The Two Empresses

The Two Empresses
7 Eternal Wizards



Careol City


"Dasar lacur! Beraninya dia mengkhianati kaum kita!" maki Tetua Erika.


"Pengkhianat!"


"Hukum mati gadis itu!"


"Cabut dia dari keanggotaan 7 Eternal Wizards!"


"Tidak bisa. Keluarga Arakawa sudah menyumbang berbagai macam sumber daya kepada negara kita," celetuk seseorang. Para tetua berbalik dan mendapati lima orang penyihir masuk dengan wibawa yang sangat berat. "Kalian tidak punya hak untuk mengeluarkan Saciel dari 7 Eternal Wizards."


"Lao Requiem! Beraninya kau..."


"Tetua Yorktown," potong Lao tajam, "tolong ingat di mana kedudukanmu."


"Cih," decih Tetua Yorktown. Mereka berjalan mengitari meja dan menatap Tetua Erika dengan tatapan dingin.


"Sejak kapan kalian berkuasa di negara ini?" celetuk seorang gadis kecil dengan baju berumbai-rumbai. "Bisa-bisanya mengerahkan prajurit untuk menangkap dua demi human."


"Bedebah! Kau dan Saciel sama saja, sampah," maki salah seorang tetua. Gadis kecil itu meraih kerah sang tetua dan menariknya sejajar dengan matanya.


"Oh? Berani sekali kau memanggilku sampah. Nggak bercermin dulu, siapa yang sebenarnya sampah?" ujar si gadis kecil dengan aura mematikan.


"Tania, sudah cukup," ujar Lao. Tania segera melepaskan tetua itu dan berdiri di sisi Lao. "Jadi kalian berniat menangkap dua demi human itu hidup atau mati?"


"Mati," ujar Tetua Erika dingin. "Dan sebagai informasi, kami tidak butuh bantuanmu. Tinggalkan tempat ini sekarang juga."


"Wah wah, kami diusir ceritanya?" celetuk pria flamboyan sembari menumpukan tangannya yang kekar di pundak Tetua Yorktown. "Padahal kalian hanya sekumpulan penyihir bau tanah yang hampir menemui Dewa Oorun, tapi kalian seenaknya berlaku seperti penguasa di negeri ini."


"Julian Zografos, kau..."


"Tetua Yorktown, bisa tidak kau diam? Suaramu hanya akan merusak pendengaran kami," potong Julian santai. Para tetua tak bisa berkata-kata lagi. Lao duduk di kursi tak jauh dari tempat Tetua Erika dan mengulum senyum sinis.


"Dengarkan, wahai para tetua. Kami akan mengambil alih tugas penangkapan para demi human, jadi silakan beristirahat," ujar Lao. "Mengenai Saciel, dia akan menjadi urusan kami. Jadi sebisa mungkin jauhi dia dan Cerlina."


"...baiklah, kami akan menjauhi si kembar Arakawa. Tapi kami tidak akan melepaskan demi human. Kuharap kau tidak keberatan," ujar Tetua Erika.


"Tidak masalah~ kita lihat siapa yang lebih cepat menangkap demi human. Kami atau kalian," ujar Lao dengan senyum sinisnya. "Tania~ pergi dan temui mereka."


"Aku? Yakin?" celetuk Tania.


"Sialan, kau benar-benar menyebalkan," maki Tetua Yorktown.


"Hahaha, aku memang menyebalkan. Tapi kalian juga tidak bisa apa-apa, bukan?" sindir Lao. Mereka kembali menutup mulut rapat-rapat.


"Lao, apa boleh aku membantu Tania?" celetuk seorang gadis suram dengan rambut menutupi wajahnya.


"Tentu saja sayangku~ apapun permintaanmu pasti akan kuturuti!" balas Lao girang. "Pergilah, aku akan mengurus di sini."


"Terima kasih," ujarnya lirih. Ia menjentikkan jemarinya yang panjang dan kurus, dan sedetik berikutnya dia menghilang dari pandangan.


"Nah, sekarang," Lao menjatuhkan tatapannya pada Tetua Erika, "aku penasaran kenapa kau menyembunyikan masalah ini dari kami. Apa ada sesuatu yang membuatmu tak bisa bicara?"


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," ujar Tetua Erika tenang.


"Wah, kau ini pandai berakting ya? Aku salut padamu," sindir Lao. "Yang aku maksud adalah perihal mengirimkan Comet Phoenix untuk menangkap dua demi human itu. Te-ta-pi," perlahan sorot matanya menjadi dingin, "Aku mendengar rumor kalau kau memerintahkan Comet untuk membunuh Saciel."


"Itu bukan sekedar rumor," jawab Tetua Erika tajam. "Aku memang memberi perintah untuk membunuh...tidak, membuatnya sekarat mungkin lebih tepat."


"Hahahaha, kau memang berbahaya sekali, Erika. Beraninya kau mengorbankan Comet ke dalam rencanamu. Kau mau menggantinya dengan nyawamu?" ancam Lao. Tetua Erika hanya mengulum senyum tipis dan menatapnya dengan kilat licik di matanya.


"Apa kau punya nyali untuk melakukannya?"


"...wah, kau seram sekali," ujar Lao mendramatisir. "Baiklah, aku menyerah hari ini. Te-ta-pi~ aku akan tetap mengawasimu nenek tua. Kau tidak bisa dipercaya saat ini."


"Silakan. Aku tidak peduli dengan apa yang kau rencanakan," ujar Tetua Erika ketus. "Menyingkirlah dari hadapanku."


"Mari tinggalkan tempat ini. Waktu kita sudah habis."


"Hah? Begitu saja? Tidak bisa, kawan. Bagaimana dengan kematian Comet?" celetuk Istvan sedikit emosi. "Apa kau akan membiarkannya begitu saja?"


"Hush, sudah cukup. Kita akan membahasnya nanti. Saat ini lebih baik kita fokus pada hal yang lebih penting dibanding adu mulut dengan para tetua,"ujar Lao menenangkan. "Jangan sampai aku melakukan kekerasan padamu, Istvan."


"Baiklah, terserah kau saja. Aku tidak bisa menolak perintahmu," gumam Istvan. Lao hanya mengulum senyum dan merangkul Julian. Ia membisikkan sesuatu kepadanya dan menarik Istvan meninggalkan ruangan.


"Kenapa kau tidak pergi sekarang, Tuan Zografos?" sindir Tetua Yorktown. Julian tersadar dan tersenyum, perlahan membungkuk dengan elegan.


"Maaf, aku tidak sadar Lao dan Istvan meninggalkanku. Kalau begitu, saya pamit," ujarnya kalem. Ia berjalan meninggalkan ruangan, diikuti dengan tatapan sinis dari para tetua.


"Benar-benar tidak punya rasa hormat," gumam Tetua Erika.