
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam, kok baru pulang?"
"Tadi macet banget di jalan bundaa, maaf ya hehe."
"Iyaa gapapaa."
"Bang Abid mana, bund?"
"Di kamarnya, liat ajaa." Bukan bunda Abid yang jawab melainkan Abiyyu.
"Yaudah, kalau gitu Balqis samperin bang Abid dulu ya, bund, kak." Keduanya mengangguk.
Balqis menuju ke kamar Abid sambil membawa beberapa belanjaan yang dibelinya tadi.
Tok tok!
"Assalamu'alaikum, abaangg?"
"Emm? Wa'alaikumsalam, masuk ajaa." Balqis pun masuk.
"Ebusettt, abang kenapaaa?"
"Abis di smekdon sama bunda, di hantam Abiyyu, di botakin ayah." Jawab Abid pelan, Balqis menahan tawa melihat kondisi Abid sekarang.
"Mau ketawa ya ketawa aja sayang, jangan di tahan."
"Nggak kok abangg. Abang makin ganteng jadinyaa."
"Tak payah berdusta, wahai istriku." Balqis pun tertawa mendengarnya.
"Nggak pulang??"
"Nggakk, besok ajaa. Soreean," Balqis berohria. Ia berjalan menuju lemari, mengambil baju lalu menggantinya. Kemudian menghampiri Abid di kasur.
"Abang kenapaa sampe botak gini? Bener-bener botakkk astaghfirullah."
"Tadi kan aku tuduh Abiyyu yang ngajarin Avi kotor-kotor. Rupanya nggakk, Avi malah nuduh aku. Auto di gebukin bunda, di hantam Abiyyu terus di botakin sama ayaah."
Balqis tertawa kecil, "jadi sebenernya siapa yang ngajarin?"
"Temen Avi. Pokoknya aku musuhan sama si kembar."
"Gak boleh gitu tauu, gapapa kok mantepp botak jadi kek madun."
"Sejak kapan madun botakkk, munarohhh?!" Balqis terkekeh.
"Kamu mah enak bilangnya gapapaa, kalau aku mau songong di depan Rey gimana? Yakali aku songongin ni botak kilatt. Bisa di bully akuu!"
"Jauh amatt mikirnya. Pake topi aja ke kampuss, terus belakangnya di tutupin pake tudung hoodie. Lagian abang botak juga tetep ganteng."
"Ya orang ganteng di gimanain juga tetep ganteng, sayaangg."
"Beli apa kamu tadi?" Tanya Abid.
"Beli beberapa baju kaoss, untuk abangg."
Abid menatap Balqis, "kok untuk aku? Kan aku suruh untuk kamuu."
"Iyaa aku juga belii kok. Tau nggak aku beli apa?"
"Lingerie?"
"Ngada-ngadaaa, ya jelas nggakkk."
"Kirain lingerie, aku dah bayangin kamu pake lingerie pasti seksiii bangett."
"Mesumm sekaliii, tuan Abid!" Abid cengengesan.
"Jadi kamu beli apaa?"
"Aku beli gamiss sama hijabnya."
"Seriusss? Berapa pasang??"
"Dua doang si, hehee."
"Duhhh pengen liattt istriku pake gamissss." Balqis jadi malukk.
"Balqis juga beliin abang baju koko, warna kompak sama baju gamis Balqis."
"Bagusss. Pinter banget emang istrikuu," Balqis tersenyum mendengarnya.
"Ayah botakin abang pake apaan? Kenapa botak licinnn bangettt?"
"Pake gunting, motong asal gitu ajaaa. Tapi sampe kandass bangettt. Buat ngerapiin aku ke salon lahh, botakin sekalian."
"Iihh, ucull tauuuk."
Tok tok!!
"ABAAANGG!"
"Gak terima tamu! Jangan lupa kita kemusuhann!"
Abid dan Balqis mendengar suara kekehan Avi di luar.
"Ishhh, nanti Avi beliin seblak dehh. Jangan kemusuhann yaaa."
"Seblak seblak lambemuuu, gak gakk. Gak mempan di sogok seblak!" Balqis tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat Abid.
"Yasuda kalau begituuu. Padahal tadi Avi dapat thr dari ayah, rencananya mo dikasi ke abang untuk bayar utang."
Abid terkekeh, "NIPU AJA TEROSSS. PUASA AJA BELOM UDAH THR."
"Oiyaa."
"Ahh, lu sih, Dep. Bilangnya thr, ketawan bongak kann."
Abid tertawa mendengarnya.
"Udaaaa sanaa goo! Kemusuhann kita pokoknyaaa!"
"Oke fine. KITA KEMUSUHANN!"
"YA!"
Tok tokk!
"UDAH DI BILANG KEMUSUHANN."
