The Two Empresses

The Two Empresses
Ceshier in Danger



"Pangeran! Ada serangan di Lumos!" sahut prajurit sembari berlutut di hadapan Max. Ketiga bersaudara yang asyik bermain terkejut dan berdiri secepat kilat.


"Siapa yang melakukannya?" tanya Kezia.


"Dia...dia bukan manusia biasa, Tuan Putri."


"Bukan manusia biasa? Ah, berarti 'orang itu' ya?" celetuk Nero. "Max, sebaiknya kita segera pergi menghajarnya."


"Kuserahkan padamu, Nero. Aku akan mengurus bantuan di sini. Kezia, kau mau ikut aku atau Nero?" tanya Max.


"Aku akan membantu Nero nii," jawab Kezia mantap. Max mengulum senyum dan mengelus kepalanya.


"Berhati-hatilah dan ikut Nero. Dia bukan lawan yang mudah," ujar Max. Kezia mengangguk dan bergegas pergi bersama Nero. "Kirimkan tenaga medis dan prajurit untuk mengevakuasi rakyat!"


"Nii, apa orang itu berbahaya?" tanya Kezia. Nero diam sejenak dan mengangguk. "Seberapa berbahaya?"


"Kezia, dengar. Dia itu adalah keturunan dari salah satu dewa pencipta, Dewa Oorun. Meski dia hanya setengah dewa, kekuatannya tidak bisa diremehkan," papar Nero. "Jika kau berhadapan dengan orang itu, sebisa mungkin lari."


"Aku tidak akan lari, nii. Aku harus melindungi rakyat sebagai seorang putri dari Ceshier. Daripada itu, apa nii pernah melawannya?" tanya Kezia.


"Ya. Saat itu aku bersama si kembar tengah menemui Oorun, tapi entah bagaimana caranya dia sudah berada di belakang kami dan menyerang hingga membuatku tak sadarkan diri. Nasib baik dia belum membunuhku," ujar Nero. Kezia terdiam dan gemetar, aura membunuh perlahan menguar darinya.


"Tidak bisa dimaafkan. Harus dibunuh!" jerit Kezia. Nero menahan gadis itu dan mengelus kepalanya. "Nii!"


"Apapun yang terjadi, jangan coba-coba melawannya. Kau dengar aku, Kezia?" ujar Nero setengah mengancam. Kezia mengerucutkan bibirnya dan mengangguk, membuat senyum terpatri di wajah Nero.


"Aku pasti bisa membunuhnya," gumam Kezia. Nero hanya tertawa kecil dan kembali berjalan, disusul Kezia di belakangnya. Para prajurit yang menyadari kehadiran keluarga kerajaan langsung memberi hormat.


"Anda mau ke mana, Grand Duke dan Tuan Putri?" tanya prajurit.


"Ke Lumos," ujar Nero cepat. Seorang prajurit sudah membawakan dua ekor kuda dan memberikannya pada mereka. Dengan cepat mereka lompat ke atas punggung kuda dan berderap meninggalkan istana tanpa rasa takut. Max menghela napas menatap punggung mereka yang sudah menjauh dan mulai bekerja sekeras yang ia mampu.


"Bagaimana proses evakuasinya?" tanya Max.


"Saat ini kami berhasil mengevakuasi separuh warga di Lumos, sisanya masih terjebak...atau mungkin lebih tepatnya...menjadi sandera," jawab kepala prajurit ketakutan. Max memijat pelipisnya dan meremas laporan di tangannya. "Pangeran?"


"Sialan, beraninya orang itu mengganggu rakyatku," gumam Max. "Apa ada korban?"


"...ada, Pangeran. Lebih dari 20 orang dibantai di tempat dengan cara...sadis."


"Brengsek!" maki Max sembari membanting laporannya. "Orang itu harus dieksekusi!"


"Tapi Pangeran, dia bukan manusia biasa. Dia...setengah dewa," ujar kepala prajurit. Max makin frustrasi dan melampiaskannya dengan cara menendang meja hingga terguling. Tiba-tiba Uskup Made masuk dan memberi hormat.


"Seorang pangeran harus menjaga diri agar tidak terbawa emosi, Pangeran Max," ujarnya kalem. Max berpaling dan menatap Uskup Made dengan wajah nelangsa. Uskup Made langsung mengusir kepala prajurit untuk keluar dan mendekati Max dengan hati-hati.


