A B I D

A B I D
– Soang



"Kakk" Abid tak bergeming, dia fokus dengan setir dan jalanan di depannya.


"Masa gitu aja ngambekkk si"


"Ngambekan mulu ihhh"


"Kakkkk"


"Abanggg" Abid menoleh sekilas, ia menggeleng lalu melihat ke jalan lagi.


"Bang Abiiddd jangan ngambekkk doongg"


Balqis menghela nafas sambil menatap kesal Abid, dia melepas sabuk pengaman lalu mencium pipi Abid secara tiba-tiba.


Abid diam, ia sedikit terkejut namun berusaha menetralkan ekspresinya.


"Bang, kalau abang masi marah Balqis balik marah!!" Abid menoleh lalu tersenyum smirk, "marah bilang-bilang."


Balqis menatapnya kesal, "sini dekat."


"Gak!"


"Satu" Balqis mendekat.


Cup~


Kecupan bibir yang mendadak, bertepatan dengan berhentinya mereka di lampu merah.


"A-apaaan siiih kak??"


"Kak lagi? Tadi abang"


"Mau dipanggil abang??"


"Daripada kakak. Kamu panggil Rangga kakak, masa manggil aku kakak juga"


"Tapii" Balqis menoleh.


"Lebih bagus panggil sayangg"


"Dihhh genittt!"


"Genit sama istri doang."


"Helehhh! Abang gak marah lagi??"


Abid menggeleng, "yang marah siapa?"


"Gak marah?? Terus dari tadi??"


"Cuma akting"


"Waahh!! Jadi aktor aja sana, nyebelin banget jadi orang!!" Abid tertawa kecil.


"Sebenernya emang marah, cuma bukan sama kamu."


"Jadi sama siapaa?"


"You know lah, baby."


"Masih aja marah gegara kak Silvia, abang apain tadi? Abang tu jangan jahat jahatt l--"


Cupp~


"Bawel banget kamu ya."


Balqis menyipitkan matanya sambil menatap kesal Abid, Abid terkekeh lalu kembali menjalankan mobilnya.


"Abang abang"


"Ulangi."


"Abang"


"Sekali lagi."


"Abaangg"


Abid menatapnya sambil tersenyum lebar, sesekali ia melihat ke arah jalan.


"Kenapa sih??"


"Kamu imut banget manggil aku abang, suaranya gemesin."


Balqis tertawa, "receh banget gombalannya."


Abid membalas dengan senyuman, tangannya bergerak menggenggam tangan Balqis. Sembari mengemudi, Abid mengecup tangan Balqis beberapa kali.


"Abangg"


"Hm?" Abid menoleh sekilas.


Cupp~


"I love youu"


Abid tersenyum lebar karena mendapat kecupan dan ucapan cinta secara dadakan, Abid menatap jalan dengan senyumannya.


"Nggak dibalesss?!"


"Nggak lah, ngapain."


"Kakak nyebelin banget hari ini!!!" Abid terkekeh, ia mengecup tangan Balqis lagi, "love you too, sayang. I love you so much."


"Uda ahh, liat jalan sana. Ntar nabrak"


"Pengalihan topik" Ledek Abid sedikit tertawa.


"Kita mau kemanaa?"


"Ke mana-mana pun jadi"


"Gak jelasss"


Tak menjawab, Abid membelokkan mobilnya ke arah rs. Rs itu milik mamanya Fany.


"Kak? Ngapain kesiniii??"


"Kamu butuh perawatan medis, ayok"


"Nggakk! Balqis gak mau, Balqis gapapa kok"


"Bantah sama suami? Tau itu dosa, kan?" Balqis menunduk.


"Ayok"


"K--"


"Ini demi kebaikan kamu, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Diluar iya kamu keliatan baik-baik aja, gak tau gimana dalamnya."


"Dan bisa aja sekarang kamu nutupin rasa sakit kamu di depan aku, kamu tau aku gak suka di bohongin."


"Balqis gak boong, Balqis beneran gapapa."


"Kita bakal tau setelah pemeriksaan. Sekarang, aku gak mau bantahan, ayok!!" Balqis menghela nafas. Ia baru sadar, Abid begitu posesif padanya.


