A B I D

A B I D
Last epsss



Hari-hari berikutnya. Abid terbangun dengan tenang tanpa mendengar suara tangisan Chiara. Ia duduk, mengumpulkan nyawa sekaligus celingak-celinguk. Chiara tidak ada si boxnya. Abid yang penasaran pun pergi keluar kamar.


"Sayang, Chi ma— lah ini saha anying megang-megang anak gua?" tanya Abid kesal dari belakang. Pria itu berbalik badan, "Ada masalah apasih kawan, masa sama temen sendiri gak tanda?"


"Anj? Lo ngapain di sini, Chandra? Tau darimana lo alamat gue di sini??!" tanya Abid nyolot sembari menarik kembali anaknya.


"Gue pindah ke depan, terus tadi kasih menu sarapan pagi buat nyapa tetangga. Abistu Balqis yang nongol, dia suruh gue masuk bentar karena mau cuci wadah yang gue kasih. Karena dia lagi ribet, Chiara nya gue pegang."


Abid diam tidak merespon.


"Enak banget jadi lo, selalu unggul dalam hal apapun. Bahkan ini juga. Udah kaya, punya istri, punya anak cantik. Gue iri anjayy."


"Salah lo sendiri irian terus jadi orang."


"Izinin istri lo selingkuh sama gue gimana?"


"Lo mau gue bunuh?" Chandra tertawa lalu menggeleng. "Sial banget gue, selama ini nyari Balqis kemana taunya udah nikah aja sama lo."


"Fyi, gue sama Bal—" Perkataan Abid terhenti, istrinya datang dari dapur memotong. "Ini— eh udah bangun, sayang?"


Abid membalasnya dengan senyuman. "Kenapa bawa orang asing masuk kamunya?"


"Orang asing gimana? Kan temen kamu, dia juga mantan ketua pmrku dulu."


"Ya terus kalau—"


"Jangan berantem di sini ah, gak enak ada tamu. Kamu masih gendong Chi jugaa," kata Balqis memotong lagi. Abid diam, ia memperhatikan Balqis yang mendekati Chandra.


"Ini wadahnya. Maaf lama ya, kak. Maaf juga kalau suami gue tadi ngomongin hal yang gak enak." Chandra tersenyum, "Gak masalah. Tadi gue nanya Abid sekalian minta izin gitu, katanya lo boleh selingkuh sama gue tau."


"Minggat lo sekarang, minggat! Gak usah ngadin-ngadi. Gak laku banget apa lo sampe bini gue juga di embat?!"


"Banyak yang ngantri, tapi gue maunya Balqis."


"Sinting. Balqis pegang Chiara, aku mau hajar dia." Balqis menahannya, "Udahlah. Kak Chandra juga gak serius kali, kamunya sensi banget. Kamu pegang aja Chiara dulu, aku mau anterin kak Chandra keluar. Ayok, kak." Mereka berdua pergi ke depan bersama.


Abid gerah, panas wakk. Rasa pengen ngebanting Chandra sampai tulang-tulangnya patah. "Sabar, sabarrrr." Abid masuk ke kamar, meletakkan Chiara lalu tidur di sebelahnya dan memegangi perut Chiara.


"Papa cemburu, sayang. Bundamu tega banget gak sih? Masa dia kek gitu sama papa. Papa sedih," kata Abid berbicara pada anaknya sambil menyembunyikan muka di bantal. Terlihat lucu!


Di depan, Balqis menoleh ke belakang lalu tertawa. "Pasti ngambek tu nantii. Untung ada lo, kak. Jadi makin seru ngerjain lakik guee."


"Gue gak tanggungjawab yeee!" Balqis mengangguk santai. "Makasih sebelumnya dan tolong bantuannya."


"Amann. Tapi sebenarnya gue beneran iri sama Abid, enak banget dia dapet istri spek bidadari gini. Udah ada baby lagii," keluh Chandra.


"Halahhh, bidadari apaa. Udah deh kak, masih banyak cewek diluaran yang lebih dari gue, jangan ampe jadi beneran ye ntar ni sandiwaranya."


