The Two Empresses

The Two Empresses
Secret Recipe



"Soal siapa yang merusaknya kita abaikan dulu saja. Saat ini yang paling penting adalah mencari tahu cara mengolah tanaman itu," ujar Saciel menengahi. "Waktu kita tidak banyak."


"Tapi bagaimana caranya?" celetuk Phillip. Saciel berpikir keras, membuat yang lain menunggu dengan cemas.


"Kita temui Oorun."


"Sudah kuduga jawabannya akan seperti itu. Kau pergilah, biar aku di sini," ujar Phillip cepat. Saciel cemberut mendengarnya.


"Baiklah aku paham. Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Saciel sembari pergi meninggalkan rumah kaca itu, namun Kezia menyusulnya dengan cepat. "Ah?"


"Ikut!" pinta Kezia.


"Kau di sini saja, berbahaya untukmu jika ikut," tolak Saciel. Kezia cemberut dan mulai merajuk.


"Ikut! Ikut!"


"Tidak boleh."


"Mau ikut!" pintanya sembari menangis keras. Saciel gelagapan dan menyerah.


"Oke oke, ayo ikut. Dasar, tahu begini kukurung saja kau," cibir Saciel. "Pakai mantel, tutupi ekor dan telingamu."


Kezia langsung memakai mantelnya, tak lupa menyembunyikan ekor dan telinganya dengan baik. Saciel beralih pada Istvan yang masih diam.


"Pergi temui Ilmol sekarang dan bawa dia. Kau boleh meninggalkan kota ini," ujar Saciel. Istvan mengangguk dan pergi dengan cepat. "Phillip, tolong jaga rumahku ya?"


"Baik," jawab Phillip sekenanya. Saciel menggenggam tangan Kezia dan melakukan teleportasi dengan sekali jentikan. Mereka kini berdiri di depan tangga.


"Di mana kita?" tanya Kezia.


"Kita akan memasuki wilayah Oorun, tapi harus menaiki tangga ini," ujar Saciel. Kezia ternganga melihatnya.


"Banyak sekali anak tangganya," celetuk Kezia. Saciel tertawa kecil dan mulai meniti, namun terhenti ketika Kezia membopongnya. "Pegangan yang kuat, nee."


"Eh? Apa?" celetuk Saciel. Kezia menarik napas panjang dan langsung melompat jauh hingga ke puncak. "Kau ternyata kuat sekali ya?"


"Ehehe," balas Kezia cengengesan. Perlahan ia menurunkan Saciel. "Sampai."


"Terima kasih," ujar Saciel sembari mengelus kepala Kezia dengan lembut. "Nah, sekarang waktunya ketemu dengan Oorun. Kau ada di sini, kan?"


"Sopan santunmu masih jauh di bawah normal ya?" ujar Oorun sembari berjalan dari balik awan yang bergumul di tengah taman gersang itu. "Mau apa kau kemari dengan demi human itu?"


"Aku kemari untuk bertanya tentang bagaimana mengolah anggrek Onyx untuk menjadikannya obat" ujar Saciel.


"Ambil ini," ujar Oorun sembari menyerahkan sehelai kertas usang. Saciel mengambil kertas itu dan membaca isinya.


"Apa-apaan ini? Resepnya rumit sekali," keluh Saciel setelah membaca isinya dengan cermat. "Mandrake yang berumur 1 tahun? Darah duyung? Air mata peri hutan?"


"Silakan mencari sendiri. Sampai jumpa," pamit Oorun sembari menghilang di balik awan.


"Ah, hei! Sial," maki Saciel. Ia kembali melakukan teleportasi dan berakhir di rumah Julian, dimana Cerlina tengah memberkati para pelayan. "Hei."


"Selamat datang, Ciel. Bagaimana?" sapa Cerlina.


"Aku perlu bertemu Julian. Di mana dia?" tanya Saciel tanpa basa-basi.


"Kurasa tadi dia ada di ruang kerja. Ah, halo Kezia," jawabnya sembari menyapa Kezia dengan senyum lebar. "Sudah besar sekali ya?"


"Cerlina nee!" sahut Kezia sembari berlari dan memeluk Cerlina. "Hanya Cerlina nee yang bisa langsung mengenaliku."


"Tentu saja, karena aku punya penglihatan di masa depan," goda Cerlina. Seorang pelayan memberi hormat pada Saciel dan mengajaknya ke ruang kerja.


"Kezia, kau di sini bersama Cerlina ya?" ujar Saciel.


