
07.45, senin pagi.
Balqis mulai membuka matanya saat sinar matahari menerobos masuk ke kamar.
Pertama kali yang dilihatnya saat bangun adalah Abid. Muka Abid yang terlihat sangat dekat dengannya, Balqis berada di pelukan Abid.
Balqis memandang Abid, tanpa sadar dia melihat ke bawah. Balqis terkejut melihat dirinya dan Abid tak pakai baju!
Perlahan Balqis ingin melepas pelukannya, ia tidak ingin menganggu Abid. "Jangan dilepas"
Suara serak Abid menghentikan gerakannya, "t-tapi kak ini.."
"Gue belum apa-apain lo. Jadi sebaiknya, lo diem" Balqis terpaku.
Melihat Balqis diam, Abid membuka matanya. "Sayang" Balqis berdehem.
"Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, karena itu aku gak mau kamu cedera lagi, aku gak mau kamu kenapa-kenapa lagi. Jadi, aku mau..."
"...kita pisah"
"Nggak!!" Dengan cepat Balqis menolaknya.
"Balqis gak mau!! Nggak sama sekali"
"Tapi kamu--"
"Nggakk.. hiks hiks.. Balqis gak mauu"
"Aku gak mau kamu kenapa-kenapa! Kalau kamu disisi aku terus bisa bisa kamu jadi korban semua musuh aku. Karena Silvia aja kamu udah gini"
"Balqis gak perdulii! Selama ada kakak, Balqis yakin Balqis pasti amann.. hiks hiks.. Balqis percaya kakak gak bakal biarin Balqis kenapa-kenapa. Balqis mohon kita jangan pisah yaa"
Balqis mengelap air matanya, "Balqis bener-bener gak mau kita pisah."
Abid memeluk Balqis lebih erat dari yang tadi, "aku beruntung punya kamu."
Abid melepasnya sebentar, ia mengecup kening Balqis lalu mengelap air matanya. "Jangan pernah tinggalin aku."
"Jangan pernah lagi bilang kakak mau pisah" Abid tersenyum, ia mendekapnya kembali.
"Kak, kenapa gak pake baju si?? B-Balqis juga maluu ini"
"Ngapain malu, kayak punya ajaa"
"Ya punya lahhh!!" Abid terkekeh.
"Aku masih ngantuk. Jangan ganggu jangan pergi, oke??" Balqis mengangguk.
Ide jahat muncul di otaknya. Ia mendadak jahil, tangannya membelai dada Abid. Gerakan tangan itu membuat Abid menegang. "Balqis, jangan macem-macem tangannya" Balqis tertawa pelan.
"Kak, gak sekolahh?"
"Libur dulu, sehari"
"Nanti--"
"Aku yang izinin ke buk Jihan"
"Dahh diemmm, aku ngantukkk"
Balqis menganggukkan kepalanya, "tapi kak.."
"Kenapa??"
"Itu yang di baw--"
Abid membuka mata, "makanya diem jangan gerak"
"Kalau lo gerak lagi...."
Tiba-tiba Abid bangun lalu menindih Balqis, "..kita main pagi ini"
Balqis terkejut dengan gerakan Abid, matanya terus menatap Abid. Ntah sadar ntah tidak, Balqis menggigit bibir bawahnya.
"Jangan digigit gitu" Deep voice yang menggoda.
Mereka terus bertatapan, lima menit kemudian Abid turun dan tidur di samping Balqis lagi. Abid memeluk Balqis sambil mengelus rambutnya.
Abid bisa mendengar Balqis bernafas lega, tangannya pun memeluk tubuh Abid.
"Kamu cantik banget ya bangun tidur"
"Apaan sih kak?!" Abid tertawa kecil.
"Kenapa gak jadi tadi?" Abid melepas pelukan lalu menatap muka Balqis.
"Kamu mau?"
Balqis tidak menjawab, dia hanya mengedipkan matanya. Abid tersenyum, ia memeluk Balqis lagi.
