
Suara langkah kaki terdengar keras dan menggema di sebuah terowongan gelap, panjang dan lembab. Rasa takut tidak ia rasakan, melainkan terus berjalan menyusuri hingga sampai di depan sebuah pintu besar dengan ukiran ular bermata giok yang sudah mulai diselimuti oleh lumut. Ia membisikkan suatu mantra dengan bahasa asing, nyaris seperti desis ular. Perlahan ukiran itu bergerak dan meninggalkan tempatnya, membuka pintu besar dan berjalan berat itu. Ia melangkah masuk, menemukan Vatra duduk di sebuah singgasana yang terbuat dari batu dengan tatapan kosong.
"Kau sudah mengirim semua undangan?" tanya Vatra. Orang itu mengangguk, wajahnya ditutupi oleh tudung. Si rambut red wine itu menyeringai dan bangkit berdiri. Tangannya menggenggam sebuah gelas anggur dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Sebentar lagi acara yang kita tunggu akan segera dimulai. Aku tidak sabar menunggu wajah penuh keputusasaan tergambar pada mereka. Tanganku gatal ingin menebas kepala para dewa yang berani merendahkanku, dan aku tak sabar ingin menenggak darah dari Oorun," ujar Vatra. Tawa menggema di ruangan itu, namun orang itu hanya diam menyaksikan. Vatra mengibaskan tangan agar orang itu pergi, lalu ia berjalan menyusuri lorong sempit dengan api di tangan. Seorang wanita berparas ayu dengan rambut sehitam malam terbaring kaku di atas peraduan batu. Bunga lili dan kain sutra putih menyelimutinya dengan elok. Ia mengelus pipi dingin itu dengan lembut.
"Ibu, sebentar lagi dendammu akan kubalas. Bertahanlah sedikit lagi," ujar Vatra sembari mengecup pipinya. Ia meninggalkan ruangan itu dengan tatapan dingin, melangkah menuju ruangan besar berisi potongan tubuh dari berbagai ras yang ia habisi.
"Koleksiku masih jauh dari lengkap," gumamnya. Dark berjalan masuk dengan santai, namun terhenti ketika belati melayang tepat di lehernya. "Sudah kuperingatkan untuk tidak masuk ke sini."
"Wah, galak sekali kau. Aku hanya memastikan kau siap untuk festival kita," ujar Dark kalem sembari menyingkirkan belati dari lehernya.
"Semua sudah berada di posisi?"
"Ya, tinggal kau dan aku saja," jawab Dark. "Kau tidak berniat mundur, bukan?"
"Hah, apa katamu? Mundur? Sudah gilakah dirimu sampai bertanya seperti itu padaku?" ujar Vatra. Ia berjalan melewati Dark dengan aura dingin, membuat Dark sedikit gemetar. Setelah jarak mereka cukup jauh, Dark menyusul dengan menutupi wajahnya.
...****************...
"...Firasatku tidak enak," ujar Saciel sembari meletakkan penanya dengan sedikit keras hingga mengagetkan ajudannya yang asyik membaca bersama Lao.
"Firasat, Yang Mulia? Apa berkaitan dengan undangan yang pernah kau terima dari burung gagak kemarin?" tanya Phillip.
"Bisa jadi," gumam Saciel. "Kau sudah memperketat penjagaan?"
"Sudah, Yang Mulia. Semua wilayah sudah dijaga ketat oleh pasukan kita," jawab Phillip. Lao mendekati sang ratu dan memasang senyum.
"Jangan terlalu tegang, kau malah stres nanti," hibur Lao.
"Justru kamu yang stres. Kenapa kau malah kemari? Aku tidak ingat menjadikanmu ajudan," keluh Saciel sembari mendorong pria itu agar menjauh darinya.
"Dinginnya, aku kemari 'kan ingin menghibur Yang Mulia. Tapi kurasa waktunya memang tidak bagus, ya?"
"Kalau sudah tahu, kenapa masih tanya?" balas Saciel sembari berdiri dan menempelkan jemarinya di jendela. Hatinya merasa tidak tenang, namun ia tahu menunjukkan kelemahan berarti hanya akan menjatuhkan dirinya. Setelah semua yang terjadi, ia tidak bisa membiarkan orang lain menyepelekan dirinya yang masih muda dan mudah terjerumus emosi sesaat.