"Baik, nee," jawab Kezia. Saciel segera mengikuti pelayan itu berjalan menuju ruang kerja yang ternyata sudah tidak ada hawa kehadiran siapapun.


"Kurasa dia sudah tidak ada di sini," ujar Saciel. "Tunjukkan jalan menuju rumah kaca rahasia keluarga ini."


"Baik Nona," jawab si pelayan. Mereka berjalan menuju aula. Sang pelayan berdiri di depan sebuah patung singa dan memasukkan tangannya ke dalam mulut singa itu dan menekan tombol tersembunyi di bagian langit-langit mulut itu. Perlahan sebuah tangga rahasia muncul di balik tangga utama yang berhiaskan lumut. Pelayan tersebut berjalan menuruni tangga tersebut, disusul Saciel yang sedikit takut dan jijik. Ruang yang gelap membuat Saciel sedikit ragu melangkah, namun pelayan tersebut segera mengetuk pegangan tangga sebanyak dua kali dan lilin mulai bernyala mulai dari atas.


"Luar biasa," puji Saciel. Mereka terus berjalan turun hingga mencapai sebuah lorong panjang dengan kunang-kunang bermain riang dan mengisi kegelapan dengan cahaya mereka. Mereka melintasi lorong tersebut hingga langkah mereka terhenti di depan rumah kaca yang buram.


"Tuan, Archduchess Arakawa ingin menemui Anda," ujar si pelayan sembari mengetuk pintu rumah kaca itu. Tak berselang lama Julian keluar dengan baju kumal dan dipenuhi dengan tanah serta debu.


"Penampilanmu cukup berbeda dari biasanya ya?" celetuk Saciel. Julian tertawa dan menepuk beberapa bagian tubuhnya untuk menyingkirkan debu.


"Seorang florist tentu harus merawat tanamannya. Mari masuk, kurasa kau perlu bantuanku," jawab Julian. Pelayan itu membungkuk dan meninggalkan mereka, sementara Saciel berjalan masuk ke dalam rumah kaca dengan hati-hati. Ia disambut oleh berbagai macam tanaman aneh yang tidak pernah dilihatnya di atas.


"Tempat yang menarik," ujar Saciel. "Oh iya, aku perlu membahas tanaman anggrek Onyx itu. Di mana tanamannya?"


"Ada di sana," ujar Julian sembari menunjuk sebuah batang pohon mati yang ditempeli anggrek hitam kecil itu. "Berhubung kau hanya membawa satu, mau tak mau aku harus mencoba untuk melakukan kultivasi atau dia akan punah seutuhnya."


"Lebih baik berjaga-jaga daripada kehilangan. Jadi apa yang ingin kau bahas tadi?" balas Julian. Saciel menyerahkan resep tadi dengan muka masam. "Apa ini?"


"Kau baca saja sendiri," ujar Saciel. Julian mengambil kertas itu dan membacanya dengan seksama.


"Hmm, untuk mengambil tanamannya saja sudah sulit, ternyata mengolahnya juga sama sulitnya. Kalau beberapa bahannya bisa kudapatkan di sini, tapi beberapa harus bertualang cukup jauh," ujar Julian. Ia membuat salinan resep itu dan memberikannya pada Saciel. "Yang kutandai harus kau carikan untukku."


"Yang benar saja?" keluh Saciel. "Ah, kita suruh Tania saja."


"Kau mau menyerahkan tugasnya pada bocah seperti dia?" tanya Julian heran.


"Daripada dia diam saja. Aku malah tidak pernah melihatnya lagi setelah pertempuran. Dia juga tidak hadir di pertemuan para kepala keluarga bukan?"


"Yang hadir hanya perwakilan saja," ujar Julian.


"Dia baik-baik saja bukan?" tanya Saciel. Julian hanya angkat bahu. "Aku harus menyuruh Phillip untuk menemuinya."


"Silakan," ujar Julian.


"Apa di sini ada telepon?" tanya Saciel. Julian menggeleng.


"Nggak usah sok pakai telepon, biasanya juga pakai sihir," sindir Julian. Saciel cengengesan dan memanggil Phillip dengan sihir.


"Oh, hei. Ada apa? Bagaimana hasil pertemuan dengan Oorun?" cerocos Phillip.


"Nanti saja menjawabnya, aku perlu bantuanmu. Pergi ke rumah Tania sekarang juga," balas Saciel cepat. Phillip memiringkan kepala mendengarnya.


"Tania? Tania Schariac?"


