak mau dibantu?"


"Balqis udah berapa kali coba kiss kakak? Balqis--"


Cup~


Abid mengecup bibir Balqis. "Bawel banget ya sayang? Buruan bikin, keburu maghrib" Ajak Abid.


"Kak Abid bener-bener ya, hobi banget bikin jantungan"