The Two Empresses

The Two Empresses
Mirror



"Aku punya pertanyaan," celetuk Rendy sembari menatap tajam Cerlina yang duduk paling depan. Gadis itu menoleh dan menatap balik.


"Bertanyalah."


"Kenapa kau membutuhkan Mata Oorun?" tanya Rendy. Cerlina diam sejenak.


"Karena para flügel berada di ambang kepunahan dan mereka butuh kristal itu untuk bertahan hidup, setidaknya untuk sementara waktu," jawab Cerlina.


"Flügel? Ah, ras itu. Berarti dewa sudah mencampakkan mereka?"


"Tidak, dia mati dibunuh," balas Cerlina kaku. Ketiganya kaget mendengar pernyataan itu.


"Dibunuh, katamu? Seorang dewa mati terbunuh? Omong kosong apa yang kau katakan itu?" tanya Rendy ragu.


"Untuk apa aku mengatakan omong kosong padamu jika itu adalah kebenaran? Dewa Deus mati terbunuh di tangan anak tunggal Dewa Oorun," papar Cerlina, tangannya meremas ujung roknya dengan kesal.


"Vatra...bisa melakukan itu?" tanya Nero. Cerlina mengangguk.


"Yah, apa yang terjadi pada mereka bukan urusanku. Aku hanya membantu kau sebagai balas budi menolong rasku," ujar Rendy. Cerlina mengulum senyum pahit.


"Tidak masalah, itu sudah lebih dari cukup. Lagipula, kita memang masih musuh secara teori," ujarnya. Naga itu langsung menukik tajam ke tujuan mereka dan mendarat dengan mulus. Rendy langsung melompat turun dan berjalan mengitari pulau sembari menyentuh kristal yang tumbuh sesuka hati tersebut dengan cermat.


"Katakan, penyihir. Kau pernah mencoba melawan dirimu sendiri?" tanya Rendy sembari menatap tajam ke arah kristal paling besar di tengah pulau.


"Melawan diri sendiri? Kau baik-baik saja?" tanya Cerlina heran.


"Belum, ya? Baiklah, tidak masalah. Kau akan tahu nanti," ujar Rendy sembari memasang kuda-kuda.


"Eh? Mau apa kau?" tanya Kezia. Rendy tak menjawab, melainkan mengayunkan kapaknya dengan kuat dan membuat retakan besar di bagian bawah kristal. Sebuah energi kuat langsung berhembus dan menyelimuti semua orang.


"Ah!" sahut Cerlina.


"Semoga beruntung, penyihir!" sahut Rendy sembari melambaikan tangan. Gadis itu ditarik ke dalam sebuah pusaran mana hingga jatuh di kegelapan.


"...di mana aku?" tanyanya lirih.


"Di mana? Ini adalah tempat yang sangat jauh dari duniamu, Cerlina," sahut seseorang. Cerlina mencoba menyipitkan mata agar bisa melihat orang yang bicara padanya, namun kegelapan benar-benar membutakan.


"Siapa kau?" tanyanya lagi. Orang itu tertawa keras dan berjalan mendekat. Seberkas cahaya mendadak muncul dan memamerkan lawan bicara yang membuat Cerlina kaget.


"Sa...ciel?"


"Hm? Bukan, bukan. Coba tebak lagi," ujarnya sembari mengulum senyum tipis. Cerlina mengerutkan kening, namun detik berikutnya keringat dingin mengalir di pelipisnya.


"Ah, mana mungkin?" ujarnya gemetar. Sosok itu tertawa keras.


"Mana mungkin, katamu? Kau kan selalu menginginkan untuk menjadi saudarimu, bukan?" sindirnya.


"A-aku tidak pernah berpikiran begitu!"


"Ck ck, kau ini suka sekali berbohong, ya? Kau lupa pernah mencoba mengubah dirimu menjadi Saciel demi bisa keluar sejenak dari kuil?" tanyanya. Cerlina tegang. Perlahan sorot mata dingin mulai terpancar darinya. Sosok Cerlina berambut merah tertawa sinis melihatnya.


"Oh, astaga, kau terlihat seram sekali. Persis seperti Saciel," sindirnya.


"Diam," bisik Cerlina. "Aku tidak tahan mendengar bisikan iblis sepertimu."


"Wah, kasar sekali. Tapi kurasa sisi inilah yang selalu kau sembunyikan demi menjaga martabatmu, eh?"


"...kau menyebalkan," ujar Cerlina sembari menarik keluar tongkatnya.


"Wah, kau berniat menyerang nih?" ujar dirinya yang lain sembari mengeluarkan tongkat yang sama persis dengan miliknya. Cerlina mengerutkan kening.