"Aku gak maksa kalau kamu belum siap, toh juga kita masih SMA. Kamu masih kelas dua dan aku masih kelas tiga, ekonomi kita juga belum terlalu tercukupi. Lagian, aku masih belum mau liat kamu kesakitan sambil ngeluarin anak kita. Dan aku yakin kamu pasti masih mau kejar cita-cita sebelum jadi ibu rumah tangga"
Balqis tersenyum di pelukan Abid, "makasiii udah ngertiin Balqis. Balqis sayang banget sama kakak."
"Sayang kan?" Balqis mengangguk.
"Jangan gerak banyak banyak, yang dibawah sensitif." Balqis terkekeh pelan.
'Sumpahhh, sesak bangettt asuukk. Meluk doi aja ginii, gak bisa gak bisaa. Gak kuattt!!!' Sontak Abid melepas pelukan lalu menjauh.
Abid keluar kamar tanpa memakai bajunya.
"Bid, lo abis ngapainnn?!!!"
"Aihh, diem lu diemm!" Rangga tertawa.
"Ada yang tegak tuh, hahahah"
▪▪▪
"Balqis, si Abid kenapa??"
"Balqis gak tau kak, masa tiba tiba lepas pelukan terus pergi." Rangga dan Jefri terkekeh.
"Mampusss, mandi air dingin tu anakk." Ledek Rangga sambil terkekeh.
"Kalian tadi ngapain aja emangg??" tanya Tio yang mulai ngeh arah topik pembicaraan.
"Pelukan.. doang."
Mereka tertawa kecil, "miskin iman tu anak. Pelukan aja sampe tegang."
"Tegang?? Oooooalahh!! Balqis kira kak Abid kenapaa." Balqis tidak terlalu polos, sedikit banyaknya dia mengerti maksud teman suaminya.
"Gangguin ahh."
"Balqis mulai jahil ya, bund." Ledek Fany.
Balqis terkekeh pelan, lalu berjalan menuju pintu kamar Abid.
Ceklek..
"Mau apa?" suara datar Abid mengejutkannya.
"Ng-nggak"
"Mau main? Ayok masuk"
"Ng-nggak nggakk!!" Balqis lari menuju kamarnya. Mereka terkekeh melihat dua sejoli itu.
"Ganas ganas, jadi seremm." Ledek Jefri sambil terkekeh.
"Lama amat lu mandi, gak kedinginan pak?" tanya Tio dengan nada meledek.
"Diem luu, sesaakkk banget anjirrr"
"Lemah iman luu!!"
"Gegara si Rangga bajing, kalau gak otak gue bersih sampe sekarang."
"Anjiiir suujon" Rangga tertawa.
"Kakak kakak mau makan apaa??" tanya Balqis, ia hanya mengeluarkan kepalanya.
"Sini kamu" Balqis menggeleng pelan.
"Kok takut gitu" Ledek Jefri, Balqis cengengesan.
"Sini buruan"
Pelan tapi pasti Balqis keluar kamar lalu mendekat ke Abid yang duduk di sofa. Abid menatap nya kemudian menarik tangan Balqis.
Balqis terjatuh di pangkuan Abid, Abid memeluknya dari belakang.
"Ssstt, diem" Balqis terpaku.
"Gak bisa boong gue, Abid sweet psycho"
Abid tertawa, "daripada si Jefri om om pedo" Jefri gantian tertawa.
"Ngomong-ngomong psycho, gue baru inget sesuatu"
"Apa?" Tanya Abid yang kini menyandarkan dagunya di pundak Balqis. Balqis sudah mulai rileks dengan posisinya.
"Heon psycho"
"Hah??"
"Iyaa, Heon psycho. Semalam pas ketemu Silvia, dia mau nguliti Silvia. Anjirr gaktuuu"
"Wah, Heon nyereminn" ledek Fany.
"Pengalaman pak?" tanya Rangga.