"INI BUNDA YA, BID. MAU BUNDA SMEKDON LAGI KAMU?!"
"Ampun dah guaaa." Balqis terkekeh.
Abid mengambil baju kaos nya kemudian membukakan pintu.
"Apa, bunda?"
"Ituuu, ayah tadi beliin martabak. Makan buruan, nanti diabisin ngomel kamu."
"Ga mau, Abid kemusuhan sama bunda juga."
"Bunda SMEKDON lagi nanti kamu!"
"Iii, takutttt." Abid berlari masuk ke kamarnya, bunda Abid pun ikut berlari menarik baju Abid dari belakang.
"Belum layak nikah ni harusnya! Ayok ikutt!"
"Balqis juga ayok ikut, nak."
"Iya bundaa," jawab Balqis masih terkekeh.
"Ngomong sama mantu kalemm, giliran sama anaknyaaa.. liat la inii, macemm anak kucing di gerett."
"Berisikk!" Abid terdiam.
"Hello, abang botakk."
"Gak usah sok kenall!" Bukannya merajuk si kembar malah terkekeh.
"Kok jadi botak si, Bid??"
"Ya cemana gak di botakinnn, ayaaahh. Kan ayah motongnya kandasss," keluh Abid.
"Iya juga sii."
"Sabar Abid sabar. Manaa martabaknya? Ini kan satee."
"Mata tu di pakee, itu kan martabaakk!" Abid menoleh.
"Oiya. Ya maap, bundd, kirain agar-agar tadi." Abid mengambil lalu mengunyahnya.
"BEDA JAUHH, SAMSUDINNN!" Abid nyengir kuda.
"Balqis, lu cantik gini gak cocok sama orang botak. Sama gue aja sini lu," Pinta Abiyyu.
"Abwiyyu aswu." Abid buru-buru menelan kunyahannya.
"Gak ada akhlaknya emang si Biyuu!" Abid kesal, Abiyyu tertawa.
Abid menoleh kearah Avi Devi, mereka berdua sedang merekam Abid.
"Hehh!! Astaghfirullahalazim, berdosaaa! Vi jangannn, apii! Woii!"
"Mana sempattt, keburu masuk watsapp." Jawab Devi sambil tertawa.
"Aksksksksksksks."
"Hshshshshshshsh."
"Kalian berdua makhluk mars?!" Tanya Ayahnya kesal. Abid dan Avi tertawa.
"Bund, masa tadi bang Abid kasar sama Devi.."
"Ya Allah. Udah lah di bully, di pitnah lagiii. Ngenes bangett lu, Biddd." Mereka terkekeh bersama.
"Awas kena karma lu pada!"
"Bid, kamu do'ain ayah sama bunda kena karma?"
"Loh lohh, kokk.. kok marahhh? Geer bangett uwak ini bahh." Abay mengelus dada mendengar jawaban Abid.
"Kok betah kamu, Balqisss, punya laki kek begini?!"
Balqis tidak menjawab, sedari tadi ia tertawa melihat interaksi mereka.
"Dahlah, Devi mo tidur. Besok sekolahh, bye!" Avi dan Devi pergi.
Tidak tau ada angin ribut apa tiba-tiba mereka berdua tersungkur bersamaan. Siapa yang tertawa paling keras? Ya jelas Abid.
"KAN KENA KARMAAA!"
"HUAAAA, BUNDAA BANG ABID JAAHATTT!"
"Abidd!" Abid terus terkekeh.
"Liat aja yang bang, kita kemusuhann!"
"Bodoamattt!" Mereka berdua langsung pergi ke kamar.
"Abiyyu juga mau tidur, besok kerja." Abiyyu beranjak dari tempat duduknya.
Ketika ia jalan ke kamar, baru beberapa langkah ia terhenti.
"Bid, lepasinn!" Abiyyu memaksa jalan.
Kreekkk!!
Bajunya koyakk!
"Biddd, ini baju fav guaaa!" Karena merasa belum di lepas-lepas, Abiyyu menoleh kebelakang.
Ternyataa baju Abiyyu nyangkut di pakuu!!
Lagi-lagi Abid ketawa terkekeh terbengek-bengek.
"KARMA IS REAL PEMIRSAAAA!"
❃❃❃
06.43
"Haloo gaissseuuu, selamat pagii!" Abid turun sambil mengacak-acak rambutnya.
Lohhh.. kan botak!
"Kamu ngapain bawa handuk pura-pura ngeringin rambutt? Kan botakk!"
"Ada rambutnya nii, dikit. Ayah mo liat?"
"Nggak, Bid. Makasii," Abid tertawa kecil.
"Huu, ngabisin sampo ajaa! Dahla botakk, sok-sokan keramass!"
"Kan kita kemusuhann! Ngapain ngomong sama abang?!"
"Kamu gak kuliah, Bid?"