"Kau...bagaimana bisa kau memilikinya?" tanya Cerlina.


"Hm? Ini? Karena aku ini kau," ujarnya sembari tertawa.


"Ganti warna rambutmu, aku tidak suka melihatnya," gertak Cerlina.


"Oh? Apa karena aku mirip Saciel?"


"Bukankah kau juga peniru dari dulu?" balasnya kalem. Cerlina makin kesal mendengarnya. Gadis itu menghentakkan tongkatnya dan membuat kegelapan ditelan oleh cahaya lembut, sementara dirinya yang lain hanya menonton.


"Tidak buruk, tidak buruk," ujarnya santai. "Mana yang kau pinjam dari Dewa Oorun hanya bertahan sebentar, kan?"


"Itu berlaku untukmu juga," balas Cerlina.


"Menurutmu begitu?" tantangnya sembari membuat barisan pisau es di sekeliling mereka. "Aku ini lebih kuat darimu."


"Kita lihat saja," ujarnya sembari membuat perisai sebelum pisaunya diluncurkan untuk menyerangnya. Dirinya yang lain tertawa.


"Astaga, luar biasa. Perisai yang kuat dan kokoh sekali. Hanya satu kelemahannya," ujarnya sembari membuat tombak es di tangan kirinya. "Semakin lama kau memakai mana miliknya, semakin cepat energinya habis. Kalau kau di medan perang, pasti langsung pingsan dalam hitungan menit."


"...sial, kau tahu kelemahan fatalku," ujar Cerlina kesal. Ia melempar tombak itu dan berhasil meruntuhkan pertahanan Cerlina dalam sekali serang.


"Bingo."


"Ugh!"


"Kau lemah, tidak seperti dia yang menjadi kebanggaan keluarga Arakawa."


"..diam."


"Saciel selalu dianggap cacat, padahal yang cacat kan kamu."


"Diam!"


"Kau terlihat baik di mata rakyat sebagai Pendeta Agung, padahal kan kau hanyalah boneka yang dikendalikan para tetua."


"DIAM!!" sahut Cerlina sembari menghadirkan ratusan jarum es di sekeliling dirinya yang lain. Dirinya yang lain diam sejenak sembari mengedarkan pandangan.


"Manamu terkuras banyak, ya? Padahal hanya memanggil segini saja," sindirnya sembari memperhatikan napas Cerlina yang tersengal. "Sorot matamu mulai terlihat berbeda dari biasanya."


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," ujar Cerlina.


"Ah, maksudku ini," ujarnya sembari membuat matanya bercahaya sewarna biru langit. "Mata untuk melihat dan melacak mana."


"Bukankah itu wajar?"


"Wajar sih untukmu, tidak untuk penyihir lain. Tidak semua penyihir bisa melihat jalur mana, bahkan demi human yang bisa melihatnya hanya sedikit."


"...jadi ini berkat?"


"Ya, sebuah kemampuan yang jarang dimiliki orang," balasnya kalem. Cerlina melepaskan tembakan, namun dirinya yang lain berhasil memblokir serangan.


"Kau tidak berpengalaman dalam bertarung, wajar saja musuh meremehkanmu."


"Kita lihat saja," ujarnya sembari membuat sulur es untuk membelitnya seerat mungkin. Dirinya yang lain mencoba bergerak, namun semakin ia bergerak tubuhnya diliputi bunga es.


"Menarik, menarik sekali. Tapi jangan lupa, aku bisa menggunakan trik yang sama denganmu," ujarnya sembari melelehkan sulur tersebut dan melakukan hal yang sama pada Cerlina.


"Uh!"


"Ah, melihatmu kesakitan ternyata menarik juga."


"Kau sadistis?"


"Entahlah, mungkin saja," ujarnya kalem. Cerlina makin yakin yang dia hadapi bukanlah dirinya sendiri, namun ia masih tidak mengerti bagaimana dia bisa menggunakan sihir yang sama seperti dirinya.


"Aku tidak akan kalah darimu, meski harus mengorbankan segalanya," ujar Cerlina sembari menghancurkan sulurnya dengan tangan yang membeku dengan cepat. "Tidak peduli siapapun lawanku, meski kau kakakku sekalipun, aku tidak akan mau mengalah."


"Oh, kau sudah mulai menemukan tujuan?"


"...tujuanku hanya satu. Melindungi apa yang seharusnya dilindungi," ujar Cerlina sembari mengubah tongkatnya menjadi busur, sementara dirinya yang lain melakukan hal yang persis.


"Kau tidak lupa dengan ini, bukan?"


"Tidak, aku tidak sebodoh itu," ujarnya sembari menembak ke langit dan membuat kubah es raksasa yang menaungi mereka. "Kau sudah selesai menyerang?"