
Suatu kebiasaan Abid dipagi hari untuk muntah muntah ketika baru bangun. Sedikit menyiksa baginya, tapi tak apa, Abid lebih memilih dirinya yang mengalami daripada sang istri.
"Abang pucet bangetttt mukanyaaa."
Abid menghela nafas panjang, "huh~ aku gak apa apa kok, sayangg." Abid mencoba tersenyum lebar sambil menatap Balqis.
"Udah dehh, gak usah sok kuat gituu! Pucet banget muka kamuu!"
"Gapapaa, daripada kamu yang ngerasain morning sickness, mending aku."
Balqis menahan senyumnya, ia menghampiri Abid dan duduk disebelah Abid. Abid sendiri sedang tiduran dikasur.
"Yakin banget abangg?"
Abid mengangguk antusias, ia mengelus perut Balqis. "Abid junior."
Balqis merebahkan tubuhnya, ia memeluk Abid dari samping. Abid membalas pelukannya erat. Sesekali Abid mengecup kening Balqis.
"Ayok bangunn, udah pagiii!"
"Maless, magerrr. Pengen pelukan ajaa." Balqis tertawa mendengarnya.
"Abang gak kerjaa?"
"Nggakk, udah pernah."
"Dihh, ngeselinn!" Abid tertawa, ia mengeratkan pelukan.
"Gak ada yang penting hari ini, jadi kita bisa periksa ke dokter."
"Balqis takut tauu."
"Takut kenapaa?"
"Takut ngecewain abang."
"Jangan mikir gitu ahh. Kalau nggak, kita buat lagi."
Plak!
Balqis memukul tangan Abid. Abid tertawa sembari mengelus tangannya.
"Lepasin, Balqis mau buat sarapaan."
"Sarapan diluar ajaa."
"Gakk. Hemat dikit ngapasii? Makan diluar mulu padahal punya istri. Bagus duitnya ditabunggg, buat cadangan di masa depann."
"Iya, sayang. Iyaaa."
"Yaudah lepasin."
"No, thanks."
"Balqis gaplok ni yaa!" Abid tertawa.
"Kekerasan dalam rumah tangga namanyaa."
"Iyasii. Eh, nggak sii."
"Enggak kenapa pula?"
"Kan abang oknum yang halal untuk di gaplok!"
"Astaghfirullahalazim~" Balqis terkekeh.
"Awass tohh, mau sarapan nggak?"
"Sarapan pagiinya olahraga aja gimana??"
"Bangg, jangan mengadi-ngadi yaa!! Balqis lapor bunda nih!!" Abid cengengesan, ia melepas pelukan.
"Yasudaa, mau olahraga sama cew—"
"Gampang. Tinggal potong potong."
Abid auto ngilu, ia menutupi aset berharganya.
"Nggak kok, sayang. Nggak. Becanda doangg."
"Betulan gapapa kokk. Balqis mau siapin golok dulu didapur."
Abid menatap kepergian Balqis. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, terlalu mengerikan untuk dibayangkan.
"Tenang tenangg. Jangan ngilu gituuu! Gertak doang ekan. Kalau lu dipotong, ntar gimana mau bikin?"
Otak Abid berfikir, 'cowok banyak didunia.'
"FAKK!" Abid berlari keluar kamar.
Ketika menemukan Balqis sedang mencuci ayam, Abid memeluknya dari belakang.
"Yang, nggak kok yang. Gak jadiii."
"Gak jadi apa?"
"Gak jadi sama cewek lain."
"Oouu, kalau jadi kan gapapa."
Balqis membiarkan Abid memeluknya. Usai mencuci ayam tadi, Balqis memotongnya dengan golok.
Abid semakin ngilu melihatnya.
"Nggaaaaa. Gak jadiii."
"Yaudahh, awasss. Mau Balqis potong-potong sekarang?"
"Serem amat astaghfirullah."
◒◒◒
Karena sarapan tadi pagi membuat Balqis mual mual. Abid tidak jadi membawa Balqis ke dokter. Abid malah memanggil dokter untuk datang kerumahnya.
