
"Nona Schariac?"
"Aku butuh penjelasan, sekarang!" jerit Tania. Suaranya menggema hingga beberapa pelayan penasaran dan mencari tahu siapa pelakunya. Phillip menghela napas dan memasang ekspresi tenang.
"Nona Schariac, Anda tidak sopan. Ini adalah istana, dan Nona sudah memanggil Yang Mulia Ratu Saciel dengan namanya. Nona bisa dijatuhi hukuman..."
"Aku tidak peduli!" potong Tania sembari mengeluarkan jam besar di belakangnya. Phillip tersentak dan langsung mengeluarkan rapiernya. "Aku ingin tahu alasannya!"
"Nona, apa Duke Schariac tidak memberitahu Anda?" tanya Phillip.
"Tidak ada yang memberitahu aku! Minggir!" sahut Tania sembari mengeluarkan senapan laras panjang dan mengarahkannya pada Phillip. "Kalian jahat!"
"Tidak bisakah kita bicara baik-baik?" bujuk Phillip. Tania tidak menjawab, melainkan langsung menarik pelatuknya dan timah panas mulai melesat ke arah Phillip. Phillip langsung memblokir semua tembakan hanya dengan pedangnya. "Nona Tania!"
"Kembalikan Kak Vristhi!" jerit Tania sembari terus menembak dan menarik keluar senapan dari jamnya. Phillip langsung berputar dan menghancurkan semua peluru hanya dengan sekali sambaran kilat. Suara gemuruh membuat Saciel tersentak dan bergegas turun tanpa menutupi piyamanya. Ia yang baru saja menginjak tangga langsung terpental ketika gelombang ledakan menghantamnya. Beruntung Stevan mampu menangkapnya sehingga ia tidak mencium dinding.
"Yang Mulia baik-baik saja?" tanya Stevan sembari menurunkannya perlahan.
"Ya, terima kasih. Ada keributan apa di sini?" tanya Saciel.
"Nona Tania Schariac marah besar karena eksekusi atas Vristhi Rosemary. Saat ini ia tengah bertarung dengan Marquess Arlestine," jawab Stevan sembari menyampirkan jasnya pada Saciel.
"Apa tidak ada yang memberitahu anak itu?" tanya Saciel. Stevan hanya menggeleng. Saciel segera berlari turun hingga sampai di lantai bawah. Para pelayan langsung mencoba mencegah, tetapi Saciel terus berjalan dan menarik tombak hiasan dari dinding dengan wajah beringas. Ia melempar tombak itu dengan segenap kekuatan hingga berhasil menancap di tengah mereka. Lantai marmer yang keras hancur berkeping-keping, membuat Phillip sedikit keder melihatnya.
"Tania Schariac, apa tata krama yang diajarkan Duke Schariac masih belum cukup hingga kau berani membuat kekacauan di istana?" tanya Saciel sembari berjalan mendekati dengan aura mematikan di sekelilingnya. Tania mundur selangkah, namun ia tidak gentar.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Tania setengah menggeram.
"Apa yang sedang kau bicarakan?"
"Kak Vristhi. Kenapa kau mengeksekusi mati orang yang sudah berjuang bersama sebagai bagian dari 7 Eternal Wizards?!"
"Karena dia sudah berkhianat, Tania. Kau saja yang tidak tahu apa-apa karena mengurung diri di rumah," balas Saciel dingin. Tania tersentak, namun kemarahan masih belum mereda.
"Meski berkhianat, hukumannya tidak perlu dieksekusi mati!"
"Bahkan jika dia membunuh rakyat?" tanya Saciel. Tania tergagap, mencoba mencerna semua kata-kata sang ratu. Namun egonya melarang untuk menyerapnya dengan baik.
"Tidak, Kak Vristhi tidak akan pernah melakukannya!" sahut Tania. Saciel menghela napas frustrasi mendengarnya.
"Apa kau pikir aku sedang mengatakan omong kosong padamu? Aku tidak akan membawa nama rakyatku hanya untuk sebuah perkara kecil."
