The Two Empresses

The Two Empresses
Puzzle



"Memangnya kenapa?" tanya Cerlina dengan kepala dimiringkan sedikit, membuat Nero nyaris mimisan.


"Begini, Cerlina. Apa yang Daniel tunjukkan padamu adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh keturunan dia saja. Kau tahu caranya pun, sihirnya belum tentu menerimamu begitu saja," papar Nero. Cerlina cemberut mendengarnya.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya setengah merajuk. Nero hanya bisa mengangkat bahu, sementara Kezia menggelengkan kepala.


"Mungkin kita bisa bertanya pada Layla?" celetuk Nero. "Dia memang istrinya, tapi aku ragu Layla tahu soal ini."


"Tapi dia sedang berduka, aku tidak enak meminta tolong padanya," ujar Cerlina.


"Benar juga, sih. Kalau terpaksa kita pakai cara kasar. Membobol paksa," ujarnya.


"Bobol paksa!" sahut Kezia girang.


"Kalau terpaksa, Kezia. Bukan beneran," tegur Nero.


"Nii, memangnya Undine tidak bisa membuka jalannya?"


"Entahlah, Kezia. Ini masalah harta suci yang diwariskan, bukan milik keluarga kerajaan. Jadi tidak sopan melakukan pembongkaran tanpa izin," ujar Nero sembari mengelus kepalanya dengan lembut.


"Merepotkan. Harusnya bobol saja," ujar Kezia.


"Itu kalau semua keluarganya sudah tidak ada lagi, Kezia," ujar Nero. "Apa Vatra melukaimu, Cerlina. Rambutmu kok pendek?"


"Aku mengelak dari pedangnya dan yah, rambutku yang jadi korban," jawabnya singkat. Nero kesal dan mengelus rambutnya dengan lembut.


"Oh, dia menantangku ya? Kubunuh dia."


"Tidak boleh! Aku yang akan membunuhnya duluan!" sahut Kezia. "Dia lawanku!"


"Iya, iya. Bodoh," gumam Nero. Cerlina hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka, namun membatu ketika Layla masuk dengan wajah kuyu, begitu pula Kezia dan Nero.


"Halo, Nyonya. Mohon maaf atas kelancangan kami datang tanpa pemberitahuan dan turut berduka atas kepergian Tuan Mostroes," ujar Nero. Layla hanya mengangguk dan duduk, membuat isyarat untuk mereka duduk.


"Istana pasti sibuk karena serangan," ujar Lalya sembari menyesap teh yang sudah dingin dengan tatapan kosong.


"Hampir semua wilayah terkena dampaknya, Nyonya. Apalagi dengan banyaknya korban, istana memang membutuhkan banyak bantuan dari berbagai pihak," jawab Nero. Layla berpaling pada Cerlina yang bingung.


"Apa kau menemukan yang kau cari, Nona Pendeta Agung?" tanya Layla.


"Sebelum saya sempat mencari, wilayah ini sudah diserang. Sekarang saya tidak bisa masuk ke tempat itu lagi," jawab Cerlina. Layla menghela napas mendengarnya.


"Sayang sekali. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa membantu kalian untuk masuk ke ruang itu. Hanya Daniel saja yang berhak dan juga keturunannya."


"Kalau Anda mengizinkan, kami ingin membuka paksa tempat itu. Tapi tetap pilihan di tangan Anda," ujar Nero tegas.


"Buka saja, Grand Duke. Tempat itu sudah tidak memiliki tuannya lagi. Kurasa Daniel juga tidak akan keberatan," jawab Layla. "Toh pewarisnya sudah tidak ada lagi, untuk apa menyimpan benda itu? Perang sebentar lagi akan berakhir, bukan?"


"Kerajaan akan menyimpannya sampai ada penerus. Bukankah Tuan Mostroes masih memiliki saudara?"


"Ah, anak itu ya? Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya semenjak ia berkelana, aku bahkan tidak tahu apa dia masih hidup atau mati," balas Layla.


"Begitu ya? Baiklah, karena izin sudah turun kami harus bergegas pergi. Beristirahatlah, Nyonya. Aku akan mengatur beberapa prajurit untuk mengurus wilayah ini sampai..."


"Saya masih sanggup mengurusnya, Grand Duke. Jangan pikirkan masalah kami dan selesaikan segera apa yang menjadi kewajiban Anda. Dan untuk Pendeta Agung, bisakah kau mendoakan suami saya, meski dia sudah berbuat tidak sopan pada Anda?" pinta Layla.


"Tentu saja. Saya akan mendoakan untuknya," ujar Cerlina lembut, tangannya meremas tangan Layla sembari mengulum senyum. "Dewa pasti akan menempatkannya di surga dengan tenang."