Dan kebetulan, dokter kandungan itu adalah teman dari mamanya Fany. Abid cukup dekat dengan dokter itu karena dokternya sama dengan dokter bundanya dulu waktu hamil si kembar.
"Jadi, gimana keadaan istri saya, dok?"
Dokter itu tersenyum misterius. "Saya yakin kamu tau jawabannya."
Abid menahan senyumnya.
"Iyaa, benar. Istri kamu hamil, kandungannya sudah empat minggu."
Abid tersenyum sumringah mendengar kabar itu, ia melirik Balqis yang juga tersenyum.
"Tolong dijaga baik-baik ya, Pak Abid."
"Pak pak apaan? Macem tua kali." Bu dokter itu tertawa.
"Jangan biarkan dia kecapekan. Jangan suka cari gara-gara jugaa, bumil sensitif. Hormonnya bisa berubah-ubah kadang. Jadi, sabar aja sebagai manusia."
"Iya, Budok. Terimakasihh sarannya." Jawab Abid sambil membungkuk.
"Masih aja manggil budok, saya lempar juga kamu!" Abid terkekeh.
"Yaudah kalau gituu, baik baik ya, Balqiss. Mual mual hal biasa kok, kalau nggak kuat kasih ke Abid. Karena ini ulah dia."
Balqis tertawa. "Iya, buu. Makasih udah sempatin datang kemarii."
"Gak perlu sungkan. Saya pulang dulu, yaaa."
"Perlu saya antar, Budok?" Tanya Abid.
"Gak usah. Nanti saya darah tinggi!" Abid cengengesan.
"Hati hati dijalan, Budok. Jangan nyasar, yaa!"
Bu dokter itu menatap sinis Abid lalu pergi keluar kamar sambil melambaikan tangan pada Balqis.
Setelah kepergian bu dokter tadi, Abid mendekati Balqis dan mengecup keningnya.
"Bentar yaa, mau nganter budok sampe depan pintu." Balqis mengangguk.
Abid menyusul dokter tadi. Ia benar benar mengantar dokter itu sampai depan pintu dan kembali masuk ketika mobilnya menghilang.
Abid kembali menuju kamarnya sambil berlari. Meskipun kakinya sempat kepeleset ditangga, Abid bangkit dan tetap berlari.
Setibanya di kamar. Abid duduk di pinggiran kasur dekat Balqis. "Kenapaa natap gituuu? Abang seneng nggak?"
"Pertanyaan bodoh macam apa ituu?" Balqis menatap kesal Abid. Ia beranjak pergi.
Abid langsung menahan tangannya lalu mendekat dan memeluk erat Balqis. "Aku seneng bangettt, sayaaangg. Makasih yaa, makasih banyakkk."
Abid melepas pelukan dan menatap wajah Balqis yang tersenyum. Abid mengecup keningnya berkali-kali kemudian jongkok tepat didepan perut Balqis.
"Sayangnya ayah, baik baik disana, yaa? Jangan nyusahin bundaa. Nyusahin ayah aja gapapa, tapi jangan bunda. Okeyy?" Balqis tertawa mendengarnya.
Melihat bundanya tertawa, Abid mendongak.
"Kenapa ketawa?"
"Gapapaaa. Lucu ajaa."
Abid memanyunkan bibir, "ntah apa lucu. Oiya lupa, aku emang lucu."
"Dih pede bangettt!" Abid gantian tertawa.
"Kamu mau sesuatu? Aku bakal turutinn."
"Eumm.. Balqis gak mau apa apaaa."
"Yakinn?" Balqis mengangguk.
"Eh ehh, Balqis pengen makan kimchiii."
"Kimchi apaan?"
"Nggak dehh, gak jadi kimchii. Balqis mau abang ajaa." Balqis memeluk Abid.
Abid membalas pelukannya erat. "Mau aku gimna ni maksudnya??"
"Gak usah mesumm!" Abid cengengesan.
"Kali aja, minta ayahnya berkunjungg."