"Iya siaplahh, daripada gue digebukin sama anggota lakik lo ntar. Kalau gitu gue balik dulu nih ya? Selamat berantem." Balqis tertawa sambil memperhatikan kepergian Chandra. Setelah tidak nampak lagi, Balqis kembali masuk.


"Heh astaghfirullahalazim!! Apaan sih kamu tiba-tiba disitu bikin aku kaget ajaa!" dumel Balqis kesal melihat Abid di depan pintu kamar dengan wajah sinisnya. "Aku yang seharusnya marah ini, ngapain lama banget di depan? Pacaran?"


"Gak usah su'udzon! Mending makan sini, sarapan. Anaknya tadi mana?"


"Bobo abis aku kasih susu formula. Gak usah alihin pertanyaan aku, ngapain lama banget di depan?" tanya Abid lagi terlihat begitu marah.


"Gak usah lebay deh ahh. Orang cuma sebentar doang gitu. Aku sama Chandra juga gak ada hubungan apa-apa, ketemu juga baru tadi. Su'udzon terus, dikira aku tukang selingkuh apa?!"


Abid terpaksa diam. Bukan karena kalah debat, tapi takutnya pertengkaran makin hebat. Soalnya Balqis udah marah duluan, padahal menurut Abid, dirinya yang harus marah.


Bukan suami takut istri juga yaa. Abid hanya memilih untuk mengalah daripada emosinya membuncah.


Abid datang ke meja makan, ia makan dengan tenang dan benar-benar diam tidak ingin bersuara. Begitupula dengan Balqis. Tapi baru beberapa suap Abid makan, ia berhenti lalu pergi.


"Mau kemana? Makanan mu belum selesai!!" Abid tidak bergeming. Balqis pun mengabaikan Abid dan melanjutkan makan. Beberapa menit setelahnya, Abid keluar dengan setelan jasnya.


"Makan dulu baru pergi!" Abid tidak menyahut, ia mengambil kunci mobil lalu berjalan menuju pintu. Balqis auto mengejarnya. "Gak denger aku ngomong apa daritadi? Gak usah kek anak kecil deh, masalah kecil aja ngambek."


Abid cukup emosi. Ia menatap Balqis dengan tatapannya yang tidak biasa. "Kamu kira kek gitu masalah kecil? Kalau aku yang kek gitu kamu gimana coba aku tanya? Lebih parah, kan?!"


Balqis gugup. "Ya terus maksud kamu apa? Masa aku gak dibolehin berteman? Cuma sama Chandra juga."


"Terserahmu, terserah. Mau temenan sama siapapun juga terserah. Udah gak perduli aku. Percuma aku bilangin juga tetep di abaikan. Aku berangkat."


Abid benar-benar pergi berangkat meninggalkan Balqis. Balqis di depan pintu yang tertutup sedang berkacak pinggang. "Aku keterlaluan apaya?"


...◕◕◕...


Abid terlihat begitu sensi di kantor. Terasa hawanya. Bahkan saat rapat sekalipun, suasana jadi tegang, tidak seperti biasanya. Karyawan Abid sedikit berhati-hati dengan gerakan mereka, takut kalau tiba-tiba disemprot.


"Assalamu'alaikum ngabb!!"


"Ketok pintu bangst." Jefri, Heon, Eldi, Rangga dan Tio sedikit terkejut mendengar jawaban Abid. Abid sudah jarang berkata kasar, ini kali pertamanya lagi setelah sekian lama.


"Kok? Lo kenapa anjay?"


"Gak usah banyak tanya, mau apa lo pada?"


"Taii. Lo yang nyuruh kemari ya bajingann!" jawab Rangga ikutan ngegas. Abid menghela nafas sambil memegangi jidatnya.


Kelima teman Abid itu duduk di sofa. "Lo kenapa? Ada masalah apa gimana? Sensi banget."


