The Two Empresses

The Two Empresses
Hukuman dan Gadis Serigala Kecil



Istana Stjärnan


Para prajurit membawa mereka masuk ke dalam istana yang sudah tidak berpenghuni cukup lama. Saciel dan Phillip berdiri di hadapan para tetua dan seluruh keluarga bangsawan yang memandangi dengan tatapan jijik, sinis dan angkuh, namun pandangan Saciel jatuh pada sekelompok orang berdiri agak jauh tersembunyi dengan tatapan kesal. Wajah mereka ditutupi oleh bayangan, hanya senyum licik saja yang terukir di wajah mereka.


"Sialan, mereka di sini," keluh Saciel lirih.


"Cepat berlutut!" gertak seorang prajurit sambil menendang tulang kering mereka dengan sepatu bersol tebal. Keduanya jatuh berlutut, wajah mereka tertunduk. Namun si gadis berambut merah segera mengangkat wajahnya dan menatap dengan tatapan bengis kepada para tetua. Kebencian tak mampu ia tutupi, giginya bergemelutuk menahan emosi yang siap meledak kapanpun.


"Saciel Arakawa dan Phillip Arlestine, kalian berdua ada di sini untuk menerima hukuman yang setimpal atas tuduhan penyiksaan terhadap pendeta tua. Apa ada sanggahan?" ujar Tetua Yorktown.


"Ya, ada!" jerit Saciel. "Aku tidak melihat adanya saksi mata di sini! Dan juga aku ini Archduchess, jaga kelakuanmu!"


"Saksi mata yang kau maksud sedang mempersiapkan festival, jadi..."


"Jangan memberikan alasan, Tetua Yorktown. Jika kau tak mampu membawanya, berarti yang kau katakan adalah tuduhan palsu," potong Saciel dingin. Seluruh orang yang hadir di situ mulai berbisik-bisik, meresahkan para tetua yang mulai masam wajahnya.


"Baiklah, panggilkan saksinya!" ujar Tetua Erika tegas. Dua pengawal yang berdiri di dekatnya memberi hormat dan pergi meninggalkan ruangan. Phillip berpaling pada Saciel dengan muka tak kalah masamnya dengan para tetua.


"Kau baru saja menggali kuburan kita, Archduchess" ujar Phillip kesal.


"Yah, aku tidak tau mereka akan tetap nekad. Berdoa saja pada Dewa Oorun supaya kita bisa bebas dari hukuman ini," balas Saciel, merasa bersalah telah menariknya ke dalam masalah yang lebih pelik. Sekitar sepuluh menit berlalu, dua pengawal itu kembali bersama seorang gadis kuil berpenampilan kikuk dan pucat. Tubuhnya yang kecil dan ringkih membuatnya terlihat seperti bocah berumur 7 tahun.


"Ah? Bukankah dia...ow!" erang Phillip. Dia berpaling pada Saciel yang menggelengkan kepala dengan cepat. Phillip yang paham hanya diam dan menundukkan kepala.


"Nona, bisakah kau ceritakan secara detail apa saja yang mereka lakukan pada pendeta tua tersebut?" tanya Tetua Boldstone.


"Mereka berdua... tengah menodai pikiran Pendeta Agung... untuk melakukan kudeta, namun berusaha dihentikan... oleh pendeta tua. Nona Arakawa segera membekap dan mengancamnya dengan... kutukan," ujarnya lirih.


"Biadab!"


"Hina!"


"Penyihir rendah!"


"Diam! Tidak ada yang boleh bicara selain kami para tetua dan tersangka!" ujar Tetua Erika. Saciel hanya melengos dan melirik Phillip yang sedikit pucat akan reaksi orang mendengar kesaksian palsu yang diungkapkan oleh gadis kuil. "Apa ada sanggahan?"


"Ada, Yang Mulia," sindir Saciel. Ia bangkit berdiri dan melihat seluruh orang yang ada di istana. "Atas dasar apa kita mempercayai kata-katanya? Bagaimana jika dia mengatakan kebohongan?"


"Kau benar-benar keras kepala, Arakawa! Kau ini...memang benar-benar...sampah!" maki Tetua Erika. Saciel tertawa lantang hingga seluruh orang di situ terkejut dan heran. Dengan ringan ia berjalan ke arah para tetua, namun terhenti oleh sekelompok pengawal yang menghunuskan pedang sihir ke arahnya.