"Itu maunya abangg! Udah ahh, Balqis mau kebawahh. Pengen masak."
"Masak apa? Gak usahh, nanti kenapa-kenapa gimanaa?"
"Dih lebayy."
"Gak usah masak, sayangg. Kita mau ketempat bundaa."
"Oke dehh, ayook ketempat bundaaa!"
Balqis keluar kamar terlebih dahulu kemudian disusul Abid.
"Nahh, akhirnya keluar jugaa orangnya."
Serentak, Abid dan Balqis menoleh.
"Lohh, ayah bunda kok bisa disinii?"
"Naik mobil tadi."
"Iyyaa maksud Balqis bukan ituu tadii." Keduanya tertawa.
Bunda Abid mendekat, "selamat ya sayangg. Baik-baikk, jangan banyak fikiran. Kalau misalnya ada apa-apa dan kamu males cerita ke Abid, cerita aja sama bunda. Okeyy?"
Balqis mengangguk dengan senyuman, ia memeluk bunda Abid. "Makasih, bundaa."
"Jaga istrimu betul-betul, yaa! Sempat ada apa-apa, ayah headshot kepalamu!" Abid tertawa.
"Tanpa ayah suruh juga Abid bakal jagain sepenuh hati, jiwa dan ragaa."
"Gak usah lebay gitu jugaaa." Jefri dan temannya yang lain datang.
"Eanjjerr, lu pada ngapain kemarii? Siapa yang ngundang??"
"Widiii, parah bah kang ojol. Dulu ngojol bareng nyaa kita, kok sekarang ginii?!" Abid tertawa lagi mendengar celotehan Tio.
"Gak usah peduliin Abid, duduk aja sini kelenn." Suruh Ayah Abid. Mereka menghampirinya dan duduk santai.
"Rangga, Fany kapan dihalalin??"
"Kan gak haram, om."
"Buang Rangga, yah, buang!!" Rangga cengengesan.
"Secepatnya om, saya bakal tebar undangan."
"Terusss, Eldi kapan?" Tanya Bunda Abid.
"Boro-boro nikah, bundd. Pacar aja gak punya."
Mereka terkekeh.
"Sama Vane lah, Ell. Cakep loh dia, sefrekuensii pulaa." Ujar Abid.
"Gue nya mau, dianya gak mau."
"Wehh, bisa diatur itu bosss. Kalau lu mau tinggal bikin Vane nya mau."
"Bisa pulak?" Tanya Heon.
"Bisa, Yon. Bini gue yang uruss nantinya."
"Ayah lempar nanti kamuu!"
Abid terkesiap.
"Apa salah Abid, yah yahh."
"Ndak usah sok merasa tersolimii!"
"Tersholehah Abid mah." Mereka terkekeh lagi.
"Oiyaa, telupa pulak mau kasi. Nih bumill, moga suka yaa." Jefri menyodorkan paper bag pada Balqis.
Balqis menerima lalu membukanya.
Mereka memberikan kotak lumayan gede, seukuran dengan paper bag.
Balqis membuka kotak itu dan isinya ada baju gamis beserta coklat dan printilan lainnya.
"Gak bisa banyak banyakk, cuma bisa kasi ituu."
"Aaa makasih kakak kakakk." Mereka tersenyum.
"Mau jujur, Balqiss. Sebenernya itu..." Mereka membekap mulut Tio.
"Ember pecah!"
"Sebenernya apaa?" Tanya Bunda Abid penasaran.
"Sebenernya itu dari Abiddd." Abid memegang kepalanya, Tio emang harus dibuang dari circle.
"Itu dari Abid, Abid yang suruh ngasihh." Ujar Tio lancar ketika bekapannya dilepas.
"Bukan, ayy. Mereka cuma tanya apa yang bisa dikasih ke Balqis, ya aku jawab gamiss. Gitu doang."
"Kenapa klarifikasi??"
Abid kebingungan.
"Nggak perlu klarifikasi abangg, dari siapapun inii Balqis mo ucapin makasiihh banyaaak. Balqis sukaa." Mereka tersenyum mendengarnya.
