The Two Empresses

The Two Empresses
Sang Pendeta Agung



Perlahan seorang gadis berperawakan lembut dan anggun, dengan baju bergaya romawi yang memamerkan hampir seluruh kulitnya yang putih tanpa noda setitik pun memasuki ruangan. Wajahnya ditutupi oleh tudung putih, namun senyumnya tak mampu dihalangi. Keduanya tak mampu menutupi rasa kagum dan terkesan. Sang Pendeta Agung melepas tudungnya dan menampilkan seraut wajah yang sama persis dengan Saciel, hanya berbeda warna rambut yang seterang bunga violet. Wajahnya sumringah dan segera menghambur ke pelukan sang gadis berambut merah.


"Kakak!" jeritnya dengan kebahagiaan yang tak bisa dibendung.


"Cerlina! Aku merindukanmu, saudari kembarku," ujar Saciel, memeluknya dengan erat seakan tak ingin dipisahkan. "Kau terlihat sangat cantik."


"Kau juga. Aku tak menyangka kau bisa senekad itu datang menemuiku," ujar Cerlina. "Bahkan Phillip juga."


"Dia menyeretku kemari," ujar Phillip.


"Enak saja. Kau yang ingin ikut, kenapa menyalahkanku?" sindir Saciel. Si pendeta berambut ungu hanya tertawa kecil mendengarnya. "Daripada itu, apa kau baik-baik saja?"


"Ya. Mereka merawatku dengan baik, bahkan memperlakukanku seperti putri," jawabnya.


"Tapi kau tidak bahagia, kan?" tanya Phillip. Cerlina mengangguk, wajahnya terlihat sedih. "Aku paham betul kau menderita di sini."


"Tentu saja. Aku dipisahkan dari keluarga saat umur 3 tahun. Mereka tidak hanya melarangku bertemu dengan orangtuaku, tapi mereka mendidikku untuk menjadi Pendeta Agung. Saat Mama dan Papa meninggal, mereka bahkan tidak membiarkanku untuk melihat mereka hanya untuk memberikan penghormatan terakhir," papar Cerlina.


"Aku paham perasaanmu, Cerlina. Padahal banyak dari kita yang anak kembar, tapi tidak ada dari mereka yang ditarik paksa untuk menjadi wanita kuil," ujar Phillip. "Apa ini...sesuatu yang direncanakan?"


"Bisa jadi. Keluargaku adalah salah satu dari 7 Eternal Wizards, otomatis kedudukan kami cukup tinggi," ujar Saciel kesal. "Huh, kenapa juga rapat tadi hanya aku yang datang? Yang lain mana?"


"Kurasa mereka tidak diundang, deh. Aku tidak melihat nama mereka di list yang dibawa resepsionis," balas Phillip.


"Ini hanya permainan politik, tak perlu dipikirkan," ujar Cerlina. "Mereka hanya ingin niat busuk mereka tidak ketahuan." Ketiganya hanya diam dan saling pandang. Tak berselang lama seorang pendeta tua masuk dan memberi hormat.


"Waktu sudah habis, tolong untuk segera meninggalkan kuil," ujarnya. Saciel berjengit dan menarik kerah bajunya.


"Aku tidak ingat ada batas waktu saat aku kemari," ujarnya sinis. "Siapa yang membatasi waktuku?"


"Archduchess Arakawa, saya berharap Anda berhenti menindas pendeta itu," lerai Cerlina. Ia menutupi wajahnya dengan tudung dan memberikan senyum tipis, "jangan buat masalah di sini. Mendiang orang tua Anda tidak akan suka."


"Cih, sialan," decihnya. Didorongnya pendeta tua itu dan berpaling pada Cerlina dengan wajah dibuat sedatar mungkin.


"Aku mengerti, Pendeta Agung. Biarkan orang hina ini kembali ke kota bersama rekannya. Terima kasih atas waktu yang telah Anda luangkan untuk kami," ujar Saciel. Cerlina hanya mengangguk, lalu kembali ke balik tahta. Air mata perlahan jatuh membasahi lantai dan tidak ada yang mengetahuinya. Phillip menarik Saciel dengan sedikit paksa, tidak ia pedulikan erangan dan makian yang meluncur dari bibir gadis berambut merah tersebut. Setibanya di gerbang masuk, dua biarawati menanti dengan pakaian mereka.


"Bisa tunjukkan pada kami di mana ruang gantinya?" tanya Phillip sembari mengambil pakaian dari mereka.


"Ikuti jalan ini dan kau akan sampai di gudang," ujar seorang biarawati. Mereka bergegas menuju gudang tanpa mempedulikan tatapan sinis dari kedua biarawati tersebut.


"Kurasa beritanya sudah menyebar jauh, eh?" sindir Saciel. Tangannya merenggut baju yang dibawa Phillip dan tanpa mempedulikan eksistensinya, dilepasnya jubah tersebut dan dilempar ke sembarang arah. Phillip hanya bisa terpaku dan langsung berbalik.