Tidak ada pilihan lain juga tidak ingin membuat Abid marah, Balqis keluar dari mobil.


Abid menggandeng tangan Balqis, mereka masuk ke rs bersamaan. Tanpa mengetok pintu, Abid langsung masuk ke ruangan mama Fany.


"Wahh, apapaaan ini? Masa dokternya malah berduaan." Ledek Abid ketika melihat mama dan papa Fany mesra-mesraan.


"Kapan kamu datang Abid?!"


"Dua jam yang lalu, om."


"Eyy boong lah." Abid tertawa.


"Ehem.. gandengannyaa" Abid mengangkat gandengannya itu, ia menunjukkan cincin di jari manisnya.


"Udah sah om"


"Jadi ini yang--" Abid mengangguk.


"Balqis, ini mama papa Fany"


"Om, tante ini Balqis. Istri Abid"


"Balqis om, tante." Balqis menyalami tangan mama dan papa Fany.


"Kasian banget kamu kejebak sama Abid."


Abid menatap datar papa Fany, papa Fany yang di tatap hanya tertawa.


"Ngomong-ngomong, mau apa kesini bid? Gak mungkin kamu mau berkunjung"


"Bukan gak mungkin tante."


"Jadi?"


"Ah iya udah serah kamu, bid" Abid tertawa kecil.


"Ini tante, Abid minta tolong periksain Balqis. Kemaren dia abis luka luka gitu, Abid takut istri Abid kenapa-kenapa"


"Oh gitu, yaudah sini Balqis ikut tante" Balqis menatap Abid.


"Penakut amat, udah sana buruan"


"Cantik loh bid istri kamu, kok bisa dia yang kejebak sama kamu?"


"Takdir kek nya om, kalau orang ganteng tuh emang dapetnya yang cakep"


"Iyain bid iyain! Si Fany berulah gak?"


"Nggak, belum sih. Paling bentar lagi meresahkan"


"Meresahkan ketularan kamu." Abid tertawa.


Setelah sepuluh menit menunggu, Balqis dan mama Fany muncul.


"Bid, kamu kdrt?"


"Astaghfirullah. Su'udzon banget, tantee! Mana berani Abid mukul cewek"


"Lah ini buktinya, perutnya biru biru"


"Serius tante?!" Mama Fany mengangguk.


Abid langsung menatap Balqis, "nggak kerasa kak sama sekali kak, suuerr." Abid menghela nafas panjang.


"Tante bercanda Abid, gak mungkin kamu kdrt. Balqis udah bilang kok, dia jatuh ke jurang"


Abid diam, "jadi gimana tante? Ada yang serius sama luka-lukanya?"


"Nggak ada kok, perutnya biru-biru karena biru doang. Kecubit setan jurang paling."


"Lain kali istri kenapa-kenapa di perhatikan, bid" protes papa Fany.


"Yang bermasalah gak bilang apa apa ke Abid, padahal udah di tanya. Sukanya bohong, gak pernah jujur. Bilangnya gak kenapa-kenapa, taunya kenapa-kenapa"


Balqis melihat Abid, 'kak Abid marah deh kayaknya.'


"Wahh, om jadi takut ada perang dingin diantara kalian"


"Perang ranjang mungkin, pa" jawab mamanya Fany, Abid terkekeh. Sedangkan Balqis sudah menunduk karena pipinya merah.


"Gak nyangka sih, kamu masih bocil udah beristri"


"Lah, om dulu udah tua baru beristri"


"Ponakan kurang ajar!! Sini kamu!!!" Abid terkekeh lagi.


"Cabut ahh cabuttt, omm tua marahh" Abid pergi sambil menarik tangan Balqis.


"Heh bayar!!"


"Kapan-kapan, tante" Papa dan mama Fany ikut tertawa melihatnya.


Abid itu dermawan dan adil, meskipun berobat di RS tantenya dia akan tetap membayar sesuai aturan.


Selesai membayar, Abid pergi menuju mobilnya tanpa suara.


"Abang ngambek lagi?"