"Pengen masuk tengah rumah tangga Abid deh."
"Pengen nendang lu dehh."
"Hahahahaaa!"
"Oiya, ayah bunda mau minum apa? Biar Balqis bikininn."
"Nggak usahh, Balqis. Ada Abid kokk, nanti Abid yang buat." Jawab Ayahnya.
"Jadi mau minum apa?" Tanya Abid.
"Gak ada si, tadi udah ngambil minuman kaleng di kulkas." Abid menatap sinis ayahnya yang cengengesan.
"Kami gak ditawarin, Bid?" Tanya Jefri gantian.
"Punya kaki, punya tangan, tamu tak diundang bisa ngambil sendiri ke belakang."
"Fak Abid!" Abid nyengir tanpa rasa bersalah.
"Pembantu lu mana, Bid?" Heon mencarinya.
"Ntah, dikamarnya paling. Gak tau juga dimanaa."
Jawab Abid santai.
"Bereskan?"
"Sejauh ini beres. Gak tau juga kedepannya gimana."
"Ingett, kamu gak boleh su'udzon!" Omel bundanya.
"Omelin aja terus, bundaa. Demen banget Bang Abid su'udzon sama orang." Lapor Balqis.
"Kan jarang, sayangg."
"Nyenyee!"
Abid cengengesan. Ia berdiri lalu pergi menuju mobil yang ia beli kemaren.
Ntah sihir macam apa yang dibuat Abid, tapi Abid muat di dalamnya. Mobil itu ia jalankan menuju dapur untuk mengambil minuman kaleng, setelahnya kembali ke ruang keluarga masih dengan mobil itu.
"Sumpah, bingung, kok dia bisa muatt? Lu geser dah, Bid. Gue kau cobaa." Titah Rangga.
"Belii lah, BIAR TAU HARGA!"
"Syaland banget sih ini. Pengen banget gue pites palanya." Abid tertawa kecil.
"Kiw kiww, cowok mau ikut aku nggak?" Abid menggoda Eldi.
"Awww, jadi malukk."
"Najis banget, astaghfirullahalazim!!"
Mereka terkekeh.
Abid sendiri bulak balik memutarin mobilnya. Mobil itu sama seperti mobil biasa, hanya saja bentuknya kecil.
Dibuat untuk anak-anak bukan untuk orang dewasa macam Abid. Tapi ya sudahlahh, orang kaya bebas beli apa yang dia mau ╥ᆺ╥
"Balqis, keknya kamu bakal capek banget dehh."
"Kok gitu? Kenapa, bun?" Tanya Balqis bingung.
"Bayi mu dua."
"Tante cosplay jadi dukun??" Tanya Tio dengan muka polosnya.
"Tante tampol nanti kamu!" Tio nyengir kuda.
"Terus, bunda tau darimana kalau dua?"
Balqis masih heran.
"Satunya tuh bayi kolot kek dia." Bunda Abid menunjuk Abid.
Abid yang merasa ditunjuk senyum pamer gigi.
"Emang, tidak bisa dipungkiri. Calon ayah yang satu itu memang imut amit-amitt."
"Anak ngendors. Jefri anak ngendorrsss. Iri bilang kawandddd!"
Mereka tertawa melihatnya.
"Masa kecil kurang bahagiaa agaknya." Ledek Ayah Abid.
"Apa pula kurang bahagia, gudang dirumah aja isinya mainan Abid semua." Jawab Abid songong.
"Yain aja udahh, yainnn."
"Pucekkk!" Rangga cengengesan.
"Btww, Abid jadi pengen ke gudang."
"Ngapain?" Tanya Bunda Abid.
"Nyari berbie, siapa tau ada."
"Bid, lu gak belokkan?" Tanya Tio.
"BELOK APA ANJIRR?! Kalau belok gakk maen sama Balqis gue."
"Tapi bisa ajalaaa, lu suka berbiee ala ala uke gitu jadinyaa."
"Astaghfirullahalazim, gobloug banget siii!! Lama-lama gue lempar lu ke Danau Toba!"