The Two Empresses

The Two Empresses
The Traitor, Dark



"Karena kau tidak mendiskusikannya pada kami," balas Tetua Erika garang. Lao menghela napas dan mengibaskan tangannya, lalu Parvati mengangguk dan mengulum senyum.


"Tetua Erika, berdasarkan aturan kerajaan, yang memiliki hak tertinggi dalam pemerintahan setelah raja atau ratu adalah pemimpin 7 Eternal Wizards," ujar Parvati kalem. Tetua Erika makin gelap wajahnya, namun suara tawa seseorang membuatnya terkejut.


"Kau terlihat kesal sekali, Erika. Kau mau kubantu?" tanya seseorang. Ia muncul dari balik bayangan, namun wajahnya ditutupi tudung sehingga tidak ada seorang pun yang mampu mengenalinya. Saciel berniat menarik pedangnya, namun ditahan oleh Cerlina. Para prajurit langsung bersiaga dan mengarahkan tombak mereka pada tamu yang tak diundang itu.


"Kau mengenalnya, Erika?" tanya Lao dengan mata dinginnya. Tetua Erika diam, lalu menggelengkan kepalanya. Sang perusuh kembali tertawa keras dan menutup mulutnya.


"Ups, maafkan aku. Kurasa aku mengganggu acara di sini," ujarnya tanpa penyesalan sama sekali. Dia memberikan hormat di hadapan Lao dan menyeringai. "Kau bisa memanggilku Dark, Yang Mulia."


"Baiklah, Dark ya? Apa kau memiliki kepentingan yang mendesak sehingga merusak acara kami?" tanya Lao dingin.


"Kekeke, kurasa begitu. Jangan kaku begitu, Yang Mulia. Bisa-bisa wajah Anda akan penuh kerutan seperti orang tua di sana," ujarnya sembari menunjuk para tetua. Mereka tersinggung, namun tidak berani maju dan menantangnya. "Bercanda. Aku memang ada sesuatu yang harus disampaikan."


"Tidak bisakah kau menunggu sampai acaranya selesai?"


"Saya ragu bisa menunggu lebih lama, Yang Mulia. Daripada itu, kenapa para buronan ini berada dalam lingkaran bangsawan? Bukankah mereka harusnya dihukum mati atas kejahatan yang mereka buat?" tanyanya sembari menunjuk Saciel dan Phillip.


"Kau tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan politik di sini. Keluarlah sebelum aku yang mengeluarkanmu dengan paksa," ancam Lao sembari mengeluarkan aura mematikannya. Dark tertawa keras dan menyampirkan tudungnya, memamerkan wajah tampan namun penuh luka dengan mata seterang permata dan rambut sekelam malam. Lao terkejut dan bangkit dari kursinya.


"...kau masih hidup?"


"Oh? Kau terkejut setelah melihatku? Kurasa kau tahu siapa aku, bukan?" tanya Dark dingin. Saciel menyikut Phillip dan berbisik.


"Siapa dia?"


"Aku juga tidak tahu. Tapi...kurasa Lao dan Vristhi mengenalnya," ujarnya sambil melirik Vristhi yang memucat setelah melihat wajah asli Dark. "Ada apa sebenarnya?"


"Lao, tidakkah kau memperkenalkanku pada semua orang di sini? Mereka terlihat bingung," ujar Dark dengan senyum palsunya. Lao terdiam sejenak, melirik pada Parvati dan Steven yang hanya bisa diam. Ia menghela napas pelan dan berjalan mendekati Dark.


"Pengkhianat sepertimu tidak pantas datang kemari," ujar Lao.


"Pengkhianat katamu? Kasarnya. Kau seharusnya tetap melakukannya Lao. Atau aku sendiri yang melakukannya?"


"Jangan macam-macam di sini, Dark. Diam sebelum aku membantaimu," ancam Lao sembari mengeluarkan tombaknya. Tetua Erika yang menyadari kesempatan itu langsung bangkit berdiri dan menarik perhatian semua orang dengan bertepuk tangan.


"Lao, kau tidak boleh melakukan itu kepada salah satu anggota keluarga kerajaan," ujarnya tenang. Semua orang terkejut bukan main mendengarnya.


"Anggota...keluarga kerajaan katamu?" tanya Phillip. "Berarti...dia...."


"Dia siapa, Phillip?" pancing Tetua Erika senang.


"Jangan katakan, Phillip!" sahut Lao panik. Saciel melirik pada Phillip yang sangsi, lalu menepuk pelan punggungnya.


"Katakan saja," bisiknya. Phillip menghela napas dan menatap Dark dengan emosi yang berkecamuk.


"Pangeran ketiga sekaligus pengkhianat negara ini, Pangeran Dominic Danne Aeternam."


"Ahahaha, kau tahu namaku, bocah?" tanya Dark girang. "Kupikir sudah tidak ada yang mengenalku lagi setelah 10 tahun aku meninggalkan tempat ini."


