The Two Empresses

The Two Empresses
Taruhan



"Hahaha, Vristhi kau menantangnya bertarung? Bagaimana menurutmu?" tanya Lao sembari menawarkan secangkir teh.


"Dia memang berbakat, bahkan berhasil memotong tanganku dalam waktu cepat," balas Vristhi. Lao menjatuhkan cangkirnya dan menggenggam tangan pucat pualam milik Vristhi.


"Serius? Apa ada bekasnya?" tanya Lao cemas, sesekali mengelus lengan lembut itu dengan hati-hati, seakan-akan menyentuh sebuah patung berharga. Vristhi hanya diam, namun tangannya yang bebas mengelus pipinya.


"Tidak bisakah kau melupakanku?" tanya Vristhi. "Kita sangatlah berbeda."


"Berbeda dari segi apa, Tuan Putriku? Kita sama-sama berakal, sama-sama bangsawan, hanya berbeda sifat dan gender. Apa kau lupa janji yang pernah kita ungkapkan saat kita masih kecil?"


"Aku tidak melupakan janji itu, tapi..."


"Maaf aku terlam...bat?" celetuk Ilmol kikuk. "Umm, sepertinya aku datang terlalu awal?"


"Tidak, kau datang tepat waktu," balas Lao sendu, lalu melepaskan genggamannya dengan wajah tersakiti. "Selamat datang, Ilmol. Kau terlihat cantik dengan warna orange."


"T-tidak perlu memuji saya, Tuan Requiem," balas Ilmol malu. Lao mempersilakan gadis itu duduk dan menyuguhkan secangkir teh.


"Jangan pakai 'tuan', kita berada di posisi yang sama," celetuk Lao. "Bagaimana perasaanmu setelah menjadi bagian dari 7 Eternal Wizards?"


"S-saya senang sekali. Ini merupakan mimpi saya," jawab Ilmol menggebu-gebu. "Tapi Ayah masih tidak menyetujuiku, jadi sedikit berat memanggul beban ini."


"Hmm padahal ada kasus yang sama sepertimu beberapa puluh tahun yang lalu. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran keluarga Phoenix, lelaki lebih superior dibandingkan wanita. Padahal ada beberapa penyihir wanita yang lebih kuat dibanding kepala keluarga," keluh Lao. "Yah, sebaiknya kita fokus pada dirimu dulu. Maaf ya, teman-teman kita saat ini sedang sibuk, jadinya kita bertiga dulu yang ngobrol."


"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan," balas Ilmol.


"Baik sekali dirimu. Baiklah, aku sudah memutuskan untuk memberikan pekerjaan pertama untukmu. Tapi resikonya cukup besar, kau sanggup?"


"Apapun yang kau mau, aku akan melaksanakannya," balas Ilmol mantap. Lao mengulum senyum dan berpaling pada Vristhi. "Dia cocok jadi bagian gadis kuil, bukan?"


"Sangat cocok. Dengan penampilan polosnya kuyakin para tetua bisa dibodohi," balas Vristhi. Ilmol diam, memperhatikan mereka yang beradu mulut untuk menyempurnakan ide mereka.


"Kenapa gadis kuil?" tangannya setelah diam cukup lama.


"Untuk mengawasi sang Pendeta Agung yang berada dalam posisi kurang menguntungkan," ujar Vristhi.


"Kau tahu alasannya bukan?" tanya Lao lirih. Ilmol terdiam, tahu betul kondisi politik negaranya sedang kacau akibat sabda yang pernah dilontarkan oleh Pendeta Agung. Ia ingat, saat itu bersama dengan pelayannya tengah mencicipi kue di toko kue baru yang tak jauh dari Taman Quetzalcoatl. Betapa kagetnya ia setelah mendengar sabda itu dan bergegas pulang, mendapati ayahnya sudah kabur karena panggilan mendadak dari para tetua.


"Kembali dan katakan pada ayahmu kalau kau gagal menjadi bagian dari 7 Eternal Wizards setelah bertemu denganku dan sampaikan kau bekerja di kuil sebagai hukuman telah gagal mengemban tugas," ujar Lao.


"Apa itu berhasil?" tanya Ilmol. Lao mengangkat bahu, namun sorot matanya terlihat tegas. Vristhi menatapnya dan mengulum senyum.


"Kemungkinan besar berhasil, karena Phoenix pernah membelot dari kami hanya karena nafsu kekuasaan yang tak terhingga. Cobalah menarik hati para tetua, kau pasti akan mendapat nilai di mata mereka," ujar Vristhi.


"Entahlah. Saat aku ingat Comet diperintahkan untuk menangkap Saciel dan gugur di Hutan Suci, aku tidak bisa percaya dengan siapapun, bahkan pada kalian yang dengan santai merelakan kematiannya begitu saja. Tapi aku tidak bisa diam saja dan menerima berita itu, jadinya aku menyewa seseorang untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam untuk mendapatkan fakta yang jauh dari perkiraanku."