"Maju selangkah saja kau mati, Arakawa," ujar Tetua Yorktown.


"Oh? Percaya diri sekali kau. Apa kau tak ingat aku merusak seluruh pedang sihir semua orang hanya dengan satu jentikan?"


"Aku percaya diri sekarang, karena kau tak berdaya dengan sihir keluargamu sendiri," sindir Tetua Yorktown. Saciel memasang ekspresi kaget yang dibuat-dibuat.


"Oh, aku baru ingat itu. Tapi~ bagaimana dengan Arlestine?" tanya Saciel sembari membalikkan badan menghadap Phillip yang berdiri tanpa ada borgol yang mengikat tangannya. Para tetua ternganga melihatnya.


"Bagaimana bisa?! Arlestine tidak bisa melepaskan borgol...kau!" gertak Tetua Erika, melayangkan pandangan ke arah Saciel yang tersenyum dengan sinis. "Keparat! Kau bisa melepas borgol itu?!"


"Yah, aku baru ingat mantranya saat memasuki istana ini, jadi maafkan aku~" ujar Saciel sembari menahan tawa.


"Kau benar-benar ingin mati, hah?!" gertak Tetua Boldstone.


"Kalau kau bisa memenggalku, Tetua Boldstone. Silakan, saya akan berdiri tenang di sini," tantangnya.


"Kau...dasar ******! Pengawal! Eksekusi mati wanita iblis itu!" titah Tetua Erika.


"Hentikan!" sahut seseorang. Seluruh mata berpaling dan mendapati Cerlina berjalan masuk bersama beberapa gadis kuil di belakangnya. Wajahnya ditutupi oleh tudung, namun aura mistis menguar kuat darinya. Seluruh orang langsung berlutut dan tidak berani mengangkat wajahnya, kecuali Saciel.


"Atas nama Dewa Oorun, saya minta kepada kalian untuk tidak menghukum mati Archduchess Saciel Arakawa," ujar Cerlina tenang.


"Tidak bisa! Dia telah menghina kami dan membebaskan Phillip Arlestine! Dia pantas dihukum mati!" sahut Tetua Erika setengah dongkol, namun Cerlina tetap kalem dan mengulum senyum.


"Daripada itu, saya ingin mendengar sekali lagi kesaksian yang diberikan oleh gadis kuil di sana," ujar Cerlina kalem. Sang gadis kuil pucat pasi, tak mampu berkata-kata. Ia jatuh lemas dan gemetaran hebat. "Ada apa? Bukankah kau ini saksinya? Katakan sekali lagi."


Gadis kuil itu menggelengkan kepala dengan cepat, membuat para tetua sedikit was-was. Cerlina berpaling dan menghadap ke audiens.


"Para bangsawan yang saya hormati, demi mengakhiri persidangan ini, kurasa hukuman yang layak untuk kedua orang ini adalah penyucian. Apa ada yang keberatan?"


"Tidak bisa! Mereka sudah menyakiti seorang pendeta tua yang lemah! Penyucian tidak akan cukup!" sahut seorang.


"Ya, dia betul!"


"Hukum dia dengan layak!"


"Cih, merepotkan. Mereka hanya ingin melihatku menderita," gerutu Saciel.


"Baiklah, jika itu permintaan kalian. Hukuman 50 kali cambukan cukup?" tanya Cerlina. Saciel dan Phillip sangat terkejut, hingga membuat wajah sang pemuda mulai pucat.


"Lima puluh kau bilang?! Kau mulai tidak waras!" Saciel membantah. Cerlina mengambil sebuah cambuk besar dan memberikannya pada algojo dengan tangan gemetar.


"Ini adalah hukuman. Kau harus menerima konsekuensinya, Archduchess Arakawa," ujar Cerlina. Saciel menggelengkan kepala, wajahnya sendu dan menghela napas. Sang algojo segera turun dan merobek atasan kedua terdakwa tanpa ampun.


