
Julian tengah asyik merawat tanaman ketika kepala pelayan datang dengan tamu istimewa. Julian menatap para tamunya dengan muka lempeng, namun menahan tawa ketika melihat Saciel bertubuh kecil.
"Sepertinya perjalanan kalian cukup menyenangkan ya?" ujar Julian. Saciel mengulum senyum, namun keningnya berkedut.
"Iya, sangat menyenangkan. Arena hutan kematian adalah tempat yang sangat~ menarik untuk yang mau menyapa malaikat kematian," sindir Saciel pedas. Julian hanya meringis dan menepuk pundaknya.
"Bercanda. Jadi di mana tanamannya?" tanya Julian. Saciel mengeluarkan bola kaca besar dengan anggrek Onyx di dalamnya. "Oh, ini tanamannya?"
"Kau tahu?" tanya Nero.
"Sayangnya tidak. Tanaman ini hanya ada di buku terlarang dan aku tidak bisa mengaksesnya," keluh Julian.
"Kurasa Phillip punya beberapa buku terlarang," gumam Saciel. Julian tersentak mendengarnya.
"Oh iya, dia kan punya akses luas di sini. Ayo pergi," ujar Julian. Sebelum mereka meninggalkan kediaman Zografos, pasukan kerajaan memagari rumah itu lengkap dengan senjata di tangan mereka. "Apa-apaan ini?"
"Siapa yang memberi perintah kepada kalian?" sahut Saciel garang. Seorang kepala prajurit maju dengan langkah tegap, namun ekspresi takut tidak bisa ia sembunyikan.
"No... maksudku, Archduchess Arakawa, kami mendapat perintah dari salah satu tetua untuk menahan kalian."
"Beraninya kalian menahan kami! Di mana Lao?" gelegar Saciel.
"...Duke Requiem saat ini ditahan di bawah tanah," bisik kepala prajurit. "Beliau dilumpuhkan oleh Tetua Boldstone dan kondisinya kritis."
"Sialan. Perubahan rencana, kita akan menolong Lao!" sahut Saciel. Sebuah perisai melingkupi rumah itu. "Hei!"
"Anda tidak diizinkan meninggalkan tempat ini," ujar kepala prajurit dengan wajah nelangsa. Saciel makin murka, namun ia menahan diri untuk tidak menyerangnya. Ia berjalan masuk ke dalam, diikuti yang lain.
"Kenapa Boldstone sekarang maju?" celetuk Julian.
"Kurasa dia masih melakukan kontak dengan Erika dan Yorktown," balas Cerlina. "Perisainya menghalangi kita."
"Kita hancurkan saja," usul Nero.
"Ayo," ujar Saciel sembari menarik pedang dari balik punggungnya. Ia keluar dengan kecepatan tinggi dan mencoba menusuk perisainya, namun ia terpental dan tersengat aliran listrik. "Argh!"
"Wah, untung bukan aku yang menyerangnya," ujar Julian. "Kepala prajuritnya keturunan Arlestine ya?"
Saciel mencoba bangkit, namun tubuhnya mati rasa akibat listrik. Cerlina mencoba mendekati, namun Julian mencegahnya.
"Jangan. Kau lihat dia masih diselimuti petir? Kau bisa saja bernasib sama dengannya," ujar Julian. Cerlina mengerang, namun ia menyerah.
"Lalu bagaimana?" ujar Nero. Sebuah rapier melesat cepat dan menghancurkan perisai hanya dengan sekali tusukan dari atas. Rapier itu diselimuti oleh petir.
"Oh, pangeran petir sudah datang," ujar Julian. sebelum Nero bersuara, Phillip mendarat tepat di depan Cerlina dengan gaya kerennya. "Selamat datang."
"Masalah lagi?" keluh Phillip sembari melepaskan Saciel dari selimut petir. "Kau masih belum bisa melarikan diri dari petir?"
"...belum," jawab Saciel sembari cemberut. Phillip membantunya berdiri dan menatap kepala prajurit dengan tatapan heran. Yang ditatap segera menurunkan helmnya agar wajahnya tidak terlihat.
"...hei sepupu, sebelum aku menghajarmu, sebaiknya kau pergi sekarang. Bawa juga pasukanmu jauh-jauh dari sini," ancam Phillip. Kepala prajurit tadi tersentak dan mengangkat helmnya.
"Maaf, aku tidak bisa mengalah begitu saja padamu. Perintah adalah mutlak, kami tidak bisa membiarkan Anda berkeliaran."
"Kalian terlalu congkak, bodoh dan lamban. Sebegitu taatnya kalian pada para tetua dibandingkan perwakilan kerajaan," ujar Cerlina tegas. Semua prajurit mundur teratur, namun kepala prajurit masih tetap bertahan dengan mengangkat pedangnya.
