The Two Empresses

The Two Empresses
Pemulihan Jiwa dan Raga



"Aku mau tanya. Kita akan berendam di pemandian air panas?" tanya Phillip. "Kau serius?"


"Fufu, ini bukan pemandian air panas biasa, bodoh. Air panas ini penuh dengan rempah-rempah terbaik yang digunakan untuk keperluan medis, jadi bisa mempercepat penutupan luka," ujar Saciel. Si gadis kecil mengikuti, sesekali melirik dan bersembunyi di belakang Saciel.


"Apa kita akan mandi bersama?" tanya Phillip was-was.


"Tidak. Pemandian untukmu ada di sana," ujar Saciel sembari menunjuk pada pintu berwarna cokelat mahoni. "Kami akan mandi di sebelahnya," lanjutnya sembari menunjuk pintu lain dengan warna yang sama.


"Kenapa aku harus mandi sendiri?"


"Karena...mana mungkin aku membiarkan seorang lelaki mandi bersama wanita," balas Saciel garang.


"Uhh, aku takut," ujar si gadis kecil.


"Tidak apa-apa, gadis kecil. Aku ada di sini," balasnya sembari mendorong pelan gadis kecil itu masuk ke ruang ganti wanita. Perlahan ia melepas bajunya dan memamerkan tubuhnya yang penuh lebam dan luka. "Sial, meski sudah diberikan pertolongan pertama oleh orang itu, masih ada luka?"


"Nee, kenapa tubuhnya terluka?" tanya gadis kecil. Saciel berbalik dan tersenyum, membelai lembut kepalanya.


"Nee habis dihukum, gadis kecil. Oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Saciel Arakawa, kalau kamu?"


"Uhh, Kezia...Ackermann," ujarnya lirih. Saciel sedikit terkejut, namun dengan cepat ia mengulum senyum.


"Kezia eh? Nama yang cantik untuk gadis kecil yang manis," ujar Saciel. Kezia tersipu malu dan menutup wajahnya dengan handuk. Si penyihir segera berjalan memasuki area pemandian dan perlahan mencelupkan diri. "Aduh!"


"Nee? Nee sakit?" tanya Kezia sambil memasuki area pemandian dengan tubuh polos tanpa benang sehelaipun.


"Tidak, tidak apa-apa Kezia. Hanya reaksi akibat luka-lukaku menyentuh obat ini," ujarnya tenang. "Kemarilah, tidak apa-apa."


Si gadis serigala sedikit ragu, namun perlahan ia mencelupkan kakinya dan membiarkan dirinya dibasuh oleh air rempah.


"Nee benar. Ini sedikit sakit," ujar Kezia. Saciel hanya tertawa kecil dan menyandarkan punggungnya pada pinggiran pemandian.


"Hei, aku kesepian di sini. Boleh nggak aku ikut ke sana?" tanya Phillip dari balik pembatas bambu.


"Kamu berani ke sini, kujamin aset masa depanmu bakal hilang dari selangkanganmu," ujar Saciel setengah mengancam.


"Teganya. Hartaku yang paling berharga ini adalah kebangganku," balas Phillip.


"Aset? Harta?" gumam Kezia.


"Oh, jangan dipikirkan sayang. Kau masih terlalu kecil untuk memahaminya," ujar Saciel. Si gadis serigala mengerutkan kening mendengarnya.


"Aku sudah 16 tahun, Nee," ujarnya sembari cemberut. Keduanya tertawa lepas, menganggap lelucon apa yang dikatakan Kezia. Mereka menikmati hangatnya air yang perlahan memulihkan tubuhnya yang lelah.


"Nee, aku...ada di mana? Ini bukan di Ceshier kan?"


"Kau ada di Respher, sayang. Bagaimana bisa kau sampai di sini? Perbatasan terdekat dari Kota Careol ada di Pantai Loreta dan itu membutuhkan waktu 1 jam menggunakan kereta api," tanya Saciel. Kezia bingung, telinganya turun dan ekornya berada diantara kedua kakinya.


"Itu...aku...aku tidak tau. Aku hanya tau kalau aku...kami...diserang oleh beberapa orang. Aku terpisah dari keluargaku."


"Apakah itu...dari pihak Respher?" tanya Saciel hati-hati. Kezia menggelengkan kepala pelan. "Benarkah?"


"Tidak semua. Ada juga dari beberapa pihak Ceshier yang ikut."


"Wow, itu sangat tidak mungkin. Kau tau, Ceshier dan Respher sudah lama berperang hampir 100 tahun. Jika ada komplotan dari kedua belah pihak, aku meragukannya," celetuk Phillip.


"Phillip benar. Mustahil untuk dua negara bersatu membentuk komplotan dan menyerang kalian."


"Tapi aku melihatnya! Nee tidak percaya padaku?" tanya Kezia sembari menunjukkan mata yang berlinang air mata. Saciel memeluk dan mengelus kepalanya dengan penuh sayang.


