
Avant Heim City
Seorang flügel tengah asyik membaca sebuah buku berbahasa kuno, namun aktivitasnya terhenti ketika bocah flügel datang terburu-buru.
"Kakak! Kakak diminta datang ke pertemuan majelis!" sahutnya. Flügel itu menghela napas dan menutup bukunya dengan keras, membuat bocah flügel itu sedikit takut. Hati-hati diletakkannya buku itu dan ia menepuk pelan puncak kepala bocah itu.
"Terima kasih ya, Jibril. Aku pergi dulu," ujarnya ramah. Ia segera terbang menuju sebuah pohon besar di pulau yang melayang dengan wajah sedikit kesal. Pikirannya dipenuhi makian dan rutukan yang ditujukan pada majelis. Ia membuka pintu dan masuk dengan tatapan heran dari para majelis.
“Kalian memanggilku, bukan?” tanyanya kalem. Salah satu flügel berwajah bijak mengangguk dan mempersilakan flügel itu duduk di ujung meja.
“Terima kasih sudah datang, Jegudiel. Aku membutuhkan pendapatmu tentang tamu tak diundang dari Kerajaan Careol,” ujar flügel bijak itu. Jegudiel mengerutkan kening, namun senyum palsu terpatri di wajahnya.
“Tamu tak diundang? Siapa orang gila yang berani menginjakkan kakinya ke tanah penuh para petarung terkuat di Respher?” tanya Jegudiel.
“Apa yang kau tahu tentang Saciel Arakawa?” tanya si bijak dengan gaya kalemnya. Jegudiel terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan.
“Banyak. Salah satunya yaitu dia merupakan pahlawan di benua ini. Gadis angkuh, kuat namun rapuh layaknya kaca. Kudengar dia hampir mengalahkan salah satu atasan dari pihak Ceshier. Jadi orang itu yang datang kemari?”
“Betul. Dan yang paling menarik adalah dia merupakan buronan internasional,” ujarnya. Jegudiel tertawa keras dan berdiri dengan gaya angkuhnya, lalu berbisik pada flügel bijak dengan suara penuh penekanan.
“Aku akan menyambutnya dan kuharap tidak ada yang menggangguku.”
“Akan kupastikan itu. Kalau begitu kau boleh meninggalkan ruangan ini,” ujar si bijak pasrah. Jegudiel mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan dengan senyum kemenangan. Ia tahu betul flügel bijak tidak mau ikut campur perihal masalah dirinya, berhubung dirinya merupakan orang berpengaruh di Avant Heim. Ia kembali ke tempat tinggalnya dan menemukan bocah flügel masih ada di sana sembari membaca buku.
“Kau masih di sini, Jibril?”
“Ehehe, kan aku adiknya kakak,” jawab Jibril riang. Jegudiel hanya tertawa kecil dan mengelus pelan kepalanya. Sebuah ide terlintas di pikirannya.
“Jibril, aku punya tugas untukmu. Apa kau mau melakukannya?” tanya Jegudiel.
“Tugas apa Kak?” tanya Jibril penasaran sekaligus tertarik.
“Kita akan kedatangan tamu penting dari Careol. Jadi bisakah kau menyapa mereka terlebih dahulu dan mengantar mereka kemari?”
“Hm? Memang mereka siapa? Kenapa tidak langsung menemui Dewa Deus Ex Machina?”
“Nanti kau akan tahu. Bagaimana?”
“Baiklah. Aku akan pergi sekarang,” jawab Jibril. Ia segera terbang meninggalkan Jegudiel dan turun ke daratan dengan rasa penasaran tinggi. Sementara itu, Saciel dan yang lainnya tengah menyeberangi sungai dengan bantuan elf yang kebetulan searah dengan mereka.
“Kita beruntung ada salah satu elf yang pergi searah dengan kita,” celetuk Phillip sembari menggendong Kezia yang mulai manja padanya.
“Heh, kau benar dan bisakah kau menurunkan adikku? Kau membuatku geli,” sindir Max dengan tatapan tajam yang cukup membuat Phillip sedikit keder. Kezia malah cemberut dan melempar Max dengan sendalnya, namun sang kakak mampu menangkapnya.
“Nii jelek!”
“Kau lebih jelek daripada aku,” balas Max santai. Wajah Kezia makin menggelap dan mulai mengeluarkan jurus pamungkas, menangis keras hingga banyak orang langsung menutup telinganya. Namun hal itu tampaknya tidak berpengaruh pada Max, sehingga Kezia berhenti dan memeluk erat Phillip. “Kezia, turun.”
“Jelek,” gumam Kezia. Max langsung menariknya dan menggendong gadis kecil itu, namun sesekali kata-kata kasar keluar dari bibirnya, namun Kezia tidak menghiraukannya. Saciel hanya tersenyum dan menikmati belaian angin hangat. Pikirannya tenang, namun mendadak waspada ketika ia melihat sosok Jibril yang berdiri di pinggir sungai dengan senyum yang terkesan mengerikan untuknya. Elf yang bersama mereka segera bersembunyi, takut akan kehadiran flügel.
“Apa kalian punya masalah?” tanya Saciel.
“Masalah yang sangat serius. Pihak kerajaan elf tidak sengaja membunuh ras flügel di wilayah kami,” jawab elf dengan penekanan pada kata tidak sengaja. Saciel mengerutkan kening dan kembali bertanya.
“Tidak sengaja? Apa maksudnya?”
“Sebenarnya...putri kerajaan kami memiliki masalah dengan utusan flügel, lalu memerintahkan penjaga untuk langsung membantainya di tempat dan mengirim kepalanya pada ras flügel. Setelah insiden itu, ras flügel langsung memutuskan hubungan diplomatik.”
