
"Kau sudah tahu apa yang terjadi saat ini, bukan?" tanya Cerlina.
"Ah, ya. Perang yang dibuat anak Oorun?"
"Berarti kau juga tahu Dewa Deus sudah tidak ada."
"Seluruh dewa berduka atas kepergiannya, Pendeta Agung. Para flügel juga sedang dalam ambang kepunahan."
"Apa benar Mata Oorun bisa menjadi energi pengganti untuk flügel?"
"Hanya sementara, Pendeta Agung. Permata itu hanya bisa memberikan energi paling lama dua minggu," balas naga alpha. Cerlina menghela napas mendengarnya.
"Apa aku boleh memintanya?" pintanya hati-hati.
"Tidak mudah untuk mengambil permata itu, Pendeta Agung. Banyak orang mencoba, namun sedikit yang bertahan dari cobaan yang diberikan permata itu."
"Cobaan apa yang harus kuterima agar bisa mengambilnya?" tanya Cerlina. Naga alpha itu menatapnya dengan tatapan tajam.
"Bukan sesuatu yang menyenangkan, Pendeta Agung. Kau akan menghadapi dirimu sendiri," jawabnya.
"Diriku...sendiri?"
"Kau akan mengetahuinya nanti. Anakku akan mengantarmu ke tambang permata Mata Oorun. Semoga berhasil," ujarnya sembari menggerakkan sedikit kepalanya dan seekor naga datang dan membungkuk agar Cerlina bisa menungganginya. Setelah ia berhasil naik di atas punggungnya, naga itu terbang tinggi dan menukik tajam ke sebuah pulau kecil yang dipenuhi oleh permata Mata Oorun.
"Wow," celetuk Cerlina. Setelah naga itu menapakkan kakinya di pulau, Cerlina bergegas turun dengan sekali lompatan. "Terima kasih. Tunggu sebentar, ya? Aku akan kembali."
Naga itu mengangguk dan duduk, sementara Cerlina berjalan mendekati sebongkah besar permata di tengah pulau dan menyentuhnya dengan hati-hati.
"...aku bisa merasakan energi yang kuat sekali. Pantas saja tidak ada yang bisa menambang permata ini dengan mudah," ujar Cerlina. "Pertanyaannya, bagaimana mengambilnya?"
Gadis berambut ungu itu melepas sarung tangannya dan membuat bola sihir berwarna merah terang, lalu melemparnya tepat di dasar. Namun bukannya meledak, bola sihir yang ia buat malah terserap ke dalam permata.
"Aduh, sihirku diseerap lagi," keluh Cerlina. Ia mengambil tongkat pendeta dari balik lengan bajunya yang besar dan bersiap menyerang, namun terhenti ketika sebuah suara menghentikannya.
"Tidak ada gunanya kau menyerang permatanya, anakku."
"...Dewa Oorun?" tanya Cerlina sembari berbalik ke segala arah untuk mencari wujudnya.
"Kau tidak bisa melihatku saat ini, anakku. Dengarkan aku baik-baik agar kau bisa memotong permata itu dengan mudah. Temui minotaur di lembah timur perbatasan dan pinjamlah kapak khusus dari mereka."
"... minotaur? Mereka masih bagian dari Ceshier, mana bisa aku pergi ke sana begitu saja," keluh Cerlina.
"Kau pasti bisa, anakku. Hanya kapak buatan mereka yang bisa memotong Mata Oorun dengan mudah," ujar Oorun. Cerlina menghela napas dan memasang kembali sarung tangannya. Ia bergegas kembali pada naga yang menunggunya dan mengelus kepalanya dengan lembut.
"Bisakah kau membawaku ke lembah timur?" tanya Cerlina. Naga itu mengangguk dan menurunkan sayapnya agar Cerlina bisa memanjat dengan mudah. Setelah ia berhasil naik di punggungnya, naga itu langsung lepas landas dan membelah angkasa dengan cepat. Cerlina menundukkan kepalanya agar dirinya tidak terhempas karena kecepatan naga itu di luar kemampuannya.
Sepuluh menit mereka terbang melintasi langit. Naga itu perlahan menukik menuju lembah yang dibatasi oleh pagar tinggi yang dibuat dari tulang. Ia mendarat di wilayah Respher, dimana beberapa penjaga langsung mengarahkan senjata pada mereka.
"Siapa kalian?" sahut sang penjaga. Cerlina memamerkan wajahnya dan tongkat miliknya dengan tatapan kalem.
"Tunggu, dia Pendeta Agung dari Careol," sahut penjaga. Mereka langsung menurunkan senjata, sementara kepala prajurit datang dan memberi salam.
"Apa yang Pendeta Agung kekaisaran Careol inginkan kemari?"
"Aku ingin menemui minotaur di seberang sana," ujar Cerlina sembari menunjuk area seberang dengan tongkatnya.
"Dengan kondisi seperti ini? Tolong pikirkan kembali, Pendeta Agung. Mereka bukan ras yang mau mendengarkan penyihir seperti Anda."
"Aku harus melakukannya," balas Cerlina dengan tatapan tajam seperti Saciel, membuat para penjaga mundur selangkah. Kepala prajurit menghela napas pendek.
