The Two Empresses

The Two Empresses
Conceal the Power



"Mau apa kau?" tanya dirinya yang lain dengan ekspresi wajah heran bercampur penasaran, matanya sibuk mengamati kubah es yang mengelilingi mereka. Cerlina mengulum senyum tipis mendengarnya.


"Mau apa, katamu? Katanya kau ini diriku, kenapa kau terlihat bingung?" balas Cerlina sembari tertawa lirih. Ia mengarahkan mata panah ke langit kubah dan menembak. Anak panah tersebut ditelan oleh kubah tersebut, namun mendadak ratusan anak panah menyerang membabi buta ke dalam kubah, membuat Cerlina yang lain menghindari sebisa mungkin dengan membuat perisai yang melindungi dirinya, namun ternyata anak panah tersebut dapat memantul dan mulai melukai tubuhnya serta Cerlina.


"Kau gila?" makinya sembari membuat perisai kubah sembari melakukan penyembuhan. Cerlina tertawa.


"Tidak, aku belum gila. Kurasa," balasnya lirih, namun mendadak seringai terukir di wajahnya. Cerlina lain merinding melihatnya. Tawa kegilaan mulai terdengar darinya.


"Ahahahaha, kegilaan ini! Sensasi ini! Ternyata menyenangkan!" sahut Cerlina sembari melepas kedua sarung tangannya dan melemparnya ke udara. "...jadi ini rasanya kebebasan menjadi diri sendiri?"


Cerlina lain langsung menembakkan anak panahnya pada Cerlina, namun gadis itu dengan santai menangkapnya hanya menggunakan tangan kosong. Ekspresinya tidak berubah meski cairan kehidupan mulai mengalir dan menodai lengannya. Ia menjatuhkan anak panah itu dengan elegan dan menatap dirinya yang lain dengan senyum lembut khasnya hingga membuatnya kesal.


"Jangan berpura-pura kau! Kau ini menderita, kan? Kau muak menjadi boneka para tetua kan?! Mereka sudah menyeretmu ke dalam lumpur kekosongan, menjauhkanmu dari keluarga demi memuaskan rasa haus akan kekuasaan dan kau masih bisa tersenyum seperti orang bodoh?!"


"...bukankah ini memang jalan yang sudah dibuat oleh kehendak para dewa?" balas Cerlina kalem. Cerlina yang lain heran mendengarnya, seakan apa yang ia ucapkan adalah sesuatu yang aneh.


"...ha? Jalan yang dibuat oleh kehendak dewa, katamu? ...kau percaya mereka ada?"


"Kenapa? Katanya kau ini diriku, tapi tidak percaya akan eksistensi dewa? Kau beneran aku bukan, sih?" tanya Cerlina kalem, memasang ekspresi heran yang dibuat-buat. Cerlina yang lain nyaris mematahkan panahnya hanya dengan menggenggamnya kuat-kuat.


"Kau pernah menolak eksistensi mereka!"


"Nggak salah, sih. Itu awalnya, sekarang aku mempercayai mereka," balas Cerlina.


"Bohong! Bohong! Semua yang kau katakan hanya kebohongan!" jerit Cerlina yang lain. Yang asli hanya tertawa mendengarnya.


"Yah, tidak bisa kupungkiri masih ada sisi lain dari diriku yang tidak percaya akan keberadaan mereka. Kau tidak salah," ujar Cerlina. Ia mendongak dan menatapnya dengan kesal.


"Kau membuatku muak," ujarnya getir. Cerlina terkekeh mendengarnya.


"Meski kau muak, toh kau tidak bisa menolak keberadaanku," ujar Cerlina kalem. Gadis berambut merah tersebut terdiam, lalu bangkit berdiri dan menatapnya dengan tatapan datar.


"Kau aneh."


"Terima kasih. Sudah selesai?" tanya Cerlina.


"Siapa bilang selesai semudah itu? Kita belum selesai," ujar Cerlina yang lain sembari mengangkat tangannya dan memamerkan sebuah bola sihir berwarna putih lembut.


"Oh, ayolah. Aku tidak mau bertarung lagi," keluh Cerlina sembari memajukan bibirnya sesenti.


"Karena kau sendiri masih belum mengenal dirimu, jadi pertarungan ini tidak akan berhenti," jawabnya santai. "Di samping itu, kau belum mengeluarkan semua kekuatanmu dengan maksimal."


"Apa aku disegel?"


"Sepertinya. Namun tato di tubuhmu sudah menjadi tanda bahwa kau sudah mulai membuka segelnya perlahan," balasnya.


"Tunggu, sebenarnya siapa yang menyegelku? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?" tanya Cerlina heran, tatapannya mulai kosong.


"...kau akan menemukan jawabannya nanti. Waktunya ternyata sudah habis," ujar Cerlina yang lain. Sebelum Cerlina bersuara, ia merasa tubuhnya berat dan suara yang sangat familiar memanggilnya.