"Chandra nongol tadi pagi, katanya pindah deket gue. Dia ngobrol akrab sama Balqis, gue bicara baik-baik sama Balqis masalah itu, dia malah ngegas banget dan belain Chandra."


"Oalah cokk, jealous rupanya. Ya kalau gitu jangan la kau bawa sampe ke kantor masalah rumah tangga itu pak Abid, karyawanmu pun takut-takut itu jadinya," sahut Jefri menyadarkan Abid.


"Gue diem aja daritadi asu, gak ada sama sekali gue lampiaskan ke orang-orang."


"Ke kita iya." Abid diam lagi, malas bicara.


"Terus, surprise tempo hari yang kita bicarain tu cemana? Mau dibatalkan?" tanya Tio kembali ke topik awal. "Gak tau gue, males. Udah kacau kali dari pagi."


"Kata gue, lo salah paham. Ya gak mungkin la nanti Balqis milih spek kaleng peot daripada lo. Dari spek mana aja udah keliatan lo lebih unggul. Apalagi ranjang ekan, ha, sampe udah jadi itu."


"Betol bah kata Eldi. Gak boleh gitu, Bid. Jangan su'udzon sama istri sendiriii."


"Bacotlah klen. Minggat sana, males gue liat lo berlima." Mereka saling tatap. "Abid bajingann banget sumpah. Gue tandai ya lo, bajingann."


"Bacot."


Tak tahan lagi, kelimanya memilih pergi sambil ngedumel. Abid betul-betul menyebalkan, bikin mereka kezall.


Tepat di parkiran, salah satu dari perwakilan mereka—Eldi—menghubungi Balqis, bertanya soal kepastian. Terdengar Balqis sedang menjalankan misinya dengan sangat detail hingga telepon usai.


"Sensi kali si Abid, gitu doang ngamokkk," ledek Rangga sambil tertawa. "Kek gak tau Abid aja anjirr, sama anaknya sendiri ae kadang cemburu apalagi sama Chandra."


"Beda konsep."


"Tapi tu manusia emang udah bucin akut si."


"Udah gak ketolong."


"Terus mau ikut yang mana lah kita? Mereka sama-sama buat surprise, tapi yang satunya be udah kacau. Si kacau tu beneran gak jadi?"


"Tapi kalau pindah haluan makin ngamuk gak sih dia?"


"Alah kentut, serba salah. Jadi cemana coba? Mau nenangin Abid apa gimana??" Mereka diam dan berpikir. "Ikut bantu Balqis aja la dikit-dikit, tapi tetap di pihak Abid biar gak curiga."


"Gue rasa Abid gak jadi. Kek kecewa duluan diaa," tebak Jefri sok iya. "Weh ah bingung gue anjirr. Gue gak usah ikut ajala urusan rumah tangga mereka ni."


"Y—"


"Permisi nggeh, mas. Dipanggil sama pak Abid, disuruh keruangannya sekarang," kata security datang tiba-tiba. "Iya, bentar lagi kesana." Security itu tersenyum lalu pergi.


"Tadi di usir, ini dipanggil. Lama-lama gue cabut nihh!" dumel Rangga. "Lo mau cabut?"


"Bukan, nyawa Abid yang mau gue cabut."


...◕◕◕...


Malam hari, pukul delapan lewat dua menit. Abid pulang kerja dalam keadaan lusuh, semuanya serba berantakan. Ia sengaja melewati Balqis tanpa menyapanya.


Balqis juga begitu, walaupun dirinya membukakan pintu untuk Abid, tapi tidak ada ciuman yang seperti biasa mereka lakukan.


Namun kali ini Balqis cukup terheran-heran. Gak biasanya Abid marah dalam waktu selama ini. Dan Balqis juga kebingungan setelah mencium wangi tubuh Abid. Balqis rasa ini bukan parfum Abid.


Balqis menarik tangannya. "Darimana?"


"Masih nanya? Ya kerja lah."


"Kenapa berantakan banget? Terus ini apa? Wangi apa? Bukan parfum kamu, kan?" tanya Balqis membombardir Abid dengan pertanyaan.


