A B I D

A B I D
– Air terjun 2



"Abang, Balqis pengen rujak."


Abid menoleh ke arah sang istri, "di hutan mana ada rujak, sayang," jawab Abid kalem.


Oiya! Mereka masih berjalan menuju air terjun. Mereka berhenti terlebih dahulu tadi di hutan.


"Iyyaa, Balqis juga tau ga ada rujak di hutan. Tapi Balqis pengen bangettt," rengek Balqis sedikit berbisik.


"Pulang dari sini, oke?" Balqis menggelengkan kepala.


"Maunya sekarangg." Abid menghela nafas panjang. Balqis cukup bawel dari tadi, mungkin karena lelah (?)


"Kalian lanjut jalan aja ke air terjunnya. Gue sama Balqis bakal balik, ntar langsung ke villa gak ke sini lagi," pamit Abid pada temannya.


"Beneran gak balik lagi? Sayang loh. Dikit lagi sampe," kata Fany memastikan.


"Nggak. Ntar kalau balik lagi Balqis malah kecapean. Ini aja udah keliatan capek dia," jawab Abid sambil menatap Balqis. Balqis sendiri cengengesan.


"Terus lu mau balik sekarang?" Abid mengangguk.


"Yaudah. Hati-hati lu. Jangan sampe Balqis kenapa-kenapaa," ujar Jefri memperingati.


"Iyya iyyaa! Lu jaga juga tu Vane."


"Wkwk, bakal gue jaga sepenuh jiwa dan raga."


"Bang Jefri jangan modus dehh, nanti Vane beneran baper abang malah gak tanggung jawab. Kan nyesek jadinya," omel Balqis.


"Nggak modus, Balqis. Beneran deh ini, di jaga sepenuh hatii."


"Iyain aja, sayang. Kalau sampe di sakitin kan aku maju paling depan," ujar Abid.


"Kenapa pula lu maju paling depan?"


"Cowok yang bisanya nyakitin cewek mah gak pantes hidup, kan gak punya hati."


"Menganjay. Hahahaha!"


Abid tersenyum miring.


"Udah ah, bacot mulu lu pada! Gue pergi dulu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati tepeleset!"


Abid mengangguk lalu pergi sembari memapah Balqis.


"Abang.. capek," keluh Balqis.


"Berhenti bentar yaa?" Balqis mengangguk. Keduanya pun berhenti di bawah pohon. Abid menyandarkan Balqis di pohon kemudian duduk di depannya.


"Keringetan yaa, bunda?"


"Hehehe. Balqis capek bangett rasanya, padahal kan belum terlalu jauh."


"Udah lumayan jauh ini, udah jago lah kalau untuk kamu," jawab Abid dengan senyuman.


"Next time harus kesinii lagi! Harus bener-bener ke air terjunnn."


"Iya iyaa. Nanti kalau baby udah lahir, udah bisa jalan, kita kesini lagi."


Balqis tersenyum senang.


"Ayo lanjut jalannn," ajak Balqis bersemangat.


"Bener nih lanjut? Istirahatnya baru bentar."


"Balqis udah kuat kok. Mari kita cari rujakk!" Balqis mencoba berdiri sendiri. Tapi sayangnya ia tidak sanggup karena perutnya yang sudah membesar.


Abid sendiri bukannya membantu malah tertawa lebih dulu. Abid teramat sangat gemas melihat istrinya.


"Iiishh! Abang inii bukannya bantu Balqis malah ketawaaa!!" dumel Balqis kesal.


Abid nyengir, "abisnya kamu lucu bangett kek gitu."


"Hiiiihh dasarr. Buruan bantu Balqis! Harus cari rujak sebelum siang," ujar Balqis.


"Iya, sayang, iyaa." Abid pun membantu Balqis berdiri. Setelah Balqis berdiri sempurna, Abid jongkok di hadapan perutnya lagi.


Cup!


"Sayang ayah, baik-baik di dalam ya? Jangan nakal, kasian bunda."


Balqis tersenyum mendengar perkataan Abid. "Iyyaa ayah, gak nakal kok. Ayah juga jangan nakal yaa, jangan minta jatah terus ke bunda!" sahut Balqis dengan suaranya yang di buat seperti anak-anak.


Abid menoleh ke arah Balqis lalu cengengesan. "Nanti malam minta jatah lagi ya?"


"Ngaco! Udah ah, ayok!" Balqis jalan duluan meninggalkan Abid. Abid cengengesan sendiri kemudian menyusul.


"Jatah dong, ay."


"No!"


"Sekali aja."


"Nggak!"


"Nolak suami dosa."


"Itu mulu andalannyaaaa!"