"...ina. Cerlina!"


Gadis berambut ungu tersebut perlahan membuka mata, perlahan bayangan blur di hadapannya mulai jelas menampakkan wajah khawatir milik Kezia dan Nero.


"...apa yang terjadi?" tanyanya parau.


"...kurang lebih begitu. Apa kau sudah menambang permata yang kuinginkan?" balas Cerlina sembari mencoba untuk menegakkan tubuh, namun sang pemuda demi human berambut merah menahannya.


"Kau masih lemah," celetuk Nero cemas. Rendy hanya geleng-geleng kepala sembari memamerkan sebongkah besar batu yang ia incar sebelumnya. Cerlina tersenyum.


"Nah, perjalanan kita berakhir di sini. Aku akan pulang sendiri," ujar Rendy sembari mengikat permata itu di kaki naga. "Apa Tuan Putri dan Grand Duke akan mengikuti penyihir itu?"


"Aku tidak bisa meninggalkan Cerlina nee begitu saja, jadi aku ikut nee," ujar Kezia mantap.


"Kau bisa kembali sendiri, Rendy," ujar Nero. Seekor naga berukuran sedang mendadak menyembulkan kepala dari bawah air, membuat Rendy nyaris menjerit.


"Kau bisa...menungganginya," ujar Cerlina. Rendy mengangguk, mendekati naga tersebut dan langsung naik ke atas punggung naga berwarna hijau lumut itu begitu makhluk itu menampakkan diri seutuhnya. Setelah Rendy pergi, Nero langsung memapahnya naik ke atas punggung naga dan membantu Kezia naik juga.


"Ye, terbang lagi," ujar Kezia. Cerlina hanya tertawa kecil dan menatap tangannya yang masih pucat.


"Kau butuh sesuatu?" tanya Nero. Cerlina hanya menggelengkan kepala. Ketika naga yang mereka tunggangi terbang melintasi angkasa, gadis berambut ungu itu bersuara.


"Kekuatanku disegel."


"...bagaimana kau tahu?" tanya Nero.


"Diriku yang lain mengatakannya padaku," ujar Cerlina.


"Nee, kenapa kekuatanmu disegel?" tanya Kezia.


"Aku berharap bisa menemukan jawabannya, tapi tidak bisa."


"Jangan paksakan dirimu untuk mengingatnya. Kau perlu banyak istirahat," ujar Nero. Sepuluh menit mereka habiskan melesat di angkasa, hingga penampakan Kota Careol mulai terlihat. Naga tersebut perlahan menukik dan mendarat tepat di taman istana. Beberapa prajurit langsung mengamankan wilayah tersebut sembari mengarahkan ujung pedang mereka ke naga tersebut. Begitu Cerlina menampilkan wajahnya, ekspresi lega terlukis di wajah para prajurit.


"Nona Pendeta Agung sudah kembali," sahut kepala prajurit. Para dayang yang tidak sengaja melihat dari dalam istana bergegas menemui sang ratu yang masih berkutat dengan tumpukan laporan di depannya.


"Yang Mulia! Yang Mulia!"


"Hei, jangan berlari di sini," tegur Phillip garang. Sang dayang langsung meminta maaf dan memberi hormat pada Saciel.


"Ada apa?" tanya Saciel penasaran.


"Nona Pendeta Agung sudah kembali," ujar sang dayang. Saciel bangkit sembari menggebrak meja dan lari keluar, diikuti Phillip yang mencoba menahan Saciel. Langkahnya yang sedikit berat akibat gaun dan sepatu dengan hak setinggi kurang lebih 5 senti tidak menghentikannya. Ia memperlambat lajunya ketika tiba di taman, menemukan Cerlina diapit oleh dua sosok yang ia kenal.


"Turunkan senjata kalian. Tidak bisakah kalian melihat kalau adikku ada di depan kalian?" tegur Saciel. Para prajurit ragu, namun seorang bersuara.


"Tapi ada demi human bersama Nona Pendeta Agung, Yang Mulia."


"Kau tidak perlu takut, turunkan senjatanya sekarang," balas Saciel lebih tegas. Ketika mereka menurunkan senjata, Saciel bergegas menghampiri mereka dan memeluk Cerlina.


"Kau kembali," bisiknya.


"Ya. Dan aku membawa apa yang kau butuhkan, Sa...maksudku, Yang Mulia," ujar Cerlina. Kezia mengerucutkan bibirnya dan memeluk Saciel.


"Nee~"


"Astaga, aku lupa kau ada di sini, Kezia. Tunggu, bagaimana bisa kalian bersama Cerlina?"


"Ceritanya panjang, sebaiknya kita ke dalam dan selesaikan urusan kita," balas Nero kalem.