Abid berbalik, ia meletakkan telunjuk di bibir Balqis. "Gak usah bawel. Impas kok sekarang," jawab Abid seperti orang mabuk lalu pergi lagi.


"Maksud kamu apa? Kamu selingkuh??" Abid berhenti dan kembali berbalik, "Ya kamu juga, kan? Impas."


"Impas darimana??! Aku gak selingkuhh."


"Cowok tadi pagi siapa? Bukan selingkuhanmu? Kamu lebih bela dia daripada aku. Ah udahlah, aku cape, mau tidur." Balqis menarik Abid kencang lalu membuka bajunya secara paksa.


Terlihat ada bekas lipstik di dadanya.


"Kamu beneran selingkuh? Kamu main sama wanita lain di luar sanaa? Aku kurang apa sih? Aku kurang memuaskan? Aku udah gak menarik lagi? Aku udah jelek, gitu?" Mata Balqis berkaca-kaca.


"Gak usah dramatis. Kamu yang duluan kok jadi kamu yang gak terima. Hidup ini harus adil, Balqis."


"Tapi gak gitu juga!! Tega kamu ya, tega banget." Abid mengangguk-angguk, persis seperti orang mabuk. Matanya terlihat sangat sayu, "Terserah mau bilang apa. Aku capek debat."


Balqis membiarkan Abid berjalan ke kamarnya yang ada di lantai atas. Ia duduk di sofa ruang keluarga sambil termenung. "Apa-apaan? Kenapa jadi gini?" katanya memegangi kepala.


Ketika hampir menangis, pundak Balqis ditepuk. "Gak usah nangis, semua cuma salah paham."


Di kamar, Abid merasa tak tega. Ia mandi dan mengganti bajunya dengan pakaian casual. Teman-temannya juga beberapa ada yang di sana. "Balqis nangis cokk. Ide siapa ini ******?!" tanya Abid ngegas.


"Lo yang ngerencanain bodoh."


"Nggak gini alurnya, sialan. Rangga yang nyuruh tadi."


"Ya di suruh kok mau. Alah udahlah, diem aja kau, Bid. Omonganmu pun pedas, gak usahlah banyak cengkunekk." Abid terdiam, ia berdiri di depan kaca untuk merapikan rambut. "Jadi cemana surp— asuu mati lampu."


"Aaaaaaaaa!!!"


Mendengar suara teriakan Balqis yang menggelegar Abid langsung lari ke luar kamar. Ketika Abid sampai di bawah, lampu langsung hidup dan alunan musik terdengar.


Abid tidak perduli, ia sibuk mencari keberadaan istrinya. "Balqis? Heyy, di mana kamu??!"


Duarr!! Balqis nongol bersamaan setelah suara balon diletuskan. Wanita itu membawa kue yang disertai dengan lilin.


"Happy anniversary, cintaku."


"Ahsiall, ketipu." Balqis tertawa. Abid melihat orang-orang di sekelilingnya. Tim sukses Abid yang dibelakangnya berpindah ke belakang Balqis. "Lo pada ngapain anying disitu??" Mereka cengengesan tanpa menjawab.


"Aku jelasin dulu. Jadii, kak Chandra emang beneran pindah ya dia, terus kebetulan ada dia jadi aku masukin sekalian dalam suprise biar berhasil. Terus mereka ini tim sukses aku, bukan tim sukses kamu."


Abid menatap istrinya yang sedang tersenyum manis. "Bisa-bisanya senyum begitu ya?" Abid mengambil kue dari tangan Balqis, memberikannya pada mereka lalu mencium bibir istrinya dengan sedikit brutal.


Semua langsung berpaling, tidak ingin melihat. "Abid kurang ajar banget sumpah," cibir Rangga mewakili. Balqis yang dicium pun memaksa lepas sampai Abid melepaskannya. "Tau tempat kek, rame orang tau!!"


"Bodoamat. Bandel."