Tania menutup kedua telinganya, tidak mau mendengar apapun lagi. Aliran sihirnya mulai kacau dan berkumpul pada satu titik seperti sebuah bom yang siap meledak. Saciel langsung membuat perisai yang melingkupi Tania hingga ledakan terjadi dan membuat gelombang ledakan besar yang menyapu seluruh istana. Beruntung tidak ada bagian yang hancur. Ia berjalan mendekati dan menotok lehernya hingga sang gadis kecil tak sadarkan diri. Ditangkapnya gadis itu dan mengendikkan kepala agar seseorang menggotongnya. Stevan bergegas maju dan menggendongnya dengan hati-hati.
"Bawa dia kembali ke rumahnya. Phillip, temani Stevan. Kepalaku sakit," ujar Saciel setengah mengeluh. "Ada-ada saja bocah satu ini."
"Baik, Yang Mulia," balas mereka. Saciel masih berdiri di tempat, menatap lantai remuk di pijakannya, sementara beberapa pelayan bingung bagaimana mendekati sang ratu yang berbalut piyama tipis hingga mampu memperlihatkan lekuk tubuhnya. Parvati langsung menyambar sebuah selimut tipis dan menutupi tubuhnya.
"Yang Mulia, tidak baik memperlihatkan diri seperti ini. Mari kembali ke dalam," ujar Parvati. Saciel berjalan menuju lantai dua, diikuti Parvati di belakang.
...****************...
"Syukurlah kalian berdua baik-baik saja. Kupikir kami akan kehilangan Yang Mulia raja dan ratu," ujar Nero sembari meletakkan sekeranjang buah-buahan di atas meja.
"Nero, kau itu anakku. Tidak perlu bicara formal seperti itu," ujar Frederick sembari mengelus Kezia yang asyik bergelanyut dengan mode anak kecilnya.
"Saya hanya anak angkat, mana mungkin saya berani bersikap seperti itu," balas Nero. Max merangkul pundak pemuda berambut merah itu dan mengelus kepalanya dengan gemas.
"Hei, kau itu saudaraku. Tidak usah memikirkan hal lain," ujar Max. Nero mengulum senyum dan mendorong Max cukup jauh. "Meh."
"Biasa saja, bodoh. Tapi bagaimana bisa Ayah dan Ibu terdampar di benua Lazt?" tanya Nero. Frederick menghela napas dan menatap Ren, istrinya dengan tatapan yang hanya dipahami oleh mereka. Sang ratu mengulum senyum dan mengajak Kezia keluar, meninggalkan para lelaki di ruang tahta.
"Kau mungkin tidak akan percaya, tapi ada seseorang menolong kami kabur dari penjara bawah tanah. Dia...bukan bagian dari dunia ini."
"Bukan dari dunia ini?" tanya Nero.
"Kalangan dewa?" tanya Max.
"Aku tidak yakin," ujar Frederick. "Bagaimana dengan kalian? Kami meninggalkan kalian dan negara ini selama hampir setahun."
"Semuanya di sini baik-baik saja. Hanya saja, kami belum bisa mengendalikan perang yang makin tidak jelas tujuannya," ujar Max. Frederick menepuk kepala Max dan mengulum senyum.
"Kau memang luar biasa, Max. Berarti aku akan pensiun dengan cepat dan tenang jika ada kau," ujar Frederick. Max terdiam dan gelisah, membuat Frederick penasaran. "Kau baik-baik saja?"
"Umm Ayah, aku tidak yakin menjadi seorang raja secepat ini."
"Kenapa? Apa kau takut mengemban tugas menjadi seorang raja?"
"Daripada takut, aku merasa tidak pantas menjadi raja," ujar Max. Frederick mengelus kepalanya lagi.
"Apa ada orang lain yang kau rekomendasikan menjadi penggantiku?" tanya Frederick.
"Kezia lebih cocok, Ayah. Dia tegas, meski masih butuh banyak bimbingan dari Ayah dan Ibu," jawab Max.
"Kupikir kau akan mencalonkan Nero."
"Dia...sudah tidak mau berurusan dengan politik. Ditambah...dia sudah jatuh cinta dengan seseorang," jawab Max ragu-ragu. Frederick senang mendengarnya, sementara Nero syok dan wajahnya langsung merah.
"Benarkah? Siapakah gadis pujaan hatinya?" tanyanya antusias.
"Hei, jangan bicara lagi kau!" sahut Nero.
"Uhh...penyihir dari Respher," jawab Max. Bukannya marah, Frederick mengulum senyum mendengarnya.