"Kau tidak perlu melakukannya," balas Cerlina tegas. Kepala prajurit memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menuntun Cerlina menyeberang.
"Naga itu akan tetap di sini," ujar kepala prajurit sembari menunjuk naga di sampingnya. Cerlina mengangguk dan bergegas mengikuti penjaga yang mengantarnya menuju sebuah jembatan tak jauh dari tempatnya mendarat.
"Berhati-hatilah, Pendeta Agung," ujar sang penjaga. Cerlina bergegas menyeberangi jembatan yang terbuat dari batu dan semen tersebut dengan was-was. Langkahnya terhenti ketika dua minotaur penjaga melihatnya dan mengarahkan senjata mereka padanya.
"Lancang sekali penyihir sepertimu kemari," sahut salah satu dari mereka. Cerlina mundur selangkah, namun ia tidak bisa menyerah begitu saja.
"Aku minta maaf datang kemari tanpa pemberitahuan, tapi aku membutuhkan bantuan kalian," ujar Cerlina tegas.
"Pulanglah, kami tidak mengizinkanmu masuk," usir yang lain sembari maju dan mengayunkan senjatanya. Dengan cepat Cerlina berkelit dan menatap mereka dengan tatapan marah.
"Aku datang dengan niat baik, tapi kalian malah mencoba membunuhku?"
"Bukankah semua penyihir suka dengan pembantaian?"
"Apa...katamu?" tanya Cerlina ternganga.
"Kalian yang sombong dan arogan lebih suka bersekutu dengan makhluk astral berkekuatan suci dibandingkan kami yang hanya demi human. Bahkan kudengar kalian suka menjadikan kami bahan untuk membuat ramuan," ejeknya. Cerlina terdiam, namun mendadak aura dingin layaknya es menguar dari dirinya.
"Aku tidak tahu darimana kalian dapat informasi itu, tapi biar kuberitahu. Semua yang kalian katakan hanya omong kosong," ujar Cerlina lirih.
"Bedebah!" sahut yang lain sembari maju dan menyerang. Cerlina bergegas mundur dan membekukan minotaur itu hanya dengan sekali ayunan tongkatnya. Ia menatap yang lain dengan mata bersinar terang, membuatnya merinding.
"Aku tidak suka kekerasan seperti kakakku, jadi pilihlah. Kau mau berakhir seperti dia atau biarkan aku masuk?" ancam Cerlina. Sebelum penjaga itu bersuara, seekor minotaur betina tua dengan langkah lambat yang dibantu tongkat datang.
"Aaron, biarkan dia masuk," ujarnya lembut.
"Ah, Nyonya, tapi dia..."
"Nona, kemarilah. Ah, apa lebih baik dipanggil Pendeta Agung?" ujarnya sembari menatap Cerlina. Gadis berambut ungu itu terdiam, lalu mencairkan esnya dengan sekali jentikan jari dan mendekati minotaur tua itu dengan tatapan tenang.
"Nah, Aaron. Bantu Josh dan biarkan dia istirahat. Mari ikut saya, Pendeta Agung," ujarnya sembari berjalan masuk, diikuti Cerlina yang kembali was-was. Sepanjang perjalanan ia sadar menjadi bahan tontonan bagi minotaur, tidak sedikit yang menatapnya tajam dan kesal.
"Kurasa aku membuat kalian semua kesal," ujar Cerlina tanpa basa-basi. Minotaur itu tertawa.
"Karena Pendeta Agung datang tanpa pemberitahuan, wajar mereka tidak suka. Kau datang kemari karena ada sesuatu yang kau butuhkan, bukan?"
"Kau tahu?"
"Tentu saja aku tahu, karena kedatanganmu memang sudah ditakdirkan," ujarnya kalem.
"Ditakdirkan?"
"Hmm, pembicaraan itu akan sangat panjang dan kau pasti tidak bisa berlama-lama, jadi aku tidak akan melanjutkannya," ujar minotaur tersebut. Mereka tiba di sebuah rumah cukup besar dibangun di atas sebuah bukit kecil dengan penjaga mengelilinginya. Ketika minotaur itu menghampiri, mereka langsung memberi hormat dan mengizinkan masuk, namun memberi tatapan tajam pada Cerlina. Cerlina mencoba tidak menghiraukan mereka, namun seorang minotaur menyenggolnya hingga nyaris terjatuh.
"Oh, maaf. Kau kecil sekali," ejek minotaur tersebut. Cerlina hanya mengulum senyum kecil dan membekukan kaki minotaur itu dengan cepat.
"Oh, maaf. Kukira tadi akar kayu," balas Cerlina kalem, sembari masuk mengikuti minotaur betina tua itu.
"Istriku, kenapa kau membawanya kemari?" sahut seseorang. Cerlina mengangkat kepala, melihat seekor minotaur tua bertubuh tegap menuruni tangga dengan tatapan tajam mengarah padanya. "Kita sudah memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan penyihir, bukan?"
"Kau ini kaku sekali. Gadis ini butuh bantuan, kenapa kau masih kolot?" sindirnya sembari mempersilakan Cerlina untuk duduk.
"Kolot katamu? Kau tahu, gara-gara penyihir, anak kita tewas."