"Memang ada berapa Tania di sini?" tanya Saciel malas.


"Kenapa kau ingin aku menemui anak itu?" tanya Phillip.


"Soalnya semenjak kita melawannya dia tidak pernah bersosialisasi dengan yang lain. Saat pertemuan pun hanya perwakilan yang hadir," ujar Saciel. Phillip mengangguk paham.


"Oh, begitu? Baiklah, setelah ini aku akan menemuinya. Perlukah aku membawa sesuatu untuknya?"


"Julian, kau ada ide?" tanya Saciel. Julian memiringkan kepala dan berpikir sejenak.


"Kau tahu toko roti di dekat istana? Kudengar Tania suka salah satu kue dari sana. Bawakan saja itu," ujar Julian. Phillip garuk kepala mendengarnya.


"Kue apa yang kau maksud? Toko roti itu kan memang terkenal enak dan berkualitas," celetuk Phillip.


"Kurasa kau bisa bawakan semua jenis roti dan kue yang ada di situ. Mudah, bukan?" balas Julian.


"Yang ada kau membuatku menghabiskan uang hanya untuk membelikan kue untuknya. Ya sudahlah, akan kulakukan demi kepuasan batin Saciel dan Tania. Ada lagi?"


"Bilang padanya untuk menemuiku...di rumah Julian," ujar Saciel.


"Itu saja? Mudah sekali. Kalau begitu sampai jumpa nanti," ujar Phillip sembari memutuskan panggilan. Saciel kembali fokus pada Julian yang asyik membersihkan daun-daun yang mulai menguning.


"Kau punya mandrake?"


"Ada, tapi di atas sana. Tanaman yang ada di sini hanya khusus untuk langka dan punah saja," jawab Julian. "Tapi yang berumur tepat satu tahun...kurasa belum ada."


"Tidak bisakah kau mempercepat waktu?" tanya Saciel.


"Tidak bisa, Manis. Mempercepat waktu tanaman hanya akan merusak mereka dengan cepat juga. Sebaiknya kita cek saja tanamannya," ajak Julian. Mereka bergegas meninggalkan rumah kaca Dan kembali ke atas dengan tubuh ditempeli debu serta jaring laba-laba.


"Bersihkan tempatmu. Benar-benar berantakan, kotor dan berdebu," keluh Saciel sembari membersihkan diri dengan cepat. Julian hanya mengulum senyum mendengarnya. "Kau dengar aku?"


"Jelas dan mantap," balas Julian. Keduanya berjalan menuju salah satu rumah kaca dengan tanaman sulur berbatang kokoh yang terletak cukup jauh dari mansion. Beberapa pot pecah menghiasi sudut rumah kaca. Tidak hanya itu, beberapa tanaman gulma turut memperindah tempat itu.


"Kurasa kau tidak bisa membunuh tanaman ya?" tanya Saciel sembari mencabut gulma di bawahnya. Julian hanya nyengir mendengarnya. "Oh, jadi ini tanaman mandrake?"


"Betul dan aku yakin kau tahu pasti bahwa tanaman ini sanggup membunuhmu dengan teriakan mereka. Aku membagi tanaman ini menjadi tiga kelompok. Paling ujung sana yang sudah dewasa, biasanya sekitar 2-3 tahun. Di tengah usia remaja 1 tahun ke atas dan yang di sebelah kita adalah masih bayi. Meski bayi, jeritan mereka bisa membuatmu tak sadarkan diri," papar Julian.


"1 tahun ke atas? Berarti tidak ada lagi yang umurnya 1 tahun?" tanya Saciel. Julian mengeceknya dengan menyentuh sulur yang melingkupi pot mandrake dan diam sejenak.


"...ada 1 yang akan menuju 1 tahun, tapi masih 3 hari lagi," ujar Julian.


"3 hari ya? Apa Lao dan anjing kampung itu mampu bertahan selama itu?" gumam Saciel. Julian menaikkan alis mendengarnya.


"Anjing kampung? Apa yang kau maksud itu cowok demi human itu?" tanya Julian. "Dia punya nama, bukan?"


"Entahlah," jawab Saciel sekenanya, namun serabut merah perlahan tertuang di wajahnya. Julian sedikit panas melihatnya, namun memilih diam. "Jadi bagaimana?"


"Mengingat Lao baru saja diserang, aku tidak yakin dia bertahan lama. Kalau demi human itu...sebaiknya kau bertanya saja pada saudaranya. Dia masih ada di sini, kan?"