"Max! Diamlah, mulut ember!" sahut Nero.
"Ya. Lembut dan menawan. Bahkan dia merupakan Pendeta Agung di Respher," ujar Max. Frederick tertawa kecil mendengarnya.
"Yah, jika dia sudah jatuh cinta, biarkan saja cinta itu tumbuh dengan subur. Nero, kau harus membawanya padaku suatu waktu. Aku ingin bertemu dengan calon menantuku," ujar Frederick. Nero merengut, namun wajahnya masih merah layaknya kepiting rebus.
"Bagaimana denganmu, Max?"
"Apanya, Yah?" tanya Max bingung.
"Wanita, duh," keluh Frederick.
"Aku belum..."
"Ada! Dia punya seorang...hei!" kata-katanya terputus ketika Max mencubitnya. "Kau saja membocorkannya, masa aku tidak boleh?"
"Diamlah, lagipula kau kan sudah pasti, aku belum," balas Max geram. Keduanya malah asyik bersitegang, sementara Frederick hanya asyik menonton. Begitu Ren kembali, mereka langsung diam seribu bahasa.
"Sudah selesai mengobrol?" tanya Ren.
"Sudah," jawab ketiganya serempak. Ren tertawa kecil dan memamerkan Kezia yang sudah tertidur pulas di dalam pelukannya.
"Mari istirahat, semuanya pasti lelah," ujar Ren.
"Ah, aku masih sibuk, Bu. Aku akan menyusul nanti," ujar Nero.
"Aku juga," celetuk Max.
"Aku masih harus menyelesaikan urusan kerajaan, Sayang. Kau pergilah beristirahat dulu," ujar Frederick. Ren mengangguk dan berjalan keluar bersama putrinya, sementara yang lain menghela napas.
"Hampir saja," gumam Frederick. "Aku tidak mau berurusan dengan istriku perkara pewaris tahta selanjutnya."
"Kenapa? Bukannya Kezia juga bisa mengemban tanggung jawab itu?" tanya Nero.
"Meski bisa, dia masih perlu belajar banyak. Kau tahu betapa rewelnya dia ketika keinginannya tidak dipenuhi," jawab Frederick. Nero tertawa canggung mendengarnya, sementara Max memasang ekspresi datar.
"Sudah malam, pergilah tidur. Aku yakin sekali kalian berbohong soal 'pekerjaan lain'. Selamat malam," ujar Frederick. Mereka berdua mengangguk dan meninggalkan sang raja seorang diri. Sebelum Frederick bangun dari tempatnya, aroma asing menyerang indra penciumannya. Ia menoleh ke arah jendela dan berdiri.
"Kau tahu aku tidak suka penyusup, jadi keluar dan tunjukkan dirimu," ujar Frederick setengah mengancam. Suara langkah kaki mulai terdengar dari luar, lalu sosok tinggi dengan jubah hitam bergerak mendekati Frederick tanpa gentar. Ia menyampirkan tudungnya dan mengulum senyum.
"Selamat malam, Yang Mulia Raja. Perkenalkan, saya Dark," sapanya riang, namun terselip arogansi di dalamnya.
"Aku tidak pernah menerima tamu selarut ini, dan lagi ternyata seorang penyihir. Apa yang kau inginkan?" tanya Frederick dingin. Dark tertawa kecil, namun seringai masih belum luntur dari wajahnya.
"Tolong jangan terlalu kaku, Yang Mulia Raja. Saya kemari hanya ingin memberikan undangan untuk keluarga kerajaan beserta rakyatnya," ujar Dark sembari memamerkan sepucuk undangan berwarna hitam legam dengan tinta perak di atasnya. Frederick tidak bergeming, namun tatapannya terpaku pada undangan itu. Dark memasukkan kembali undangan itu ke dalam saku dan menatap Frederick.
"Yang Mulia Raja terlihat tidak tertarik, apa itu sebuah penolakan?" tanya Dark.
"Tidak ada alasan bagiku untuk menerimanya dari orang mencurigakan sepertimu," ujar Frederick. Dark memasang senyum culas mendengarnya.
"Oh, meski tanpa undangan ini saya bisa memastikan bahwa semuanya yang ada di sini hadir dalam acara itu," ujar Dark sombong. Frederick hanya mengangkat sebelah alisnya, meragukan omong kosong yang dilontarkan Dark.