"Ini benar-benar penghinaan," ujar Saciel geram. Ia menutupi buah dadanya dengan kedua tangannya, giginya bergemeletuk menahan amarah, malu, sakit hati dan kecewa. Cerlina hanya bisa berdiri jauh, wajahnya yang sendu mampu ditutupi oleh tudungnya. Namun air matanya mengalir deras di pipinya. Para tetua tersenyum puas, begitu pula dengan beberapa bangsawan, tidak seperti kelompok penyihir yang tersembunyi, mereka langsung pergi setelah Cerlina mengumumkan hukuman cambuk. Rintihan, makian, erangan bercampur dengan bau anyir yang menyeruak dari punggung mereka yang terluka. Sang algojo terus mengayunkan cambuknya tanpa jeda, dengan segenap tenaga hingga membuat sang gadis berkali-kali jatuh. Tubuh halusnya mulai penuh dengan luka dan lebam. Tak ada lagi senyum penuh kesombongan, yang ada hanya wajah penuh derita dan putus asa. Wajahnya penuh dengan peluh dan darah, kepalanya tertunduk lemah, tak mampu melihat mereka yang hanya duduk manis dan menyaksikan sebuah hukuman yang berlebihan untuk kesalahan ringan.


Lima puluh cambukan telah selesai. Sang algojo segera membersihkan cambuknya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Berbeda dengan kedua terdakwa, mereka langsung jatuh tersungkur. Darah menyelimuti tubuh mereka, luka-luka mereka memperlihatkan sedikit tulang dan daging yang terkoyak. Beberapa pengawal segera membawa mereka ke tempat lain dan para pelayan membersihkan darah yang berceceran di lantai. Semua orang yang ada di sana satu per satu meninggalkan istana tanpa menoleh ke belakang, begitu pula dengan para tetua.


"Mari kita kembali, Pendeta Agung," ujar sang biarawan. Cerlina enggan meninggalkan istana, tubuhnya gemetar dan kakinya lemas.


"A... aku ingin... menemuinya," ujarnya terbata-bata.


"Tidak bisa. Anda tidak diizinkan untuk melihat pendosa lagi, Pendeta Agung. Mari, kereta Anda sudah menanti," ujar sang biarawan tegas. Dengan kepala menunduk ia berjalan meninggalkan istana. Air mata kembali menetes seiring langkahnya yang lunglai.


Sementara itu, Saciel dan Phillip hanya bisa duduk sembari mengatur napas mereka yang tersengal. Keduanya lelah, tak ada tenaga yang tersisa untuk sekedar membersihkan luka mereka.


"Sialan!" jerit Saciel. Phillip hanya bisa melihat, memahami betul perasaan yang saat itu dirasakan oleh Saciel. Tiba-tiba seorang perawat masuk dan memberi hormat.


"Saya ditugaskan untuk merawat luka Anda sekalian," ujarnya ramah.


"Siapa yang mengirimmu?" tanya Phillip.


"Beliau tidak mengizinkan saya untuk membuka mulut mengenai identitasnya. Jadi saya harap Anda berdua tidak keberatan dengan hal ini," balasnya. Keduanya hanya mengangguk, tidak ada tenaga untuk berdebat. Perawat itu segera membersihkan luka mereka dengan hati-hati. "Saya bisa menyembuhkannya dengan sihir, tetapi tidak dengan rasa sakitnya. Cambuk yang mereka gunakan bukanlah cambuk biasa."


"Lakukan saja," ujar Saciel. Si perawat mengarahkan tangannya di atas luka. Seberkas cahaya biru laut yang lembut dan hangat mulai menutup luka mereka dengan cepat. Beberapa lebam masih ada di tubuh mereka, namun raut wajahnya mulai cerah seperti semula. Selesai melakukan perawatan, ia memberikan segelas cairan berwarna hitam pekat yang membuat Saciel mual melihatnya.


"Uhh, apa ini?" Phillip bertanya.


"Ini adalah obat. Warnanya memang mengerikan, tapi ini bisa memulihkan tenaga Anda."


Keduanya segera meneguk habis isi cangkir itu. Ekspresi mual dan jijik masih melekat di wajah mereka. Sang perawat segera membereskan tempat itu dan pergi meninggalkan mereka.


"Biar kuambilkan baju," ujar Phillip. Ia berjalan tertatih ke arah lemari dan mengambil dua helai atasan. "Untunglah, masih ada sisa baju ini."