"Nggak, bundd. Kenapaa?"
"Gapapaa."
"Ke kantor ya kamu, Bid!" Abid mengangguk.
"Nanti nyolong bajunya Biyuu."
Abiyuu menatap sinis Abid. Sedangkan yang di tatap nyengir menunjukkan wajah tanpa dosa.
"Abang mau makan pake apa?"
"Apa aja, sayang." Balqis menyiapkannya lalu memberikan pada Abid. Abid makan dengan tenang.
"Devi kesilauan gara-gara si botak nii." Abid tersedak.
"Adek kurang ajar emang!" Devi cengengesan.
"Balqis nanti disini aja deh ya, bid. Bantu bundaa bikin kueee."
Abid mengangguk, "terserah bunda. Bikin kue untuk apaa?" Tanya Abid sambil makan.
"Mau reunian sama temen-temen ayahmuuu."
"Reunian disini?" Ayahnya mengangguk.
"Tumben uwak ini mau repot-repott ngadain reunian."
"Uwak uwakk terosss, ayah potong gaji hajab kamu!" Abid cengengesan.
"Maapp ayahh, ayah ganteng kok. Masi muda jugaa, baru delapan belas taun kan?"
"Mau ayah botakkin lagi kamu?!" Abid menggeleng sambil tertawa.
"Bang Abid berdosa bangettt, parahh." Abid cengengesan.
"Guyonann lho. Gak sekolah kalian berduaa?"
"Sekolah, bentar lagii."
"Cepetan makannya! Makan roti aja lama bangettt, liat dah jam berapa ini!" Avi Devi melihat jam yang ada didapur.
"Eebusett!!" Mereka berdua langsung lari ke kamar.
"Biyuu juga mau siap-siap kerja. Makasih makanannya, bundaa." Abiyuu pergi.
"Makasih makanannya, bundaa. Abid mo nyolong baju Biyuu." Abid mengejar Abiyyu.
"Baju gue gak muat di luu!" Omel Abiyyu.
"Macem gede banget lu, masss. Muat pastii! Btw, mas, dulu waktu jahat nama lu siapaa?"
"Lucky."
"Jelek kalii, bagusan Lucifer."
"Mas getok pala mu, ya!" Abid nyengir kuda.
"Pilihlah baju mana yang mau kamu pakee." Abid menuju walk in closet Abiyyu. Berjejer lah baju bajunya Abiyyu.
"Masss Biyy, baju lu kebanyakan pinkkk anjirrr."
"Buta warna apa gimanaa sii lu? Mana ada baju pinkkk!"
"Loh ini?!" Abiyyu masuk.
"Itu putih oon, gara gara lampunya pink jadi ikutan pink." Abid berohria.
"Gue pinjem warna itemm." Abid mengambilnya.
"Pinjem gak di balikin ya, mas. Makasi sama-sama." Abid langsung pergi, Abiyyu geleng-geleng kepala melihat ulah adiknya itu.
"Astaghfirullahalazim, sayaaangg." Abid terkejut melihat Balqis berada di kamarnya.
"Iiih kenapaa?"
"Kamu sejak kapan disinii?"
"Barusan, hehe. Abang ganti baju gih, buruann."
"Aku ganti di sini aja gimana kira-kira?"
"Dih dihhh," Abid tertawa kecil. Ia masuk ke ruang ganti lalu keluar menggunakan pakaian formal dari Abiyyu.
"Abaang sini." Abid menghampiri Balqis.
Balqis sedikit berjinjit untuk memasangkan dasinya Abid. Abid terus menatap Balqis selama ia memasangkan dasi.
"Udah siapp." Balqis tersenyum.
"Aku jadi keinget waktu kita pertama kali ketemuu."
"Abang gak mau di pasangin dasiii, dasinya di kantongi." Abid tertawa mengingatnya.
Cup!
"Morning kiss."
"Dasar mesumm! Ayooo, tadi Devi Avi minta bilangin anterin merekaa."
"Kan kemusuhann."
"Kemusuhann terusss. Buruann ish!"
"Iya iyaa." Abid mengambil hoodie kemudian memakainya.
"Ayok anterinn." Abid menggandeng tangan Balqis mengajaknya pergi keluar kamar.
"Ayah gak kerja?"
"Nggakk, nanti bunda mu repot nelpon kalau ayah tinggal."
Abid berohria, "hati-hati jadi nyamuk kamu, sayang."
"Biiidd, bunda lempar mangkok ini, yaa!" Abid nyengir kudaa, ia mengambil topi Abay lalu memakainya.
"Tak botak botakk, bang Abid palanya botakkk."
"Sabar Abid, sabarr."
"Hihiii. Abangg, anterin ya."
"Y."
"Dih dihh, minta anterin mas Abiy aja dehh."