"Tadi tu sumpah bang, Balqis gak tau juga gak ngerasa sakit"


Abid diam, "dengarkan apa yang dibilang papa Fany tadi? Lain kali istri kenapa-kenapa diperhatikan, bid. Kamu tau apa yang aku rasain??"


Balqis menunduk, "maaff."


"Aku gak berguna banget gitu jadinya!"


"Balqis minta maaff kak, Balqis beneran gak tau biru biru itu."


"Tadinya aku mau bakar perjanjian kita tentang setahun itu, tapi keknya gak jadi. Aku bisa jagain kamu kalau kamu jujur sama aku, tapi nyatanya kamu gak jujur."


"Jadiii donggg, Balqis janjiii, kedepannya bakal kasih tau apapun ke abang. Balqis bakal kasih tau kalau di bully, Balqis bakal kasih tau kalau di jahatin, Balqis bakal ngadu kalau sakit. Balqis janjii, janjii gak akan nutupin apapun dari kamu"


"Bullshit" lirih Abid masih sambil menyetir.


Balqis menatap Abid, namun Abid berpura-pura fokus dengan jalanan di depannya. Dia tidak memperdulikan Balqis.


Merasa di kacangi, Balqis melihat keluar jendela. "Demenannya ngambekan mulu. Maunya di bujuk terus, padahal harusnya cewek yang ngambek, cewek yang di bujuk. Emang dunia dah kebalik."


"Gak usah ngedumel."


"Ya gak usah ngambek teruss"


"Jujur makanya!"


"Ish, tadikan udah dibilang! Balqis juga gak tau. Balqis udah minta maaf jugaa tetep ajaa ngambek."


Mendengar suara Balqis yang berubah, Abid yakin Balqis meneteskan sedikit air mata.


"Janji bakal jujur?!"


"Janji"


"Jujur tentang apapun?!"


"Iyaaa"


"Kalau nggak apa konsekuensi nya??"


"Balqis gak mau pisah, jadi konsekuensi nya hukuman aja!"


"Hukuman apapun diterima kan?"


"Iya!"


"Termasuk hukuman ranjang?"


Balqis menoleh ke Abid, Abid menoleh juga ke arahnya dengan senyum smirk yang menggoda.


"Punya otakk kok isinya 'gituan' mulu!" Abid tertawa pelan.


"Kiss"


"Gak!"


"Ngambek gantian?"


"Gak!"


"Bilangnya eggak tapi ekspresi kek gitu. Mau es krim?"


"Gak!"


"Mau jajan?"


"Gak!"


"Mau beli cake?"


"Gak!"


"Mau aku?"


"Gak! Eh??" Balqis menoleh melihat Abid dengan muka datarnya.


"Perang dingin kah??" Abid diam, Balqis menatap luar jendela lagi.


Tiba-tiba mobilnya berhenti, Abid menarik tangan Balqis. Balqis yang ketarik langsung berbalik menghadap Abid.


Abid menempelkan bibirnya ke bibir Balqis. Balqis terdiam, matanya perlahan memejam ketika ciuman Abid semakin liar.


Tiga menit kemudian, Balqis menepuk dada Abid. Abid melepasnya lalu menatap mata Balqis.


"I-ini di mobil, jangan aneh-aneh."


"Macet panjang, gak ada salahnya first time di mobil."


"J-jangan ngacooo!!" Abid tertawa pelan, jarak diantara mereka masih sedekat tadi.


"Kamu tadi udah janji, jangan diingkari" Balqis mengangguk.


"Abang juga harus janji, kalau ada masalah cerita sama Balqis."


Abid tersenyum lalu mengecup bibir Balqis, kemudian kembali ke tempat duduknya.


"Dasar soang"


"Soang apa?"


"Angsa yang suka nyosor!!"


"Jadi aku soang??"


"Iyaaaaalah"


"Soang ganteng aku mah"


"Dihhhh. Ganteng doang... eh nggak deng, ganteng bangettt" Balqis dan Abid terkekeh pelan.


Cup~


"Sayang abanggg Abidd" Abid tersenyum lebar, matanya tetap menatap jalanan.


"Aku masih ngambek lah"


"Bodo amat"