The Two Empresses

The Two Empresses
Masalah



"Ha, baguslah. Kita bisa segera meninggalkan tempat ini tanpa perlu menunggu lama. Mari..." kalimatnya terputus saat sebilah pisau menempel di leher jenjangnya. Beberapa orang bertopeng melakukan hal yang sama pada rombongan itu kecuali Saciel. Sesosok wanita tua maju berjalan dengan senyum kemenangan.


"Sudah lama tidak berjumpa, Erika. Kulihat kulitmu makin mengkerut," sindir Saciel. Erika langsung menampar wajahnya hingga ia terjatuh dari kursinya.


"Berani sekali wanita hina sepertimu memanggilku begitu. Tidak sopan," hina Erika. Saciel hanya menatap garang wanita paruh baya itu. "Beruntung seseorang melaporkan keberadaanmu."


"Oh? Hebat juga orang itu," balas Saciel. Para tamu langsung berlari keluar, meninggalkan tempat itu tanpa ada niat menolong. Erika mengambil pisau dari balik jubahnya dan mengarahkannya pada mata gadis berambut merah itu.


"Sayang perjalanmu hanya berakhir sampai di sini saja. Guillotine sudah menunggumu di Careol."


"Enak saja. Aku tidak mau," ujarnya sembari menendang Erika dan mengikat para penjaga dengan sihir. "Lari!"


"Nee, awas!" jerit Kezia. Sebelum menyadari, ia sudah dibalut oleh beragam senjata yang siap menembus tubuhnya. "Nee!"


"Jangan ke sini! Lari, cepat!" sahut Saciel. Sebelum yang lain berhasil melarikan diri, Erika menyegel semua akses dengan sekali jentikan. "Sial."


"Kau tidak akan bisa kabur. Tempat ini sudah terisolasi. Diam di tempat atau mati," ancam Erika. Tidak ada yang berani bergerak, bahkan sekedar memperbaiki postur tubuh.


"Oi, jalang tua. Tidak bisakah kita berdiskusi dengan santai sambil minum teh? Aku haus," celetuk Max.


"Kasar sekali. Beraninya kau memanggilku jalang tua!" maki Erika. Max dengan cepat mengeluarkan sabitnya dan menyingkirkan senjata yang melingkari Saciel dengan sekali ayunan. Beberapa mengenai Erika dan pengawalnya hingga cairan kehidupan mengotori pakaian.


"Ayolah, kita kan beradab. Masa apa-apa harus bertarung sih?" tanya Max sembari menguap.


"Kau lupa kita masih dalam suasana perang?" celetuk Phillip.


"Diamlah, aku bicara dengan jalang tua itu," balas Max. Ia maju mendekati Erika dan menarik kerahnya dengan sekali sentak. "Kau bisa bicara kan?"


"Kh! Lepas!" sahut Erika.


"Hentikan, nii! Lepaskan dia!" jerit Kezia. Max berpaling dengan ekspresi kaku, memandangi Kezia yang ketakutan. "Kita pergi sekarang. Mereka ada di sini."


"Mereka siapa?" celetuk Phillip. Sebelum Kezia bersuara, seseorang melompat dan masuk dengan memecahkan jendela besar di samping Erika. Tubuh besar dan tegap itu membantu Erika berdiri, lalu memalingkan wajahnya yang penuh luka pada rombongan itu.


"Siapa dia?" tanya Nero.


"Aku tidak kenal," balas Saciel.


"Aku juga tidak tahu," celetuk Nero.


"Huek! Busuk sekali!" keluh Max sembari menutup hidungnya. Kezia dan Nero segera menutup hidungnya, wajahnya mulai pucat.


"Hah! Apa kau juga seorang necromancer?" tanya Saciel.


"Tidak, aku bukan necromancer. Aku menggunakan teknik lain dalam percobaan ini," ujar Erika. "Subjek besar ini sangatlah sulit didapat, bahkan di dalam pelelangan ilegal."


"...apa maksudmu?" tanya Phillip. Erika menyunggingkan senyum mengerikan dan memegang orang itu.


"Mereka sudah punah! Mana mungkin kau bisa mendapatkannya!" sahut Phillip.


"Nii, mereka ada banyak di luar," celetuk Kezia ketakutan. Nero berlari menuju jendela dan mendapati satu pasukan penuh titan yang siap untuk menyerbu.


"Brengsek! Apa-apaan jumlah mereka?" tanya Nero panik. "Mustahil untuk kita mengalahkan mereka."


"Biadab!" maki Saciel. Erika tertawa keras, sampai-sampai lampu gantung berayun sedikit.


"Erika, kau sakit jiwa!" maki Phillip.


"Tidak tidak, aku masih sanggup memahamimu, Phillip. Berbeda dengan necromancer yang menggunakan mayat, apa yang kulakukan hanya menggunakan abu jenazah mereka."


"...apa? Abu jenazah?" tanya Phillip heran. "APA KAU MENGAMBIL ABU MEREKA SETELAH PEMBANTAIAN ITU?"


"Bingo, Phillip. Jadi mereka bukan sepenuhnya mayat," celetuk Erika. Ia menampar titan itu dan perlahan wajahnya hancur menjadi abu, lalu kembali ke bentuk semula.


"Ini bakal sulit," gumam Saciel. "Sihirku tidak sanggup untuk melawannya."


"Kabur bukan pilihan juga," ujar Nero sembari melongok ke luar jendela. "Kita dikepung."


"Nee? Nii?" cicit Kezia.


"Menyusahkan saja. Menyingkirlah!" sahut Max. Ia kembali mengayunkan sabitnya dan angin besar menerjang titan itu hingga mengubahnya menjadi butiran debu. Namun itu hanya berlangsung sebentar. Perlahan debu itu kembali menyusun diri hingga ke bentuk asli.


"Percuma, aku tidak bisa menghancurkannya," ujar Max. "Tidak bisakah kau lakukan sesuatu?"


"Seandainya aku bisa berkata ya," geram Saciel. "Sihir gelap ini menyusahkan saja."


"Ini bukan sihir gelap. Ini sihir kuno," celetuk Phillip. "Hanya beberapa orang saja yang bisa menggunakannya."


"Apa ada jalan alternatif untuk ini?" tanya Kezia.


"Jalan satu-satunya hanya teleportasi, tapi aku yakin Erika akan melakukan hal yang sama," ujar Phillip.


"Gah! Aku benci banget dengan situasi ini!" maki Max. Saciel hanya diam, namun matanya mencari celah untuk bisa melawan Erika. Tangannya gemetar, namun ia berusaha untuk terlihat tegar. Ia tidak menyadari titan itu sudah berada di hadapannya dan siap untuk melancarkan serangan. "Oi, jalang! Menyingkir!"


"Eh? Kh!" Saciel melompat mundur, namun ia tidak bisa mengelak seutuhnya dari serangan itu. Kepalanya berdarah, pandangannya mulai mengabur. Gemetar mulai membuatnya melemah.


"Nee!"


"Kezia, jangan gegabah! Posisi kita sedang tidak menguntungkan," sahut Max. "Sial, bagaimana ini?"


"Nah, tempat ini akan menjadi kuburanmu. Bersiaplah," ujar Erika dengan nada penuh kemenangan. Titan itu kembali menyerang, kali ini ia berhasil mengenai tulang rusuk Saciel hingga patah. Namun dengan sihir ia mampu mengurangi cedera yang berakibat fatal.


"Hah~ sebenarnya aku tidak mau melakukannya, tapi aku berhutang nyawa padamu. Melepas segel. Datanglah, Undine," ujar Nero.