"Oiyaa, abang bawa motor doangg. Mas Biy, nebengg!"
"Sama aja lu betigaa!" Mereka cengengesan.
Abid dan kedua adiknya menyalami tangan ayah dan bunda mereka.
Balqis menyalami tangan Abid, Abid mengecup kening Balqis. "Jangan kecapekan, yaa!" Balqis mengangguk.
"HEEEE, MERESAHKAN!"
"Makanyaa bebinii! Hahahaa!"
"Abid syalaannddd!"
❃❃❃
19.57
"Jam berapa acaranya, yahh?"
"Jam delapann, kamu sama yang lain jangan dekem di kamar. Ikut gabung ajaa, temen-temen ayah bawa anaknya kali inii."
"Banyakkahh temen ayah?"
"Gak banyakkk. Cuma sepuluh kepala keluarga, dua duda, satu lajang."
"Ebusett. Ada yang lajang?"
"Adaa, gak mau cari istri diaa. Istrinyaa komputerr."
"Astaghfirullah, mantap sekalii!" Sahut Abiyyu.
"Kamu jangan gitu, Biyyu! Ayah bunda masih menunggu cucuu, kalau gak dari Abidd ya dari kamu!"
"Iya iya, bundaa. Ngebet banget punya cucuu."
"Takuttt ntarr kagak sempet, Biyy. Ajal gak ada yang tauu," Abiyuu dan Abid terdiam.
"Abaangg, kak Balqis mana?"
"Itu siapa, segede ituu gak nampak?" Devi cengengesan.
"Abid ke kamar dulu ya, mo ganti bajuu." Abid masuk ke kamarnya. Ternyata Balqis menyusul.
"Abaanggg."
"Ehh, kenapa sayangg?"
"Nggapapa, abang mikirin apaan?" Abid geleng kepala.
"Gak ada kok."
"Tentang cucu ya? Ayo buat." Abid tertawa mendengarnya.
"Kuliah mu gimana ntarr?"
"Kannn.. kan bisa cuti kalau mau lahirann."
"Apa kata temen-temenmu ntar liat kamu hamil pas kuliah?"
"Yaa emang kenapa kalau Balqis hamil pas kuliah? Kan punya suamiii." Abid berfikir.
"Jangan sekarang deh, sayang. Nunggu kamu tamat dulu baru buat, yaa. Abiyyu aja duluan nantiii."
"Kenapaa?"
Abid menghampiri Balqis, mengelus pipinya. "Siap lahiran kamu pasti jagain baby nyaa. Belum lagi nantii kalau mau nyusun skripsi. Kamu harus ngurus aku, ngurus baby, ngurus skripsi. Aku gak mau kamu kurang tidurr."
"Dan jugaa.. aku belum siapp liat kamu bertaruh nyawa ngeluarin baby kitaa. Jadii, ditunda lagi aja yaa?" Balqis mengangguk sambil tersenyum.
Bersyukur banget punya Abid, si botak yang pengertian:v
"Yaudah ayok keluar, keknya udah rame."
Sambil menggandeng tangan Balqis, Abid keluar. Di dalam rumah sepi karena acara di taman belakang.
"Kalau papa masih hidup, papa pasti ikut." Abid menoleh.
"Balqis rindu papa mama."
Abid memeluk Balqis erat, ia mengelus punggung Balqis untuk menenangkannya.
"Mama papa udah tenang disanaa. Jangan nangis yaa, mereka pasti gak mau kamu nangis."
Abid melepas pelukan lalu mengelap air matanya.
"Jelek bangett issshh." Balqis memukul lengan Abid, Abid terkekeh.
"Btw, kamu mau keluar botak botak?" Abid memakai tudung hoodie dan mengikatnya. Leher serta kepala Abid tertutup rapat.
"Lawakk betull si botak nii!" Abid menatap sinis Balqis yang terkekeh. Mereka berjalan menghampiri bagian makanan karena disitu ada bundanya.
"Mas Abiy!" Abiyyu menoleh.
Abid mengode kalau ada wanita cantik di samping bundanya yang bisa di jadiin biniiii.
Taaapiiii, antara begoo dan tololl, Abiyyu malah gak ngehh!
Agak jauh dari sana, Abay sedang berbincang dengan papanya wanita cantik yang di tunjuk Abid.
"Anakmu tumben mau ikut?" Tanya Abay.
"Emangg selalu ngekorrr kemana mamanyaa."
"Singlee kah?"
"Iyaa. Pengen ku jodohinn, takut ntar dia malah zinaa. Tapi gak tau, mau di jodohin sama siapa."
"Anakku single tuu."
"Yang mana?"
"Abiyyu."
"Sabilahhh. Tentuin aja langsung tanggal nikahnya."
"Hahaha, kecepetan itu mah!!"