Minotaur betina itu menitikkan air mata, suaranya mulai parau akibat usia senja ditambah jerit tangis saat kematian tragis suaminya. Cerlina bangkit berdiri dan berjalan ke luar, disusul Kezia dengan langkah kecilnya.


"Ya, Kezia. Aku baik-baik saja," ujar Cerlina sembari mengeluarkan tongkatnya. Ia membacakan mantra hingga tongkatnya bersinar lembut. Ia mengangkat tinggi-tinggi hingga cahaya itu menyinari seluruh wilayah. Rasa hangat perlahan menyelimuti hati semua makhluk yang ada di dalam sinar tersebut, bahkan Kezia merasakannya.


"Nee, apa ini?"


"Sihir...bukan, ini adalah berkat dari dewa," ujar Cerlina kalem. "Aku menggunakan ini untuk menenangkan semua orang yang terpuruk."


"Wow, keren sekali," puji Kezia. Cerlina mengayunkan tongkatnya dan meski samar, terlihat ratusan bola bercahaya terbang ke langit. "Eh? Apa itu?"


"Jiwa mereka yang tiada saat penyerangan," jawab Cerlina. Setelah semua bolanya terbang, Cerlina mengatupkan kedua tangannya dan berdoa dalam hati.


"Kezia, ayo pergi...ah, maaf," ujar Nero kikuk, sembari menggaruk belakang kepala saat melihat Cerlina tengah berdoa. Gadis berambut ungu itu menoleh dan tersenyum.


"Tidak apa, sudah selesai kok. Ayo pergi," balas Cerlina.


...****************...


Undine berdiri di samping Nero dengan tatapan fokus pada danau, sementara Kezia dan Cerlina bersiap di dekat mereka.


"Tolong ya, Undine," ujar Nero. Undine langsung mengangkat jarinya dan membelah air danau dengan cepat hingga dasarnya terlihat.


"Nii, aku tidak melihat ruangannya," ujar Kezia. Nero menatap lekat-lekat dasar danau dan menghela napas.


"Bukan di sini ternyata. Tapi kita bisa menyusuri tangganya," ujar Nero sembari menunjuk gundukan menurun dasar danau. "Bongkar itu, Kezia."


"Oke!" sahut Kezia sembari melompat dan menebas gundukan itu hingga tangga mulai terlihat dari baliknya. Ia kembali menebas hingga retakannya membesar dan cukup dilalui oleh orang dewasa. "Selesai!"


"Anak pintar," puji Nero. Ia berpaling pada Cerlina dan mengulurkan tangannya, tetapi Cerlina menggelengkan kepala.


"Aku bisa berjalan sendiri, terima kasih Nero," tolak Cerlina sehalus mungkin. Nero mengulum senyum dan menarik kembali tangannya, rasa pahit perlahan menggigit perasaannya. Mereka bergegas masuk melalui lubang itu dan menuruninya dengan hati-hati.


"Nee, kok Saciel nee tidak ikut?" tanya Kezia.


"Saciel kan ratu, jadi harus mengurus kekaisaran agar tetap bertahan," ujar Cerlina. Mereka terus berjalan hingga tiba di ruangan yang dicari. Cerlina mengayunkan tongkatnya dan membuat jejak suci kapaknya terlihat di mata dua bersaudara tersebut.


"Ah, jadi ini yang bisa kau lihat? Keren juga," ujar Nero.


"Woah, jejaknya berkilau. Tapi...kenapa hanya di sekitar sini saja?" tanya Kezia. Cerlina berbalik.


"Itu dia yang aku tidak mengerti, bahkan Daniel juga tidak ingat bagaimana ia menghilangkannya," keluh Cerlina.


"Apa kapaknya jadi transparan?" tanya Kezia.


"Itu mustahil, Kezia," balas Nero keki.


"Apa ada ruang rahasia lain?" celetuk Cerlina.


"Bisa jadi. Coba kita cari sesuatu yang mungkin menjadi petunjuk," ujar Nero. Ketiganya berpencar mengitari ruangan berukuran 4x5 tersebut dengan seksama, mencoba mencari kejanggalan yang membantu mereka.


"Tidak ada," keluh Kezia.


"Aku juga tidak menemukannya," balas Cerlina heran. "Jelas-jelas jejaknya ada di sini, tapi kok bisa tidak ketemu?"


"...apa ada sihir aktif di sini?" tanya Nero. Cerlina menatapnya, lalu menghentakkan tongkatnya hingga terlihat kilauan sihir yang masih aktif.


"Bagaimana bisa? Daniel bilang tempat ini hanya keturunannya saja yang tahu," tanya Cerlina.


"Kalau itu...mungkin kita bisa menanyakannya pada minotaur ini," ujar Nero sembari berbalik dan mengarahkan pedang pada minotaur asing yang masuk dengan tudung menutupi kepalanya. "Kau siapa?"