"Bagaimana keadaan Tania?"
"Dia masih syok, tapi sudah mulai menerima meski tidak bisa dipungkiri kalau ia membenci Yang Mulia," celetuk Lao.
"Tentu saja, aku 'kan sudah membunuh orang terdekatnya," jawab Saciel dengan senyum yang dipaksa.
"Jangan bohong. Aku tahu kau masih tidak menerima keputusan ini."
"Justru jika saya menolak keputusanmu, kurasa Vristhi berhasil memporakporandakan kekaisaran dengan mudah. Kemungkinan terburuknya, kau bisa mati," balas Lao sembari menggenggam jemari lembut yang terlihat rapuh dan pucat milik sang ratu, mengecupnya dengan lembut hingga membuat Saciel sedikit tersipu. "Jika aku yang harus berhadapan dengannya, kurasa aku akan langsung kalah."
"Meski begitu, lubang di hatimu semakin dalam, bukan?" celetuk Saciel. Lao mengangguk.
"Umm, maaf mengganggu, tapi sepertinya kita kedatangan tamu tak diundang," ujar Phillip. Mereka berbalik dan terkejut melihat Dark berada di belakang Phillip sembari mengarahkan pedang di lehernya.
"Menjauh dari istriku, Lao. Aku tidak akan segan menumpahkan darah sekarang juga," ancam Dark. Lao bergegas menjauh, namun ia tidak mengendurkan kewaspadaannya.
"Kau lagi! Mau sampai kapan kau memanggilku seperti itu?" sahut Saciel sembari mengepalkan tangannya. "Kalau kau lukai dia meski hanya segaris, kupotong lehermu."
"Ahahaha! Apa kau mampu melakukannya, istriku? Terakhir aku bertemu denganmu, kau sudah hampir mati melawanku. Kau yakin bisa membunuhku?" cemooh Dark. Sebuah tembakan es melayang cepat melewati Dark dan meninggalkan segaris luka merah di wajahnya.
"Kau pikir aku tidak bisa?" tanya Saciel kalem. "Lepaskan dia."
Dark diam sejenak, namun ia belum menjauhkan pedangnya dari leher Phillip. Sebuah senyum culas mendadak terpatri dan menotok leher Phillip hingga ambruk dengan cepat. Sebelum Saciel bergerak, Dark langsung berteleportasi di belakangnya dan memeluknya dengan erat.
"Ke~tang~kap~. Mari kita pergi dari sini, Istriku. Bersama kita akan melihat matahari menangis darah saat ini," ujarnya sembari berteleportasi sebelum Lao tanggap dengan situasi. Ia berpindah ke sebuah gunung tinggi dengan matahari tepat di atas mereka, membuat peluh perlahan mengucur.
"Sebentar lagi, istriku. Kita akan menikmati sebuah festival di seluruh Eurashia," ujar Dark. Ia menembakkan kembang api dari telunjuknya, disusul ledakan besar di beberapa titik.
"Tidak!" sahut Saciel. Dark tertawa keras dan mencengkeram dagunya hingga bertatapan dengannya.
"Kita lihat pembantaian Eurashia hari ini, Saciel. Semua ras yang ada di benua ini akan binasa, bahkan dewa konyol yang berada di sini," bisik Dark. Saciel langsung menggampar wajahnya dan melompat mundur sejauh mungkin.
"Kalian gila!"
"Salahkan Vatra yang memberi perintah seperti itu, Sayang. Kebetulan saja aku memang memiliki pemikiran yang sama dengannya," ujar Dark. "Kemarilah, aku tidak akan membunuhmu jika kau menurut."
"...aku memilih mati melawanmu daripada menurut seperti anjing di hadapanmu," jawab Saciel sembari menarik pedang. "Eurashia akan berperang dengan pemberontak seperti kalian!"
"Hah! Kalian yang masih diliputi kecemasan, rasisme dan curiga terhadap ras lain mampu mengalahkan kami?"
"Yah, kurasa jika bekerja sama dengan menekan ego, bisa saja," celetuk seseorang.
"Siapa? Tunjukkan dirimu, pengecut!" sahut Dark. Seorang flügel melompat turun di samping Saciel dan memasang wajah sombong.
"Halo, Yang Mulia. Perlu bantuan dari saya?" ujar Jegudiel sembari membawa sebuah pedang di tangannya.