Abid cengengesan lagi. "Iya iya, nanti malam nggak. Besok malam deh," kata Abid nego.


"Gak gak gak! Libur sebulan."


◕◕◕


Di air terjun.


"Fan, Abid sama istrinya tu ketemu di mana??" tanya Ezhar.


"Kenapa lu harus tanya Fany?" Rangga kembali menunjukkan sisi posesifnya.


"Gue cuma deket sama Fany," jawab Ezhar.


"Lu bisa deket sama Eldi atau Tio, bisa nanya juga ke mereka atau ke yang lain. Kenapa harus ke Fany mulu?!"


"Udah gue bilang, gue cuma deket sama Fany!"


Rangga menghela nafas.


"Jangan sampe gue bogem muka lu ya, Ezhar."


"Apaan sih, Rang? Kenapa emosian banget kamunya? Dia cuma nanyaa!"


"Dia basa-basi doang biar bisa makin deket sama kamu, Fann," jawab Rangga sebel.


"Su'udzon teruss dah. Kan belum tentu juga niat Ezhar begituu," ujar Fany.


"Kamu belain dia terus ya?"


"Kamu mikirnya aku sama dia ada hubungan? Aku sama Ezhar cuma temenan, Raang."


"Gak ada hubungan pertemanan antara laki dan perempuan. Semisal ada, pasti salah satunya mendem rasa."


"Kalau emang kamu suka sama Ezhar, bilang sama aku. Biar aku gak capek hati capek pikiran," Rangga berjalan menjauh dari mereka.


"Jadi kamu capek sama aku?"


Langkah Rangga pun terhenti.


"Aku gak ada bilang sama kamu kek gitu. Kamu yang nyimpulin sendiri," jawab Rangga kalem.


"Ahh bacot mulu!"


Byur!!


Byur!!


Rangga dan Fany di dorong Eldi. Keduanya nyebur ke dalam air. Rangga yang tau Fany susah nafas kalau di air langsung berenang dan mencarinya.


Setelah menemukan Fany, Rangga membawa Fany kembali ke atas. Dengan kepanikan level max, Rangga mencoba memberi nafas buatan agar Fany cepat sadar.


Sampai beberapa menit berlalu, Fany pun terbangun.


"Ranggaaa..." Fany tidak menjawab dan malah memeluk Rangga.


"Aku ada di sini kok. Tenang ya, sayangg," kata Rangga sembari mengelus punggungnya.


Tepat di depan mata Rangga, Eldi sedang tersenyum tanpa rasa bersalah. Rangga melepas pelukan.


"Gil—"


"Gak usah ngomel mulu, makin tua ntar lu!" cibir Tio.


Rangga terdiam.


"Dari sini tu udah keliatan kalau lu berdua sama-sama takut kehilangan. Maka dari itu gak usah bacot deh pake drama-drama mau putus. Kunci keberhasilan hubungan itu saling percaya, jangan apa-apa di curigainn," omel Jefri.


"Bener nohh! Lu pasti punya temen cewek di kampus, jadi biarin Fany berteman sama cowok juga. Kalau lu gak mau Fany temenan sama cowok, lu jangan temenan sama cewek. Itu baru adil," sahut Sesill.


"Iyya iyyaa."


Rangga menatap Fany, "aku minta maaf sama kamu ya. Jujur, aku jealous liat kamu sama Ezhar."


"Aku sama Ezhar pure temenan kokk. Kamu gak usah takut aku berpaling, karena gak ada satupun orang yang bisa gantiin posisi kamu."


"Ah capee gue liatnya. Gue dorong ke air lagi ya?!"


"Iri hati!"


"Oasu."


"Hahahahahaa!"


◕◕◕


Hampir tengah hari di villa ayahnya Abid.


"Udah puas makan rujaknya?" tanya Abid. Balqis pun mengangguk dengan senyuman merekah.


"Balqis kenyang," ujar Balqis senang.


"Padahal aku yang banyak makannya."


"Hehehee, kepedesan sih tadii."


"Biasanya kamu doyan pedas," jawab Abid.


"Kali ini nggakk, ini pedes bangettt. Tapi kok abang kuat Balqis jejelin rujak teruss?"


"Gimanaa yaaa... kalau nggak aku makan ntar kamu yang makan semua, semisal kamunya gak mau, kan malah kebuang semua. Jadinya mubadzir," Balqis berohria panjang.


"Tapi bener sii bakal ke buang. Untungnya beli ga banyakkk."


"Iyyaa, untungnya gitu."


Balqis tidak membalas perkataan Abid. Ia berjalan menuju kulkas yang ada di dapur.


"Kamu ngapain lagi, sayaangg?" tanya Abid sedikit berteriak.


