The Two Empresses

The Two Empresses
Persiapan dan Kembalinya Putri yang Hilang



1 hari sebelum acara


Raz kembali datang dengan membawa koper mewah dan peralatan menjahitnya. Bibi mengantarnya ke ruang kerja, dimana Saciel tengah mengurus administrasi keluarganya.


"Nona, penjahitnya sudah datang," ujar Bibi. Saciel mengangkat wajahnya dan berdiri menyambut Raz dengan tangan terbuka.


"Selamat datang, Raz. Aku sudah menantikannya," ujar Saciel bersemangat. Raz membuka koper mewahnya dan memamerkan satu stel pakaiannya yang didominasi dengan warna merah dan emas. Bibi dan Saciel terperangah melihatnya.


"Astaga, cantik sekali," puji Bibi. Saciel hati-hati mengangkatnya dan mengulum senyum tipis.


"Sangat menarik. Biarkan aku mencobanya," ujar Saciel sembari pergi ke ruang ganti. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan pakaian baru yang menempel pas di tubuhnya.


"Nona, Anda benar-benar mirip dengan Tuan Besar," puji Bibi senang.


"Sayang aku perempuan. Jika aku lelaki, bisa saja aku mirip dengan Papa," ujar Saciel terkekeh. Raz segera maju dan mulai menandai bagian-bagian yang butuh dipermak.


"Nona, apa kau diet? Kenapa banyak bagian yang kebesaran?" tanya Raz.


"Tidak, porsi makanku masih sama. Tolong jangan terlalu ketat ya?"


"Tentu saja, Nona. Jangan khawatir," ujar Raz kalem. Selesai menandai, Saciel mengganti pakaiannya dan memberikannya pada Raz. Setelah memasukkannya dalam koper, Raz memberikan sebuah kotak perhiasan pada Saciel. "Ini untuk pelengkap baju Nona besok."


Saciel mengambil kotak perhiasan itu dan membukanya, lalu mengulum senyum kecil. Ia menutup kotak itu dan menatap Raz. "Aku tahu ini mendadak, tapi bisakah kau membuat gaun pasangannya?"


"Sudah saya buatkan bahkan sebelum Nona memintanya. Untuk Nona Cerlina Arakawa, bukan?" balas Raz girang. "Aku membuatnya dengan ukuran Nona, kuharap muat."


"Kuyakin muat," ujar Saciel mantap. "Tolong bawakan baju itu sebelum jam 9."


"Baik Nona, akan saya bawakan sebelum jam 9. Semua aksesori akan saya kirimkan hari ini. Apa Nona punya permintaan yang lain?"


"Tidak ada, kau boleh melanjutkan pekerjaanmu," ujar Saciel. Raz mengangguk dan meninggalkan kediaman Arakawa. "Bibi, siapkan kereta kuda dan kirim ajudanku untuk menjemput Cerlina pulang."


"Baik Nona," ujar Bibi. Saciel menyerahkan sepucuk surat padanya.


"Jangan lupa minta cap segel di tempat Lao sebelumnya. Aku tidak bisa membubuhkan capku atau orang akan mengetahui keberadaanku."


"Baik, Nona. Kalau begitu saya pamit dulu," pamit Bibi sembari berjalan meninggalkan ruang kerja. Saciel kembali duduk dan fokus pada administrasi, namun matanya terpaku pada selembar kertas dengan tulisan yang sangat Saciel kenal. Ia meraih kertas itu dan membacanya dengan cermat.


"Ini...catatan milik Papa? Bagaimana bisa ada di sini?" gumamnya. "Tapi...tunggu sebentar, ini masih baru. Tidak mungkin."


"Nona, Nona Rosemary datang berkunjung," ujar pelayan sembari mengetuk pintu. Saciel mengerang dan berdiri meninggalkan meja, lalu turun ke ruang tamu dimana Vristhi tengah duduk dengan aura yang berat.


"Halo, Vristhi. Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Saciel sembari duduk di depannya.


"Tidak, aku hanya kemari untuk menyapamu. Pasti berat sekali ya pergi berpindah-pindah demi menghindari prajurit yang mengejarmu?" sindir Vristhi. Saciel hanya diam, lalu mengulum senyum tipis yang cukup menyeramkan.


"Katakan saja apa maumu, Vristhi. Kuyakin kau punya maksud lain," ujar Saciel.


"Astaga, kau memang cerdas. Aku tidak bisa menyembunyikan rahasia di depanmu, ya? Aku kemari memang benar-benar ingin berkunjung kok, tetapi sekaligus menyampaikan sesuatu dari Parvati."


"Parvati? Ada apa dengannya?"


"Dia bertemu dengan orang asing yang keluar dari ruang rapat yang dihadiri oleh para tetua saja. Namun sayang ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas," papar Vristhi.


"Begitu? Lebih baik kita biarkan saja dulu, berhubung kita tidak tahu siapa dia dan apa tujuannya ikut rapat itu," ujar Saciel. "Ada lagi."


"Kau sudah dengar tentang Ilmol?"


"Sudah. Aku tidak menyangka dia akan menggantikan Comet sebagai kepala keluarga."


"Itu karena ancaman dari Lao. Kepala keluarga terdahulu, yaitu ayah Ilmol tidak bisa menolaknya. Yah, meski aku harus bertarung dengan Ilmol dulu."


"Dia berhasil memotong tanganku hanya dalam waktu yang sangat singkat," ujar Vristhi.


"Astaga, benarkah? Dia berbakat untuk mengeksekusi," balas Saciel setengah mencela. Vristhi tertawa kecil dan memiringkan kepalanya dengan anggun.