"Kagak la asuu, gila apa gue nguliti orang"
Mereka terkekeh, "ohiya kak Silvia dimana? Dia gapapaa?"
"Ngapain kamu peduliin, dia yang bikin kamu cedera"
"Balqis cuma tanya"
"Dia di markas Black blood" Balqis mengangguk-angguk. "Dikasi makan, kan? Gak di apa-apain kan?"
"Balqis!!"
"Iya iya maapp"
"Kakak ipar jangan kebaikan, ntar dijahatin terus" sahut Eldi.
"Kakak ipar?!"
"Eldi kan baru dua taun bang"
"Gue geli, gue jijik" Mereka terkekeh.
"Btw, enaknya di apain tu Silvia?"
"Kan udah gue bilang di kuliti" jawab Heon.
"Potong potong aja jarinya" Jefri menyahuti.
"Seketika gue takut punya temen kek lu bedua" Jefri dan Heon tertawa pelan.
Kriuk.. Kriuk...
Suara perut Abid terdengar keras.
"Gue laper, kita delivery aja. Lo pada mau makan apa??"
"Lu bayarin?" Abid mengangguk.
"Bid, lu jangan boros lah. Abis berapa juta lu ngurusin kami mulu. Lu punya tanggungan sekarang"
"Tanggungan gue gak berat, gak doyan ngabisin duit"
"Lagian gak ada salahnya kak Abid bayarin kakak semua"
"Nahkan, istri gue juga b aja. cup~ cup~" Abid mengecup leher Balqis.
"Emang gada akhlaknya si Abid"
Abid terkekeh, "gue yang pesen makanan. Jefri yang bayar, valid no debat"
"Bangsattt, gue juga yang kena"
❇❇❇
Abid masuk ke markasnya dengan tatapan datar, sangat menyeramkan hawa di dekatnya.
Tok tok..
Abid membuka pintu.
"Apa kabar? Kok belum mati??" Silvia menegang, Abid berjalan mendekati Silvia.
"Lu mau apa sekarang? Mau gue bunuh, atau pergi dari kehidupan gue??"
"B-Bid, aku mau kamu"
Plak!!
Plak!!
"Gue gak biasanya kasar sama cewek, tapi sikap lu yang maksa gue buat kasar. Lu udah berkali-kali nampar Balqis, kan?"
"Tanpa dikasih tau, gue tau apa aja kelakuan lo sama semua cewek yang dekat ke gue. Lu jallang dari segala jallang!!!"
Silvia menundukkan kepalanya, Abid menghela nafas mendengar suara tangisan Silvia.
Abid mencengkram rahang Silvia. "Gue kasih dua pilihan, mati atau pergi jauh dari hidup gue"
"A-aku pergi, aku bakal pergi. Pergi ke Rusia" Abid tersenyum smirk.
"Gue kasih waktu sampe nanti malam, kalau gue masih denger lu di Indonesia.. Lu gak bakal nafas lagi"
"Lo tau gue serius sama perkataan gue, kan?"
Silvia diam sambil sedikit mengangguk, Abid melepas kasar cengkramannya lalu keluar. Heon dan yang lain pun masuk.
"Minta maaf ke Balqis, and next time jangan main-main sama Abid. Abid gak pernah sekasar tadi ke cewek"
"Asal lu tau, kalau bukan karena permintaan Balqis, gue yakin lo udah kesusahan nafas sekarang."
Di sisi lain, Abid keluar dari markas menghampiri Balqis yang ada di mobil.
"Gak kakak apa-apain kann??" Abid menggeleng.
"Kakak emosi yaa??"
"Gimana nggak, liat tu tangan lo, luka karena dia."
"Balqis baik-baik aja kok"
"Gue yang gak baik-baik aja"
"Kakak jangan nyereminn gitu kekkk"
"Pindah kedepan, gue bukan supir" Balqis keluar mobil lalu masuk lagi di posisi samping Abid.
"I want kiss"
"No"
"Fine"
"Dihh ngambekkk"