"Heh, kukira kau akan menikmatinya," sindir Saciel. Phillip mendengus kesal mendengarnya.


"Memang, tapi aku sadar diri aku hanya temanmu. Aku juga masih punya harga diri, jadi tolong mengertilah," balas Phillip tak kalah sinis. Ia segera mengganti pakaian dan melipat jubahnya serta jubah sang gadis dengan rapi. "Demi Dewa Oorun, bisakah kau bersikap seperti seorang gadis pada umumnya?"


"Kurasa definisi umum tidak bisa dipaparkan dengan mudah," balas Phillip sembari meletakkan jubah mereka di tanah. Si gadis penyihir segera menjentikkan jemarinya dan api muncul tiba-tiba dan melalap jubah-jubah itu dengan cepat tanpa sisa. "Pegangan."


Phillip segera memegang pergelangan tangannya dan Saciel kembali menjentikkan jarinya. Mereka kini berpindah di depan gedung tua di pusat kota. Bendera merah dengan lambang matahari berwarna hitam menghiasi seluruh penjuru kota. Beberapa anak kecil sibuk bermain dengan naga mainan di tangan mereka.


"Festival Matahari Merah ya? Aku berharap bisa membawa Cerlina ke sini, membiarkannya menikmati festival tanpa beban tanggung jawab sebagai "pendeta agung" yang menyebalkan," ujar Saciel. Tangannya mengambil sebuah bendera yang jatuh dan pandangannya menerawang, "waktu kami berumur 3 tahun, Papa dan Mama membawa kami ke festival. Aku hapal betul bagaimana kebahagiaan terpancar dari wajahnya, ketakutannya saat menghadapi atraksi naga imitasi dan rasa sakit akibat jatuh dari tangga. Andai waktu bisa kembali."


"Itu mustahil," ujar Phillip. "Tapi paling tidak, Cerlina bisa keluar sejenak dari kuil untuk memimpin upacaranya."


"Kau benar. Oh lihat, kurasa tentara menjemput kita," ujar Saciel. Sekelompok tentara berjalan ke arah mereka dengan wajah datar.


"Saciel Arakawa dan Phillip Arlestine, ikut kami untuk menghadap para tetua," ujar pemimpin pasukan.


"Atas dasar apa kalian menyuruhku untuk ikut? Dan lagi, mana sopan santunmu?" Saciel bertanya dengan nada mengancam yang mampu membuat para prajurit keder.


"Atas tuduhan membuat kekacauan di Kuil Oorun dan melukai seorang pendeta tua, Archduchess Arakawa" balas sang pemimpin.


"Oh? Apakah pendeta tua itu melaporkan semuanya?"


"Tidak. Seorang gadis kuil yang melakukannya," balas si pemimpin. Kedua insan tersebut mengerutkan kening mendengarnya.


"Aku tidak tau jika di sana ada gadis kuil," celetuk Phillip. "Bukankah semuanya biarawan biarawati?"


"Tidak. Di kamar sang Pendeta Agung, ada beberapa gadis kuil yang ditunjuk untuk melayaninya tanpa ada campur tangan para biarawan biarawati," ujar si pemimpin.


"Kurasa dia mengintip dari balik tahta," sindir Saciel. "Karena ada saksi, mari kita pergi temui para tetua atau kita bakal berakhir pada hukuman yang menyakitkan."


"Sebelum itu, kami harus memborgol kalian," ujar si pemimpin. Dengan sigap para prajurit memborgol tangan mereka di balik punggung.


"Cerdas sekali. Aku tak bisa melakukan apa-apa jika kalian memborgolku, apalagi dengan borgol khusus," cemooh Saciel. "Mantra terkuat yang hanya bisa dimiliki oleh keluargaku."


"Bukankah itu akan memudahkanmu?" tanya Phillip.


"Jika aku mampu menguasainya, itu akan sangat mudah. Sayangnya, aku belum pernah diajari apapun tentang sihir ini," balas Saciel.


"Ayo jalan!" gertak seorang prajurit sembari mendorong mereka untuk berjalan. Keduanya berjalan sambil menggerutu di dalam hati. Tidak ada yang bicara selama perjalanan, membuat hawa sekitar terasa berat.


"Psst, Saciel. Kau yakin kau tidak tau apa-apa tentang sihir borgol ini?" bisik Phillip.


"Apa aku terlihat sedang membohongimu?" balasnya lirih.


"Sejujurnya, kau ini seorang penyihir dengan poker face jadi aku tidak tau mana wajahmu yang asli sekarang."


"Yah, mari kita lihat saja nanti di istana. Aku ingin lihat seberapa marah Tetua Erika kepada kita," ujarnya sembari menyunggingkan senyum hampa.