"Apa maksudnya?" tanya Saciel.


"Saciel, diam dulu dan bantu yang lain untuk evakuasi. Sekarang!" bentak Lao. Saciel tersentak dan langsung menginstruksikan para prajurit untuk mengevakuasi, namun Dark bertindak lebih cepat. Ia menutup semua jalur keluar dengan sihir hitam. "Kau kelewatan, Dominic."


"Eits, kau salah Lao. Panggil aku Yang Mulia Raja Dominic," balas Dark girang. Lao semakin murka dan maju menyerangnya, dibantu Vristhi yang memanggil beberapa mayat hidup untuk menangkapnya. Dark hanya diam dan menarik sebuah tali cambuk dari perak dan membelah para mayat hidup menjadi 2. Aroma anyir, busuk dan tanah bercampur menjadi satu, membuat beberapa orang mual.


"Aku benci harus menjadi satu ruangan dengan mayat hidup," keluh Saciel. "Cerlina, tetaplah di dekatku."


"Hei, aku tidak selemah itu," balas Cerlina kesal. "Tapi...ini pertama kalinya aku melihat sihir hitam."


"Karena penggunaan sihir hitam adalah tabu, Cerlina. Meski kelihatannya seperti sihir hitam, kekuatan necromancer milik Vristhi Rosemary tidak memiliki tanda-tanda sihir hitam," ujar Phillip sembari menarik rapiernya. "Cerlina, kau membawa tongkatmu?"


"Ah, tentu saja. Aku tidak mungkin melupakannya," ujar Cerlina sembari mengeluarkan tongkatnya. Dark mencoba menyerang Cerlina, namun sebuah perisai menghalanginya.


"Ah sialan. Perisai dari Oorun ya?" celetuk Dark kesal. "Dewa sialan, masih saja berusaha menjatuhkanku ya?"


"...ha ha ha! Kau ditolak sama Oorun?" sindir Saciel keras. Dark tersinggung dan menyerang Saciel, namun gadis itu mampu menahannya. Saciel sedikit menyesal menyindirnya, namun ia tak bisa menghentikan kebiasaannya yang kadang membuat masalah untuk orang lain.


"Heh, aku penasaran sekuat apa dirimu ini, pahlawan Careol," sindir Dark. Saciel hanya menanggapinya dengan santai dan mendorongnya cukup jauh. "Lumayan juga, untuk pemula."


"Terima kasih, pangeran buangan," jawab Saciel pedas. Lao yang mendengarnya mencoba menahan tawa, namun malah mendapat lirikan tajam dari Dark. Para tetua memasang perisai besar untuk melindungi para kepala keluarga, namun tidak ada yang tahu jika Tetua Erika dan Tetua Yorktown sudah menghilang dari ruangan itu.


"Kemana Boldstone?" tanya Tetua Erika.


"Dia sakit, jadi tidak ikut acara kita. Apa yang ingin kau lakukan?" balas Tetua Yorktown. Langkah mereka terhenti ketika melihat sosok Istvan berdiri di lorong sembari memainkan sebuah jarum besar. "Mau apa kau?"


"Nenek, kau mau ke mana?" tanya Istvan dingin. Tetua Erika diam, sesekali melirik ke arah Tetua Yorktown.


"Aku mau mencari cara menghancurkan sihir hitam," balas Tetua Erika. Istvan tertawa kecil dan melemparkan jarum itu hingga mengenai wajah Tetua Erika. "Istvan Garza!"


"Bagaimana bisa Nenek lolos dari ruangan itu?" tanyanya lagi. Perlahan seribu jarum melayang di belakangnya, siap untuk diluncurkan. Tetua Yorktown berdiri di depan Tetua Erika sembari melepas jubahnya, memamerkan tubuhnya yang masih dibilang bugar untuk orang berumur 90 tahun. "Yorktown, minggir."


"Kau yang seharusnya menyingkir, bocah!" bentak Tetua Yorktown sembari melepaskan bongkahan es tajam ke arah Istvan, namun berhasil ditangkisnya dengan beberapa jarum. "Kemampuanmu semakin meningkat, heh?"


"Terima kasih pujiannya, tapi kita tidak punya banyak waktu untuk mengobrol. Menyingkirlah sebelum aku menghabisimu untuk pemberontakan yang kalian rencanakan," ancam Istvan kalem. Tetua Erika menahan Tetua Yorktown dan maju.


"Istvan, kenapa juga aku merencanakan pemberontakan? Aku mencintai negeri ini lebih dari yang kau kira," bujuk Tetua Erika. Istvan hanya mengangkat sebelah alisnya dan mengulum senyum.


"Nenek, sejak kapan kau pernah mengatakan kebenaran di depanku? Kau selalu saja berbohong, berbohong dan berbohong hingga aku muak mendengar semua omong kosong yang kau ucapkan. Jadi, apa yang kau rencanakan?"


"Yang pasti bukan untuk kamu ketahui, bocah," ujar seseorang.