The Two Empresses

The Two Empresses
Revolution



Setelah memindahkan Lao dan Cerlina ke rumah masing-masing, Saciel bergerak menuju istana, namun langkahnya terhenti oleh Julian yang berdiri di depannya.


"Mau apa kau?" tanya Saciel.


"Kita perlu bicara," ujar Julian. Saciel mengernyit mendengarnya. "Perihal Vristhi."


"Vristhi Rosemary sudah bukan urusanku saat ini, jadi menyingkirlah," ujar Saciel. Julian tetap bertahan, membuat Saciel sedikit kesal. "Julian Zografos?"


"Kau berniat menyakiti Lao?"


"Hah? Apa maksudmu?"


"Kau tahu sekali Lao mencintainya, tapi kau paksa dia membawa pulang Vristhi yang berkhianat. Apa coba kalau bukan menyakiti?" tantang Lao.


"Hah, dengar Julian. Perkara ini akan lebih cepat selesai jika Lao yang mengejarnya. Memang kau sanggup melawan Vristhi?" balas Saciel. Julian terdiam mendengarnya. "Aku sibuk, jadi pergilah."


"Apa kau tahu alasan Vristhi membelot?" tanya Julian setelah terdiam cukup lama.


"...tidak," jawab Saciel sembari berjalan cepat meninggalkan Julian. Ia tak sadar seseorang mengikuti dari jauh dengan seringai yang tersungging di wajahnya.


"Ketemu~"


...****************...


"Wow, ramuannya benar-benar mujarab. Semua jejak sihirnya...hilang tak berbekas," ujar Nero sembari membereskan kamar Max yang cukup berantakan. Yang empunya malah asyik duduk di ranjang tanpa atasan.


"Kau benar. Dan badanku rasanya jadi ringan," celetuk Max. "Terima kasih."


"Sebaiknya kau berterima kasih pada para penyihir," balas Nero dengan tatapan lempeng. "Kapan kita bisa mengakhiri perang ini?"


"...aku tidak tahu. Daerah Respher masih banyak rasisme, bahkan di sini juga. Tidak mudah menyepakati gencatan senjata begitu saja," ujar Max.


"Kau harus minta persetujuan dengan semua orang dulu, kan?" tanya Nero sembari memberikan secangkir teh. Max hanya mengangguk dan menyesap tehnya. "Kau tahu di mana Kezia?"


"Terakhir kudengar dia ada di perpustakaan."


"Begitukah?" celetuk Nero. Sebuah pesawat kertas terbang dari luar dan mendarat di pangkuan Max.


"Hm? Apa ini?" celetuknya sembari mengambil dan membukanya. Wajahnya mendadak pucat pasi. Nero yang melihatnya heran.


"Kenapa?"


"...kita harus mencari orang tua kita," ujar Max. "Salah satu mata-mata kita menemukan jejaknya."


"Di mana?" tanya Nero antusias.


"Kau tidak akan percaya ini. Mereka ada di benua paling utara dan tempat terdingin di dunia, Lazt."


"Aku baru tahu ada benua lain," gumam Nero.


"Karena kita terlalu terpaku pada benua Eurashia saja. Aku tidak mungkin meninggalkan tahta begitu saja, hanya kau dan Kezia saja yang memungkinkan untuk pergi," ujar Max.


"Yang benar saja? Kau serius?"


"Kita belum dekat dengan gencatan senjata, jadi posisiku masih diperlukan," keluh Max. Nero hanya menghela napas dan mengangguk, namun ekspresi kecewa tertuang di wajahnya.


"Oh iya, kau tidak berniat mencari orang yang menyerangmu?" tanya Nero.


"Untuk apa? Aku yakin dia sudah mati," balas Max kalem.


"Bisa jadi. Ya sudah, aku pergi dulu," ujar Nero. Baru saja berbalik ia mendapati Vatra berdiri di ambang pintu dengan wajah bosan. "Sialan!"


"Siapa dia?" tanya Max.


"Dia...manusia setengah dewa dan musuh," ujar Nero sembari memanggil Undine. Vatra hanya mengulum senyum sinis melihatnya.


"Apa ini pertemuan pertama kita, Pangeran? Saya Vatra, putra dari Oorun," ujar Vatra. "Aku ke sini hanya menawarkan sesuatu saja kok."


"Entah kenapa tawaranmu sepertinya tidak baik," celetuk Max sembari mengarahkan pedang. Vatra tertawa kecil mendengarnya.


"Bisa jadi. Kau masih ingat orang yang nyaris kau bantai di sini? Dia saat ini mencoba merenggut seseorang yang berharga untukmu."


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Mungkin ini bisa membantumu mengingatnya," ujar Vatra sembari melempar segenggam rambut merah. Max terkejut dan mulai waspada.


"Mau kau apakan dia?" tanya Max setengah menggeram.


"Tanya saja padanya, jangan padaku. Kau mau kuberitahu?" tanya Vatra dengan seringai mengerikan.


"Hah, kau pikir aku bakal jatuh dalam perangkapmu?"