"Aku tidak bisa melindungi rakyatku. Aku lemah," ujar Max sembari menggenggam ujung jubah Uskup Made. Sang uskup mengelus kepala pemuda itu dengan penuh kelembutan.


"Kau sudah berjuang sekuat tenagamu, Nak. Kau harus percaya pada dirimu sendiri sebagai seorang pangeran," ujarnya lembut. Max berlutut di hadapannya sembari menitikkan air mata.


"Aku tidak pantas menjadi raja."


"Apa kau yakin, Pangeran?" tanya Uskup Made. Max mengangguk samar, sementara Uskup Made terus mencoba menguatkan sang calon raja yang melemah.


"Pangeran! Yang Mulia raja dan ratu sudah ditemukan!" sahut kepala prajurit. Max langsung bangkit berdiri dengan harapan memuncak.


"Di mana?" tanya Max. Kepala prajurit berjalan cepat menuju kamar tamu dan menunjuk kedua orang yang familiar untuk Max tengah terbaring tak sadarkan diri. Max terperangah dan mengelus pipi mereka dengan lembut.


"Ma? Pa?" panggil Max lirih. Mereka tidak menjawab dan masih terlelap. Max menghela napas dan meninggalkan kamar tamu dengan lunglai. "Tolong jaga mereka."


"Baik, Pangeran."


"Pangeran, sebaiknya Anda fokus pada rakyat kita di Lumos," ujar Uskup Made. "Grand Duke dan Putri sedang mempertaruhkan nyawa di sini."


"Kau benar. Aku harus mengemban tugas sebagai pemimpin," ujar Max tenang. Ia berjalan kembali ke ruang tahta dan mulai mengatur keberlangsungan kerajaannya.


...****************...


Nero dan Kezia masih berkuda ketika Vatra melakukan pembantaian pada seratus pasukan yang mencoba menghalangi. Darah segar mengalir membasahi pertiwi. Aroma anyir langsung menyapa mereka.


"Sialan, kita terlambat," ujar Nero. Kezia langsung melompat dari punggung kuda melompat melewati pepohonan dengan kemarahan yang tidak terbendung. "Kezia!"


Yang dipanggil tidak mendengar, melainkan tetap bergerak hingga sampai di hadapan Vatra yang berlumuran darah dengan wajah datar. Ia berpaling pada Kezia dan memiringkan sedikit kepalanya.


"Siapa kau?" tanyanya. Kezia menggeram dan mengeluarkan sabitnya dengan garang.


"Aku lawanmu!"


"Maaf, aku tidak berminat melawan bocah," ujar Vatra merendahkan. Kezia melompat dan mengayunkan sabitnya, namun berhasil dielak Vatra. "Hm, tidak buruk. Kau mau mati?"


"Kau yang akan mati, brengsek!" maki Kezia. Vatra hanya angkat bahu dan langsung menerjang, namun Kezia dengan cepat berkelit dan mundur. Aura mematikan dari Vatra membuatnya kesulitan bernapas. Vatra mengambil sebuah tombak milik prajurit yang mati dan melemparnya secepat kilat hingga menggores pipinya.


"Meleset," gumam Vatra. Kezia mengelap darah yang mengalir di pipinya dan menggenggam sabitnya kuat-kuat. Nero yang berdiri di belakang Vatra mengayunkan senjatanya tanpa suara, namun Vatra mampu menahan dan membanting Nero sekuat mungkin.


"Kau perlu menghapus niat membunuhmu agar tidak diketahui," ujar Vatra kalem. Nero bangun dan mundur mendekati Kezia sembari memanggil Undine.


"Kau baik-baik saja?" tanya Nero. Kezia hanya mengangguk, namun tatapannya masih terpaku pada Vatra. Yang ditatap hanya menatap balik dengan malas.


"Kalian pikir kalian bisa mengalahkanku?" tanya Vatra.


"Aku belum tahu, makanya kucoba," balas Kezia sembari melempar sabitnya dengan cepat hingga menggores lengan Vatra. Ia hanya diam memperhatikan darah mengalir pelan. "Berhasil?"


"Kurasa dia sengaja," ujar Nero. Kezia menggeram dan mencoba maju, namun Nero menghalangi. "Dia berbahaya, Kezia. Jangan gegabah."


"Baik, nii. Maaf," ujar Kezia. Nero maju selangkah dan memasang ekspresi datar.