"Pendeta Agung yang terhormat, kami adalah prajurit yang membela rakyat. Kami ada untuk rakyat," ujar kepala prajurit. Julian tertawa kecil dan maju mendekati kepala prajurit dengan gaya angkuh.
"Rakyat mana yang kau dukung?" tanya Julian. Kepala prajurit terdiam, bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. "Rakyat yang mana?"
"Sudahlah, kita hanya membuang waktu di sini. Phillip, ambil buku terlarang," ujar Saciel dengan gaya imutnya. Phillip yang melihatnya memasang wajah malas. "Hei!"
"Minta yang baik dulu, bocah," ujar Phillip. Saciel melipat kedua tangannya dan cemberut. "Bocah~"
"Nggak mau! Nggak mau!" jerit Saciel. Ia mulai merajuk, memukul Phillip namun hanya berhasil memukul pahanya saja. "Phillip!"
"Astaga, barbar sekali anak ini," goda Phillip. Saciel makin cemberut dan merajuk, mencoba keras melelehkan pertahanan Phillip. "Tidak."
"Phillip!"
"Baru tahu aku Saciel bisa bertingkah seperti bocah. Apa karena efek sihir?" celetuk Nero. Yang lain hanya angkat bahu, asyik mengamati tingkah Saciel yang terlihat menggemaskan. Phillip menghela napas dan mengangkat Saciel dengan satu tangan.
"Dengar, Saciel. Berhubung kau hari ini terlihat imut, aku akan menuruti keinginanmu. Tapi hanya hari ini," ujar Phillip. Ia menghempaskan semua prajurit yang berjaga dengan sekali lambaian dan berjalan santai keluar dari rumah Julian. "Sisanya kuserahkan pada kalian!"
"Astaga, yang benar saja?" keluh Julian. Ia menumbuhkan tanaman sulur dan mengikat para prajurit di satu tempat. "Maaf ya, kalian harus ada di sini untuk beberapa saat. Ayo kembali ke dalam, di luar cuacanya panas banget."
"Kau benar," ujar Nero sembari memayungi Cerlina dengan jubahnya, "sinar matahari bisa saja merusak kulit Cerlina."
"Ini bukan waktunya untuk bercanda," gerutu Julian.
"Siapa bilang aku bercanda?" balas Nero santai. Cerlina hanya tertawa kecil, lalu berjalan masuk ke dalam bersama Nero di sisinya. Sementara itu, Phillip terus berjalan hingga mencapai perpustakaan kota yang besar dan megah.
"Besar sekali untuk tempat penyimpanan buku," cibir Saciel.
"Karena tidak hanya buku saja yang disimpan, bodoh," balas Phillip sembari berjalan masuk ke dalam dan disambut oleh seorang pria tua dengan kacamata bulat buram bertengger di hidungnya. "Selamat siang."
"Hm? Oh, halo Phillip. Tidak biasanya kau datang di jam segini. Ada yang kau butuhkan hari ini?" tanyanya.
"Aku ingin meminjam buku terlarang tentang tanaman. Ada?" balas Phillip. Kening pria itu berkerut dan berjalan tertatih menuju meja.
"Aneh, aneh sekali. Buku itu masih dipinjam sampai saat ini dan belum kembali," gumam pria itu sembari membuka buku peminjaman. Keduanya heran mendengarnya.
"Tapi bukannya buku terlarang hanya boleh dipinjam oleh beberapa orang saja?" tanya Saciel dengan suara cempreng, membuat Phillip berjuang keras untuk tidak mengeluarkan sedikit pun tawa agar tidak dihantam olehnya. Pria itu melirik dan mengangguk.
"Benar, Lady. Hanya beberapa orang saja yang boleh mengaksesnya. Tapi...orang yang meminjam buku itu adalah kepala keluarga Arakawa terdahulu," ujarnya sembari memamerkan tanda tangan milik Daisuke Arakawa yang tertempel kuat di buku itu. "Dan sudah lama beliau tidak mengembalikannya."
"Papa?" gumam Saciel heran.
"Apa tidak ada buku cadangan?" tanya Phillip. Sekali lagi pria itu hanya menggeleng, tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. "Kalau Tuan Besar yang meminjamnya, sepertinya kita harus pulang dan mengecek apakah buku itu masih ada atau tidak."
"Kita akan pulang?" tanya Saciel.
"Mau gimana lagi? Bukunya dipinjam oleh ayahmu dan mau tak mau kita harus mengeceknya di rumah," balas Phillip. "Sekalian mengembalikan tubuhmu ke ukuran semula."
"Benar juga yang kau katakan, ayo pergi. Semakin cepat semakin baik," ajak Saciel. Phillip menggenggam tangannya dan berteleportasi meninggalkan perpustakaan.