"Oh, sisa baju toh? Sini, aku tidak sudi membiarkanmu melihat tubuhku," ujar Saciel.


"Aku tidak selera saat ini," ujar Phillip datar. Diserahkannya baju itu dan ia berbalik untuk memberikan ruang bagi Saciel untuk berpakaian. Selesai berpakaian Saciel mencoba melakukan trik sihir, namun menghela napas. "Mereka menghabiskan manaku. Cambuk sialan, akan kubalas mereka dengan cara yang sama."


"Sama. Bagaimana jika kita jalan saja? Kau sanggup?" ujar Phillip. Saciel mengangguk samar, lalu bangkit berdiri. "Perawat itu memberi kita sedikit tenaga, cukup untuk pulang."


"Walau aku penasaran siapa yang memberi perintah padanya," gumam Saciel. Mereka berjalan dengan pelan, sesekali mengaduh karena rasa sakit yang tak kunjung hilang. Sebelum memasuki daerah para kaum bangsawan, keduanya mendengar suara rintihan seorang gadis kecil.


"Di gang sempit itu," ujar Phillip sambil menunjuk gang gelap nan sempit. Keduanya mendekat dan terkejut dengan sosok gadis itu. Tubuh penuh luka dan darah bukanlah yang menjadi perhatian mereka, namun sepasang telinga dan ekor serigala yang menempel di tubuhnya.


"Manusia...setengah serigala?" ujar Phillip. Gadis kecil itu tersentak dan menggeram. Phillip berjengit, namun dengan cepat Saciel mengambil alih untuk menenangkannya.


"Tenang, kami tak akan menyakitimu. Tenang," ujar Saciel menenangkan. Gadis kecil itu masih waspada, geraman masih keluar dari bibirnya. Saciel berlutut dan mengulurkan tangannya, sementara Phillip membayanginya agar tidak ada orang yang melihatnya.


"Tidak apa-apa, kemarilah. Kami tidak akan menyakitimu," ujar Saciel. Gadis kecil itu mengendus, lalu merangkak mendekati Saciel. Setelah ia memastikan bahwa tidak ada ancaman, wajahnya mulai berubah.


"Uhh..wahhhh!" isaknya.


"Pegangan!" ujar Phillip, memegangi Saciel yang memeluk gadis kecil itu dan menjentikkan jemarinya. Mereka bertiga berpindah ke kediaman Saciel. Pemuda itu langsung ambruk dan tersengal.


"Bibi! Tolong kami!" sahut Saciel. Seorang wanita separuh baya berjalan cepat memasuki ruang tamu dan terkejut, disusul beberapa pelayan di belakangnya.


"Nona, apa yang terjadi? Dan gadis ini..." ujarnya sembari melihat gadis kecil itu dengan was-was.


"Panjang ceritanya. Persiapkan pengobatannya, tubuhku mati rasa," potong Saciel cepat. Bibi mengangguk dan langsung menyuruh pelayan untuk bergegas menyiapkan segalanya. Si gadis serigala masih terisak, memegang erat tangan sang penyihir berambut merah.


"Hiks, Papa, Mama, Max," isaknya. Saciel mengelus kepala gadis itu dan menghapus air matanya.


"Ssh, jangan sedih. Kami akan membantumu mencari keluargamu, tapi saat ini kau butuh perawatan," hiburnya.


"Saciel, kau serius? Dia ini seorang demi human, parahnya lagi dia merupakan musuh," ujar Phillip.


"Kau benar. Meski begitu, dia tetaplah makhluk hidup dan aku tidak bisa membiarkannya," balas Saciel sambil memeluk gadis demi human itu. "Malam ini kau tidur saja di sini, tenagamu sudah habis, bukan?"


"Nona, semuanya sudah siap," ujar Bibi sembari memberikan segelas ramuan berwarna merah pekat. Ia juga memberikan minuman yang sama kepada yang lainnya.


"Nah gadis kecil, minum ramuan itu dan ikut aku," ujar Saciel. Si gadis kecil mengangguk dan meneguk habis ramuan itu. Phillip dan Saciel juga melakukan hal yang sama. Selesai meminum ramuan tersebut ketiganya pergi tertatih ke sebuah pemandian air panas yang ada di belakang rumah.