"Percaya diri sekali untuk penyusup sepertimu. Kau belum pernah dipotong lidahnya?"
"Ah, saya sudah pernah hampir mati di tangan anak Yang Mulia Raja," jawab Dark bangga. "Saya tidak akan mati selama jantung saya tidak hancur terlebih dahulu."
"Kalau begitu sebaiknya aku menghancurkan jantung itu," ujar Frederick sembari melompat cepat dan mencekik Dark, namun suara yang familiar membuatnya sedikit terkejut.
"Jangan lupa kalau saya adalah penyihir, Yang Mulia Raja. Saya bisa saja membuat ratusan bahkan ribuan kloning untuk yang Mulia bantai," ujar Dark sembari duduk di atas kursi tahta dengan kedua kaki berada di sandaran. Dark yang ada di genggaman Frederick perlahan meleleh dan menghilang begitu saja.
"Ternyata aku meremehkanmu," ujar Frederick kalem. Dark hanya tertawa, namun berhenti ketika Max dan Nero berlari masuk dengan senjata mereka.
"Kau masih hidup?!" sahut Max kesal. Dark menyeringai dan berdiri sembari merentangkan kedua tangannya.
"Kau bisa lihat aku baik-baik saja, kawanku. Terima kasih sudah menunjukkan pintu akhirat padaku," ujar Dark riang. Max muak dan nyaris menerjang, namun Frederick menghalangi. "Dari yang kulihat, sepertinya kau selamat dari sihir hitamku ya?"
"Terima kasih padamu aku hampir mati, brengsek," geram Max. Dark tertawa keras hingga air mata jatuh di pipinya. Ia mengusap air mata itu dan berjalan mendekat, membuat mereka waspada Dan mengarahkan senjata mereka padanya.
"Apa itu karena kebaikan calon istriku?" tanya Dark. Wajah Max menggelap mendengarnya.
"..apa katamu?" gumam Max lirih. "Calon istri?"
"Ya, calon istriku. Kau mengenalnya, bukan?" ujar Dark. Max mencoba menyerang, namun Nero menghentikannya dari belakang.
"LEPASKAN! BIAR KUHABISI PENYIHIR ITU!"
"Max, tenanglah! Dia hanya memprovokasi dirimu! Jangan goyah!" sahut Nero sembari terus menahan saudaranya yang mulai memberontak. Dark kembali tertawa keras hingga terbatuk-batuk.
"Aduh, kau marah karena memanggilnya calon istri? Cemburu?" goda Dark.
"Brengsek! Kemari agar kupenggal kepalamu!" sahut Max makin menjadi-jadi. Frederick menepuk keras tengkuk lehernya hingga tak sadarkan diri.
"Bawa dia pergi, Nero. Orang ini akan aku tangani sendiri," titah Frederick. Nero mengangguk dan membawanya pergi, namun ia meninggalkan Undine bersama ayahnya. Frederick mengulum senyum dan menatap Dark dengan niat membunuh yang kuat.
"Aduh, apa Yang Mulia marah pada saya? Ingin membunuh saya seperti yang diinginkan dia?" goda Dark.
"Mungkin saja, tapi membunuhmu begitu saja tidak akan seru. Kurasa memulai dengan mematahkan kaki dan tangan akan seru," ujar Frederick. Dark merinding senang, namun ia mulai memasang ekspresi tenang seolah-olah tidak berniat untuk menyerang.
"Sayang sekali Yang Mulia, waktu saya berkunjung sudah habis. Saya masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Sampai jumpa di festival," pamitnya sembari menjentikkan jemarinya dan menghilang di balik kepulan asap. Setelah memastikan baunya sudah tidak ada lagi, ia menghela napas. Ia langsung bertindak cepat dengan memperketat penjagaan yang memiliki indra penciuman terbaik agar bisa mendeteksi langsung keberadaan musuh yang mendekat.
"Siapa sebenarnya calon istri yang dimaksud hingga membuat Max marah? Apa mungkin...gadis pujaan hatinya?" gumam Frederick. Ia berjalan masuk ke dalam istana dan beristirahat, ditemani Undine yang memasang tembok air setinggi istana di sekitar istana.