"Pintar juga serigala ini," hina Vatra.


"Max, dia itu berbahaya," bisik Nero.


"Aku tahu."


"Berhubung waktunya habis, sebaiknya aku pergi. Ah, bersiaplah. Aku akan menggelar pertunjukan paling megah di benua Eurashia. Kuharap kalian menikmati," ujar Vatra. Ia berbalik dan menghilang begitu saja. Max langsung meraih rambut itu dan mengendusnya.


"... bagaimana?" tanya Nero.


"Bukan miliknya," ujar Max lega. Ia membuang rambut itu dan membakarnya. Kezia yang baru masuk langsung memeluk Max dan menggosokkan kepalanya.


"Nii~"


"Apa? Kau sudah besar, oke?" tanya Max sembari mengelus kepala Kezia.


"Aku kangen sama Saciel nee dan Cerlina nee."


"Jangan sekarang, ya? Kau ingat mereka masih sibuk mengurusi permasalahan intern," ujar Max. Kezia cemberut mendengarnya.


"Pelit."


"Daripada itu, bagaimana jika kau dan Nero mencari orang tua kita?" ujar Max mengalihkan. Ekor Kezia langsung bergoyang cepat mendengarnya.


"Di mana? Bagaimana keadaan mereka?"


"Aku belum tahu, tapi kurasa mereka baik-baik saja. Mereka ada di Lazt."


"Tolong bawakan peta," ujar Max pada seorang pelayan yang berdiri di ambang pintu. Pelayan itu mengangguk dan pergi, lalu kembali dengan sebuah peta di tangannya. Setelah mendapatkan peta, Max membuka peta itu dan menunjuk ke wilayah paling utara yang diberi warna putih.


"Ini namanya Lazt, benua terdingin di dunia. Kau perlu belajar lagi, bocah."


"Oh, berarti banyak salju ya?" tanya Kezia. Max mengangguk. "Kenapa Max nii tidak ikut?"


"Siapa yang akan mengurus kerajaan ini jika tidak ada pemimpin?" tanya Max dengan muka bete.


"Ehehe."


"Kezia, kau tidak bertemu dengan orang asing, kan?" tanya Nero. Kezia memiringkan kepala untuk mengingat, tetapi ia hanya menggelengkan kepala. "Bagus."


"Memangnya kenapa?" tanya Kezia.


"Karena ada musuh yang baru saja masuk. Syukurlah kau tidak bertemu dengannya," ujar Nero. Ia mengelus kepala Kezia dan menatap Max. "Kapan kami boleh berangkat?"


"Besok saja," ujar Max. Seorang prajurit datang dan memberi hormat pada mereka. "Ada apa?"


"Yang Mulia, ada penyerangan di perbatasan," ujar si prajurit. "Dan ratusan orang terluka."


"Segera kirim tenaga medis dan obat-obatan ke sana. Para penyihir memang tidak tahu tempat," geram Max.


"Tapi...kali ini bukan mereka yang menyerang. Melainkan elf."


"Sama saja, mereka masih dari Respher. Buat mereka tidak bisa melakukan apa-apa, tidak perlu dibunuh."


"Aku bosan dengan perang," celetuk Kezia.


"Jaga mulutmu, bocah. Semua orang juga tidak ingin perang, tapi masih ada yang memperjuangkan kekonyolan ini," balas Max.


"Kita semua ini egois," ujar Nero. "Aku akan berangkat sekarang, kau bagaimana Kezia?"


"Kalau Nero nii mau pergi sekarang, aku juga ikut," balas Kezia mantap. Max mengulum senyum mendengarnya.


"Baiklah, aku tidak akan melarang kalian. Berhati-hatilah dalam perjalanan."


"Tunggu sebentar! Jangan pergi tanpa berkat dariku! sahut seseorang. Mereka berbalik dan mendapati Uskup Made cemberut dan berjalan mendekati mereka. "Seenaknya saja kalian."


"Selamat siang, Uskup Made," sapa Kezia.


"Selamat siang, Tuan Putri. Perjalanan kalian sekarang lebih berbahaya lho, bahkan bisa saja kalian menemukan sesuatu yang mengejutkan. Semoga Dewa Aegis melindungi Anda berdua, ujarnya sembari meletakkan tangan di hadapan mereka dan memberkati.


"Terima kasih atas berkatnya, Uskup Made. Kami pergi dulu," ujar Nero. Ia dan Kezia berjalan meninggalkan istana dengan ransel di punggung Uskup Made berpaling pada Max dengan senyum.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Max.


"Apa Pangeran sudah memikirkan tentang putri mahkota?" tanya Uskup Made.


"Ah, aku malah tidak memikirkannya. Lagipula...Ayah tidak terlalu ambil pusing dengan itu."


"Haduh, Pangeran. Hal itu sangat penting untuk memastikan bahwa negara kita punya seseorang menjadi pendamping Anda sekaligus membantu dalam mengembangkan negara ini. Jangan anggap remeh," keluh Uskup Made. "Apa perlu saya mengundang para gadis bangsawan?"