"Kamu juga bandel! Apa-apaan itu pake ada bekas lipstik di dada? Untung tadi kak Tio muncul, jelasin ke Balqis kalau itu cuma prank. Jadi prank kamu gagal, wlee!!"


"Wahh, penghianat lo semua!" cibir Abid. Mereka malah tertawa ngakak. "Ya lo mikir ajalah setan, prank lo nyakitin hati kali sampe berbekas lipstik."


"Itu ide Jefri yaaa, bekas lipstik juga karena ciuman Rangga," jawab Abid ngegas. "Ihhh, kok? Lo ngegay, Bid?" tanya Chandra dengan muka polosnya.


"Sialund. Gue normal cok, udah ada hasilnya noh, lagi di pegang Jefri." Mereka tertawa lagi, begitupun dengan Balqis. Melihat Balqis kesenangan, Abid akan melanjutkan rencananya walaupun sedikit gagal.


"Kalian makan aja itu kuenyaa. Oh iya, Jep, tolong bawa anak gue dulu ya. Gue mau hukum bundanya. Makasih," Abid menggendong Balqis ala karung beras lalu pergi tanpa menunggu jawaban.


"Huhuuu, tolongin Balqisss," rengek Balqis sedikit memberontak. "Hahahah, bye bundaaa. Gak ikut-ikutan yeeee." Balqis pasrah.


Abid berjalan dengan santai masih sambil menggendong Balqis. Ia membuka pintu kamar dan kini terlihat hiasan yang Abid dan temannya siapkan untuk surprise tadi.


Kamarnya terlihat sangat romantis. Ada kue juga dibagian ujung, tapi belum dihidupkan lilinnya. Balqis tersenyum sumringah melihat ini. "Cantikk, aku sukaa. Kapan hiasnyaa?"


"Rahasia."


"Ehhh, jadi tadi pintu kamar tiba-tiba gak bisa dibuka gara-gara dekor ginian?" Abid meletakkan Balqis di atas kasur lalu menimpanya. "Maybe. Aku daritadi di kantor, selingkuh beneran sama ketua tim yang kemarin ketemu bareng kamu juga."


Balqis memanyunkan bibirnya. "Bandel."


"Kamuu." Balqis nyengir kali ini. Abid diam di atas tanpa bergerak, ia memandangi wajah cantik istrinya. Semenit kemudian, Abid mengecup bibir Balqis.


"Happy anniversary, love." Balqis tersenyum, ia membalas kecupan Abid. "Happy anniversary juga, sayang."


"Maafin aku ya belum bisa jadi suami yang baik buat kamu, dan belum bisa jadi ayah yang baik juga buat Chiara."


Balqis menggeleng, "You're the best husband, and the best father. Aku yang harusnya bilang gitu ke kamu, aku belum bisa jadi istri dan bunda yang baik untuk kamu dan Chiara."


"Sstt. Kamu juga udah luar biasa, sayang. Kita sama-sama belajar aja oke? Harus lebih baik kedepannya, gak boleh lagi ada yang ditutupi. Deal?" Balqis mengangguk dengan senyuman.


Balqis mengelus pipi Abid dan menatap matanya. "Jangan berubah ya, jangan tinggalin aku sama Chiara."


"Nggak bakal, sayang. Aku sayang kamu, aku sayang Chiara. Kita besarin Chiara sama-sama yaa?" Balqis tersenyum dan mengangguk lagi. "Kalau gitu, ayo bikin adeknya Chiara."


"Ihh? Chi masih kecikk, abangg." Bukannya mendengar perkataan Balqis, Abid malah memulai aksinya. Balqis sendiri tidak memberontak, ia menikmati setiap perlakuan Abid.


Abid melepas ciumannya sejenak dan kembali menatap sang istri, "I love you. I really love you, Balqis."


"I love you more, Abid."


...—End—...


...Kritik saran yang membangun dibutuhkan yh, wrwrwr. Bye guiss, trimakasi banyak sudah mengikuti sampai akhir, sehat slalu yaaaa <33...