“Hahaha, putri kalian tidak waras. Jelas kalian yang salah,” balas Saciel. Dia meloncat ke sungai, namun kakinya
menapak di permukaan air. Ia berjalan cepat ke arah Jibril dengan senyum yang sama menyeramkannya. Jibril sedikit takut, namun ia menjaga sikap agar Saciel tidak meremehkannya.
“Halo dan terima kasih sudah menyambutku. Ada hal penting yang harus kulakukan dan bukan urusanmu,” jawab Saciel kasar. Jibril sedikit terhina, namun ia tetap mengulum senyum.
“Sebelum menyelesaikan masalah Anda, ada seseorang yang ingin menyapa Anda,” ujar Jibril tenang.
“Seseorang?”
“Beliau adalah Jegudiel, salah satu petinggi di Avant Heim,” jawab Jibril. Saciel berpikir sejenak, tahu betul bahwa flügel yang disebut Jibril bukanlah flügel sembarangan. Terakhir dia bertemu dengannya saat perang besar antaraRespher dan Ceshier. Wajah sombong darinya cukup terpatri di pikirannya.
“Apa untungnya aku bertemu dengannya?”
“Entahlah, tapi kurasa itu sesuatu yang penting juga,” balas Jibril sedikit pedas. Saat kapal bersandar di bibir sungai, para penumpang segera turun, kecuali para elf. Max menghampiri Saciel dan melirik pada Jibril.
“Apa dia pemandu kita?” sindir Max. Jibril nyaris melepaskan makian, namun sekuat tenaga ia tahan dan memberikan senyum seramah yang bisa ia lakukan.
“Bukan. Kita akan bertemu dengan orang penting, jadi jaga kelakuanmu atau kita akan berperang dengan flügel,” ancam Saciel tenang. Max hanya mengangguk samar. Jibril langsung mengarahkan mereka ke dalam hutan, membuat Phillip sedikit was-was. Ia menyiapkan berbagai macam sihir untuk berjaga-jaga jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Jangan sekaku itu dong. Aku kan tidak ada niat untuk menyerang,” celetuk Jibril kalem. Phillp makin tegang, fakta bahwa flügel mampu mendeteksi sihir baru saja menyerang memorinya.
“Kau bisa saja menjadi musuh kami, mengingat kami satu kapal dengan seorang elf,” ujar Phillip.
“Ah, itu? Aku sih tidak terlalu peduli dengan hal itu. Selama kalian tidak melakukan hal-hal konyol di wilayah Avant Heim, aku tak akan menyerang kalian,” balas Jibril riang. “Ah, kita sampai.”
“Ini...gua?” celetuk Nero sembari meragukan gua gelap dan pengap yang ada di hadapannya. Jibril tertawa keras
hingga terpingkal-pingkal.
“Aduh aduh, kau lucu sekali. Sekilas memang terlihat seperti gua, tapi ini lebih dari gua biasa.”
“Mari kita buktikan omong besarmu itu, flügel,” ujar Max sembari berjalan masuk ke dalam gua, diikuti yang lainnya. Kaki mereka kini menapak di atas tanah berwarna perak dan berkilauan. Beberapa flügel terbang dengan lincah dan sesekali melirik ke arah mereka dengan rasa penasaran yang tak mampu mereka tutupi. Kezia sampai terpana melihatnya.
“Terbang! Mereka terbang!” sahutnya riang.
“Kau sudah lihat satu di sana, Kezia,” celetuk Max bosan. Jibril langsung melesat ke depan mereka dengan senyum tulus.
“Ayo jalan, kakakku sudah menunggu,” ujarnya. Mereka kembali berjalan hingga sampai di sebuah bangunan berarsitektur ala Roma dengan patung setengah telanjang di pintu masuk.
“Luar biasa. Siapapun yang membuat bangunan ini bukanlah orang biasa,” celetuk Nero. Seorang flügel keluar dari bangunan itu dengan senyum hampa, tangannya memegang secarik kertas usang dan terkoyak.
“Terima kasih atas pujiannya. Dan selamat datang di Avant Heim, semuanya. Aku sudah menunggu dari tadi hingga bosan.”
“Kau Jegudiel?” tanya Saciel to the point. Jegudiel mengangguk dengan penuh percaya diri, membuat Saciel sedikit tidak nyaman dengan tingkahnya.
“Kuyakin kau membutuhkan sesuatu yang sangat berharga, bukan?” tanyanya dingin. Semua yang ada di situ merinding, aura dingin menekan mereka sangat kuat hingga Kezia jatuh berlutut di samping Nero.
“Kau menantangku, Jegudiel? Apa yang kau lakukan sama sekali tidak menunjukkan bahwa kau akan menjamu kami dengan baik,” balas Saciel garang.
“Oh, Arakawa, kupikir aku akan takut denganmu? Kau hanya seorang penyihir yang tidak ada bedanya dengan manusia, kenapa aku harus takut padamu?”
“Kurasa kita tidak diterima di sini dengan baik,” celetuk Nero sembari melihat sekelilingnya. Beberapa flügel bersiap untuk menyerang, senyum mereka kini hampir sama dengan malaikat pencabut nyawa. Max menarik sabit dari balik jubahnya dan melindungi Kezia. Saciel menghela napas panjang dan menatap tajam Jegudiel yang melayang di hadapannya.
“Kau salah menantangku, Jegudiel. Akan kupastikan kau jatuh ke tanah hingga wajahmu terbenam seutuhnya,” ancam Saciel.
Art by: ShadowX_Kei
Do not repost, steal or claim