"Jadi intinya, kau berpihak pada siapa?" tanya Lao kalem, tidak terusik dengan fakta pahit yang diumbar Ilmol.


"..aku berpihak pada yang benar, namun aku masih belum menemukan titik terang. Jadi aku akan mengikuti rencanamu," ujar Ilmol. "Jika terbukti kalian bersalah, aku akan langsung membeberkan semua rencana kalian di hadapan para tetua."


"Adil sekali. Tidak masalah, kami terima kondisi itu," jawab Lao. "Nah, sekarang kau boleh kembali."


......................


"Nona Pendeta Agung, teh Anda sudah siap," ujar seorang gadis kuil sembari membawa teko teh dan cangkirnya. Cerlina menghela napas dan mengangguk, membiarkan gadis kuil itu menuangkan cairan panas kecoklatan pada cangkir berukiran lili.


"Akhir-akhir ini tubuhku lemas, apa kau bisa memanggil dokter?" tanyanya sembari menyesap teh.


Segera seorang dokter memeriksa Cerlina dan menggelengkan kepala. "Dia diracuni."


"Panggil gadis kuil yang menyiapkan teh untuknya!" ujar kepala kuil dengan nada tinggi.


"Dia sudah kabur sebelum Nona pingsan," celetuk gadis kuil. Kepala kuil semakin marah dan mengutus prajurit untuk menangkap si pelaku dan mengancam semua penghuni kuil untuk tidak menyebarkan rumor. Namun itu tidak berlaku bagi Julian Zografos. Ia yang mendengar berita itu dari tanaman di sekitar kuil sedikit panik dan buru-buru menghadap Lao.


"Lao, Cerlina, dia..."


"Pendeta Agung, Julian. Mana tata kramamu?" balas Lao kalem. Julian nyaris mengumpat, namun ia menghela napas panjang dan bisa mengontrol emosinya.


"Pendeta Agung diracuni," ujar Julian. Lao terdiam dan menghela napas, mengajak Julian duduk di taman.


"Itu sudah kuprediksi, mengingat Cerlina mempunyai peran penting di Careol. Kita tidak boleh ikut campur."


"Apa maksudnya ini? Bukankah kau bilang akan melindungi dia dari bahaya?" tanya Julian heran.


"Memang. Tapi kita tidak boleh gegabah, Julian. Tenang saja, aku tidak akan membiarkannya mati begitu saja atau Saciel akan menebasku. Pendeta Agung kuat, percayalah," ujar Lao menenangkan.


"Lao, katakan padaku kau tidak sedang bercanda dengan kematian, kan?"


"Tidak. Aku tidak sedang bercanda," jawab Lao mantap. "Jika sampai terjadi sesuatu pada Pendeta Agung, aku akan bertanggung jawab."


"Apa beliau tahu rencana ini?" tanya Julian. Lao menggelengkan kepala.


"Bagaimana jika kita sebarkan berita ini?"


"Kau malah membuat Saciel dalam bahaya, bodoh. Kau lupa, posisinya saat ini menjadi buronan di Respher."


"Ah, kau benar. Dia kan kambing hitamnya ya?" celetuk Julian. "Tapi tidak adakah yang curiga dengan para tetua?"


"Aku masih belum tahu soal itu. Nah, sekarang aku punya orang dalam di kuil. Kita bisa mengecek kondisi Pendeta Agung dengan lebih akurat."


"...siapa?"


"Putri pertama keluarga Phoenix, Ilmol Phoenix."


...----------------...


"...sebentar, biarkan aku mencerna semua ini. Jadi kau menerima benda pusaka itu tanpa tahu benda apa itu?" tanya Saciel heran. Marchioness Geliza mengangguk di balik kipas elegannya. "Bukankah itu terlalu...gegabah?"


"Penyihir yang memberikan itu adalah orang baik. Dia sudah membuat segel pelindung di Kota Mizuki, bahkan menyembuhkan warga. Untuk apa aku meragukannya?" balas Marchioness. Saciel hanya bisa garuk-garuk kepala frustrasi.


"Lain kali sebaiknya kau tidak menerimanya begitu saja. Bisa saja dia berniat baik di depan, tapi tidak di belakang," ujar Saciel pasrah. "Nah sekarang bisakah aku pergi ke tempat itu?"


"Jika memang kau membutuhkannya, silakan saja," ujar Marchioness. "Tapi aku tetap memungut bayaran atas benda pusaka itu."


"Marchioness! Apa maksudnya itu?" sahut Nero.


"Grand Duke, apa yang dia ambil adalah benda pusaka yang membantu kami untuk bertahan dari serangan musuh."


"Yah, dia ada benarnya juga. Baiklah, aku akan menggantinya dengan benda yang lain jadi bisakah seorang uskup...er apapun untuk mengantarku?" ujar Saciel. Marchioness menyuruh salah satu prajurit untuk menjemput seorang uskup, dan datanglah seorang anak kecil dengan senyum polos dan rambut sewarna salju cepak.


"Marchioness Geliza memanggil saya?" tanyanya ramah.