"Tidak, terima kasih. Aku sudah punya calonnya," ujar Max. Uskup Made mengerjapkan mata mendengarnya.


"Siapa?"


"Kau sudah berjumpa dengannya."


"Ah, apa yang Pangeran maksud itu nona penyihir berambut merah?" tebak Uskup Made. Max mengulum senyum tipis, membuat Uskup Made menutup mulut.


"Pangeran, selama perang ini belum selesai, akan mustahil untuk bisa menjadikan nona penyihir itu sebagai pendamping Anda. Dan kurasa...Anda pernah bermasalah dengannya."


"Dosaku ya? Kau tahu bukan aku yang membunuh mereka," ujar Max sendu.


"Saya tahu, Pangeran. Anda berpura-pura membunuhnya agar tidak melukai perasaan Putri Kezia. Saya tidak menyangka Putri Kezia bisa lepas kendali saat itu," balas Uskup Made.


"Ada seseorang yang membawanya ke sana dan memicunya untuk melepaskan segel. Dan bodohnya aku tidak sadar jika dia sudah ada di medan perang. Aku merasa bersalah pada mereka."


"Ah, sepasang penyihir yang mirip dengan nona penyihir ya? Sewaktu mereka mendekati Putri Kezia, aku tidak merasakan niat jahat dari mereka. Malah mereka berniat menolongnya. Saya benar-benar tidak berani mengatakan kebenaran ini."


"Jangan sekali-sekali kau mengatakannya. Itu hanya akan menghancurkan hatinya," ujar Max. "Aku lelah sekali."


"Maafkan saya, padahal Pangeran baru saja sembuh dari sihir hitam. Saya akan meninggalkan Pangeran untuk beristirahat. Selamat siang," pamit Uskup Made. Ia berjalan pergi meninggalkan Max yang menggenggam kalung di leher ya. Cahaya merah berpendar pada cincin itu, namun lemah.


"Seandainya saja waktu itu aku tidak melakukannya, mungkin saja...mungkin saja garis takdir kita berbeda," gumam Max. Ia menyembunyikan kalung itu di balik bajunya dan menatap ke langit. "Saat ini dia sedang apa ya?"


...****************...


"Lao, kau serius ingin pergi? Kau tidak harus menuruti kata-kata Saciel!" bentak Julian sembari menahan Lao yang berjalan menuju pintu. Lao berpaling dan menatap Julian dengan tajam.


"Dia sudah berjuang untuk kerajaan kita, mana mungkin aku meninggalkan dia begitu saja. Dia menyelamatkan nyawaku, meski nyawanya menjadi taruhan," balas Lao. Julian tersenyum pahit mendengarnya.


"Kau itu pemimpin kami."


"Tapi aku bukan rajamu. Saciel akan menjadi ratu yang memimpin kerajaan ini, jadi turuti dia."


"Percaya diri sekali kau mengatakannya. Mana mungkin dia akan menjadi ratu," ujar Julian sinis.


"Sayangnya Archduchess Saciel Arakawa akan menjadi ratu di Careol, Duke Zografos. Saya baru saja mendapat hasil pemungutan suara," celetuk Parvati sembari memberi hormat dan tersenyum. "Lady Cerlina Arakawa akan mengambil alih gelar Archduchess dalam waktu dekat."


"Kenapa?" ujar Julian lirih.


"Archduchess sudah menyelesaikan urusan di wilayah pedesaan yang mengalami gagal panen, mengurus para prajurit di perbatasan yang terluka, menarik pajak dari para bangsawan untuk mengisi kas kerajaan, serta memberikan lowongan pekerjaan kepada rakyat yang tidak bisa bekerja sebagaimana seharusnya," papar Parvati. Julian terpana dan menghela napas, lalu berpaling pada Lao.


"Aku tidak menyangka dia bisa bekerja secepat itu, padahal dia paling sulit untuk diatur," ujarnya lirih.


"Dia itu cerdas, hanya memang karakternya agak sulit untuk dirubah. Aku lega jika dia mengurus kerajaan ini," balas Lao.


"Dan kau akan mengejar Vristhi. Apa kau tidak takut hukuman apa yang akan menimpanya nanti?"


"Soal itu akan diurus nanti. Aku harus pergi sekarang, sebelum Vristhi kehilangan nuraninya lebih dalam," ujar Lao kalem. "Julian, jaga yang lain untukku. Dan kudengar Tania sudah menemukan dirinya."


"Ah, penyihir kecil kita? Dia masih perlu banyak belajar lagi agar bisa menjadi penyihir yang hebat seperti mendiang Duchess," balas Julian. Lao mengulum senyum dan melanjutkan langkahnya.


"Ah, Julian. Kusarankan kau segera mencari jodoh. Saciel dan Cerlina sudah punya calonnya."


"Sialan, kau malah mengejekku hah?" balas Julian setengah menggoda. Lao tertawa keras dan melambai, lalu menghilang dalam sekali jentikan jari.