Balqis tidak menjawab, ia malas teriak. Karena penasaran, Abid menyusul Balqis.


"Kamu ngapain hm?"


"Eh, abangg. Cuma ambil makanan ringan kok, hehe."


"Tadi katanya kenyangg?"


"Tapi mulut Balqis masih pengen ngunyaahh." Abid pun tidak komplain lagi, ia membiarkan Balqis makan apa yang ingin ia makan.


Melihat Balqis sudah kembali ke ruang keluarga, Abid besibuk di dapur. Dirinya ingin membuatkan jus mangga untuk Balqis.


Seusai membuat jus mangga, Abid kembali ke ruang keluarga dan menghampiri Balqis. "Nih minum," perintah Abid.


"Jus... mangga?" Abid mengangguk.


"Wahhh! Kamu suami terdebess emang!" Balqis tersenyum sambil cengengesan lalu meminum sedikit jusnya.


"Emm enakk. Makasih, abangg!" Abid membalas dengan senyuman manisnya.


"Abang, kak Jefri beneran di selingkuhin sama Devina?"


"Iyaa. Devina milih temen cowoknya dari pada Jefri," jawab Abid.


"Kasian banget kak Jefri di selingkuhinn..."


"Aku sendiri juga jadi ga enak kalau liat Jefri. Tapi mau gimana lagi? Lagian kan memang gak seharusnya Jefri sama bocil smp kea Devina."


"Benerrr. Masa mahasiswa pacaran sama bocil smp, kan ga cocokk."


"Menurut abang kalau Vane sama kak Jefri gimana?"


"Gak gimana-gimana, malah itu lebih cocok. First meet Jefri sama Vane kemaren agak mencurigakan menurut ku, mereka pernah ketemu gak sih sebelumnya?" tanya Abid penasaran.


"Setau Balqis gak pernah. Tapi gak tau juga," kata Balqis. "Ngomongin first meet malah keinget first meet kita."


Abid tertawa kecil. "Besok pas cerita sama baby Chi gini, dulu nak, ayah sama bunda ketemunya gara-gara kena ciprat. Nama cipratannya, cipratan cinta."


Balqis terkekeh. "Balqis juga mo cerita gini, dulu bunda telat upacara pas first meet sama ayah kamu gara-gara kecipratan."


Abid cengengesan mendengarnya.


"Sebenernya aku gak nyangka tauu, kok bisa gitu aku jadinya sama kamu," ujar Abid sambil menatap lekat mata Balqis.


"Aku juga bingung, kok bisaa kamu nyantolnya di aku?" tanya Balqis ikut menatap Abid.


"Kecantol doang keknya waktu itu, terus jadinya payah lepasss."


"Elehh ngelesss!!"


"Hehehehe."


◕◕◕


"Pstt, psttt! Mas Tiooo!" Tio menoleh ke belakang, Meiga memanggilnya.


"Kenapa, sayang?"


"Capeekk. Rehat dulu yaa?" Tio mengangguk. Dirinya duduk di samping Meiga.


"Heh woii! Lu bedua berhenti gak ngajak-ngajakkk," dumel Eldi.


"Lu pada kan jagoo, gak berenti pun sanggup. Jadi ngapain ngajak-ngajakk?"


"Halah cocote. Bilang aja lu mau berduaan doang sama Meiga," goda Rangga.


"Yeah, benar!"


"Kampret!"


Tio nyengirr.


"By the way, sejak kapan Jefri sama Vane gandengan?" Mereka melihat ke tangan Jefri dan Vane.


Vane mencoba melepasnya, tapi Jefri malah menguatkan genggaman.


"Ini udah dari tadi, pas Vane mau jatuh makanya gue gandeng."


Pipi Vane memerah, dirinya ingin menghilang dari bumi sekarang juga! Vane malu >.<


"Lu bedua punya hubungan?" tanya Ezhar curiga.


"Untuk sekarang belum. Gak tau besok gimana," jawab Jefri.


"Saran gue, Van, kalau dalam waktu dekat Jefri tiba-tiba nyatain cinta ke lu, bagus lu tolak."


Vane menatap heran Tio.


"Kenapa gitu?"


"Bukan maksud jelek-jelekin Jefri ya, gue yakin Jefri juga gak bakal begini sih. Tapi gue cuma mengantisipasi aja biar lu gak sakit hati, bisa aja kan lu cuma di jadiin pelampiasannya Jefri?"


"And for u, Jef. Kalau lu gak bener-bener tulus sama Vane mending gak usah baperin. Ini antisipasi juga buat lu, biar gak kena karmanya."


"Yes, i know what you mean. But, gue bukan cowok brengsek yang sukanya mainin perasaan wanita."