
Sebuah tenda besar dibangun di tepi sungai yang jernih, sementara beberapa orang berdiri di luar dengan ketegangan menyelimuti. Terlihat Julian tengah beradu mulut dengan Max, namun Phillip mencoba menengahi.
"Sudah, hentikan. Mau sampai kapan kalian bertengkar, hah?" tanya Phillip.
"Sampai dia minta maaf atas tingkah sombongnya," ujar Max. "Seenaknya saja menyuruhku untuk tunduk."
"Kau kan kalah, lupa?" tanya Julian dingin.
"Brengsek! Kumakan kau!"
"Tuan-tuan, bisakah kita sedikit lebih beradab?" tanya Parvati kalem. Ketiganya memandangi gadis itu dengan tatapan heran.
"Aku tidak mau dengar apa-apa dari seorang maid cantik," ujar Julian sembari mengecup tangan halus Parvati. "Seorang gadis cukup memohon dengan halus."
"Menjijikkan," cemooh Max. Julian segera membelit Max dengan tanaman sulur besar dan menatap tajam.
"Seorang gentleman harus bersikap baik terhadap semua wanita," ujar Julian tegas.
"Heh, playboy sepertimu sih mending pergi jauh-jauh sana," olok Max.
"Oh berhentilah, kalian hanya akan mengganggu Saciel dan Kezia," lerai Phillip pasrah.
"Saciel biar kubawa pulang."
"Enak saja, dia tiketku untuk pulang," tolak Max mentah-mentah.
"Kau mau dia dihukum mati saat kembali ke Careol?" tanya Phillip dingin. "Kami sudah dianggap pengkhianat, oke?"
"Masuk akal, tapi Saciel bisa saja selamat karena dukungan kuat dari 7 Eternal Wizards. Yah, meski kuakui akan ada pertentangan mengingat dia sudah membunuh Comet," ujar Julian.
"Dia tidak membunuhnya. Comet terkena kutukan."
"Meski kau bilang seperti itu, aku yakin orang-orang tidak akan percaya," ujar Julian sembari melepaskan Max. "Tidak ada yang mau mempercayai seorang kepala keluarga Arakawa yang bertindak seenaknya seperti Saciel."
"Orang hanya bisa melihat sisi buruk seseorang, padahal kebaikannya lebih besar dibanding dengan keburukannya. Kurasa menjadi seorang Saciel bukankah hal yang mudah. Diremehkan, dihina, ditindas sudah menjadi makanan umum untuknya," gumam Phillip.
"Aku tidak tahu masalah kalian, tapi ternyata masalah internal benua ini lebih berat dibandingkan Ceshier ," celetuk Max. "Aku bisa melihat rasisme sangat kental di sini."
"Begitulah," ujar Julian. "Parvati, apa kau bisa membuat teh dan kue? Aku lapar."
"Tentu, Tuan Zografos. Bagaimana jika teh Black Pearl dengan kue kacang kenari?" tanya Parvati.
"Nyam, tentu saja aku mau," tandas Julian. Parvati mulai mengeluarkan meja, kursi dan tea set elegan dari kantung bajunya dan menatanya. Setelah semuanya siap, ia meletakkan vas berisi bunga krisan kuning di tengah meja. Hati-hati dipotongnya kue kenari itu dan menyajikannya.
"Kue kenari dengan Black Pearl siap untuk disantap, tuan-tuan," ujar Parvati. Julian segera duduk dan menyantap kue dengan senyum tersungging di wajahnya.
"Beruntungnya aku bisa menikmati kue ini," ujar Julian bahagia. "Jika kau berhenti bekerja di istana, datanglah ke tempatku sebagai pelayanku saja."
"Akan saya pertimbangkan, Tuan Zografos," ujar Parvati dengan tawa renyah. "Tuan Arlestine, Tuan Ackermann, mau minum teh?"
"Hari ini aku tidak selera. Berikan saja untuk Saciel," ujar Phillip.
"Aku lebih memilih kopi daripada teh," ujar Max.
"Tidak masalah," balas Max sembari menempelkan pantatnya di kursi. Parvati dengan terampil mulai meracik kopi. Aroma kopi bercampur vanila menguar dan membangunkan Saciel.
"Ngh, di mana ini?" keluhnya lirih. Ia perlahan duduk dan melihat sekeliling. "Ah, aku pingsan lagi ya?"
Hati-hati ia menurunkan kakinya dan bangkit berdiri, lalu berjalan meninggalkan tenda dan mendapati para lelaki tengah menikmati cemilan.
"Ah, Saciel? Kau baik-baik saja?" tanya Phillip sembari menghampiri dan memeganginya. Yang ditanya hanya mengangguk dan melihat cangkir teh. "Kau mau teh? Duduklah."
Perlahan Phillip menuntun si penyihir cantik untuk mendekati meja dan mempersilakan dia duduk. Julian mengulum senyum dan mencubit pipinya.
"Kau baik-baik saja, Manis? Terakhir kulihat kau hampir saja bertemu sang Dewa Oorun," gurau Julian.
"Aku baik-baik saja dan berhentilah bersikap tidak sopan," ujar Saciel sembari menyingkirkan tangan Julian.
"Wah wah, baiklah nona cantik. Maafkan ketidaksopanan hambamu ini," ujar Julian. "Daripada itu, aku ingin memberitahu perihal para tetua."
"Aku tidak mau dengar apa-apa tentang tua bangka," tolak Saciel.
"Baiklah, aku tidak akan bicara lagi soal itu," balas Julian kecewa. "Bicara soal perbatasan, kurasa kau tidak akan bisa melewatinya."
"Kenapa?" tanya Max.
"Penjagaan ketat, kawan. Kudengar mereka juga menurunkan beberapa hippogriff untuk patroli."
"Merepotkan sekali. Kurasa sekali tebas juga cukup," keluh Max.
"Jangan sembarangan. Mereka mungkin saja memasang perangkap yang bahkan Saciel dan aku saja tidak tahu," tegur Phillip.
"Bom sihir. Itu salah satu hal terumit, bahkan aku sendiri tidak bisa menghancurkannya," celetuk Saciel.
"Hanya penyihir kelas atas...eh bukan, penyihir tua yang mampu menetralkan. Yah, meski begitu aku tidak tahu pasti," ujar Julian. "Eh, kau pulang bersamaku Saciel."
"Nggak mau. Pergi sana," tolak Saciel mentah-mentah.
"Jangan gitu dong. Ini demi adikmu, oke?" bujuk Julian. Saciel tetap keukeh akan keputusannya.
"Tuan Zografos, saya ingin tahu perkembangan istana saat ini," celetuk Parvati.
"Situasi di istana agak sedikit...kacau kurasa? Beberapa tetua mulai menginvasi dan mengambil alih komando."
"Bagaimana dengan Steven?"
"Dia ditangkap dan diasingkan di desa lain. Masalahnya harta kerajaan yang paling berharga nyaris direbut," papar Julian.
"Sejak kapan mereka senekad itu?" celetuk Phillip.
"Sejak kau pergi. Mereka merencanakan hukuman mati untuk kalian, namun berhasil kami cegah sebelum benar-benar dilaksanakan. Saciel, aku ragu Cerlina aman dari cengkeraman mereka."
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa pergi begitu saja. Kezia lebih membutuhkanku dibanding Cerlina," ujar Saciel sendu. "Sepertinya bakal ada perang sipil."