"Aku percaya padamu. Maaf," ujar Saciel. "Ayo kita keluar, terlalu lama berendam tidak baik untuk badan."


"Saciel, setelah ini aku ingin mengobrol denganmu berdua. Bisa?" ujar Phillip.


"Oke~" balas Saciel. Mereka segera keluar dan mengenakan pakaian bersih yang disiapkan oleh Bibi. Kezia cemberut setelah memakai baju.


"Tidak lucu, nee," ujar Kezia.


"Maaf, jangan marah ehe. Aku tidak punya baju berukuran kecil, jadi bersabarlah. Jika ada waktu aku pasti akan membelikan baju untukmu," balasnya sembari mengakhiri tawanya yang tertahan. Ekor gadis kecil itu bergoyang cepat, wajahnya cerah seperti anak-anak.


"Serius?! Ye!"


"Saciel, apa tidak masalah aku memakai baju ayahmu? Ini agak...yah...formal," ujar Phillip. Ia memakai sebuah kaos berkerah berwarna biru dongker polos serta celana panjang kain hitam.


"Pakai saja, lagipula di sini tidak ada yang memakainya," balas Saciel. "Dan kurasa itu tidak formal, santai saja. Maklum, ayahku jarang memakai kaos oblong di rumah."


"Tidak heran aku tidak menemukan sehelai kaos oblong di lemari."


"Nona, makan malamnya sudah siap," ujar Bibi.


"Oh, terima kasih Bibi. Ayo makan, aku lapar sekali," ujar Saciel. Mereka berjalan menuju ruang makan, dimana beragam makanan memenuhi meja makan. "Bibi, ini terlalu banyak untuk kita berempat."


"Maaf, Nona. Saya terlalu senang sampai-sampai saya memasak lebih," ujar Bibi riang. Saciel menghela napas dan tersenyum kecil.


"Kalau begitu, sebaiknya kita bagikan saja makanan ini kepada orang lain. Oh, tetangga kita Pak Jeremy! Bibi, segera bungkus makanannya dan antarkan ke Pak Jeremy."


"Baik Nona." Bibi segera membungkus makanan dan pergi.


"Mari makan. Bibi akan menyusul kita," ujar Saciel. Ketiganya segera duduk dan menyantap hidangan yang masih hangat.


"Kenapa tidak ada pelayan lagi di sini? Apa kau tidak kasihan dengan Bibi? Dia sudah terlalu tua bukan?" tanya Phillip.


"Ada, hanya saja aku tidak membiarkan mereka tinggal di sini. Mereka bekerja dari jam 7 hingga jam 6, lalu kuminta mereka pulang. Sisanya Bibi yang mengurusnya," celetuk Saciel.


"Oh, kupikir kau membiarkan Bibi bekerja sendirian."


"Aku tidak setega itu, bodoh."


"Nee, boleh tambah?" tanya Kezia sembari menyodorkan piring kosong. Kedua penyihir tertawa kecil dan tersenyum.


"Tentu saja sayang. Makanlah yang banyak biar kau cepat besar," godanya sembari mengisi ulang piringnya.


"Uhh~ jadi besar! Ihihihi."


"Kau ini masih 6 tahun tapi tingkahmu seperti anak kecil berumur 2 tahun ya? Lucunya," celetuk Phillip. Ia hanya memberikan senyum manis dan menyantap makanannya. Tak berselang lama Bibi kembali dan bergabung bersama untuk makan malam.


"Nona, bagaimana kabar Nona Cerlina? Apakah dia sehat?"


"Dia sehat, Bi. Jangan khawatir, jika terjadi sesuatu padanya aku akan segera membawanya pulang," balas Saciel.


"Nona berdua adalah harta berharga saya setelah almarhum Tuan dan Nyonya. Saya tidak kuat melihat Nona terpisah sejak kecil."


"Dan kau sudah kami anggap seperti keluarga, Bibi. Terima kasih sudah merawat kami. Saat ini, kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk membawa Cerlina pulang. Tapi, aku bersumpah akan melindunginya sampai mati."


"Nah nah, mari kita hentikan kisah sedih ini. Tuh, Kezia tertidur pulas," ujar Phillip, menunjuk gadis serigala kecil tertidur pulas.


"Astaga, manis sekali," celetuk Bibi.


"Phillip, kuharap kau tutup mulut masalah ini," ancam Saciel.


"Baiklah, lagipula kita ada di situasi yang sama," balas Phillip. Hati-hati diangkatnya Kezia dan dibaringkannya di kasur milik Cerlina. "Aku tidur di mana?"


"Di kamar orangtuaku. Nggak apa kan?"


"Hahaha, baiklah. Lagipula kamarnya lebih luas dibanding milikmu."


"Kan kamarnya buat berdua, bodoh. Sana tidur, selamat malam."


"Selamat malam."