"Heh, kau takut aku membunuh makhluk panggilan milikmu?" tanya Vatra sembari mengelak dari serangan yang datang.


"Rasa takut itu wajar dalam kehidupan," balas Nero sembari melayangkan tendangan keras hingga membuat Vatra mundur cukup jauh. Tidak berhenti di situ, Kezia melompat dan menebaskan sabitnya hingga menyobek dada berotot sang setengah dewa. Ia tetap bergerak dan kembali mengayunkan sabit, namun Vatra tidak tinggal diam. Ia menggenggam pergelangan tangan gadis itu dan melemparnya sejauh mungkin.


"Tidak kusangka kalian berdua mampu melukaiku. Ah, ralat, tepatnya gadis itu," ujar Vatra. Tangannya menyentuh luka di dada dan memandangi darah yang melumuri tangan. "Kurasa dia punya potensi lebih dibandingkan dengan lawanku sebelumnya."


"Sialan, dia masih bisa bertahan dengan datar begitu?" keluh Nero.


"Masih belum!" sahut Kezia sembari berlari cepat dan menendang, ditambah dengan ayunan sabit yang mulai menghiasi tubuh Vatra dengan goresan. Vatra mencoba untuk menghindari, namun Nero tidak melepaskan kesempatan itu. Ia maju ke sisi kanan dan menusukkan pisau tepat di rusuknya. Darah kembali mengucur deras, namun tidak ada ekspresi kesakitan ataupun ketakutan. Vatra menjentikkan jemarinya dan angin mendorong mereka menjauh darinya. Ia langsung mencabut pisau itu dan melemparnya dengan cepat hingga menancap kuat di pundak Kezia.


"Argh!"


"Kezia!"


"Kau pikir bisa mengalahkanku dengan kekuatan itu? Kau salah besar," ujar Vatra. Luka di tubuhnya mendadak mengeluarkan asap dan tertutup sedikit demi sedikit hingga tak berbekas. "Kau masih jauh dari itu, bocah."


"Aku tidak akan kalah darimu!" sahut Kezia sembari mencabut pisau itu dengan paksa dan membuangnya sejauh mungkin. "Aku harus mengalahkanmu agar kedamaian memenuhi kerajaan ini."


"Kedamaian, katamu? Hal seperti itu tidak ada di dunia ini," ujar Vatra dingin. "Sudah berapa lama kalian berperang dengan Respher hanya karena perbedaan pendapat dan ras?"


"Bukan urusanmu!" pekik Kezia. Nero bergerak maju bersama hellhound dengan wajah masam. "Nii?"


"Mundur, Kezia. Aku yang akan melawannya," ujar Nero.


"Bisa-bisanya kau memanggilku untuk melawan monster itu," ujar hellhound kesal.


"Mau bagaimana lagi? Undine sudah tidak bisa kupanggil sekarang," ujar Nero. Hellhound tersebut menggeram dan memamerkan taringnya yang tajam dan mengerikan.


"Kau berhutang padaku, bocah tengik," ujar hellhound. Ia melompat maju dan mencoba mencakar Vatra, namun mampu ditahan hanya dengan tangannya.


"Kau...yang waktu itu membawa kabur gadis itu, ya? Siapa namanya?"


"Aku tidak ingat namanya," balasnya sembari menghajar dengan kaki yang satu hingga terpental jauh. "Kita tidak punya banyak waktu."


"Cukup, kok," balas Nero sembari melompat dan menyerang Vatra bertubi-tubi, hingga dia tak memiliki kesempatan untuk membalas maupun bertahan. "Kezia!"


"Hargh!" pekiknya sembari terjun dan berhasil menebas lengan kirinya hingga terputus. Belum cukup, gadis itu bermanuver dengan memutar tubuhnya dan berniat menebas lehernya.


"Menarik sekali," bisik Vatra sembari menendang Kezia dan membanting Nero hingga menghancurkan tanah di bawah.


"Gah!"


Vatra mendarat dengan mulus dan menatap lengan kirinya dengan tatapan kosong. Dengan sekali lambaian, lengan baru sudah muncul begitu saja.


"Sialan, apa dia kadal?" keluh Kezia.


"Dia itu manusia setengah dewa, jadi wajar saja dia bisa melakukan regenerasi lebih cepat dari orang lain," celetuk hellhound santai. Vatra berpaling pada hellhound tersebut dan menyeringai.