"Memang, dan kurasa dia lebih berbakat dibanding dirimu," cela Vristhi. Saciel tertawa keras dan menyilangkan kakinya.


"Baguslah kalau begitu. Jadi aku punya lawan yang tangguh saat latihan kelak," ujar Saciel. "Kau siap mengikuti acara besok?"


"Tentu saja. Ini akan menjadi ajang perdebatan paling panas sepanjang sejarah. Kau, aku dan Cerlina akan menjadi kandidat penguasa negeri ini. Menurutmu, siapa yang akan menjadi ratunya?" tanya Vristhi dengan senyum manisnya.


"Yang pasti bukan kamu. Aku tahu betul kamu tidak suka dengan politik," ujar Saciel.


"Kau masih ingat rupanya? Baguslah. Sebaiknya kau saja yang jadi ratu," ujar Vrishti. Saciel menghela napas dan menggelengkan kepala.


"Tidak, itu sangat sulit untukku. Tapi akan kupikirkan nanti," putus Saciel. "Pulanglah, kau bisa saja menyebarkan gosip kalau aku kembali."


"Tidak akan. Mulutku terkunci rapat untuk perkara 7 Eternal Wizards."


"Benarkah? Kupikir kau tipe orang yang suka membocorkan rahasia orang," sindir Saciel. Vristhi menggelengkan kepala dan bangkit berdiri dengan anggun.


"Aku bukan tukang omong, oke? Sampai jumpa di istana besok," pamit Vristhi sembari berjalan keluar diikuti kepala pelayan. Saciel menghela napas dan menatap ke luar, menyaksikan kereta yang membawa Vristhi pergi meninggalkan mansionnya. Ia kembali ke ruang kerja dan mengambil catatan tadi sembari menggumam tak jelas.


Satu jam berlalu. Kereta miliknya berhenti di depan pintu masuk. Sosok anggun dan cantik Cerlina perlahan menyeruak dari dalam kereta. Senyum tak bisa dihapus dari wajahnya.


"Selamat datang, Nona Cerlina," sambut Bibi dengan senyum lebar dan bahagia. Cerlina segera berlari dan memeluk wanita paruh baya itu.


"Bibi, aku merindukanmu," bisiknya sembari menahan isak tangis. Bibi mengulum senyum dan mengelus puncak kepala Cerlina dengan penuh sayang.


"Bibi juga merindukan Nona. Mari masuk, Nona Saciel sudah menunggu di dalam," ujar Bibi. Mereka segera masuk dan mendapati Saciel berjalan menuruni tangga dengan gaya maskulin.


"Selamat datang kembali, Cerlina. Kau terlihat sehat," sapa Saciel. Cerlina tertawa kecil dan menunggu saudari kembarnya itu sampai dan langsung menghadiahinya dengan pelukan erat.


"Kau tak tahu betapa cemasnya aku memikirkanmu yang selalu pergi dibawa angin," ujar Cerlina.


"Aku lebih cemas denganmu yang terlalu polos dan mudah ditipu orang lain," balas Saciel sembari mengelus kepalanya. "Kau sehat?"


"Lebih baik dari sebelumnya. Tidak kusangka gadis kuil berniat meracuniku," keluh Cerlina. "Tapi...yang aku tahu dia itu bawahan dari salah satu tetua."


"Apa kau pernah melihatnya?"


"Sebelum aku menceritakannya, bisakah kita duduk dan menikmati secangkir teh Black Pearl?" tanya Cerlina. Saciel mengangguk dan meminta pelayan untuk membuatkan teh. Mereka duduk di ruang tamu dan berceloteh ke segala arah.


"Sampai di mana aku tadi...oh, iya soal gadis kuil itu. Aku pernah melihatnya datang bersama tetua Yorktown sebagai seorang pelayan. Tak kusangka dia akan menjadi gadis kuil."


"Pelayan ya? Berani sekali Yorktown meracunimu," gumam Saciel menahan amarah yang siap dilontarkan. "Kalau tahu begini ceritanya, aku seharusnya membunuhnya saja."


"Tidak boleh. Kau bisa saja memancing perang sipil. Lalu...sebenarnya dari awal aku sudah tahu kalau aku diracuni, namun aku tidak bisa membuang teh begitu saja. Mereka pasti akan curiga jika aku melakukannya. Yang bisa kulakukan hanya membuat pertahanan untuk menetralkan racun, walau ternyata...racun terakhir yang diberikan berbeda jauh dari yang biasanya. Lebih berbahaya dan juga mematikan," papar Cerlina.


"Aduh, Cerlina kau memang bodoh. Mereka harusnya dihukum gantung karena meracunimu, si Pendeta Agung. Ahhh, sayang banget kesempatan ini lewat begitu saja," keluh Saciel sembari memijat pelipisnya. "Ya sudahlah, semuanya sudah telanjur rusak. Sekarang kau mandi, makan dan istirahat. Besok adalah hari besar kita."


"T-tapi aku tidak punya pakaian yang pantas."


"Sudah kusiapkan, tenang saja. Bibi, bawa Cerlina ke kamarnya dan mandikan dia," ujar Saciel.


"Baik Nona. Nona Cerlina, mari kita pergi," ujar Bibi. Setelah Cerlina meninggalkan ruang tamu, Saciel menghela napas dan memeluk bantal seerat mungkin.


"Huf. Besok adalah debutku, jadi penasaran seperti apa reaksi mereka saat tahu aku ada di sana."