"Anjing kampung di sana itu perlu dilatih lagi," ujar Vatra. Sebelum hellhound bersuara, Vatra sudah berdiri di hadapannya dengan tangan menyentuh hidungnya. "Tidak, dilatih saja tidak cukup. Pergilah."


Hanya dengan sekali remasan, hellhound itu hancur berkeping-keping. Nero dan Kezia ternganga melihatnya.


"Ini buruk," gumam Nero. Vatra berpaling pada Dua bersaudara dengan tatapan mematikan, membuat mereka merinding ketakutan. "Sial, sial, sial!"


"Nii?" cicit Kezia.


"Waktumu semakin habis, bocah-bocah ingusan. Pilihan kalian hanya mati di sini," ujar Vatra sadis. Nero makin pucat, sementara Kezia meringkuk ketakutan di belakang Nero. Sebelum Vatra mengeluarkan serangan, ratusan pisau sudah mengelilinginya. "Siapa?"


"Ah, maaf. Tadinya aku tidak mau membantu atau menuruti perintah ratu baruku, tapi kebetulan saja kami masuk ke wilayah ini dan tidak tega melihat mereka ketakutan. Jadi...ya kami bantu," sahut seseorang. Vatra menoleh dan melihat Ilmol serta Istvan berdiri di belakang dengan kuda-kuda siap untuk menyerang. "Seharusnya kau menutup portal di wilayah elf."


"Oh? Kau menemukan portal rahasia itu?" tanya Vatra kalem, seakan semua itu wajar. Istvan tertawa keras mendengarnya.


"Ini juga salah satu rencanamu, bukan?" ujar Istvan. "Dan kurasa kau tahu di mana nenekku."


"Entahlah," jawab Vatra sekenanya. Ilmol bergerak maju dengan cepat dan mengayunkan kedua pedangnya hingga memutuskan kedua lengannya. Belum selesai, ia juga menebas kedua kakinya tanpa jeda. Sebelum melancarkan serangan terakhir, Vatra menyerang balik dengan memadatkan darah miliknya hingga membentuk pedang tajam. Ilmol yang menyadari bahaya langsung berkelit dan mundur di samping Istvan.


"Dia terlalu kuat," bisik Ilmol.


"Tentu saja, dia kan setengah dewa. Paling tidak kita buat dia terpojok," balas Istvan sembari menghunjamkan semua pisaunya pada tubuh Vatra. "Sialan, dia memadatkan darahnya lagi."


"Tidak akan kubiarkan!" sahut Kezia sembari menendang kepalanya sekeras mungkin hingga konsentrasinya buyar. Begitu kesempatan terlihat, Istvan memperdalam tancapan pisaunya hingga menusuk tulang. "Ilmol!"


Sang putri Phoenix tersebut berlari cepat dan menusuk jantungnya dengan kedua pedangnya hingga tembus ke punggung, lalu mundur meninggalkan pedangnya.


"Berhasil?" tanya Ilmol.


"...tidak, dia masih hidup," balas Nero sembari menarik Kezia. "Mundur!"


Vatra tidak bergerak, namun napas lirihnya menandakan bahwa dirinya masih bertahan. Ia menatap tajam ke arah Ilmol dan menggunakan darahnya sebagai senjata. Darah segar langsung membentuk ribuan jarum tipis dan panjang, lalu dilempar ke segala arah. Istvan langsung membuat perisai, sementara Nero yang menggendong Kezia mencoba sekuat tenaga untuk menghindari serangan acak itu.


"Gila, padahal aku sudah menusuk jantungnya," keluh Ilmol.


"Aku juga penasaran dengan hal itu," balas Istvan. "Bersiap untuk serangan berikutnya."


"Hah? Serangan apa?"


"Haish, serangan brutal milikmu," balas Istvan gemas. Ilmol menjitak kepala pemuda itu dengan kesal.


"Brutal katamu? Mau kutempeleng lagi kepalamu?" balas Ilmol. Ia membakar dirinya dengan api merah padam dengan senyum mengerikan.


"Kau tahu, daripada terlihat seperti phoenix, kau malah mirip dengan iblis," celetuk Istvan. Ilmol hanya angkat bahu dan membakar semuanya, bahkan darah Vatra pun langsung memuai begitu saja. Nero langsung melompat jauh menyeberangi sungai dan menonton.


"Hei kalian! Jangan coba-coba datang kemari kalau tidak mau berakhir menjadi daging panggang! Apinya terlalu panas untuk didekati!" sahut Istvan.